The President'S Crazy

The President'S Crazy
part. 46



"Lalu siapa lelaki di sampingnya?" Tanya Tn. Kwon membuat Aeri melihat ke arah Zeha. Gadis itu terdengar menghela napas pendek.


Karena perdebatan pendek yang terjadi di depan lif tadi membuat kedua lelaki itu memutuskan untuk mengikuti Aeri ke ruang rawat sang ayah. Yohun yang mengatakan tidak jadi ingin menjenguk ayah Aeri batal karena tidak ingin membiarkannya berdua saja dengan Zeha. Sedangkan Zeha, Aeri tidak mengerti alasan apa yang atasannya itu miliki sehingga memutuskan mengikutinya setelah meminta Gary menunggu di mobil.


"Dia Tn. Zeha presdir J'Foodies, atasa--"


"Saya kekasih putri anda," sela Zeha cepat membuat Aeri dan Yohun menoleh cepat. Sedangkan Tn. Kwon sendiri hampir tersedak salivanya sendiri. Yohun beralih melihat wajah Aeri yang bertemu pandang dengan manik Zeha.


Yohun mengernyit tidak senang. "Sejak kapan Aeri memiliki hubungan dengan Tn. Zeha?"


"Ka-kamu kekasih Aeri?" Tn. Kwon seolah tidak percaya. Seorang presdir menjadi kekasih dari anaknya? Dan siapa yang tidak mengenal dengan J'Foodies, salah satu pengembang makanan nomor satu di negara tersebut dan telah mulai menyebar hingga keluar negeri. Lagian, Zeha terlihat begitu berwibawa, gagah dan ... sangat tampan.


"Tidak ayah ... Tn. Zeha hanya bercand--"


"Apa maksudmu sayang?" Aeri mendelik kaget. Apa, sayang? Tidakkah telinganya bermasalah? "Kau lupa bahwa kau telah menerima cintaku hari itu?" sambung Zeha membungkam Aeri.


Padahal itu bukan ungkapan cinta melainkan pemaksaan. Cih! Aeri bungkam, biarlah apa yang ingin atasannya itu katakan.


Tn. Kwon tersenyum lembut. "Ternyata ada juga yang menyukai putri ayah ini, terima kasih tuhan."


"Sudahlah ayah, jangan banyak berpikir. Ayah itu baru mulai membaik, tidak bisa terlalu banyak berpikir ... Sekarang ayah harus makan."


"Pasti tidak mudah menjadi seorang presdir diusia muda, kan?" Tanya Tn. Kwon mengabaikan ucapan Aeri.


"Ya ... itu menguji mental dan fisik kita secara menyeluruh, tapi juga mengajarkan kita bagaimana mengatur waktu. Dan mengajar menjadi seorang yang lebih kuat dalam hidup mandiri. Tetapi lebih mudah disaat adanya Aeri sebagai sekretaris saya." Zeha melirik ke arah Aeri yang tidak ingin menatapnya.


"Ouh, jadi Aeri bekerja di perusahaan anda?" Ayah Aeri terlihat kaget.


"Benar. Dia sekretaris sekaligus kekasih saya."


"Saya mohon maaf jika Aeri pernah melakukan kesalahan pada anda."


"Tidak. Dia malah banyak membantuku."


Yohun hanya bergeming dengan kepala yang menunduk melihat interaksi antara ayah Aeri dan Zeha. Dirinya seolah hanya batang kayu yang berdiri tegak tanpa ada yang peduli. Tapi, Yohun tidak bisa menyalahkan siapapun, karena ini memang kesalahannya. Dan kini Aeri menjadi kekasih dari Zeha. Masih adakah peluang untuknya mendekati gadis itu lagi?


"Ayah sudahlah. Ayah harus makan dan istirahat setelah ini," pujuk Aeri membuat kedua lelaki beda usia itu menoleh padanya.


"Baiklah, putriku," sahut Tn. Kwon menyentuh lembut wajah sang putri. Tetapi atensinya kembali tersita oleh Yohun yang hanya berdiri di samping Zeha.


"Apa khabarmu Yohun?" Suara lemah Tn. Kwon mengagetkan Yohun. Ia refleks mengangkat wajah.


"A-aku baik-baik saja p-pa--paman." Sungguh berat mulutnya untuk memanggil ayah Aeri seperti biasanya. Ia takut orang tua itu tidak akan senang jika dirinya memanggil dengan sebutan 'paman' lagi.


"Baguslah kalau begitu ...." Tn. Kwon ingin memasukkan sesuap makanan ke dalam mulut, namun urung dikala mendengar perkataan Yohun selanjutnya.


"Pa-paman a-aku ingin meminta ... maaf atas--"


"Sudahlah Yohun, jangan membuatku mengingat apa yang telah ayahmu lakukan. Aku tidak membencimu, tapi dengan melihat wajahmu mengingatkan aku pada ayahmu karena kemiripan kalian," potong Tn. Kwon tanpa melihat ke arah Yohun seraya memasukkan satu sendok sup rumput laut ke dalam mulut, menikmati dengan mata yang terpejam.


Yohun hanya mendesah pasrah mendengar ucapan dari ayah Aeri. Ia tidak ingin membuat orang tua itu semakin stress karena ucapannya. Mungkin lebih baik jika Yohun pergi saja dari ruangan tersebut.


"Seperti biasa, putri ayah pandai memasak," puji Tn. Kwon melihat ke arah Aeri yang tersenyum setelahnya.


"Benar, Aeri memang tukanh masak yang handal." Zeha mengakuinya. Bahkan saat itu Aeri hanya membuat sarapan nasi goreng, namun sudah sangat enak di lidahnya. Ia melirik sinis dengan bibir tersenyum miring pada Yohun yang melihatnya.


Waktu berlalu sangat cepat. Waktu telah menunjukkan pukul 5 sore saat Aeri berpamitan untuk pulang pada ayahnya.


"Saya juga pamit pulang paman," kata Yohun yang di balas anggukan kecil oleh ayah Aeri sebelum lelaki paruh baya itu beralih pada Zeha.


"Aku titip Aeri padamu, ya. Tolong gantikan aku untuk menjaganya. Aeri adalah duniaku, bahagiakanlah dia," tutur Tn. Kwon pada Zeha membuat Aeri frustrasi di dalam hati. Bisa-bisanya ayahnya menitipkannya pada Zeha?


"Ayah bicara apa, sih? Aku akan bahagian jika ayah telah benar-benar sembuh, dan lagi ... kenapa ayah menitipku padanya? Aku bisa menjaga diriku sendiri, kok."


"Dia, kan pacarmu?" Aeri terdiam. Ia melupakan satu fakta tidak benar itu.


"Acting yang cukup meyakinkan," monolog batin Aeri melirik melalui ekor mata.


"Terima kasih."


"Sekarang ayah tidur, ya." Aeri membenarkan tata letak selimut di tubuh sang ayah. "Aku pulang sekarang." Satu kecupan lembut mendarat lama di atas dahi keriput ayahnya.


"Jaga dirimu, nak," bisik Tn. Kwon setelah Aeri melepas kecupannya.


"Ayah juga ... selamat tidur ayah."


"Kalau begitu kami pamit," kata Zeha sedikit menundukkan kepalanya.


"Semoga cepat sembuh paman." Kali ini Yohun pula yang menunduk dengan tatapan lembutnya.


"Aku pergi ayah." Akhirnya mereka bertiga pun keluar dari ruang rawat Tn. Kwon.


Saat itu Aeri membawa tatapan matanya pada Yohun yang tampak senduh. Jujur Aeri merasa kasihan pada lelaki itu, tetapi apa yang bisa ia lakukan? Yohun sudah berani berbuat maka ia juga harus sanggup menanggung resikonya. Dibenci atau bahkan tidak diterima lagi oleh seseorang.


"Aku akan menghantarmu pulang." Ucapan itu menyentak Aeri dari lamunan. Ia tidak sadar bahwa dikala ia memerhatikan Yohun, Zeha juga terus menatapnya dengan tajam.


"A-apa?!" Kala itu mereka telah tiba ditempat parkiran.


"Tidak perlu. Aku yang akan menghantarnya pulang," sela Zeha menarik Aeri.


Yohun mengangkat pandangan. "Maaf Tuan Zeha, Aeri datang bersamaku, jadi harus pulang bersamaku juga." Kali ini Yohun pula yang menarik Aeri, tetapi pegangan Zeha tetap menahan pergelangan Aeri, sehingga saling tarik menarik pun terjadi diantara mereka.


"Memangnya ada masalah dengan itu? Lagian Aeri kekasihku, aku lebih berhak mengatarnya pulang ...."


"Baru berapa hari juga ... menjadi kekasih bagi Aeri tidak membuatmu mendapatkan hak itu."


"Intinya aku yang akan menghantarnya. Iya, kan sayang?"


"Kau pikir aku akan membiark--"


"Cukup!" Aeri menghentak kedua tangannya, menatap tajam secara bergantian kedua lelaki tersebut. "Aku akan pulang sendiri!" Dengan rasa kesal Aeri membawa tubuh meninggalkan kedua lelaki tersebut.


"Wah sepertinya yang diberitakan memang benar. Kau wanita dalam koran itu, kan?" Seorang ibu-ibu yang terlihat modis menghentikan langkah Aeri yang berjalan melewatinya.


"Aku sudah lama ingin bertemu denganmu," ujar ibu itu disaat Aeri menoleh. Ternyata berita itu telah menyebar dengan cepat hingga ke mana pun Aeri pergi, pasti ada saja yang mengenalnya.


"Ada apa ya, ingin bertemu denganku?" Aeri bertanya dengan perasaan cemas. Mungkinkah ia akan mendapat hinaan lagi?


"Begini ... aku memiliki anak perempuan yang hampir seusiamu, tapi aku takut dia akan mencontohi tindakan tidak bermoralmu," sindir ibu itu halus. "Aku harap orang sepertimu segera lenyap dari dunia ini."


Aeri tertunduk. Saat itu juga Yohun dan Zeha mendekat dengan langkah lebar. Zeha menatap Aeri yang menunduk. Aliran air mata yang mengalir tidak lepas dari pandangannya walau Aeri dengan tangkas mengusapnya.


"Apa yang anda katakan padanya?" Tanya Zeha dingin dengan manik memerah emosi.


"Aeri kau baik-baik saja?" Aeri hanya menggeleng sebagai jawapan dari pertanyaan Yohun.


"Aku hanya mengatakan bahwa wanita sepertinya, tidak layak berada di dunia ini. Keberadaannya hanya seperti sampah yang mengotori dunia!"


Kontan kedua tangan Zeha mengepal hingga urat-urat pada tanganya terlihat jelas. Sedang Yohun mengalihkan atensinya dari Aeri ke ibu-ibu sombong tidak tahu diri itu.


"Anda tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jadi lebih baik anda diam jika tidak memiliki bukti yang jelas. Awasi saja keluarga anda. Jangan sampai ada diantara mereka yang berkelakuan buruk," ujar Yohun serius tanpa semburat ramah sedikit pun.


"Kau!" Ibu itu menggeram.


Zeha membawa Aeri memasuki mobil, emosinya bisa meluap jika terus menatap wajah menyebalkan itu. Lalu memerintahkan pada Gary yang telah menunggu dengan setia selama berjam-jam lamanya menjalankan mobil. Yohun hanya melihat tanpa berniat untuk mencegah Zeha membawa Aeri. Ia tidak ingin membuat Aeri semakin frustasi dengan pergaduhan memperebutkannya. Kali ini ia akan membiarkan Aeri bersama Zeha.


Yohun beralih menatap ibu itu dengan tatapan tajam. "Pastikan anda sentiasa melihat televisi. Aku akan pastikan mereka yang telah menghina Aeri menyesal karena telah mengatainya!"