The President'S Crazy

The President'S Crazy
part. 38



Tak disangkah, disaat sakit pun Aeri mendapat ancaman yang membuat pikirannya melayang jauh. Aeri melihat lelaki yang baru saja memberikan ancaman yang membuatnya meremang dalam balutan selimut.


Mata Aeri tiba-tiba membulat kaget saat melihat sang atasan ternyata hanya memakai dalaman, berjalan meraih bathrobe tanpa rasa malu di hadapan Aeri. Semburat kemerahan refleks terlihat ketara dikedua pipi itu.


Kedua sudut bibir Zeha tertarik samar melihat wajah merona Aeri dengan manik terpejam rapat. Ia berjalan mendekati ranjang dengan smirk. Memegang ujung selimut yang berada dibagian dada membuat gadis itu kontan membuka mata karena kulit tangan Zeha mengenai kulitnya.


"Kau tahu? Kau wanita beruntung karena berpeluang melihat tubuh telanjangku," bisik Zeha di depan wajah itu.


"A-apa yang ingin Tuan lakukan?" Tanya Aeri melihat Zeha seperti ingin menarik selimut, sedang ia tidak mengenakan pakaian utuh.


Zeha berdecih dengan pertanyaan itu. "Kau benar-benar menganggapku sebagai lelaki brengsek, ya?" Sepertinya Zeha telah lupa bahwa sedari awal ia memang telah membuat Aeri beranggapan dekimian terhadapnya. Jadi, Zeha tidak bisa menyalahkan Aeri.


"Segera kenakan bajumu dalam 10 detik jika tidak aku akan memperlihatkan tubuh itu pada orang lain!"


Langsung, tanpa bertanya lagi Aeri mengenakan pakaia yang Zeha berikan secara perlahan namun, terkesan buru-buru. Dengan menyungging senyum Zeha berjalan menuju pintu.


"Periksa dia!" Perintah Zeha pada Dr. Oh setelah ia membuka lebar pintu kamar, memerintahkan masuk hanya dengan kode tangan.


Aeri yang melihat kontan membangunkan tubuhnya, merasa tidak sopan jika dirinya terus berbaring saat ada yang datang. Sehingga suara Dr. Oh menghentikannya.


"Tidak apa nona, kau bisa terus berbaring," ujar Dr. Oh saat melihat tubuh lemah serta wajah pucat Aeri. "Sebenarnya apa yang terjadi?" Dokter Oh bertanya seraya mulai mengeluarkan Stetoskop dari dalam tas miliknya.


"Say--"


"Dia dikurung dalam WC selama satu hari satu malam," sahut Zeha cepat dan tangkas menyela ucapan Aeri. "Berada dalam WC selama berjam-jam, kira-kira itu akan membayakan tubuh atau tidak?" Zeha bertanya, berdiri di samping dokter Oh dengan melipat tangan di dada.


"Pada malam hari suhu dalam WC bisa sangat rendah hal tersebut akan membuat tubuh kita mati rasa jika telah mencapai batasan dan hal itu bisa membawa maut kepada si mangsa," terang Dr. Oh mengagetkan Zeha, namun itu tidak terlihat pada wajah dinginnya. Ia beralih melihat Aeri yang sedang diperiksa oleh Dr. Oh. Wajah lembut itu masih terlihat pucat walau tidak separah tadi.


Jika tadi Zeha terlambat sedikit saja, mungkin nyawa sekretarinya itu akan melayang. Ia mengepalkan tangan. Br*ngs*k!


"Apa yang kau rasakan, nona?" Tanya dokter Lee setelah mengecek Aeri.


"Rasanya tubuhku kebas semua," jawap Aeri lemah, menatap lurus pada sang dokter. "Syukurlah kau berjaya melewati tahap berhaya." Dokter beralih melihat ke arah Zeha. "Aku yakin, saat kau menemukannya dia terlihat seperti mayat hidup. Apa yang kau lakukan untuk menghangatkan tubuhnya?"


"Dengan tubuhku," jawap Zeha sekenanya yang langsung mendapat jempol dari sang dokter yang telah ia kenal lama.


"Itu pilihan yang tepat. Cara tersebut adalah cara yang paling ampuh jika berada dalam situasi seperti ini."


Kedua bola mata Aeri bergulir secara perlahan pada Zeha yang mengenakan bathrobe, lelaki itu berdiri berhadapan dengan Dr. Oh. Ternyata pikiran negatif yang sempat menyentuh pikirannya tadi hanyalah pemikiran yang tak berdasar. Aeri menundukkan pandangan, ia malu dan merasa bersalah pada atasannya, Zeha.


Ternyata niat lelaki itu hanyalah untuk menolongnya melewati maut yang hampir datang. Zeha memang brengsek, tetapi tidak sebrengsek yang Aeri pikirkan. Jika saja bukan karena lelaki itu yang tiba-tiba datang dan menolongnya, entah bagaimanalah nasipnya. Entah bagaimana nasip ayahnya yang akan ia tinggalkan.


"Ini resep obat yang harus kau tebus di apotek terdekat," Dr. Oh menyerahlan secarik kertas.


"Baiklah," sahut Zeha menoleh pelan ke arah Aeri yang tampak menunduk sedih.


"Kalau begitu aku pulang dulu." Dokter Oh pun beranjak pergi dengan dihantar Zeha hingga pintu kamar.


"Baik tuan." Gary pun menuntun sang dokter tersebut keluar dari apartemen, menghantarkan hingga sampai ke rumah sesuai perintah Zeha.


Zeha menoleh. Wajah Aeri masih terus menunduk seperti sebelumnya. Zeha membalik badan, lalu menuntup pintu.


"Kau kenapa? Apakah saraf otakmu telah rosak hingga kau terus menunduk?" Zeha mendekat ke arah ranjang, berdiri dengan memasukkan kedua tangan ke dalam kantong bathrobe yang ia kenakan.


"Saya ingin mengucapkan terima kasih karena anda telah menyelamatkan saya dan juga ... maaf," lirih Aeri berujar tanpa menatap Zeha.


"Maaf?" Alis Zeha menukik bingung.


"Saya telah beranggapan bahwa anda ingin mengambil kesempatan disaat saya berada pada tahap lemah. Tidak seharusnya saya berpikiran seperti itu terhadap anda, jadi karena itu saya ingin meminta maaf pada anda."


"Pfft!" Zeha menahan tangannya di depan bibirnya. Kata-kata Aeri membuatnya ingin tertawa. Hal tersebut tentu saja menarik atensi Aeri untuk menoleh.


Zeha menundukkan tubuhnya hingga wajah berada tepat di atas wajah lemah Aeri, sebelah tangan menopang berat tubuh pada bantal tepat di samping kepala Aeri. Kedua bola matanya bergulir memindai kedua mata bening indah itu yang tampak was-was dalam jarak tersebut.


"Apa kau menganggapku gay?"


Alis Aeri tertarik naik kaget dengan pertanyaan itu. "I-iya?"


Kepala Zeha bergerak perlahan ke arah ceruk leher Aeri, mengendus-ngendus aroma segar yang menguar dari sana walau gadis di bawahnya itu belum mandi. "Aku ini lelaki normal, Aeri. Apa lagi kedua tubuh kita yang hampir polos bersentuhan langsung tanpa penghalang. Kira-kira lelaki normal mana yang bisa menahannya?"


Glek!


Kontan Aeri menelan susah salivanya. Kepala Zeha yang berada pada ceruk lehernya membuat Aeri tidak berani untuk bergerak. Apalagi setelah mendengar ucapan yang membuat bulu meremang.


Ya, Aeri tahu bahwa atasannya itu lelaki normal yang suka bergonta-ganti wanita, seperti mana lelaki brengsek. Aeri memang sempat takut mendengar ucapan itu, tetapi di sini bukankah Aeri masih baik-baik saja tanpa disentuh oleh Zeha? Lelaki itu memang hanya berniat menolongnya, walau memang sesuatu dalam tubuhnya telah terbangun, namun Zeha tetap dapat menahan diri.


Zeha tersenyum miring menarik wajah dari ceruk leher menyegarkan itu. "Aku memang lelaki brengsek, tapi aku hanya akan meniduri wanita yang juga menginginkannya, atau wanita jal*ng di luar sana. Aku bukan pemerkosa!" Terang Zeha penuh penekanan tepat di depan bibir Aeri yang terkatup rapat.


"Ma--maaf tuan--"


Mata Aeri dibuat membulat saat tiba-tiba bibir hangat Zeha mengecup singkat dalam ******* ringkas yang membuat bibir berisi Aeri sedikit tersedot ke dalam bibir Zeha sebelum melepas yang menghasilkan bunyi kecupan.


"Diam! Sebelum aku benar-benar memakanmu!" Aeri mengatub bibir rapat mendengar kalimat ancaman itu.


Lalu Aeri melihat Zeha menjauh, masuk ke dalam walk in closet yang seketika membuatnya bernapas lega. Lelaki itu selalu saja membuatnya takut dengan ancaman sedemikian. Mungkin banyak wanita di luar sana yang mengejar atasannya itu, mengantri untuk bisa tidur bersama. Tetapi Aeri bukan mereka. Kesucian miliknya hanya untuk lelaki yang ia cintai dan yang akan menjadi suaminya.


"Aku akan pergi, mungkin besok malam baru kembali," tukas Zeha membuyar lamunan Aeri. "Dan kau tidak perlu pergi bekerja besok. Apa kau mengerti?" Kali ini Zeha berujar dari arah pintu yang dibuka. Lelaki itu sudah rapi. Celana jeans robek-rober berwarna hitam membalut kaki panjangnya. Kaus hitam juga jaket kulit yang berwarna senada membungkus tubuh berotot miliknya.


"Anda ingin pergi ke mana?" Penampilan itu memperlihat sisi lain dalam diri Zeha di mata Aeri.


Zeha menoleh, tinggal sejengkal lagi sebelum pintu kamar itu ditutup olehnya. Ia menyahut, "berburu tikus."