The President'S Crazy

The President'S Crazy
part.9



Tubuh Aeri membeku dengan napas yang tertahan. Manik bening miliknya bahkan hampir melompat dari tempat dikala bibir yang sedikit berisi milik Zeha menempel sempurna di bibirnya.


Tanpa terasa, mata indah itu berkaca-kaca juga berkedut mewakili perasaan marah yang tersulut di hati. Lelaki brengsek!


Dengan kasar aeri mendorong kuat tubuh kekar Zeha lantas melompat turun dari meja kerja itu. Tatapan penuh amarah Aeri berikan bersamaan dengan tangan yang melayang cepat pada wajah tampan sang tuan.


Niat untuk melampiaskan kemarahan atas kurang ajarnya lelaki di hadapan urung kala tangannya malah hanya mengapung oleh cekalan kuat Zeha. Menambahkan kekesalan Aeri saat wajah itu malah tersenyum remeh.


"Kau ingin pengajuan pinjamanmu aku tolak?" desis Zeha mengamcam.


Tangan kecil dalam cekalan Zeha itu mengepal kuat. Sungguh ingin rasanya Aeri melayangkan pukulan yang bertubi-tubi atau bahkan makian yang membuat lelaki di hadapannya itu kesal setengah mati. Akan tetapi, apalah daya, Aeri tidak boleh melakukan semua itu.


"Kau cukup bernyali untuk menamparku. Apa kau sudah bosan bekerja?" Sebelah alis Zeha tertukik tajam.


Lagi lagi Aeri menahan kekesalan. Bahkan giginya bergemelatuk dengan bibir yang mengatub rapat. Ia menunduk kala air mata memaksa untuk keluar. Tangan kirinya dengan pantas menyeka buliran kristal bening tersebut.


Srek!


Rangkulan pada pinggang Aeri membuat gadis itu tersentak dengan tangn yang reflek memegang lengan besar Zeha, mencegah lelaki itu semakin merapatkan tubuh mereka. Tetapi sepertimana sia-sia dikala itu tidak berdampak pada Zeha.


"T-tuan, lepaskan saya," Ia berusaha keras untuk melepaskan diri dari rangkulan Zeha.


Jika saja, ia tahu bahwa dengan datang ke ruangan lelaki ini mendatangkan masalah pada dirinya, sungguh ia tidak akan datang dan meminta tolong padanya. Ia menyesal.


Disaat Aeri sibuk mencuba untuk melepaskan diri dari rangkulan itu, Zeha malah tersenyum miring. Membawa wajah semakin menunduk dan mendekat ke arah wajah cemas Aeri.


Gerakan Aeri kontan terhenti. Disaat ia tengah berusahan melepas diri, Zeha malah kembali mempertemukan bibir mereka. Kedua tangan Aeri sontak berpindah pada dada bidang Zeha. Sekuat tenaga ia menolak tubuh itu saat merasakan gerakan *******.


"Hahh...." akhirnya tautan itu terlepas berkat dorongan kuat Aeri. Padahal beberapa detik lalu, Aeri dapat merasakan lidah hangat Zeha menyapu permukaan bibirnya yang tertutup rapat. Namun, sekarang Aeri cukup lega.


Tetapi, kelegaan itu hilang dalam sekejap melihat tatapan mengerikan yang Zeha pancarkan.


"Kau menginginkan uang itu, kan?" bisik Zeha tepat di depan bibir Aeri.


Jadi, apakah dengan ini Zeha akan memberinya pinjaman? Membiarkan Zeha melakukan sesukanya dan mendapatkan uang itu? Sungguh licik, pikir Aeri.


"Ini juga hukuman atas sikap kurang ajarmu!" tambah Zeha sebelum membuka mulut untuk kembali menyapa bibir Aeri yang sialnya terasa begitu nikmat di bibirnya.


Meraup habis bibir atas dan bawah Aeri dengan agresif. Mengulum benda kenyal dan lembab itu seperti memakan es krim dengan sesekali sapuan lidah. Tadinya, Aeri yang terus menolak akhirnya mencuba untuk ikhlas demi sang ayah. Cengkraman pada kemeja Zeha di dada semakin kuat saat lidah Zeha mengetuk bibir, ingin melesat masuk dalam rongga mulut Aeri.


Mengulum penuh tanpa sisa, Zeha terus menikmatinya. Bahkan lelaki itu meresapi rasa yang begitu sulit untuk ia ungkapkan. Sesekali bibirnya menyesap lidah Aeri lalu beralih pada bibir, hingga mengapit benda kenyal itu dengan bibir, lalu menariknya. Membuat Aeri melenguh tanpa sadar walau sedari tadi ia tidak membalas.


Zeha tersenyum penuh kemenangan saat bibir Aeri berada dalam kuasanya. Kembali ******* penuh nikmat sehingga remasan dapat ia rasakan di bagian dada. Hisapan lembut nan agresif itu membuat bibir Aeri bergerak secara paksa untuk membalas ******* yang telah berubah sedikit lembut itu.


Zeha semakin menggila mencumbu bibir Aeri yang mulai detik itu menjadi candu. Tangan besarnya mulai bergerilya ke arah bongkahan kenyal Aeri. Sehingga membuat Aeri reflek mendorong kasar, dan tautan panas itu pun terlepas.


"Lelaki brengsek!"


Gumahan yang terdengar itu membuat Zeha menyungging senyum iblis. Lantas mencengkraman kuat dagu Aeri.


"Ternyata bibir manismu setajam pisau," bisiknya dengan suara berat. Menyapu sekilas bibir bengkak dan kebas Aeri dengan bibirnya, hingga tak ayal langsung mendapat dorongan untuk yang kesekian kalinya dari gadis di hadapannya itu.


Tungkai Aeri langsung beranjak menjauhi Zeha sebelum seketika pergelangan tangannya dicekal, kemudian tarikan halus dirasakan, hingga merapat pada tubuh kekar Zeha.


"Selesai waktu bekerja nanti temui aku," bisik Zeha tepat ditelinga Aeri. Sebelum detik berikutnya, Aeri menyetak tangan Zeha dan berlalu dengan langkah besar.


Bingung kenapa Aeri bisa keluar padahal pintu terkunci? Mudah, karena Zeha telah lebih dulu membuka kunci pintu disaat menahan diri Aeri tadi.


Seha membawa langkahnya kembali pada kursi kebesarannya sembari jari telunjuk mengusap bibir, bekas cumbuannya tadi. Ia tersenyum tipis.


"Bukankah hari itu kau mengatakan aku gila? Dan aku akan menunjukkan betapa gilanya aku." Zeha tersenyum evil, dengan manik menatap tajam ke depan.


Aeri melangkah lebar dengan perasaan kesal, jengkel, dan marah berbaur menjadi satu lantas membuncah, terasa panas di pangkal kepalanya. Merasa terhina dengan kelakuan sang presiden, seolah diri begitu rendah. Tatapan penuh curiga yang dilayangkan oleh Seoji pun tidak disedari olehnya.


Sampai masuk ke dalam lif pun, Aeri masih terus mengumpat bahkan meruntuki sifat kurang ajar Zeha. Sungguh Aeri tidak habis pikir. Bagaimana bisa seorang presiden yang bertanggungjawab atas kenyamanan pekerja malah melakukan pelecehan terhadap pekerjanya?


Jika diberi pilihan, maka Aeri akan memilih untuk berhenti bekerja daripada terus bekerja dan diperlakukan seperti demikian.


"Lelaki memang semua sama!" desis Aeri bergumam.


Dentingan lif yang terbuka kembali membawa langkah penuh emosi Aeri menuju ruang pantri. Sekarang ia membutuhkan air dingin untuk mendinginkan kepala. Uh! Serasa ingin meletup.


Glek glek glek!


Dapat dirasakan air tersebut mengalir dari tenggorokan, menyejukkan seluruh tubuh Aeri yang terasa panas saat itu. Akan tetapi, itu tidak mampu membuat Aeri melupakan kejadian tersebut.


Sehingga disaat melihat Zeha, ia reflek menghindar, tidak ingin dirinya terlihat oleh lelaki tersebut. Tungkai itu melangkah mundur secara perlahan dikala melihat sang tuan melewati loby untuk meninggalkan perusahaan. Mungkin ada urusan pekerjaan diluar. Aeri tidak ingin ambil peduli, terus mundur meninggalkan pekerjaannya yang kala itu mengelap kaca yang menjadi dinding loby.


Kefokusan Aeri malah mendatangkan malasah padanya. Aeri tidak menydari, dikala sibuk menapak kaki ke belakang. Tanpa ia sedari, dua orang staf wanita sedang berdiri membicarakan sesuatu tidak jauh darinya.


"Argkk!"


Teriakan itu menyentak tubuh Aeri untuk menyadari keadaan sekitar. Ia menoleh kaget pada wanita tinggi lampai yang menatapnya penuh marah.


"Kau buta, ya!" sentak wanita itu, dengan bibir melengkung kesal.


"Aduh... Maaf, maaf ya." Aeri kegalaban dibuatnya. Namun, bukankah itu memang salahnya?


"Kau fikir kakiku ini kayu?!" wanita itu menelisik Aeri dari atas hingga bawa dengan pandangan merendah. Ia berdecih dengan senyum merendah. Sedang Aeri hanya mampu menahan malu.


"Hanya seorang cleaning service ternyata, tapi berkeliaran melebihi pimpinan perusahaan ini, ckk!" cibir wanita itu tersenyum sinis. Semakin menyakiti hati Aeri saat wanita yang berdiri di samping wanita lampai itu, juga tersenyum merendahkan dirinya.


"Saya benar-benar minta maaf nona. Saya tidak sengaja."


"Ya, orang sepertimu hanya tau memintaa maaf, tapi tidak bisa menjaga kelakuan! Seandainya kaki ku patah, apa kau akan bertanggungjawab? Menukarnya dengan kakimu?!"


Aeri bergeming. Dalam hati ia menumpahkan kesialannya ini kepada Zeha. Karena menghindari lelaki brengsek itu, Aeri harus terlibat masalah.


Wanita itu benar-benar merasa muak dengan wajah lembut nan cantik Aeri. Bukankah itu terlihat munafik? Seolah sengaja menampilkan wajah seperti demikian hanya untuk menarik mata para lelaki. Sungguh menjijikkan.


"Pergilah!"


Sontak Aeri tersenyum pada wanita tersebut, seraya berkata. "Terima kasih, nona. Terima kasih." beberapa kali Aeri menundukkan kepalanya, sangat berterima kasih karena wanita itu tidak menuntut apa-apa, sebelum kemudian mengambil langkah besar menjauhi wanita pemarah itu.


Akan tetapi, tanpa Aeri sadari wanita itu menarik sudut bibirnya membentuk senyum sinis. Tepat, disaat Aeri melewati tubuh tinggi itu, dengan sengaja wanita tersebut merentangkan kaki, membuat tungkai Aeri tersandung dan hilang keseimbangan.


Tetapi Aeri tidak ingin itu terjadi dan menjadi bahan tertawaan orang yang berada di sana. Tubuhnya linglung sebisa mungkin ia stabilkan. Tubuhnya bergerak kiri kanan dan lalu ke belakang, lantas ke depan dengan tidak beraturan.


Walaubagaimanapun, Aeri mempertahankan tubuh itu agar tidak jatuh, tetap saja dewa tidak memihak padanya dan pada akhirnya, usaha itu menjadi sia-sia dengan jatuhnya tubuh Aeri kebelakang.


Ternyata sangkaan itu salah. Mengkira bahwa dewa tidak lagi memihak Aeri. Nyatanya, masih ada takdir lain yang menjadi tujuan dari jatuhnya tubuh Aeri.


Terbukti saat tubuh kecil Aeri jatuh pada tubuh kokoh yang entah sejak bila berada di belakangnya. Secara tidak lansung menolong Aeri dari membentur marmer loby yang keras dan dingin.


Kedua bahu sempit itu dipegang, membantu Aeri berdiri dengan benar. Manik jernih Aeri dapat melihat wanita tadi beserta temannya membeku ditempat dengan wajah yang menegang takut. Kebingungan menghampiri pikiran Aeri. Siapa sebenarnya yang berada di belakang tubuhnya?


Sedetik kemudian, semua itu terjawap saat tubuh keras itu bergerak ke samping Aeri. Dan sialnya, ternyata orang yang terus ia hindari malah kini berdiri tepat di sampingnya. Sebenarnya takdir apa yang sedang dewa rencanakan untuknya?


Sesunggunya, Aeri bingung harus bagaimana. Apakah ia harus senang atau sebaliknya?


"Aku tidak ingin memiliki pekerja seperti kalian!" suara dingin itu membekukan siapapun yang mendengarnya. Tajam hingga menusuk ke jantung. Apalagi sorot mata yang menghunus bagai pedang samurai tersebut.


"Gary!" panggil Zeha menggelegar seisi loby. Sedang yang di panggil--juga yang sedari tadi terus berdiri di belakang Zeha kontan mendekat. "Seret kedua wanita ini keluar! Aku tidak ingin melihat wajah mereka!"


Wanita tinggi lampai itu reflek mendekat satu langkah. Sedangkan temannya termangu, tidak mengeluarkan suara.


" Tuan, saya mohon jangan peca--"


Plak!


Dengan keras mulut wanita itu ditampar oleh Zeha, membuat sang empu meringis perih sembari memegang mulut dengan kedua tangan. Manakala, melihat tindakan kejam itu membuat Aeri menelan susah saliva, berdiri kaku di samping Zeha.


"Aku tidak mengizinkanmu untuk bersuara!" kembali suara yang membuat merinding itu terdengar. "Di sini hanya aku yang bisa menindas, karena aku BOSnya!"


Semua mata yang melihat tidak ada yang berani membela kedua wanita tersebut. Lagi pula, ini memang kesalahan mereka.


Kedua wanita itu pun di bawa keluar dan tidak akan pernah menginjakkan kaki mereka di sana lagi. Zeha tidak berniat memiliki staf rendah etika seperti kedua manusia sampah itu.


Zeha memutar tubuh, netranya memindai seisi loby. Tiada yang berani mengangkat wajah disaat wajah dingin dan tegas itu memancarkan aura membunuh yang membuat sekujur tubuh bergidik ngeri.


"Jika setelah ini, masih ada yang berani untuk berkelakuan seperti kedua wanita itu, maka mereka akan bernasib sama detik itu juga!" suara bariton milik Zeha semakin membuat para staf menundukkan kepala. "Dan untuk pengetahuan kalian semua, mulai besok, gadis yang berdiri di belakangku saat ini akan menjadi seketarisku. Jadi, apabila ada yang ingin kalian sampaikan, bisa langsung menemuinya!"


Set!


Aeri yang saat itu termangu dengan pengumuman yang keluar dari bibir sang presiden, dibuat terjingkat dikala tubuh besar dan tegap itu menoleh secara tiba-tiba. Reflek kepala itu menunduk, tidak berani menatap wajah tegang serius itu. Bahkan salivanya terasa menjadi pekat sehingga begitu sulit untuk ditelan.


Bagaimana tidak seperti itu, jika pandangan Zeha begitu menusuk. Seolah Aeri telah melakukan sesuatu yang salah. Atau... jangan-jangan tindakan Aeri yang terus menghindar, diketahui oleh Zeha?


Tidak mungkin, kan?


"Kau... ikut denganku!"