
Ting nong ... ting nong
Baru saja Aeri selesai meletakkan sarapan buatannya sebelum bel terdengar berbunyi. Tangan yang masih kotor, Aeri berlari keluar melihat siapa yang datang. Ia sempat melirik pada jam gantung di ruang tengah. Waktu baru menunjukkan pukul 6 lewat. Lalu, siapa yang datang sepagi ini?
Cklek!
Pandangan itu bertemu membuat sang pembunyi bel kaget dengan keberadaan Aeri di apartemen Zeha. "Aeri?" Keningnya berkerut jelas.
"Tuan Sehun... apa anda mencari tuan Zeha?"
Dengan masih bingung, bahkan dengan manik yang mengerjap tidak teratur, Zeha menganggukkan kepalanya.
"Silahkan masuk. Tuan Zeha masih tidur," sesal Aeri. Ia mempersilahkan Sehun untuk masuk.
"Tidak apa, aku akan membangukannya," sahut Sehun langsung membawa tungkai menuju kamar Zeha.
Sedang Aeri kembali ke dapur untuk membuat satu porsi sarapan lagi untuk Sehun. Tidak mungkin saat mereka sarapan teman atasannya itu hanya melihat, kan? Ia menoleh, melihat Sehun hilang di balik pintu kamar Zeha. Aeri harap lelaki itu tidak berpikir macam-macam mengenai tentang keberadaannya di rumah Zeha.
Bunyi pintu kamar Zeha yang terbuka membuatnya kembali menoleh. Belum sampai satu menit Sehun masuk, namun kenapa keluar kembali? Apa mungkin telah terjadi sesuatu? Dengan pandangan yang memancarkan kebingungan, ia menatap lelaki yang mendekat itu.
"Kau masuk dan bangunkan dia. Katakan bahwa aku datang," kata Sehun, semakin membuat Aeri mengernyit tidak mengerti.
Bukankah tadi ia sudah masuk, kenapa tidak sekalian saja membangunkan sahabatnya itu? Kenapa harus menyuruhnya lagi? Sembari menggaruk kepala yang tidak gatal, Aeri mulai bergerak menuju kamar Zeha. Menolak pun tidak sopan.
Sebelum membangunkan atasannya itu Aeri sempat menarik napas dalam-dalam. Entah mengapa kedatangannya ke kamar itu memicu detak jantungnya. Perasaannya tiba-tiba merasa tidak enak.
"T--tuan ... tuan ...." Aeri mulai menggerakkan tubuh Zeha secara perlahan. "Tuan bangun ... tuan Sehun sedang menunggu anda."
Sayang, Zeha hanya menggeliatkan tubuh dengan gumahan tidak jelas.
"Aduh ... bagaimana ini?" Resah Aeri. Bukan apa, ia tidak enak jika harus membangunkan dengan goncangan yang kuat. Ia masih teringat isakan Zeha tadi sehingga membuatnya tidak tega. Apa lagi wajah damai itu terlihat begitu pulas.
Tetapi, bagaimana pun ia tetap harus membangunkan karena Sehun sedang menunggu.
"Tuan bangun! Tuan Sehun datang...." kali ini goncangan itu sedikit kuat, tapi masih belum menunjukkan kemajuan. Belum ada tanda-tanda Zeha akan segera membuka mata.
"Tidur mati, kah apa?" Aeri jutru menggerutu. Ia menarik napas panjang, lalu menghembusnya.
"Tuan... tuan Sehun ingin menemui anda!" Bersamaan dengan itu, tubuh Zeha digoncang kuat oleh Aeri.
Dan berhasil. Dengan decakan kesal di bibir Zeha lekas bangun, lantas mendudukan tubuhnya.
"Sialan! Mengganggu saja!" Kedua tangannya bergerak memegang kedua sisi rahang Aeri lalu langsung menjatuhkan kecupannya di sana dengan mata yang masih terpejam.
Berbeda dengan Aeri yang netranya hampir melompat keluar akibat dari serangan mendadak Zeha. Barulah setelabnya, lelaki itu meregangkan tubuh seperti tidak terjadi apa-apa.
Aeri pun membawa tubuh tegangnya beranjak keluar. Melewati Sehun yang bersandar pada dinding--tepat di samping pintu Zeha dengan bibir yang menahan senyum melihat ke-shock-an Aeri. Sudah ia duga kebiasaannya itu belum hilang. Untung tadi ia sempat teringat, jika tidak, kejadian menjijikkan kembali terulang.
"Kebiasaan burukmu itu menjeratkan semua orang."
Zeha berdecih melihat Sehun benyandarkan bahunya pada kusen pintu. "Ada apa?" Tanyanya dingin mengabaikan ucapan Sehun seraya beranjak membuka gorden besar di kamarnya.
"Kau pasti kenal dengan John Park bukan?" Sehun membawa tubuhnya duduk pada sofa yang berhadapan langsung dengan ranjang. Ia memindai tubuh Zeha yang mengabaikannya.
"Itu pertanyaan bonus. Lagian aku bertemu dengannya semalam!" Tutur Zeha terkesan dingin. Mengingat tingkah John semalam membuatnya kesal. "Moodku buruk karena dia, ckk!" Setelah meregangkan tubuh, Zeha pun duduk pada ujung ranjang--tepat di hadapan Sehun.
"Ouh, dia datang ke acara pelelangan itu?" Sehun tampak terkejut. "Apa dia bersama seseorang?"
Zeha mengedikkan bahu. "Aku tidak melihatnya bersama seseorang, yang ada dia hanya mencoba menggoda Aeri!" Gerutunya sekali lagi membuat Sehun mengernyit..
"Kau membawa gadis itu pergi?!" Pertama kaget karena alasan ini. Dan kedua, Sehun menghidu bau-bau mencurigakan. Bibirnya menyungging. "Tidak biasanya kau membawa seorang pendamping ke acara seperti itu?" Sehun memicing curiga.
"Kau jangan melenceng! Otakmu tidak berguna! Apa salahnya aku membawa Aeri, hah?! Pikiranmu saja yang tidak betul, sialan!"
Namun, Sehun malah tertawa menanggapi semua makian Zeha. Ini memang ada sesuatu, pikirnya. Ia bahkan memegang perutnya yang mulai terasa keram, mengabaikan Zeha yang memberinya tatapan tajam.
"Brengsek ini, ckk! Cepat katakan tujuan kedatanganmu?!"
"Hahaha ... okay okay hahah." Sehun pun mulai menarik napas panjang lalu ia hembuskan kembali. Namun, sesuatu kembali mengusik penglihatannya. "Pertama, bisa kau tutup barangmu itu? Kebiasaanmu terlalu aneh."
Jujur sedari tadi ia sudah terganggu, tapi ia membiarkannya saja karena meranggapan Zeha akan menutupinya. Tetapi, tanpa malunya ia malah membiarkan benda pusakannya itu menjadi tontonan Sehun.
"Iya memang, tapi aku merasa tidak nyaman. Lagian orang biasanya tidur tidak memakai baju, kau malah tidur pakai baju tapi, bagian tubuh bawah yang polos, aneh! Kalau milik Aeri tida--"
Puk!
Bantal guling langsung mendarat--mengenai wajah Sehun dengan kuat. Ia kembali menahan senyum melihat wajah Zeha mengeras. Benar-benar sesuatu telah terjadi pada sahabatnya ini. Jelas saat ia termakan umpan Sehun.
"Jauhkan pikiran kotormu itu!"
"Cih! Kau pikir pikranmu itu bersih?!" Sehun tidak terima. Sedari tadi Zeha terus membuatnya terlihat seperti seorang lelaki penggila s*x. Sedangkan ia lebih parah.
"Apa aku bunuh saja?" Zeha bergumam geram. Seketika ia mengatub matanya sebelum kembali terbuka dengan sorot tajam terhunus pada Sehun. Membuat lelaki itu mahu tidak mahu mengalah. Bukan karena takut, tapi karena Sehun malas ingin berdebat dengan Zeha.
"Dia kekasih dari Oh Jiha."
Alis Zeha mengerut. "Maksudmu wanita yang aku serahkan padamu untuk diurus?"
"Betul. Sampai sekarang aku kehilang jejaknya. Semalam anak buahku mendapat informasi ini," terang Sehun serius dengan tangan yang bersilang di dada.
"Jadi?"
"Aku rasa wanita itu tinggal bersama John. Kau tahu John itu sangat licik dan dia juga punya dendam padamu, kan?"
Seketika Zeha terdiam. Pikirannya melayang pada kejadian semalam. Tidak seharusnya ia mengatakan Aeri sebagai kekasihnya di hadapan John sedang ia tahu John itu seperti apa.
"Kau mengatakan bahwa Oh Jiha kekasih dari John, lalu Jinha?"
Oh iya, Sehun melupakan keberadaan mantan Zeha itu. Ia menggaruk batang hidung yang tiba-tiba terasa gatal.
"Itu aku tidak tahu. Setelah menghianatimu dan pergi bersama John, setelah dua bulan dia menghilang. Tidak pernah ada khabar lagi mengenainya setelahnya," terang Sehun juga merasa bingung.
"Apa mungkin dia dibunuh?"
Sehun mengedikkan bahu, kurang tahu. "Entahlah. Anak buahku tidak pernah mengabari tentang hal itu."
"Hmm ... jika seperti ini akan sulit untuk kita menghabisi Jiha karena sekarang dia pasti bersama John." Tidak lama kemudian, bibir sexy Zeha malah menyungging tipis. "Ternyata yang dikira semut adalah gajah yang besar."
Tok tok tok...
"Sarapan sudah siap tuan...." Zeha menoleh cepat ke arah pintu yang tertutup. Keningnya mengernyit. Seingatnya, ia tidak pernah meminta Aeri untuk membuat sarapan.
Sehun melirik Zeha, lalu kemudian ia langsung beranjak membuka pintu. "Apa kau membuatkan untukku juga?" Tanya Sehun dengan tatap intens yang menggoda. Sebelah tangan sengaja ia taruh pada kusen pintu dengan dilipat sehingga tapak tangannya menyanggah kepala dengan sebelahnya lagi menolak pinggang.
"Iya, tuan Sehun juga bisa sekalian sarapan bersama kami," sahut Aeri malu karena ditatap sedemikian rupa.
"Kau baik sekali. Kau juga cantik...." tangan Sehun dengan lancang bergerak mengelus pipi Aeri membuat sang empu kontan menarik wajah yang sukses membuat Sehun tersenyum ringan.
"Tidak perlu memanggil tuan, panggil saja Sehun atau kak Sehun karena aku lebih tua darimu, kan."
"Baiklah tua--eh k-kak Sehun." Aeri terbata yang berhasil membuat ketawa lelaki itu pecah.
"Kau sungguh menarik. Pantas saj--"
"Tidak usah tebar pesona di sini sebelum aku meletubkan kepalamu itu!"
Setelah dengan sengaja menabrak dengan kasar bahu Sehun, ia langsung menarik Aeri menuju dapur meninggalkan Sehun yang tersenyum penuh arti. Ia mengekori dengan langkah lebar.
"Kau tidak perlu melayaninya bicara!"
"Wah, terlihat sangat enak Aeri." Sehun lansung duduk layaknya di rumah sendiri.
"Terima kasih kak," sahut Aeri tersenyum. Senang rasanya ada yang memuji masakannya, ya walau belum tahu rasanya.
"Ckk!" Sehun hanya melirik sekilas sembari tersenyum samar mendengar desihan Zeha. Dengan mengabaikan Zeha, ia terus menyantap sarapan buatan Aeri yang begitu pas dengan lidahnya.
"Kenapa tidak ikut sarapan Aeri?" Sehun baru menyadari bahwa sedari tadi Aeri hanya berdiri memerhatikan mereka berdua sarapan.
Lebih tepatnya Aeri tersita oleh Zeha yang tampak kesusahan saat memasukkan senduk ke dalam mulutnya. Lelaki itu sering kali meringis dikala benda itu mengenai bibirnya yang koyak. Semalam ia tidak sempat mengobati karena atasannya itu langsung melenggang masuk ke dalam kamar.
"Aeri?" Lamunan itu pun terhenti. Aeri sontak menoleh pada Sehun. "Iya tu--kak," ralatnya. Sebelum benar-benar duduk, ia kembali melirik pada Zeha. Sebenarnya, ia takut Zeha akan keberatan jika ia duduk dan makan bersama dengan mereka. Melihat lelaki itu acuh tak acuh, ia pun mendaratkan bokong dengan jarak satu bangku dari Sehun.