The President'S Crazy

The President'S Crazy
part. 45



Pada akhirnya Aeri terpaksa berbohong mengenai apartemen milik Zeha. Keraguan Yohun yang terlihat di awal membuat Aeri menggigit bibir dengan detak jantung yang membuat resah. Ia harus memeras otak untuk mencari alasan yang berkaitan.


Mengatakan bahwa apartemen tersebut milik teman adalah kesalahan terbesar. Hal tersebut malah membuat Yohun meragukan Aeri. Karena setahu Yohun, Aeri tidak memiliki teman dari kalangan atas.


"Aku tidak tahu kau punya teman kaya seperti ini."


Perkataan Yohun itulah yang membuat Aeri deg-degan, sebab apa yang ia katakan itu benar. Namun, Zeha juga bisa dikategorikan sebagai teman, kan?


"Iya, dulu aku tidak punya, tapi sekarang ada," dalih Aeri waktu itu. Ia tidak berani menatap wajah Yohun. Bisa gawat jika lelaki itu mendapati kebohongan di matanya.


"Jadi, mana temanmu itu? Cowok atau cewek?"


Ini-nih pertanyaan Yohun waktu di apartemen Zeha yang membuat Aeri semakin gelisah. Kok bisa, ya pertanyaan tepat sasaran begitu? Saat itu, sembari membawa kaki masuk, Aeri berpikir keras.


"Eh ... apa yang kau pikirkan? Sudah tentulah cewek." Aeri berpura-pura emosi. Padahal ia sudah ketar-ketir menjacari jawapan. "Sekarang dia di luar kota.. sudahlah.. kau duduk diam di sana. Temanku itu tidak suka barang pribadinga disentu oleh orang asing," pesan Aeri sebelum ia masuk ke dapur. Bahaya jika nanti Yohun menggeledah apartemen tersebut.


Setelah mengatakan bahwa temanya itu adalah anak dari seorang CEO barulah Yohun mulai percaya. Ya, walaupun tetap terdapat keraguan setipis kulit bawang. Lelaki itu heran saja, kok bisa ya, anak CEO mau berteman dengan orang-orang dari kalangan biasa seperti Aeri?


Yohun bahkan sempat memicing curiga pada Aeri. Bukan ia tidak suka Aeri punya teman baik seperti itu, tapi aneh saja. Bahkan Yohun merasa sangat bersyukur karena ada orang yang memperlakukan Aeri dengan sangat baik.


Saat ini mereka telah menginjakkan kaki di rumah sakit. Di tangan Aeri membawa ranteng berisi makanan kesukaan sang ayah yang telah ia masak selama 1 setengah jam. Sedangkan Yohun membawa detak jantung yang kian memompa cepat.


Yohun tidak tahu akan bagaimana reaksi orang tua itu saat melihatnya nanti. Yohun tidak kisah jika nanti ia akan dibenci oleh ayah Aeri karena menampakkan diri, namun satu yang pasti, Yohun ingin menebus samua kesalahannya pada Aeri dan ayah gadis itu. Yohun tahu bahwa hanya dengan maaf saja tidak akan sebanding dengan apa yang telah ia lakukan pada kedua orang itu.


Tn. Kwon baru saja siuman dari pasca operasi. Tentu saja dari segi tekanan tidak bisa terlalu dibebankan, jadi keputusan untuk menemuinya apakah keputusan yang tepat? Bagaimana jika kedatangannya malah semakin membuat Tn. Kwon drop? Itulah yang saat ini menjadi beban pikiran lelaki tersebut.


"Aeri ...," panggilnya tepat saat tiba di depan lif. "Aku rasa, aku tidak jadi ikut menemui ayahmu," sambung Yohun saat Aeri menoleh.


"Lho, kenapa?" Tentu saja Aeri kaget karena tadi Yohun sendiri yang sangat beriya-iya ingin ikut, setelah sampai lelaki itu malah berubah pikiran, pula?


"Aku tidak berani," jawap Yohun Jujur. Membuat Aeri semakin bingung.


"Tidak berani kenapa? Takut kalau ayah akan marah padamu?"


Ting~


"Tidak apa lain kali saja aku--"


"Aeri?"


Kontan kedua atensi itu menoleh ke arah sumber suara yang berasal dari dalam lif yang baru saja terbuka tanpa Aeri dan Yohun sadari.


Aeri mengernyit kaku menatap lelaki yang kedua tangannya tersimpan di dalam kantong celana bahannya. Tatapan tajam yang terkesan sombong menatap intens pada Aeri yang kaget melihat keberadaannya. Secara perlahan, namun pasti lelaki itu mendekat pada Aeri hingga ujung sepatu bersentuhan dengan ujung sandal milik Aeri.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Suara dingin nan berat itu menyapu telinga Aeri.


"A-anu .... t‐‐tuan -- itu ...."


Aeri menelan susah salivanya mendengar pertanyaan dingin yang terkesan menuntut itu. Yang sialnya, kenapa Aeri malah merasa bersalah? Padahal ia tidak ada hubungan apa-apa pun dengan Zeha. Kekasih? Itu tidak resmi. Bukan hubungan kekasih seperti mana orang-orang menjalaninya.


"Ada apa Tn. Zeha? Apa salah jika aku bersama Aeri?"


Zeha mengalihkan tatapan mata intimidasi miliknya pada Yohun yang berdiri tepat di samping Aeri. Bibir Zeha tertarik miring menanggapi ucapan Yohun. Mereka berdua adalah rekan bisnis, tetapi musuh dalam cinta.


"Tidak salah, tapi aku ingin tahu," sahut Zeha dingin. Ia kembali beralih pada Aeri yang membeku tepat dihadapannya.


"Dan apa itu?" Zeha menunjuk ranteng yang Aeri pegang menggunakan dagunya. Lalu beralih menatap bola mata Aeri dengan tajam sehingga gadis itu tidak berkutik. "Apa kau berniat mengunjungi seseorang?"


•••


Cklek!


Manik teduh lelaki yang sudah lama tidak Aeri lihat membuatnya kontan mengalirkan air mata kala bertemu pandang dengannya. Bibir pucat pecah-pecah itu tersenyum lembut padanya. Senyuman begitu Aeri rindukan.


"A-ayah ...." Aeri berlari, berhambur kepelukan sang ayah terkasih, menangis segukan di pundak tua itu. "Aa .... hikss .. A-ayah, aku merindukanmu hiks ..."


"Aku p-pikir hiks ... ayah a-akan meninggalkanku hiks ...." Pelukan Aeri semakin erat ditubuh lemah ayahnya. Ia seolah takut, jika dilepas ayahnya akan kembali menutup mata.


"Maafkan ayah, sayang. Maaf karena sudah menakutimu," tutur ayah begitu lembuh, menenangkan hati Aeri yang sesak. Lihuid bening bak kristal juga jatuh membasahi wajah keriputnya.


"Dan, ayah tidak mungkin meninggalkan putri kesayangan ayah ini," tambah ayah meleraikan pelukan itu. Tangan hangatnya menyeka aliran air mata di pipi Aeri, membuat gadis itu semakin menangis dan kembali memeluk tubuh sang ayah.


"Sudah ... jangan sedih lagi, kan ayah sudah sembuh. Ayah tidak akan meninggalkan kamu sendiri lagi." Ayah kembali mengusap wajah putih putrinya. Ia sangat tau, putrinya itu pasti menderita disaat ia tidak sadarkan diri. Lihatlah pipi yang sudah semakin tirus itu. Hal itu malah membuatnya merasa bersalah.


"Maafkan ayah, ya nak. Karena ayah kamu jadi susah." Ayah meraih tangan kecil sang putri. "Seharusnya ayah yang menjagamu dan bukan sebaliknya," sesal ayah Aeri.


"Apa yang ayah katakan? Aku tidak susah kok. Dulu ayah yang menjagaku, dan sekarang giliranku yang menjaga ayah. Jadi jangan meminta maaf, ayah tidak salah," tukas Aeri, merapikan rambut ayahnya yang berantakan. "Sudahlah. Aku ada bawa makanan kesukaan ayah. Ayah makan, ya?"


Aeri menyediakan makanan tersebut. Mengeluarkan dari ranteng tingkat yang ia bawa. Di dalam ada kimchi jigae, sup rumput laut, dan terakhir telor gulung yang dicampuri lobak dan bawang bombai yang dicincang halus. Semua jenis makanan itu adalah makanan kesukaan ayahnya.


"Ini aku buat special buat ayah. Biar ayah makan yang banyak dan cepat keluar dari rumah sakit," tutur Aeri meletakkan sudu di tangan ayahnya.


"Tapi ...." Aeri mengangkat pandangan. "Kenapa Yohun ada di sini?"


Deg!


Aeri hampir melupakannya. Ralat. Memang Aeri telah melupakannya pun. Ia reflek bangkit seraya menoleh pada Yohun.


"D-dia ingin me-menjenguk ayah. Dia sudah berubah ayah, dia telah menyesali semua perbuatannya ...."


"Lalu ... siapa lelaki di sampingnya?"