The President'S Crazy

The President'S Crazy
part. 76



Dikala terus menarik tangan Aeri keluar dari hotel, pandangan lembut dari manik indah itupun terus terarah pada wajah dingin Zeha yang diseliputi emosi.


Aeri tidak tahu apa yang membuat lelaki itu emosi, tapi apa yang dilakukan Zeha pada wanita tadi sungguh keterlaluan.


"Tuan keterlaluan," timpal Aeri sesaat sebelum tiba di mobil Zeha.


Kepala Zeha terasa panas mendengar ucapan itu. Padahal Aeri tidak mengetahui yang sebenarnya. Dengan perasaan kesal, Zeha yang kala itu memegang tangan Aeri, sedikit menyentak tubuh kecil itu sehingga terhempas kecil ke badan mobil.


"Apa kau mengenal wanita tadi?" tanya Zeha dingin. Pancaran matanya membuat Aeri takut dalam gelengan kepalanya.


"Dia adalah kekasihku yang dulu, yang mengkhianati ku dan pergi bersama JOHN!" suara Zeha meninggi satu oktaf, mengagetkan Aeri yang berada dalam kungkungan lengan kekarnya. "Apa kau tahu semua itu?!"


"Manusia itu tidak luput dari kesalahan Tuan. Itu adalah masa lalu Tuan dan dia yang kelam. Tuan harus bisa memaafkan nya," tutur Aeri lembut, mencuba tidak semakin mematik api dalam diri Zeha.


Tetapi, senyum getir yang terbit setelah itu membuat Aeri bingung akan sikap Zeha detik itu. "Memaafkan?" Zeha kembali tertawa lebar, namun terkesan memilukan. "Jika hanya itu yang dia lakukan, mungkin aku bisa pertimbangkan untuk memaafkannya tetapi, dia justru bekerjasama dengan John kekasihnya untuk menipuku, Aeri!"


Aeri bergeming dalam keterkejutannya. Detak jantungnya meningkat pesat mendengar apa yang Zeha katakan. Wanita yang sangat ia cintai ternyata duri dalam hidupnya. Sungguh Aeri tidak menyangkah akan ada hal seperti ini di dunia nyata. Sedang Aeri biasa melihatnya dalam TV.


𝘑𝘢𝘥𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘯𝘤𝘪 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢.


"Apa kau masih ingin mengatakan aku keterlaluan?!"


Aeri menunduk. Ia merasa bersalah karena telah berburuk sangka pada lelaki di hadapannya itu. "Maaf Tuan...."


Melihat wajah lembut Aeri, secara perlahan hatinya melunak, terasa sejuk seperti disirami air.


Greb!


Secara tiba-tiba Zeha menarik tubuh Aeri masuk ke dalam pelukannya. Lengan itu melilit pinggang dan bahu sempat Aeri. Mengendus aroma yang berada di ceruk leher Aeri, yang entah kapan mampu membuat perasaannya tenang.


"T-tuan...." Aeri merasa geli dengan apa yang Zeha lakukan.


"Biarkan seperti ini dulu," gumamnya. "Aku merasa tenang seperti ini." Zeha mengecup permukaan tepi leher Aeri, membiarkan bibirnya lama di sana, membuat sang empu menegang dengan manik terpejam rapat.


Secara perlahan tangan Aeri terangkat untuk membalas pelukan penuh luka Zeha. Jika dengan memeluknya dapat menghilangkan keresahan hati lelaki itu, makan Aeri akan berikan, karena Aeri tidak pandai menyusun kata untuk menenangkan Zeha.


Mengusap pelan punggung lebar itu lembut dan teratur.


"Setahun yang lalu, aku membantai keluarganya karena telah menguksik orang-orang ku," ujar Zeha membuka kata setelah berdiam selama beberapa menit. Tetapi, pelukan itu masih tetap berlanjut.


"Tidak lama setelahnya, dia datang dengan identitas Shin Ji Nha, mendekatiku dan membuatku jatuh cinta padanya." Pelukan itu terasa semakin mengerat. "Karena dialah aku begitu membenci wanita, Aeri." Aeri tidak bisa berkata-kata, ia hanya terus mengusap punggung itu, sembari mendengar secara seksama.


"Malam ini aku telah mengetahui semuanya. Dia sejak awal memang telah merencanakannya bersama John. John adalah kekasihnya yang sebenarnya. Hubungan mereka sudah berlangsung selama 2 tahun lebih. Dia mendekatiku hanya untuk melihatku hancur."


"Tuan langsung tidak menyadarinya?" tanya Aeri lembut.


Refleks Zeha melepaskan pelukan itu dengan memegang kedua bahu Aeri. "Bagaimana aku bisa menyadarinya, jika dia yang ku kenal hanyalah seorang wanita yatim-piatu! Wanita bijak yang baik! Identitasnya Shin Ji Nha langsung tidak menunjukkan sesuatu yang salah Aeri!"


Zeha membawa punggungnya bersandar pada badan mobil. "Semua waktu yang kami lalui bersama nyatanya hanyalah kepalsuan yang dia ciptakan untuk menjatuhkanku ke dalam jurang penderitaan!" Aeri kontan menoleh mendengar lelaki itu mengumpat.


"Aku tertanya, apakah waktu yang kami lalui bersama pernah begitu bermakna baginya?"


Sudut bibir Aeri tertari getir melihat Zeha terluka oleh mantan kekasihnya itu. "Mungkin Tuan masih menyimpan rasa padanya," gumam Aeri membuat Zeha refleks menoleh.


Apa juga yang diharapkan dari seorang lelaki seperti Zeha? Sejak menyadari rasa cintanya pada lelaki itu, Aeri sudah mempersiapkan hati dengan segala konsekuensinya. Jika suatu hari sang kekasih dari sang Tuan kembali apa yang bisa ia lakukan? Sedang cintanya hanya dari sebelah pihak saja.


"Apa?!" tanya Zeha denga suara meninggi. Apa yang barusan ia dengar itu sangat mengganggu telinganya.


"Melihat Tuan seperti ini mungkin karena masih mencintai nona Jih--hmp!"


"Disaat dia pergi meninggalkanku, detik itu juga nama wanita itu sudah terhapus dari hatiku. Sekali lagi kau berkata seperti itu...," ujar Zeha penuh emosi sesaat setelah mengecup singkat, namun dalam pada bibir Aeri. Sengaja menggantung ucapan, membiarkan Aeri memikirkan akibat dari ucapannya nanti.


"Tapi gelagat Tuan--"


"Aku marah pada diriku sendiri Aeri! Aku kesal, benci dan ... intinya semua telah berbaur menjadi satu. Bodoh karena tidak menyadari tipu muslihat yang Jiha lakukan. Aku memang marah padanya tapi, bukan karena cinta, tapi karena aku muak dengan semuanya. Apa ini yang kau sebut cinta?"


"Cinta itu selalu membuat kita merasa muak Tuan, tapi pada kenyataan semua itu didasari oleh cinta juga."


"Memang ada seperti itu, namun ini berbeda! Dan sekarang aku tidak ingin kau mengatakan aku masih mencintainya! Aku tidak suka!"


"Jika suatu hari nanti aku melakukan hal yang sama, apa Tuan akan membenciku juga?"


Pandangan lelaki itu berubah. Dalam dan terkesan dingin dalam pancaran matanya kearah manik bening dan teduh Aeri. Perasaan yang tadinya mulai tenang kini kembali buruk.


Tangan besar beruratnya merambat naik, menangkup sebelah pipi dan rahang Aeri. "Aku tidak akan hanya membencimu, Aeri, aku bahkan akan...." Zeha mendekatkan bibirnya ke telinga itu. "MEMBUNUHMU," lanjut Zeha, membuat Aeri menegang.


"Aku sudah pernah mengatakannya."


Aeri tidak menyahut. Tubuhnya yang menegang, larut dalam pikiran. Ia ingat Zeha pernah memperingatinya beberapa kali mengenai hal tersebut. Mungkinkah Zeha berpegang teguh pada apa yang dikatakan?


Secara perlahan Aeri mengangkat kepalanya, bertemu pandang dengan manik tajam Zeha yang terarah padanya dalam jarak dekat. Tadinya yang begitu dingin, secara perlahan netra itu berubah lembut. Aeri dapat melihat perubahan tersebut. 𝘉𝘦𝘯𝘢𝘳𝘬𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘥𝘪 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘮𝘶?


Manik indah di pandangan Zeha itu terpejam lembut, menikmati usapan lembut jemarinya di atas pipi halus itu. Tangan yang jauh lebih kecil dari miliknya, menggenggam tangan besar miliknya yang bertengger di pipi putihnya.


Setelah sepersekian detik barulah manik teduh cantik Aeri terbuka. Kembali menemui manik Zeha yang tidak pernah lari dari menatapnya intens. Wajah tampan itu bahkan semakin dekat dari yang beberapa detik lalu. Secara perlahan bola mata itu bergulir ke arah bibir Aeri, menatap benda lunak yang sedikit terbuka, penuh damba.


Bagai terhipnotis, Aeri hanya bisa menatap bibir yang kian mendekat tersebut, dengan sesekali memindai kedua bola mata Zeha yang sesekali menemui maniknya.


Jika di dalam drama-drama, maka scene ini akan terlihat dalam slow motion.


Bibir yang telah saling bersentuhan itu secara perlahan saling memberi sentuhan lembut dalam setiap kecupannua. Intens disetiap raupan bibir yang terbuka, saling menyalurkan rasa yang membuat candu.


"Aeri...."


Kedua bola mata kontan terbuka. Bibir yang tadi saling bercumbu dalam, berhenti dengan serta-merta. Debaran jantung meningkat pesat mendengar pemilik dari suara yang menyeru namanya.


Zeha menoleh kesal. Tangan yang tadi berada di pipi Aeri, turun lantas menyatu dengan jari jemari kecil itu. Bukan ia tidak tahu siapa pemilik suara tersebut.


"Enak, ya mengganggu kesenangan orang?" sinis Zeha, kembali dingin.


"Maaf, ya. Aku hanya ingin memanggil Aeri." John tersenyum sinis.


Alis tegas Zeha mengernyit. "Ada perlu apa kau dengannya?!"


"Itu kau tidak perlu tahu. Aeri...."


Zeha semakin bingung melihat tangan John yang terulur, seolah meminta Aeri menyambutnya. Zeha menoleh tajam. Saat itu Aeri menunduk dalam sembari menggigit bibir bawahnya resah.


"Aeri... Kau ada urusan apa dengan brengsek ini?"


𝘔𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶. Manik teduh penuh kelembutan Aeri berembun, seakan siap menumpahkan airnya. Tanpa menjawap pertanyaan Zeha, secara perlahan ia melepaskan tangan Zeha dari miliknya, semakin membuat Zeha bingung.


"Pada akhirnya, semua milikmu akan menjadi milikku, Jeon Zeha," tukas John, menyungging miring.


"Aeri, kau?!" Setelah mendengar apa yang John katakan, dengan serta-merta Zeha kembali menoleh tajam.


Saat itu Aeri telah berhasil melepaskan pegangan tangannya. Berjalan melewatinya tanpa menoleh sedikitpun. Tangan Zeha mengepal, menampakkan urat-urat ditangan. 𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘭𝘢𝘨𝘪, 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘶.


Sret!


Tepat disaat Aeri menyambut uluran tangan John, detik juga Zeha mencekal pergelangan tangannya. Memberanikan diri, Aeri menoleh. Maniknya menangkap ***** wajah kecewa, sedih dan marah di wajah tampan itu.


"Jika kau pergi bersamanya, maka kau akan lihat aku menggila, Aeri!" John hanya tersenyum remeh mendengar perkataan Zeha.


Aeri tersenyum getir dengan kepala yang bergerak miring. Pancaran matanya seolah mengatakan maaf pada Zeha, karena bibirnya tidak dapat di bawa kompromi lagi. Kelu dan terasa berat. Ditenggorokan seolah ada batu yang menghalangi.


"Sudah, cukup!" Dengan kasar John menepis tangan Zeha, lantas menarik Aeri ke belakangnya. "Kau terlalu melankoli Zeha," ujar John dengan mulut miring, mengejek.


Dibalik punggung John, Aeri dapat melihat mata Zeha lurus ke arahnya. Begitu dingin dan penuh amarah. Urat-urat matanya bahkan sampai membuat mata itu memerah karena emosi yang mulai mengusai. Aeri menunduk, tidak sanggup lagi bertemu pandang dengan Zeha.


"Ayo kita pergi." Tanpa peduli dengan amarah Zeha yang terlihat jelas, John menarik tangan Aeri, pergi dari sana.


Zeha terus menatap punggung kecil yang kian menjauh itu. Giginya bergemelatuk, penuh emosi.


Brakkh!


Dengan emosi yang mengusai, Zeha melayangkan kepalan tangan ke arah badan mobil, memukul benda itu hingga kemik. Berteriak dalam keheningan.