The President'S Crazy

The President'S Crazy
part. 85



๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฉ. ๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ-๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ˆ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช.


Tap tap tap..


Ayunan kaki dengan tapakan jelas terdengar jelas mendekat kearah Zeha yang saat itu melihat masuk ke dalam ruangan Aeri melalui kaca pada pintu. Atensinya teralihkan.


"Brengsek!"


Buk!


Tepat dikala Zeha menoleh, satu bogem mentah mendarat begitu kuat di atas pipi tegasnya. Ia oleng ke belakang, hampir jatuh jika tidak memiliki keseimbangan tubuh yang baik.


Zeha menjilat bibirnya dan terasa asin. Wajahnya kontan menoleh bengis dengan manik tajam menghunus.


"Apa yang kau lakukan?!" desis Zeha bertanya.


"Aku yang seharusnya bertanya! Apa yang kau lakukan?! Kenapa Aeri bisa terluka?! Kenapa?!"


Seketika Zeha terdiam. Pertanyaan itu Zeha tidak memiliki jawapannya karena dirinyalah puncah dari apa yang tertimpa pada Aeri. "Lebih baik kau pergi, Yohun! Tidak perlu sok peduli pada Aeri!" tukas Zeha, mengacuhkan lelaki itu. Ia kembali menatap masuk ke dalam ruang rawat Aeri.


Srek!


Yohun menarik kerah baju itu, menghempasnya pada dinding, emosinya membuncah. Sikap Zeha terlihat begitu bersahaja pada apa yang terjadi pada Aeri. Seolah lelaki itu langsung tidak merasa cemas, sedang ia hampir tidak bisa bernapas dengan tenang setelah mendengar kabar tentang Aeri.


"Kau benar-benar brengsek Tn. Zeha! Kau pengecut! Kau egois! Kau menempatkan Aeri dalam bahaya! Kau langsung tidak pantas mendapat perhatian dari Aeri!" tukas Yohun sarkas. Kerah baju yang berada dalam genggamannya hampir robek, saking kuat ia tarik.


"Aku memang bukan lelaki baik, tapi aku juga tidak lebih buruk darimu yang membuat Aeri menderita! Padahal Aeri... Mencintaimu bodoh!" sergah Yohun menghempas bahu itu.


Zeha bergeming di tempat. Apa yang dikatakan oleh Yohun sungguh menampar dirinya. Bayangan saat Aeri mengatakan hal itu kembali terngiang di benak Zeha. Tangan penuh urat itu kembali terkepal penuh amarah dan rasa bersalah.


"Lepaskan Aeri...."


Zeha refleks menoleh. "Tidak! Bahkan jika kau ingin membunuhku, aku tidak akan melepasnya!"


"Aeri juga manusia. Dia memiliki hati yang begitu rapuh, yang seolah jika tersentuh akan langsung hancur. Apa kau pernah memikirkan perasaannya saat kau menyakitinya? Apa yang dia rasa saat kau hina, kau maki dan kau bentak?"


Zeha terdiam dengan membuang wajah.


"Manik teduh itu banyak menyimpan rasa sakit. Pernahkah kau memperhatikannya? Tidak, kau tidak pernah." tangan Yohun mengepal penuh emosi.


Jika bisa ia menukarkan nyawanya demi kebahagiaan Aeri, maka ia akan sanggup melakukannya. Bahkan jika bisa pun, itu masih tidak dapat menghapus rasa bersalahnya pada wanita itu.


"Aeri yang malang. Dia malah jatuh cinta pada lelaki yang sering mengeluarkan air matanya, yang membuat hatinya bagai diiris-iris."


Buk!


Kali ini Zeha yang melayangkan pukulan secara tiba-tiba, menghantam wajah Yohun yang tampan.


"Sekarang kita impas." Zeha mengibas-ngibas tanganya, mencuba membuang rasa yang ia rasakan setelah memukul wajah itu. "Bahkan jika aku lebih buruk darimu pun, aku tidak akan ingin direndahkan olehmu!"


"Kau tahu sendiri bahwa Aeri mencintaiku, jadi aku juga tidak akan melepasnya. Bahkan jika aku mati, dan bahkan jika dunia ini akan kiamat," tambah Zeha seraya melangkah pergi.


"Jika begitu," seru Yohun menghentikan Zeha. "Jika begitu ... Aku harap kau tidak akan menyakitinya lagi, jika tidak maka aku akan merampas Aeri dengan cara apapun," lanjut Yohun tidak main-main.


Zeha menyahut tanpa berbalik. "Itu tidak akan pernah terjadi. Aku pastikan itu." setelahnya Zeha pun kembali membawa tubuhnya pergi dari sana.


Yohun berbalik, menatap tepat ke arah Aeri saat maniknya tepat mengenai kaca yang terdapat pada pintu. Rasanya ia sangat ingin mengulang waktu dan tidak akan mempergunakan Aeri lagi. Ia akan menyimpan Aeri hanya untuknya, tapi apalah dayanya. Yohun kembali mengepal.


๐˜ˆ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช... ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ซ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ถ?


Yohun jalan mendekat. Dengan maniknya, ia dapat melihat tubuh kecil Aeri penuh dengan alat-alat medis, bahkan dokter masih berada di dalam demi memastikan semuanya baik-baik saja setelah proses pemindahan.


"Jika pun pada akhirnya kau tidak bersamaku, aku harap kau segera sehat dan menjalani hidup yang bahagia bersama orang yang kau cintai.... sayang."


Setelah cukup puas, Yohun pun membawa tubuhnya pergi dari sana dengan hati yang berat. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ.


Tepat saat itu, Yuri terlihat datang dari bagian perawatan, langkahnya tampak tergesa-gesa setelah mendapat khabar bahwa Aeri masuk ICU. Yuri yang saat itu baru saja ingin menjenguk ayah Aeri langsung patah balik dengan langkah lebar.


Setelah mengetahui Aeri berada di kamar yang mana, Yuri langsung berlari dengan perasaan cemas setengah mati.


Ia langsung menerobos masuk. Saat ituย  dokter telah selesai dan Tn. Jeon beserta istri telah keluar dari ruang rawat Aeri begitu juga dengan Taehoon dan Gary. Tidak satupun dari mereka yang menghentikan Yuri, karena mereka berpikir mungkin saja Yuri salah satu kerabat Aeri.


"Ya, ampun, Aeri," ujar Yuri kaget melihat keadaan miris sahabatnya. Langkahnya mendekat dengan lihuid bening mengalir, membasahi pipi.


"Apa yang terjadi Aeri? Kenapa kau bisa seperti ini?" lirih Yuri menyentuh lengan itu.


Maniknya dapat melihat balutan kain kasa pada dada bagian kiri Aeri yang terbalut baju pasien. "Aeri...," liriknya pilu. "Bagaimana jika ayahmu melihat kau seperti ini, Aeri?" Tangan lembut Yuri mengusap pelan surai Aeri yang tergerai teratur.


"Sahabatku yang malang. Hidupmu tidak pernah tenang, sayangku." Betapa perihnya hati Yuri melihat keadaan miris sang sahabat. Air matanya terus mengalir membasahi pipi.


Diluar Gary memperhatikan melalui kaca yang terdapat pada pintu. Ia hanya was-was karena ia tidak mengenal Yuri. Bisa saja wanita itu penjahat, sedangkan ia diperintahkan oleh Zeha untuk menjaga Aeri.


๐˜š๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช. Gary berbalik. Dapat ia lihat bahwa Tn. Jeon beserta istri terlihat sangat lelah. Wajar saja karena ini sudah menunjukkan pukul 10 pagi, sedangkan Tn. Jeon sudah berada di sana sejak semalam.


"Tn. Jeon, anda lebih baikย  pulang untuk beristirahat, begitu juga dengan Ny. Kim dan Tuan Taehoon. Biar saya yang menjaga nona Aeri," tukas Gary sopan dengan kepala menunduk.


"Apa yang Gary katakan benar Tn. Jeon." Taehoon membenarkan ucapan Gary. "Anda terlihat sangat lelah."


Dengan memijit pelipis, Tn. Jeon menyahut. "Baiklah. Tolong awasi dan jaga Aeri baik-baik Gary," pinta Tn. Jeon seraya bangkit.


"Baik Tn. Jeon."


"Mari kita pergi." Kepergian mereka diiringi oleh tundukan hormat Gary.


Seketika Gary menoleh masuk ke dalam ruangan Aeri. Mengamati hubungan dekat yang terlihat antara Yuri dan Aeri. Tidak lama setelah itu ponsel miliknya berdering, panggilan dari sang bos, Zeha. Sebelum mengangkat, sekali lagi Gary menoleh, lantas melangkah pergi setelahnya. Ia akan memberi ruang untuk Yuri berbicara pada Aeri walau tanpa balasan. Mungkin saja dengan begitu, Aeri akan cepat bangun.


"Ya, Tuan?" jawap Gary seraya berlalu.


"Kau sudah memusnakan mansion itu?" tanya Zeha di seberang.


"Seperti yang Tuan perintahkan. John, Jiha dan semua anak buahnya musnah bersama bangunan itu."


"Bagus. Jangan sampai ada satupun pengikut brengsek itu terlepas!"


"Tuan jangan cemas. Mereka yang masih hidup telah saya ikat sebelum tempat itu diletupkan."


"Bagus Gary. Kau selalu melakukan lebih baik dari yang aku perintahkan. Aku akan menaikkan gajimu."


Bibir yang tidak pernah tersenyum itu sedikit tertarik setelah mendengar apa yang sang tuan katakan. "Terima kasih banyak Tuan Zeha."


"Hmm. Bagaiamana keadaan Aeri?"


"Nona Aeri masih begitu Tuan. Tiada tanda-tanda akan bangun." Di seberang seketika terdengar helaan napas panjang dari Zeha.


"Baiklah. Jaga dia baik-baik. Jika sesuatu terjadi padanya, bukan hanya gajimu yang aku potong melain kan kepalamu!"


"Baik Tuan."


Tut tut tut.


Walau sedikit kaget dengan ancaman sang Tuan, itu tidak terlihat di wajah yang tidak kalah dingin dari Zeha itu. Gary berbalik menuju ruang rawat Aeri. Keberadaan Yuri tidak terlihat lagi saat Gary tiba. Hanya terlihat seseorang yang terlihat aneh.


Gary mengernyit. Dengan cepat tangannya memutar knock pintu saat menyadari sesuatu yang salah.


"Hei! Apa yang kau lakukan?!"