
Bruk!
Tubuh yang terikat erat itu dilempar kuat ke hadapan Zeha oleh Gary begitu saja setiba di hadapan sang Tuan. Zeha lantas menekuk sebelah lutut di hadapan lelaki yang terbaring menyamping tersebut.
"Jadi ini anak buah John yang ingin sehidup semati dengan sang Tuan?" Zeha tersenyum sinis mendapati tatapan tajam lelaki yang hampir saja merenggut nyawa Aeri tersebut.
"Kau begitu berani mengusik milik berhargaku padahal Tuanmu telah lenyap dan menjadi debu."
Secara perlahan Zeha membuka ikatan yang membatasi pergerakan dari anak buah John itu hingga terlepas.
"Kau ... tidak akan selamat sialan!" serga lelaki itu bergitu berani walau sudah tidak begitu bertenaga. Ia bahkan mencuba untuk melarikan diri begitu ikatan tali ditubuhnya terlepas total.
Namun sebelum itu, Zeha lebih dulu mencengkram rahang itu dengan lengkungan bibir yang terlihat mengerikan. "Yang tidak akan selamat itu kau!"
Secara perlahan, tanpa melepas cengkraman pada rahang lelaki tersebut, Zeha bangkit, membawa tubuh lemah itu berdiri mengikutinya.
"Kau begitu setia, bukan? Maka aku akan mengirimmu ke neraka menyusul Tuanmu itu!"
Bersamaan dengan itu, kedua kaki itu mulai mengapung ke udara. Urat-urat berwarna ungu keluar menghiasi lengan besar serta kekar Zeha saat mencengkram kuat leher itu hingga membuat sang empu sesak napas.
Disaat napas mulai tercekat ditenggorokan, air mata lelaki itu tiba-tiba mengalir membasahi kedua belah pipinya, membuat Zeha menukik sebelah alis dengan bibir tertarik miring.
"Kenapa? Setelah kau begitu berani kini kau mulai merasa takut?" tukas Zeha tanpa melepas cengkraman itu.
Sambil terbatuk-batuk, lelaki itu berujar. "Aku mohon ampuni aku. A-aku belum ingin mati. Tolong... Ampuni aku. Aku akan menjadi pelayanmu yang setia." Derai air mata semakin deras dikala merasa pasokan oksigen mulai tidak stabil.
Cengkraman pada leher tersebut semakin kuat, sehingga membuat lidah lelaki itu terkeluar. Tatapan mata Zeha menusuk tajam dengan bibir berkedut bengis.
"Ternyata hanya luaran saja yang terlihat begitu berani, tetapi ternyata kau hanya sampah tidak berguna yang dipungut oleh lelaki itu!"
Setelah mengatakannya, Zeha menyentak tubuh lelaki itu hingga jatuh menghentam marmer yang dingin. Zeha meraih pistol yang tersimpan rapi di dalam laci. Mengusap-usap, lalu meniup ujung dari benda berbahaya tersebut.
"Setelah apa yang kau lakukan pada Aeri, kau ingin mengabdi padaku? ... Sungguh tidak tahu malu!"
Dor! Dor!
Dua timah panas melesat secara bergilir menembusi kepala lelaki tersebut. Darah segar mengalir, mengotori lantai marmer Zeha yang senantiasa terlihat berkilat. Ia tersenyum miring, merendahkan.
"Bahkan anjing lebih layak darimu!" Zeha berbalik setelah meludahi tubuh tak bernyawa itu. "Letupkan mayat ini, buat seperti yang terjadi pada Tuan dan teman-temannya," cetus Zeha kemudian yang langsung di lakukan oleh Gary.
*****
"Ada apa denganmu Zeha? Kau mengabaikan Aeri. Sejak hari di mana Aeri dimasukkan ke rumah sakit, tidak sekali pun kau pergi menjenguknya. Kenapa?"
Waktu berlalu dengan cepat. Tanpa terasa kini sebulan telah berlalu sejak peristiwa tersebut. Aeri pun telah sadar seminggu yang lalu. Namun, entah apa yang terjadi pada lelaki dingin yang tidak berperasaan itu. Keputusan yang keluar dari hasil tes DNA Aeri dan ibu tiri Zeha, membuat Zeha seolah membuang Aeri.
Zeha bergeming tanpa ada niat ingin menjawap. Ia sibuk pada pikirannya sendiri.
"Jangan katakan ini semua karena hasil tes DNA hari itu Zeha. Kau tahu Aeri sering menanyakan keberadaan mu, kan?"
"Katakan saja, aku sedang sibuk," sahut Zeha tidak berperasaan. "Aku tidak ingin memiliki hubungan dengan darah wanita itu mengalir dalam tubuhnya."
"Kau tega pada Aeri, Zeha? Walaupun Aeri memang anak dari ibu tirimu, tapi itu semua bukan salahnya. Dia tidak pernah meminta ingin dilahirkan dari rahim siapa. Kau tidak sepatutnya membuat Aeri seperti ini hanya karena kebenaran yang tidak terduga ini."
"Lebih baik kau pergi Sehun! Telingaku sakit mendengar kau terus membebel dari tadi! Mengajar ini dan itu. Aku bukan anak kecil! Aku tahu ini bukan salah Aeri, jadi kau tidak perlu mengajariku! Get out!"
"Tahu? Tapi apa yang kau lakukan?!"
"Keluar!"
Blam!
Pintu tertutup dengan terhempas kuat. Akhirnya Sehun pun pergi dalam kemarahan, meninggalkan Zeha seorang diri di dalam kamar yang bernuansa gelap tersebut. Kontan pandangan Zeha kosong ke arah pintu balkon yang terbuka lebar.
𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩.
Zeha menjambak kasar surainya dengan kepala yang menunduk dalam. Ia merasa frustasi dengan apa yang ia rasakan. Sungguh Zeha ingin mengabaikan, namun ia tidak bisa, walau ia tahu Aeri tidak bersalah dalam hal ini.
Sedangkan Aeri yang mulai membaik merasa bahwa kesibukan yang sering Sehun katakan padanya adalah suatu tindakan untuk menghindarinya, tapi kenapa?
Aeri yang saat itu bersandar pada ranjang, memandang jauh keluar jendela yang kacanya tidak terbuka. Wajah lembut itu masih terlihat pucat.
"Apa yang kau pikirkan, Aeri?" pertanyaan itu refleks mengagetkan Aeri. Ia menoleh pada Yuri yang telah berdiri tepat di sampingnya.
Aeri menggeleng pelan. "Bagaimana dengan ayah?"
"Ayahmu telah sembuh Aeri. Kau jangan khawatir. Dia bahkan sudah keluar dari rumah sakit dan tinggal bersamaku. Semuanya telah diurus oleh Tn. Zeha."
Aeri bergeming. Pikirannya kembali bekerlana setelah mendengar penjelasan dari Yuri. Aeri pikir Zeha sudah tidak peduli lagi padanya, tetapi ternyata lelaki itu masih ingat pada janjinya yang mengatakan akan membiayai semua pengobatan sang ayah hingga sembuh.
Tapi kenapa saat sadar sehingga detik ini, Aeri tidak pernah sekalipun melihat bayang lelaki itu datang melihatnya.
𝘈𝘱𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘮𝘢𝘳𝘢𝘩?
Jika demikianpun, apa yang bisa Aeri lakukan. Ia bukanlah sesiapa bagi lelaki itu yang berhak mempertanyakan semua perlakuannya. Ia hanyalah seorang bawahan yang berutang pada atasannya. Sungguh kasian.
"Bagaimana keadaan Tn. Zeha?"
"Sepertinya dia baik-baik saja. Aku tidak begitu tahu sih Aeri, karena dia tidak pernah datang ke kantor," sahut Yuri membuat Aeri kontan menoleh.
"Apa maksudmu?"
"Sejak kejadian itu dan sejak kau dimasukkan ke rumah sakit, Tn. Zeha tidak pernah sekalipun datang ke kantor bahkan dalam sebulan ini," terang Yuri. Mendengar semuanya membuat Aeri mengernyit bingung.
"Apa dia sakit?" mendadak Aeri merasa cemas.
Yuri menghela napas mendengar kecemasan dalam nada bicara Aeri. "Dia tidak sakit. Karena dalam sebulan ini dia terus melakukan pekerjaannya dari rumah." Akhirnya setelah mendengar penjelan Yuri, Aeri menghela napas lega.
"Dia tahu kau terus datang merawatku dan tidak bekerja?"
"Jelas dia tahu karena dia yang memintaku untuk menjaga dan merawatmu Aeri. Bahkan dia mempekerjakan pembantu dan pengawal untuk menjaga nenek dan ayahmu yang tinggal di rumahku. Dengan demikian, aku tidak perlu khawatir dan fokus dalam merawatmu."
Aeri tersentuh. Maniknya bahkan juga berair ingin menjatuhkan air bening yang bak kristal itu. Zeha peduli, masih peduli padanya, tapi kenapa tidak pernah datang melihatnya?
"Sehun juga setiap hari datang melihatmu. Tn. Zeha memang tidak pernah datang, tapi dia begitu memperhatikanmu Aeri," tukas Yuri seolah faham apa yang terus mengganggu pikiran Aeri beberapa hari ini.
Aeri mengerjap beberapa kali. Ia tidak ingin air yang menganak di kelopak mata jatuh membasahi pipinya, ia lantas tersenyum samar ke arah Yuri sebelum kembali membawa pandangan ke arah jendela.
𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘶𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘯𝘺𝘢𝘸𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘬𝘶. 𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯.
Mungkin sampai kapanpun Aeri hanya bisa bermimpi lelaki itu mencintainya, membalas cinta yang terus bermekaran di dalam dadanya. Aeri merasa begitu bodoh karena berpikir bahwa Zeha akan mencintainya setelah apa yang ia lakukan.
Namun, walaupun nyawanya hampir tidak tertolong, Zeha tetap saja begitu kejam dan jahat padanya, malah Aeri merasa semakin parah. Aeri mengatub maniknya yang terasa lelah. Tapi, Aeri tidak pernah merasa menyesal dengan apa yang telah ia lakukan.
Jika suatu hari nanti lelaki itu bahagia bersama dengan wanita lain, itu sudah cukup membuat Aeri merasakan bahagia juga.
𝘊𝘶𝘬𝘶𝘱 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪𝘮𝘶, 𝘛𝘯. 𝘡𝘦𝘩𝘢.