The President'S Crazy

The President'S Crazy
part.16



"K-kau ...." Yuri yakin, lelaki inilah yang waktu itu ia cium.


"Sehun," sambungnya menjawap Yuri.


Mereka berbicara hanya dengan gerakan bibir disaat mata bertemu pandang.


"Jangan ikut campur! Ini urusanku bersama dia," sentak Juan tidak terima. Rencana ingin membalas Yuri gagal karena lelaki asing itu. Apalagi saat ini tangannya tidak bisa lepas dari genggeaman itu.


Senyum tipis yang tadi diberikan pada Yuri, kini secara perlahan sirna tergantikan dengan aura dingin yang mematikan sehingga berhasil membuat Juan meneguk saliva dengan susah payah. Sehun paling tidak suka melihat wanita dikasari.


"Apa kau ingin aku menamparmu hingga kepalamu terlepas?" Sebelas alis Sehun tertukik tajam melihat ke arah Juan. "Sudah beberapa kali aku menampar orang sepertimu sehingga kepala mereka terlepas dan dijadikan makanan."


"Tidak perlu banyak bicara! ... oh, aku ingat. Kau kekasih Yuri hari itu, kan?" Juan menatap Sehun atas bawah. Seolah ia lebih baik dari lelaki itu. "Berapa yang wanita ini bayar sehingga kau mau berpura-pura menjadi kekasihnya, ha?!"


"Kau--" Sehun menhentikan Yuri dengan code tangan.


"Sepertinya kau memang ingin mencubanya. Tapi kau jangan salah, aku mungkin lebih kaya banding dirimu. Dan sekarang aku mengatakan bahwa jika aku menampar seseorang itu, aku menggunakan parang, hingga kepala mereka langsung terlepas dari tubuh. Bagaimana? Kau mau mencuba?" Tambahnya yang lansung membuat Juan pucat pasi. Ternyata ia hanya berani pada seorang perempuan. Diancam sedikit sudah menciut.


Sepertinya bukan hanya Juan yang berhasil ia takuti, tetapi Yuri juga. Wanita itu sudah menelan beberapa kali salivanya mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Sehun.


"Yang benar saja?" Batinnya berbisik.


Tarikan dalam tangan Sehun semakin kuat setelah ia mengatakan kalimat tersebut. Ia menyeringai.


Dengan gerakan pantas Sehun mengikis jarak. Tangan besar beruratnya mencengkram kuat rahang Juan hingga membuat lelaki itu kesulitan bernapas.


"Sekali lagi aku melihatmu berlaku kasar pada wanita, aku tidak akan hanya memutuskan kepalamu, aku bahkan akan memblender tubuhmu dan akan aku jadi jus untuk singaku," bisik Sehun mengerikan. Ia berhasil membuat Juan lari luntang-lantang pergi dari sana. Sudut bibirnya tertarik miring.


Ia memutar tubuh, dalam sekejap aura gelas itu hilang dan tergantikan dengan aura ceria. Ia menatap Yuri. "Bagaimana?"


Sekali lagi Yuri menelan kasar salivanya. "Me-mengerikan," sahutnya terbata. Membuat Sehun tertawa. Ia tidak menduga, Yuri akan ikutan takut mendengar apa yang ia katakan tadi.


Bahkan authornya juga sempat bergidik seram. Apalagi Yuri yang berada di sana. Bahkan sekarang Yuri tidak berani menatap wajam tampan Sehun membuat sang empu nama mengambil langkah mendekat. Sedikit menundukkan tubuh sehingga wajah mereka sejajar dalam jarang yang dekat.


"Semua yang aku katakan tadi benar semua, lo," bisik Sehun tepat di depan bibir Yuri.


"A-apa?!" Yuri mendelik kaget dengan langkah mundur yang refleks. Ia melirik kaget. Tidak mungkinkan lelaki di hadapannya ini juga seorang sycopat? Harap saja semua itu hanya pikiran negetifnya.


Sehun malah tertawa melihat mimik wajah Yuri yang terlihat lucu saat sedang dalam perasaan was-was. Membuat Yuri semakin was-was. Ya, walaupun apa yang ia katakan tadi benar semua dan bukan hanya sekedar ancaman yang tidak nyata.


Tanpa sengaja manik coklat gelap Yuri terpandang bibir yang sedang melebar dengan deretan gigi putih indah di dalam. Sekelibat bayangan disaat ia mencium Sehun waktu itu melintasi kepala. Refleks kedua pipinya bersemu, ia mengalihkan pandangan seraya menggeleng, menghalau bayangan memalukan itu.


Namun hal itu tertangkap oleh mata tajam Sehun, ia kembali mendekat. Ia seolah tahu apa yang ada di dalam pikiran wanita di hadapannya itu.


"Kenapa? Kau mengingat ciuman waktu itu?" Cetus Sehun, membuat kepala itu menoleh cepat hingga pandangan mereka kembali bertemu.


Hal itu semakin membuat wajah Yuri memanas dan merah bak kepiting rebus. Yang lagi-lagi membuat Sehun tersenyum. "Bukannya kau yang menciummu? Kenapa perlu malu pada tindakan sendiri? Kau bahkan sedikit mengul--empp!"


Tangan mungil itu membekap mulut yang terkesan frontal itu. Ya ampun. Ia rasa wajahnya sudah kembang ingin meletup karena menahan malu. Mengapa juga ia harus bertemu dengan lelaki seperti ini?


"Ja-jangan bicara sembarangan! Itu karena aku memiliki alasan. La-lagian kau ... kau juga menikmatinya, kan?" Cerocos Yuri berbisik. Ia tidak ingin ada yang mendengar pembicaraan mereka. "Apa yang kau lakukan?!" Kontan Yuri menarik tangan saat merasa bibir Sehun mencium telapak tangannya. Menggesek-gesek pada celana bagian bokongnya, menghilangkan bekas bibir itu di sana.


"Kenapa aku harus melewatkan kesempatan yang ada?"


Bibir Yuri kontan melengkung aneh. "Lelaki aneh lainnya." Setelah mengatakan itu, ia lantas berbalik meninggalkan Sehun yang terus mengekorinya melalui bola mata. Bibir tipis Sehun tersenyum samar.


***


"Selamat datang tuan Zeha."


"Tuan Yohun?" Tanya Zeha menyambut huluran tangan Yohun.


Lain halnya dengan Aeri. Ia malah menundukkan kepala sesaat sebelum mereka tiba di hadapan Yohun. Tadi ia sempat bingung, apakah yang dilihat oleh matanya itu benar Yohun atau ia hanya salah lihat, namun semakin mendekat tungkai mereka, maka makin jelas juga bahwa itu Yohun. Kontan saja ia menunduk.


Sungguh Aeri tidak menduga. Ternyata 'Kim' yang disematkan di depan askata 'hotel' itu adalah marga dari Yohun. Ia tidak terpikirkan akan hal itu karena marga Kim itu ada banyak. Ia tidak bisa langsung menafsirkan 'Kim' itu marga dari keluarga Yohun.


Andai ia tahu, itu adalah Yohun, maka ia akan mencari berbagai alasan untuk menolak perintah Zeha, meski ia tidak yakin hal itu akan berhasil atau tidak. Sebisa mungkin Aeri menyembunyikan wajah, melihat ke berbagai arah agar pandangan mereka tidak bertemu.


Dalam hati Zeha menerka. Ia seperti pernah melihat Yohun di suatu tempat yang entah di mana. Mata tajamnya memindai wajah itu. Mata Yohun terus menatap ke arah belakangnya. Dan hal itu berhasil membuyarkan lamunan penuh kebingungannya.


"Ah! Kenalkan, ini sekretaris saya, Kwon Aeri," ujar Zeha memperkenalkan.


Yang disebutkan namanya malah refleks menutup mata. Ia tidak menyangka, Zeha akan memperkenalkannya pada orang yang ia kenal itu. Pada ia sudah sudah berharap Zeha tidak memperkenalkannya. Hal ini membuat Aeri mengangkat wajah serta keluar dari persembunyian. Memasang tampang tenang dengan senyum yang dipaksakan.


"Salam kenal, tuan Yohun." Aeri mengulurkan tangan yang langsung disambut baik oleh Yohun. Manik jernih Aeri terus lari-lari, mengelak bertemu pandang dengan Yohun yang terus berusahan mempertemukan pandangan mereka.


Mata Yohun tidak pernah salah dalam mengenal Aeri. Saat gadis itu berada dalam jangkauan pandangannya lagi, ia sudah menduga bahwa itu adalah Aeri. Dan kini semuanya jelas. Betul kata orang-orang yang mengatakan dunia itu kecil. Yohun kini mempercayai setelah ia melaluinya sendiri.


"Hemm ...." tiba-tiba gumahan Zeha terdengar seakan bingung. Kepala menoleh pelan pada Aeri yang menatapnya dengan alis terangkat. Aeri juga sama bingungnya disaat mendengar gumahan itu.


Entah mengapa degup jangtung memicu, membuatnya berdebar tidak tenang. Harap saja Zeha tidak menyadari gelagat anehnya. Itulah yang Aeri harapkan.


Ternyata atensi pimpinan Kim Yohun juga tersita oleh gumahan yang membingungkan itu.


"Kau...." mata tajamnya bergulir pelan pada jabatan tangan yang ternyata masih saling bertaut. "Kau mengenal tuan Yohun?" Suara dingin itu menyapa telinga.


Deg!


"Ya ampun, aku keceplosan menyebut nama Yohun tadi," rutuk Aeri dalam hati bersama dengtuman jantung yang semakin meningkat. Menarik tangan secara refleks. Ia gelisah. Tidak tahu harus mengatakan apa. Seperti biasa, bibir bawah menjadi sasaran dari kegelisahan hati.


"A-anu .. eh.. tida--"


"Iya. Aeri kenalan saya. Kami sangat dekat," potong Yohun, sembari menatap intens Aeri yang menatapnya tidak senang.


"Tidak. Kami kenal begitu saja," sangkal Aeri. Sumpah, ia begitu muak melihat senyum penuh arti itu. Uhk! Semoga saja semua berakhir dengan cepat. Membayangkan begitu lama berada dalam satu atap dengan lelaki itu membuat Aeri was-was.


Sedang Zeha hanya mengangguk sebagai tanggapan apa yang diucapkan Yohun. Akan tetapi, matanya tidak pernah lepas dari memandangi wajah sang sekretaris yang tampak tidak tenang. Ada raut was-was, benci dan kesal. Ia kembali melihat ke arah Yohun yang tidak melarikan pernah ingin pandangan dari wajah lembut Aeri.


"Jadi, kapan kita akan memulai pembicaraan tentang kerja sama kita?!" Sindir Zeha tajam. Bahkan alisnya tertukik naik. Pandangan Yohun yang terus teruju pada wajah Aeri membuatnya jengkel.


"Oh, ya. Maaf." Yohun tertawa sendiri dengan tingkahnya. Zeha hanya memandangnya datar. Mendadak ia tidak suka dengan orang yang akan bekerjasama dengannya itu.


Zeha mengusap leher belakang. Sebenarnya ia berusaha menyembunyikan geramannya saat itu. Bahkan rahangnya mengeras tanpa ada yang tahu. Ia masih bingung. Mengapa ia harus datang ke tempat tersebut, padahal sang ayah telah menandatangi surat perjanjian kerjasama. Atas dasar apa kunjungannya ini? Ia merasa membuang waktu saja.


"Ayo kita masuk."


Yohun pun melangkah mendahului Zeha, memimpin jalan menuju ruang yang telah disiapkan awal pagi tadi. Melewati jejeran pelayan yang menunduk hormat. Staf-staf yang melihat mereka otomatis menundukkan kelapa sebagai tanda hormat.


Melewati loby utama bernuansa emas. Lampuh besar yang bergantung indah dengan kristal yang dibentuk sedemikian rupa menggantung indah ditengahnya. Lampu-lampu kecil penuh disetiap ujungnya yang terlihat seperti mutiara murni. Seketika benda itu membuat Aeri takjup. Tetapi bukan itu saja, masih banyak lagi benda-benda indah yang tidak terluahkan dengan kata-kata. Membuat siapa saja yang melihat terpesona akan keindahannya.


Manik terus bergerak antusias memindai setiap sisi loby yang begitu menggoda, sembari kaki terus mengayun mengikuti dari belakang. Sehingga satu suara menyapu pendengaran Aeri, begitu juga dengan kedua lelaki yang berjalan mendahuluinya ikut menoleh ke arah sumber suara


"Nona, awas!"


Deg!


Tepat dengan lolongan keras yang keluar dari mulut seorang wanita cleaning service, tubuh Aeri melayang dengan kaki yang terpelanting.


"Aeri!"