
"Cegukan itu tidak akan hilang hanya dengan meminum air," jelas Yohun mengabaikan ucapan Zeha.
"Lalu?" Tanya Sehun cepat. Tatapannya terarah terus pada Aeri yang memukul-mukul dadanya.
"Air yang melalui ternggorokan Aeri harus mendapat dorongan yang kuat ...."
Sidut bibir Zeha tertarik miring. "Maksudmu melalui ciuman?" Ia menatah sinis ke arah Yohun.
"Benar."
Pembenaran itu langsung membuat Zeha tertawa remeh, seolah apa yang Yohun katakan adalah suatu kebohongan yang nyata. "Tidak masuk akal!" Zeha berdesis.
"Kau hanya membuang waktu Zeha! Sekarang yang penting harus menghentikan cegukan Aeri. Soal itu benar atau salah dipikir dibelakang!" Sehun benar-benar dibuat jengkel oleh sahabatnya itu. Sangat egois, padahal dalam hati ia tahu Zeha mencemaskan Aeri.
"Mau Tuan Zeha percaya atau tidak yang pasti aku sudah pernah melakukannya pada Aeri dan berhasil."
Zeha bergeming mendengar kenyataan itu. Tiba-tiba kepalanya terasa panas dengan manik secara perlahan bergulir pada Aeri. Bukankah itu artinya mereka berbagi air yang sama? Secara perlahan Zeha dapat merasakan emosinya membuncah dengan aliran darah melaju.
"Maaf aku heikk ak-heik-kan meminta tolong pada heikk Yuri saja." Aeri pergi dengan langkah yang lebar sembari tangan memegang dadanya.
Zeha langsung menyambar botol yang berisi air meneral dan segera menyusul Aeri yang belum berada jauh. Meraih tangan itu, lalu ia seret masuk ke dalam pantri, mengabaikan tatapan para karyawannya yang terarah pada mereka.
"Apa heikk yang anda heik lakukan?" Tanya Aeri melihat Zeha memasukkan air ke dalam mulut setelah menutup pintu.
Tanpa aba-aba, Zeha mempertmukan bibir mereka membuat manik Aeri kontan melebar kaget. Kedua tangan besar Zeha menangkup kedua sisi wajah Aeri. Tidak lama setelahnya, Aeri dapat merasakan tekanan kuat yang Zeha dorongkan hingga segaris air mengalir keluar dari sudut bibir Aeri, memaksanya untuk menelan air tersebut.
Setelahnya Zeha pun memutuskan tautan tersebut. Kedua manik indah Aeri memerah karena ulahnya yang mendorong kuat air memasuki tenggorokan Aeri. Ibu jarinya mengusap bekas aliran air yang membekas di dagu Aeri. Mengabaikan tatapan Aeri yang terarah pada wajah dingin tanpa seulas senyum itu.
"Hanya aku yang bisa menyentuh bibir ini!" Tekannya dalam hati. Kemudian, Zeha pergi meninggalkan Aeri tanpa mengatakan apapun, membuat gadis itu bingung akan sikapnya.
Selang satu menit Aeri masih mematung di tempat. Ia tidak lagi merasakan cegukan yang beberapa menit tadi menyiksanya. Aeri meraih air, meminumnya sebanyak-banyak yang ia bisa. Aeri kembali teringat dengan perlakuan Zeha tadi dan kata kata yang menyakitkan yang ia dengar di ruangan lelaki itu.
Keduanya membuat Aeri bingung. Di satu sisi, lelaki itu seolah mengkhawatirkan dan memperhatikannya, sedangkan di satu sisi lainnya pula, lelaki itu seolah membencinya begitu dalam, seperti mana ia membenci wanita lainnya.
Wajah dingin tak bersahabat Zeha tadi ada begitu dekat dengan wajahnya. Walau begitu menakutkan, Aeri dapat merasakan kelembutan disentuhan tangan kasar itu. Tetapi sepertinya Zeha masih marah atas kejadian semalam.
"Aeri kau baik-baik saja?" Kedatangan Yuri mengagetkan Aeri. "Tadi aku melihatmu di tarik oleh Tuan Zeha ... ada apa?"
"Kau mengagetkaku!" Aeri mengusap-ngusap dadanya. "Aku baik baik saja. Itu bukan apa apa," dalih Aeri. Ia belum siap mengatakan semuanya pada Yuri. Lagian apa yang perlu diceritakan, ia tidak memiliki hubungan special dengan atasannya itu.
"Tapi kau tidak masuk dua hari. Apa terjadi sesuatu padamu?"
Sekilas apa yang terjadi pada Aeri kembali terlintas di benaknya. Helaan napas panjang terdengar keluar dari mulut Aeri membuat Yuri semakin merasa ada sesuatu yang telah terjadi pada temannya itu.
Aeri mulai menceritakan apa yang telah menimpahnya dua hari lalu. Di mulai saat Aeri memergoki Yuri dan Sehun di gudang penyimpanan bahan makanan, kemudian ia memasuki WC dan bertemu dengan wanita yang mengganggunya di depan lif sehingga pintu WC yang ia masuki tidak bisa terbuka.
Melalui malam panjang dalam ruangan kecil yang dingin hingga pagi hampir menjelang. Aeri juga mengatakan betapa takutnya ia sangat itu, berharap agar Yuri mencarinya, namun nyatanya sampai Zeha datang menyelamatkannya pun, sahabatnya itu tidak datang.
"Ya ampun Aeri, maafkan aku." Yuri langsung mendekap erat tubuh kecil sahabatnya itu. Ia merasa bersalah karena waktu itu ia mempercayai ucapan wanita ular itu. "Seharusnya aku tidak percayai wanita itu," sesal Yuri.
"Iya. Dia mengatakan padaku bahwa kau telah pergi saat aku menunggumu di depan lobi hari itu."
"Semuanya telah dia rencanakan dengan baik."
"Tapi, aku sangat bersyukur Tuan Zeha berhasil menemukanmu tepat waktu ...." Aeri hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Yuri. Ya, dia memang sangat berterima kasih pada lelaki selaku bosnya itu.
"Ya, sudah. Yuk kita keluar." Yuri segera menarik tangan Aeri keluar. "Aku dengar Tuan Zeha mengadakan conferencepers ...."
"Conferencepers?"
"Iya."
Saat mereka menginjakkan kaki ditengah lobi, di sana sudah dipenuhi oleh wartawan dari pelbagai perusahaan penyiaran berita. Ternyata tataan kursi yang banyak tadi adalah untuk para wartawan yang akan mencatat setiap informasi yang bisa mereka jadikan berita.
Zeha yang berujar di atas panggung dengan banyaknya mikrofon di depan menyita atensi Aeri untuk melihat ke atas sana.
"Di saya ingin menyampaikan mengenai berita yang mengatakan bahwa wanita yang menjabat sebagai sekretaris saya melakukan tindakan tidak bermoral hanya untuk bisa berada di posisi tersebut adalah salah!" Ujar Zeha lantang dan penuh penekanan. Tatapan mata tajamnya menatap setiap wartaman yang berada di bawah sana.
Zeha tidak peduli jika wajah bengisnya itu dilihat oleh semua orang karena conferencepers itu dilakukan secara siaran lansung. Biar semua orang tahu seperti apa tegasnya presdir dari perusahaan J'Foodies.
"Tindakan seperti itu tidak pernah terjadi di perusahaan ini. Orang yang mengarang cerita itu adalah orang yang salah di sini. Tanpa bukti yang jelas dia membuat cerita yang bisa membuat nama saya buruk di khalayak ramai, bukan hanya saya nama perusahaan J'Foodies juga bisa tercemar karena berita tidak jelas itu."
Tangan setiap wartawan yang berada di sana sibuk menekan keyboard laptop yang berada di hadapan mereka, menulis setiap kata yang terlontar tegas dari mulut sang presdir.
"Terutama nama baik sekretaris saya!" Tatapan tajam bak mata helang Zeha bertemu pandang dengan manik lembut Aeri yang berada di paling belakang.
"Mengenai foto yang berada dalam koran itu adalah benar." Seketika pengakuan itu membuat semua orang kaget. "Tapi, itu bukanlah seperti yang berada di dalam pikiran kalian semua. Saat itu saya hanya mencuba menolongnya yang hampir terjatuh karena lantai hotel tersebut baru saja dipel." Zeha tidak melepaskan tatapan mata dalamnya dari Aeri, mereka terus beradu pandang dari jarak yang jauh.
"Saat itu kami juga tidak hanya berdua. Saat kejadian itu, pemilik dari Kim'Hotel juga berada di sana." Zeha memberi kode pada Yohun untuk mendekat dan memutuskan tatapan matanya dengan Aeri. "Tuan Yohun ... silahkan." Zeha memberi ruang untuk Yohun berujar.
"Apa yang Tuan Zeha katakan adalah benar. Saat itu saya juga berada di sana bahkan jika masih ada yang tidak mempercayai apa yang kami katakan ini benar atau hanya rekayasa, maka saya masih memiliki satu bukti mata yang melihat semua kejadiannya. Dia adalah wanita cleaning service yang bekerja di hotel saya."
Yohun memerintahkan pada anak buahnya untuk memanggil wanita tersebut. Tidak lama setelahnya, wanita itu muncul dan segera diminta oleh Yohun untuk menjelaskan semuanya. Mulanya wanita itu merasa takut dan malu karena banyaknya orang dan camera yang menyorotnya. Namun, mau bagaimana pun ia tetap harus memberanikan dirinya, karena Yohun telah membayarnya tinggi hanya untuk ini.
"Waktu itu aku baru saja selesai mengepel lantai pada bagian tengah lobi di Kim'Hotel, tapi karena kelalaian aku lupa untuk meletakkan tanda di sana. Kebetulan waktu itu Tuan Yohun dan Tuan Zeha bersama sekretarisnya datang. Karena licinnya lantai yang basah membuat sekretaris Tuan Zeha terpeleset dan hampir terjatuh jika tidak segera ditolong oleh Tuan Zeha sendiri," jelas wanita itu panjang lebar.
"Jadi semuanya jelas sekarang, kan?" Zeha mengambil alih setelah Yohun kembali memerintahkan wanita itu untuk turun dari panggung.
Tanpa sadar manik gelap itu kembali mencari keberadaan Aeri ditempatnya, tetapi gadis itu telah menoleh dan siap untuk pergi.
"Tapi, Tuan Zeha ... ada yang mengatakan bahwa anda menjalin hubungan dengan sekretaris anda." Suasana kembali riuh karena pertanya salah satu wartawan wanita.
"Itu tidak benar!" Sahut Zeha tegas. Maniknya kembali melihat ke arah Aeri yang berhenti melangkah karena mendengar pertanyaan itu walau tidak berbalik. "Antara aku dan sekretariku tidak memiliki hubungan apapun. Kami murni hanya atasan dan pekerja," terang Zeha tegas tanpa mengalihkan tatapan mata dari bahu Aeri yang kembali bergerak setelah mendengar suara lantangnya. Zeha seolah sengaja memperdengarkannya pada Aeri.
"Ya, itu benar. Kami tidak memiliki hubungan apapun," Aeri membenarkan dalam hati. Tungkai terus melangkah jauh dari banyaknya orang di sana. Tapi, mengapa hatinya merasa sedih dengan kenyataan itu, ya?