
Aeri terdengar menghela napas panjang. Kepalanya sudah terasa pusing sejak beberapa menit yang lalu. Gelas berisi arak di tangannya adalah gelas yang ke-lima yang John berikan. Sebenarnya Aeri bukanlah seorang peminum yang handal. Biasanya gelas ke-tiga sudah berhasil membuatnya mabuk berat.
Tapi, ini entah bagaimana Aeri berjaya mempertahankan kewarasannya dengan sesekali menggeleng demi menghalau setan yang mencuba menarik kesadarannya.
"Kenapa nona Aeri? Sudah tidak sanggup?" Sudut bibir John tertarik miring.
"Maaf Tuan ... saya akan menemani anda saja," ujar Aeri seraya meletakkan gelas, namun malah di tahan oleh John.
"Tidak bisa begitu. Kau harus menemani aku hingga selesai," timpal John, kembali menyodorkan gelas tersebut.
Seketika Aeri mengatub rapat kedua netranya mendengar ucapan John. Entah mengapa semua lelaki yang dia kenal tidak ada yang baik, semuanya brengsek.
"Saya sudah tidak sanggup Tuan. Saya bukan jenis yang kuat minum ...."
John tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya. "Bisa. Kau bisa tidak minum, tapi ..." lelaki Korea-Rusia itu mendekat, berbisik pada telinga Aeri. "Dengan begitu aku akan memanggil Zeha, bagaimana?" Ancaman halus itu berjaya menyentak Aeri. Ia tidak memiliki hubungan dengan Zeha, tetapi Aeri takut jika John memberi tahu pada atasannya itu, lagian hari itu, Zeha pernah memerintahkannya untuk berhenti.
John membawa tubuhnya bersandar pada belakang sofa seraya menyilangkan kaki. "Baiklah. Kau tidak perlu minum lagi. Biar aku sendiri menghabis 5 botol ini."
"Saya akan menemani anda." Mau tidak mau, Aeri terpaksa menguatkan diri untuk malam itu. Ia berharap keajaiban berlaku dengan tidak mabuknya dirinya.
"Kau memang pekerja yang profesional, Aeri." Dengan bibir tertarik miring, John menuangkan arak hingga gelas yang berada di pegangan Aeri penuh.
"Ayo ... bersulang ...," seru John, mendentingkan gelas bersama Aeri yang telah terlihat sedikit oleng.
Selang beberapa menit. John terus menuangkan arak begitu gelas Aeri kembali kosong hingga tidak memberi ruang untuk wanita itu menarik napas. Satu jam kemudian, gelas yang berada digenggaman Aeri jatuh begitu saja dengan tubuh yang hampir ambruk ke depan jika tidak dengan sigap John tahan, lalu ia sandarkan pada dada bidangnya.
Lelaki itu tersenyum. "Nona Aeri, apa kau baik-baik saja?" Tanya John sembari merapikan anak rambutnya yang menghalang matanya dari melihat wajah cantik itu.
"Kau brengsek Tuan John ...," gumam Aeri khas orang mabuk. Bibirnya bahkan menggerucut lucu membuat John tersenyum. "Sama seperti lelaki itu!" Tiba-tiba pula meninggi hingga mengagetkan John.
Tangan Aeri menyanggah pada tubuh John, lalu ia beri tekanan di sana agar ia bisa menegakkan tubuhnya yang oleng kiri dan kanan. Matanya memicing melihat pada John yang terus tersenyum miring tanpa melepaskan tangan dari menahan tubuh kecil Aeri.
"Lelaki tampan, cih!" Cicit Aeri, melantur tanpa sadar. Ia memegang kepalanya yang terasa berat dan ngeri. Sesaat kemudian, kembali jatuh dan menyanggah pada bahu lebar John. "Aku benci," gumam Aeri tidak jelas.
"Sangat menarik. Bahkan lebih menarik dari Jiha," bisik John, lalu meraih ponsel miliknya.
"Dilihat dari tubuhnya, sepertinya dia belum pernah di jamah oleh lelaki," timpal salah seorang teman John yang terus menikmati tubuh telanjang Aeri.
John melirik tajam bak samurai. "Jaga matamu. Jangan sampai kena cungkil olehku!"
Teman John itu berdecak jengkel. John bersikap seolah Aeri miliknya. "Kau begitu posesif, padahal dia bukan milikmu."
"Sekarang memang bukan, tapi suatu saat nanti," tukas John seraya menoleh pada Aeri yang terus berkomat-kamit tidak jelas. Tangannya membelai pipi Aeri yang sesekali mengembung.
John mengambil foto Aeri yang sedang bersandar mesra tanpa sadar padanya. Sekilas ia melirik pada Aeri, lalu kembali melihat ke arah layar ponsel, melihat hasil dari jepretannya. Sangat cantik. John ingin lihat seperti mana reaksi Zeha jika melihat gadisnya berada dalam pelukannya. Dan, foto itu pun tersend pada Zeha.
Zeha yang baru saja selesai nge-gym jam itu, dikejutkan dengan sebuah foto yang memang sengaja dikirim ke nomornya. Bibir sexynya refleks mengumpat tajam mengetahui siapa yang mengirim foto tersebut.
Tanpa membasuh tubuh, Zeha hanya meraih jaket lalu segera pergi dengan kecepatan penuh meninggalkan mansion miliknya yang berada di ujung kota.
"Aeri!" Zeha menggeram tertahan. Padahal ia sudah meminta pada wanita itu untuk berhenti dari kerjanya itu. Namun, ternyata perintahnya diabaikan.
"Wanita keras kepala!"
Kecepatan yang terlihat melebihi 100. Bagai ahli, Zeha menyelit diantara mobil dan mobil lainnya. Ia ingin segera sampai di tempat tujuan.
John memindai secara saksama wajah lembut dengan manik terpejam Aeri. Ini adalah kali kedua ia dan Aeri bertemu, namun gadis dengan wajah lembut, manik jernih kecoklatan itu mampu membuat John tertarik dan ingin memilikinya. Bagi John, merampas milik Zeha bukanlah hal yang sulit ia lakukan. Tapi, John tidak yakin, apakah akan berhasil pada Aeri. Jika dilihat-lihat, Aeri berbeda dari yang lain.
Brak!
John kontan menoleh. Bibir yang hampir menyentuh milik Aeri kini telah tertarik miring penuh remehan pada sosok yang melangkah tegas ke arahnya.
"Sayang sekali. Aku hampir merasakan betapa nikmat milik Aeri. Kau cepat sekali Tuan Zeha," sindir John.
"Brengsek!"
Bugk!
Satu bogem mentah berjaya mengenai wajah tampan campuran Korea-Rusia John. Ia hanya tersenyum sinis seraya mengusap sudut bibir yang pecah. John membiarkan Zeha menarik Aeri, ia hanya bersandar sambil menyilang kaki.
"Jika kau tidak ingin milikmu disentuh lelaki lain, maka jaga baik-baik. Sangat sayang, wanita seperti Aeri bekerja di tempat seperti ini," imbuh John menatap pada wajah bengis Zeha.
"Jangan pernah kau cuba-cuba mengusiknya! Ini kali terakhirnya aku melihatmu menyentuhnya. Jika sampai aku melihatmu bertemu atau menyentuhnya lagi, kau tahu apa yang akan terjadi John Park!"
John bangkit, balas menatap Zeha dengan dinginnya. "Kau lupa aku berjaya merebut Jinha darimu?" Ujar John dengan alis tertukik tajam. Ia seolah menyadarkan Zeha bahwa bisa saja ia kembali merampas Aeri.
Tangan Zeha terkepal kuat. "TIDAK UNTUK KALI INI!" ujar Zeha penuh penekanan.
"Kau begitu yakin ...." John terkekeh kala tangannya yang ingin menyentuh lengan Aeri ditepis kasar oleh Zeha.
"Sudah tentu. Karena Aeri bukan Jinha!"
Setelah mengatakannya, Zeha langsung mengangkat tubuh Aeri ala brydal style, lalu keluar dari ruangan John tanpa memperdulikan John yang terdiam dengan perkataan terakhir Zeha.
Seperti yang John tebak, Aeri memang berbeda dari yang lain. Terlihat jelas saat Zeha begitu yakin bahwa Aeri tidak akan menghianatinya seperti mana Jinha menghianatinya. Tapi, ia bukan John jika tidak berhasil merebut Aeri. John tidak peduli, apapun caranya, ia harus mendapatkan Aeri dan menghancurkan hidup Zeha untuk kedua kalinya. Bibir John tersenyum penuh licik.
Zeha baru saja meletakkan Aeri pada kursi penumpang tepat di samping tempat duduk pengemudi sebelum Aeri tiba-tiba menandukkan kepalanya kepada Zeha dengan kerasnya.
"Argk!" Zeha mengerang kesakitan dengan wajah memerah. "Ckk! Apa yang kau lakukan, hah?! Apa kau mau memecahkan kepalaku?"
"Kau lelaki brengsek!"
Zeha terkesiap mendengar makian Aeri. Ia terus memerhatikan Aeri yang tidak membuka mata.
"Lelaki brengsek yang suka mempermainkan aku," lantur Aeri bergumam, namun masih begitu jelas di telinga Zeha yang tajam.
Zeha yakin itu adalah luahan perasaan Aeri. Biasanya orang yang berada dalam pengaruh alkohol akan mengatakan tanpa berpikir dua kali apa yang ada di hatinya. Jadi, Zeha yakin, perkataan Aeri itu adalah dari hatinya yang terdalam.
"Kenapa kau ... be .. gitu kejam?" cicit Aeri. Kali ini ia menarik baju Zeha hingga wajah mereka hampir bertambrakan. "Kau menyiksaku, bodoh!"
"Apa?!" Manik Zeha membulat kaget. "Wah berani sekali kau--"
"Penggoda wanita ... juga," sela Aeri semakin membuat mata Zeha melotot. "Suka bermain wanita! Tidak cukup satu! Lelaki buaya! Pemar--emp!"
Zeha sudah tidak tahan. Ia ******* liar bibir Aeri dalam ketidaksadaran. Mengemut kuat hingga membuat Aeri mendorongnya.
"Suka menciumku tanpa aba-aba," lirih Aeri merebahkan kepalanya pada sandaran kursih. Zeha hanya tersenyum melihatnya.
Saat menjalankan mobil pun, Aeri terus mengacau Zeha. Seperti menarik telinga, menjambak rambut bahkan juga sampai mencubit atau mencucuk-cucuk pinggang keras Zeha dengan jemarinya, hingga lelaki dingin itu tidak bisa fokus pada jalan, alhasil, mobil yang dikendarinya tidak bergerak dalam satu jalur yang lurus, melainkan bergerak kiri dan kanan keluar jalur. Sedang dari bibir Aeri, terus mengeluarkan kata-kata kekesalannya terhadap Zeha.
"Awas saja kau Aeri," gumam Zeha menggeram.