
"Baiklah, selamat malam dan selamat datang di acara pelelangan malam ini. Malam ini kami akan menghadir barang-barang dengan kualitas yang tinggi untuk kalian tawari dengan harga yang fantastis .... dan pihak kami juga akan menghadirkan seorang wanita pada akhir acara untuk para lelaki tentunya. Merebutnya dengan harga tertinggi. Ok, tolong berikan tepukan meriah," akhir kata MC tersebut menyita perhatian Aeri yang sedari tadi terus memehatikan Zeha.
Saat mata tidak lagi tertuju padanya, barulah Zeha membawa bola mata bergulir melirik pada Aeri yang terlihat fokus menyaksikan MC yang mulai melelangkan barang pertama.
Namun ternyata, bukan hanya ia yang sedang memerhatikan Aeri yang duduk diujung meja. Sial. Ternyata keputusannya meminta gadis itu didandan malah membuat banyak pasang mata para lelaki liar melihat Aeri penuh damba. Seketika rahang Zeha mengeras menangkap pandangan itu menelisih pada putih mulus Aeri yang terekspos sempurna.
Ia mengutuk desiner pakaian kurang bahan itu. Entah dorongangan dari mana Zeha malah membuka kot yang ia kenakan, lantas melemparnya pada Aeri dan jatuh tepat di atas paha.
"Tutup!" Tukasnya saat Aeri menatapnya bingung. "Kau bodoh atau sengaja?" Sungguh celoteh Zeha membuat Aeri semakin bingung. Padahal ia sudah menutupi pahanya sesuai perintah. "Begitu suka memperlihatkan tubuh burukmu itu pada lelaki."
Deg!
Kepala Aeri sontak melihat sekeliling. Jadi sedari tadi ia mempertontonkan tubuh bagian bawahnya pada mereka? Aeri bergidik ngeri mengingat bayangan kotor yang terlintas dibenak para lelaki saat melihatnya.
Aeri membawa pandangan menemui rahang tegas Zeha tanpa menoleh padanya. Ia tersenyum samar. "Apa maksudnya dia memperhatikanku?" Tetapi kata-kata Zeha tadi sedikit melukai hati Aeri. Ia berujar seolah Aeri seorang ****** yang menjajarkan tubuh pada lelaki. Ckk!
Untuk setakat ini sudah ada beberapa barang yang telah dilelang dengan harga yang sulit dibayang. Aeri kembali bingung. Sampai detik itu juga Zeha sang atasan belum ada satu pun yang ia tawar ataupun ia inginkan, lelaki dingin itu hanya menonton seolah di bioskop.
Sedangkan Aeri mulai bosan dengan acara pelelangan tersebut. Ia tidak mengerti. Ia hanya melihat orang-orang mengangkat papan bernomor, lalu menawarkan harga yang lebih tinggi. Ia berpikir, kenapa barang-barang seperti itu diperebutkan? Ia sadar bahwa ia tidak cocok datang ke acara tersebut.
"Kenapa tuan tidak menawar seperti mereka?" Pertanyaan itu mewakili perasaan penuh tanya Aeri. Jika dilihat, semua yang datang mengangkat papan bernomor mereka, dan hanya Zeha saja yang tidak melakukannya.
Zeha membawa kepala menoleh pada Aeri yang menunggu jawapan darinya. Menatap wajah lembut menenangkan hati itu. Bola mata yang bening memancarkan aura teduh. Kenapa baru sekarang ia menyadari indahan wajah itu?
"Karena aku tidak berminat," sahutnya tanpa mengalihkan pandangan. Sedang Aeri yang ber-oh telah menarik wajah sesaat setelah Zeha menjawap pertanyaannya. "Aku hanya ingin menyaksikan pelelangan tubuh wanita yang telah aku nikmati."
Kontan ucapan itu membuat Aeri menoleh, tetapi detik itu juga Zeha kembali membawa wajah ke arah panggung sehingga pandangan mereka tidak bertemu. Aeri sempat mengernyit membayangkan betapa kejam dan brengsek atasannya itu.
Setelah ia menikmati, ia akan membuang seperti barang yang tidak perlukan, layaknya sampah yang dibuang pada tong sampah.
Mungkin, kah suatu waktu nanti dirinya juga akan dibuang seperti sampah?
"Baiklah, acara penutupan pelelangan malam ini adalah wanita yang mempunyai body berbentuk gitar spanyol. Dan yang paling penting wanita ini langsung dari pemilik casino ini yang sudah pasti wanita ini berkualitas di atas ranjang."
Manik Aeri tidak berkedip melihat tubuh seorang wanita berada di dalam box besi yang terlihat seperti sebuah penjara kecil. Kedua kaki dan tangan wanita itu dirantai melintang seperti bintang. Ia otomatis menarik wajah melihat tubuh wanita itu polos tanpa sehelai benang.
Kedua tangannya sontak menyilang di depan dada, ia merasa malu juga sedih. Apalagi tatapan buas yang para lelaki layangkan pada wanita tersebut. Ia menatap marah pada Zeha.
"Kenapa tuan melakukan ini pada wanita itu?"
Dengan senyun seringai yang menghiasai, Zeha menoleh. "Memangnya apa yang aku lakukan?"
"Tuan tidak perlu berpura-pura. Bukannya tadi tuan mengatakan bahwa tuan pemilik casino ini?"
"Kenapa? Kau mengasihaninya? Tidak perlu terlalu baik. Wanita sepertinya memang pantas diperlakukan seperti itu," suara dingin itu menjawap, lalu kembali membawa pandangan pada tubuh wanita yang menjadi rebutan.
Secara perlahan, Aeri ikut menggerakkan kepala melihat ke arah panggung. Saat itu juga matanya membulat shock. Tubuh tegang ditempat. Kepalanya bergerak kaku menemui wajah sang atasan yang saat itu tersenyum sinis.
"I--itu ... itu nona Seoji. Kenapa tuan melakukan ini padanya?"
"Karena dia membuatku marah." Zeha membawa tatapan tajamnya menemui Aeri. "Dau kau tidak perlu merasa kasihan padanya. Kau tahu, kan dia tidak suka padamu. Jadi diam dan lihat saja bagaimana nasipnya!" Dingin atasannya itu mengakhiri ucapan tanpa belas kasih.
Aeri menutup telinga saat orang-orang mulai menawari harga dari wanita yang ia kenali adalah Seoji. Dadanya tiba-tiba merasa sesak. Beginikah kehidupan orang kaya? Memperlakukan wanita seperti barang yang boleh diperlakukan seenaknya saja. Tatapan Aeri nyalang melayang pada Zeha. Benar-benar tiada hati.
Bahkan bibir kejam itu menyeringai penuh kepuasan. Cih! Aeri membawa tungkainya meninggalkan ruangan tersebut. Ia tidak sanggup menyaksikan semuanya lagi.
Kenapa dunia begitu kejam? Berdiri diantara orang-orang yang memiliki segalanya membuat Aeri mengerti. Uang adalah segalanya. Uang adalah rana yang menguasai dunia. Dengan kertas bernilai itu, mereka bisa melakukan segalanya, bahkan mempermainkan sesama manusia.
Sunggun hati Aeri terasa sesak, bahkan sulit bernapas. Seolah sesuatu telah menghambat saluran pernafasannya. Air mata telah menganak sungai di pipi mulusnya. Ia merasa tidak berguna karena tidak dapat melakukan apa-apa untuk menolong Seoji.
Ia tidak tahu jika Seoji tidak menyukainya, tetapi sekali pun ia tahu, jika bisa ia akan tetap menolong wanita itu. Tidak mungkin sesama wanita sanggup melihat wanita lain diperlelangkan seperti demikian.
"Seperti apa?" Suara berat itu mengagetkan Aeri yang saat itu duduk pada sofa seorang diri. Seketika Aeri menoleh sebelum langsung menarik wajah.
"Seperti orang gila," sambung Aeri dalam hati. Ia dapat merasakan Zeha menjatuhkan bokongnya.
"Kau sangat berani sekarang, ya? Kau mengabaikanku dan tadi tiba-tiba pergi. Kenapa?" Kakinya ia silang dengan kedua tangan tersimpan rapi di dalam kantong
Aeri menghela napas pendek. "Maaf," lirihnya tanpa menoleh. Seketika tadi ia menjadi emosional. Itu semua urusan Zeha, ia tidak berhak ikut campur. Lelaki itu ingin melelang, menjual atau bahkan membunuh seseorang, ia tidak berhak menghakimi. Tapi hatinya tidak bisa di bawa kompromi akannya.
"Lihat aku saat mengatakannya!"
Sejenak Aeri memejamkan mata sebelum ia membawa matanya bertemu pandang dengan manik tajam milik Zeha.
"Maaf atas sikap saya tadi tuan," tuturnya bersungguh-sungguh, lalu dengan cepat menarik wajah.
Namun, dagunya kembali ditarik oleh Zeha. Lelaki itu memindai kedua bola mata Aeri. Ada bekas air mata di sana yang seolah menyutkan hati Zeha. Dengan napas yang ia tarik panjang, tanpa sadar ibu jarinya mengusap pipih lembut Aeri.
"Kau tenang saja. Ayahku datang tadi karena memang ingin menyelamatkan Seoji. Ya, walaupun sengit." Berangsur raut kecemasan menghilang diwajah cantik Aeri. "Itu...." Zeha menunjuk pada sang ayah yang jalan beriringan dengan Taehoon seraya memapah seorang wanita yang diyakini Seoji oleh Aeri.
Aeri tersenyum lega. Dan itu tidak lepas dari manik gelap Zeha. Setelah itu Aeri menarik wajah dari sentuhan Zeha, menghadap ke arah lain. Menyadarkan lelaki itu dari lamunan panjangnya.
"Baiklah, kita pulang sekarang."
"Wah, tidak disangkah bertemu dengan Tuan Zeha di sini," sapa suara itu terkesan menyindir.
Baru saja Aeri beranjak sebelum seketika satu suara itu menghentikan tungkai yang bahkan belum menapak. Zeha pun menoleh.
"Ouh ternyata John Park." Bibir itu menyungging.
John adalah lelaki berketurunan Rusia-Korea. Lelaki tinggi besar itu saingan sekaligus musuh terbesar Zeha di dunia gelap. Mereka sama brengseknya, cuman John cukup memuliakan wanita berbeda dengan Zeha. Karena John sadar bahwa ia lahir dari rahim seorang wanita yang bergelar ibu.
Kebetulan waktu Zeha kuliah di Rusia, John adalah saingan terberat diantara para wanita. Walaupun demikian, John tetap berulang kali mencuba mengacaukan bisnis Zeha bahkan juga ingin menggagalkan rencana-rencana yang telah disusun rapi, namun tetap saja ia gagal.
"Siapa wanita cantik ini?" Ucap John sembari menatap ke arah Aeri. Sebelah mata sengaja ia kernyitkan untuk menggoda Aeri.
"Aku rasa kau tidak perlu mengenalnya."
John hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan dingin Zeha. Perlahan namun pasti, John mengulurkan tangan, mengabaikan Zeha yang menggeram dengan rahang mengeras.
"Hello cantik, namamu siapa?"
Dengan lirikan sekilas, Aeri melirik pada Zeha sebelum menyambut uluran tangan John yang menggantung.
"Aeri," jawapnya tersenyum kikuk. Aeri merasa malu dengan tatapan John yang terus tertuju padanya, hingga ia hanya bisa menundukkan pandangan.
Plak!
"Tidak perlu berlebihan! Ini bukan di Rusia!"
Dengan kasar Zeha menepis tangan Aeri, menjauh dari bibir berisi John yang ingin mendaratkan kecupan salam di sana. Menyadari hal itu, pipi Aeri kontan merona.
"Ck! Kau sungguh posesif Zeha. Padahal dia bukan siapa-siapamu, kan?" Merasakan betapa lembut tangan Aeri membuatnya kesal gagal mendaratkan ciuman di sana.
"Untuk pengetahuanmu, Aeri ini kekasihku! Tidak salah jika aku posesif padanya. Kau lebih baik pergi sebelum aku mengusirmu!"
"Hahaha...." Entah apa yang membuat John malah tertawa. "Tapi kenapa dia terlihat seperti bukan kekasihmu, Jeon Zeha?" Sebelah alis lelaki itu menukik tajam seolah tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh lawan bicara.
"Dan aku tidak perlu membuktikan ucapanku!" Kata-kata dingin itu mengakhiri pertemuan tidak dirancang itu. Tangan kekarnya menarik tangan Aeri
Sedang Aeri, dengan tubuh yang ditarik, ia sempat menundukkan sedikit kepala sebagai bentuk kesopanan sebelum benar-benar berlalu.