The President'S Crazy

The President'S Crazy
part.13



"Akkk! A-ampun tuan ... to--tolong." Lolongan kesakitan itu keluar dari mulut seorang pelayan. Wanita yang dikatakan Sehun adalah mata-mata sekaligus kekasih dari lelaki yang nyawanya telah direnggut oleh Zeha tadi.


Waktu telah menunjukkan pukul 2 subuh, namun itu tidak menghentikan aksi Zeha untuk menyiksa wanita tersebut. Sedang wanita tersebut hanya bisa menangis dan meraung atas penyiksaan yang Zeha lakukan pada tubuhnya. Sempat berpikir bagaimana lelaki yang menjadi musuh dari bosnya itu, mengetahui identitasnya sebagai mata-mata di sana. Dia tidak tahu saja, bahwa lelaki yang menjadi kekasihnya telah meninggal dan juga penyebab dari terbongkarnya penyamarannya.


"Katakan, apa saja yang telah kau katakan pada majikanmu tentangku?!"


Tangan besar itu mencengkram kuat leher pelayan tersebut sehingga lidahnya terjulur akibat tekanan yang begitu menyesakkan.


Pelayan itu menggeleng kaku. Sudah tidak sanggup dengan cengkraman yang ia rasakan pada lehernya. Oksigen serasa semakin menipis di rongga dada, sedang ia belum ingin mati lagi.


Gelengan itu semakin membuat seorang Zeha murka. Wajah dingin bak es itu menggelap dengan aura mematikan. Ia melepaskan cengkraman pada leher, menatap lurus tanpa belaskasih pelayannya itu.


Senyum tersungging begitu mengerikan. Mengusap leher belakang yang terasa kaku. "Sepertinya kau tidak menyayangi nyawamu," gumam Zeha, mengerikan. Membuat pelayan yang tangan dan kakinya diikat merentang sehingga terlihat seperti sebuah bintang, kembali menggelengkan kepala, tidak ingin mendapatkan siksaan itu lagi.


"Tidak ... aku mohon tuan," isaknya yang diabaikan oleh Zeha. Mantan majikannya itu kembali mengambil sebuah lilin yang telah menyala. Melihat itu, tubuh tanpa sehelai benang itu semakin memberontak ingin melepas diri.


Tubuh yang sudah penuh oleh lelehan lilin yang telah mengeras hingga menimbulkan rasa perih yang begitu menyiksa. Apalagi jika lelehan panas itu diteteskan pada luka yang terbuka akibat dari sayatan pisau tajam Zeha.


Plak!


Cambuk yang terbuat dari kulit buaya itu menghantam perut rata itu, membuat sang empu tubuh langsung berteriak memekakkan telinga. Tubuh yang memberontak kembali tidak berdaya.


"Tidak!" Pelayan itu berteriak saat Zeha meneteskan lelehan lilin pada luka yang terbuka pada pipi.


"Kau masih tidak ingin membuka mulut?!" Terus menerus Zeha miringkan lilin itu, sehingga tanpa henti lelehan itu menetes dan menyiksa raga yang telah penuh luka itu. Kembali pelayan itu menggeleng.


Sungguh keras kepala, pikir Zeha.


Dia menatap sekujur tubuh penuh luka itu. Zeha terdengar mengerang tertahan, ia memaki diri yang begitu senang terpancing. Zeha lantas segera memanggil anak buah dan menyuruh untuk membawa gigolo yang ia peliharan demi keperluan yang seperti ini.


"Setub*hi wanita itu jack!" Perintah Zeha dingin pada gigolo yang bernama Jack itu yang langsung ditanggapi baik oleh Jack.


Zeha tersenyum sinis melihat pelayan itu seolah memohon untuk dilepaskan. Satu informasi yang Zeha dapatkan--ternyata mantan pelayannya itu memiliki masalah dengan kebesihan sehingga ia sama sekali tidak ingin disentuh oleh lawan jenis.


Zeha yakin, bahkan kekasihnya pun belum pernah menyentuhnya. Lagian wanita itu juga trauma karena pernah hampir dilecehkan oleh ayah tirinya. Isakan meraung semakin terdengar dikala Jack merangkak naik pada tubuh yang terlentang di atas meja.


"Ahhkk."


Sontak leng*han itu lolos begitu saja kala Jack dengan rakus meraup dada kenyal pelayan yang terpampang di depan mata. Sudah hampir beberapa bulan Jack tidak pernah lagi melakukan pekerjaannya itu sehingga ia otomatis merasa haus saat melihat tubuh yang dipenuhi lelehan lilin yang telah mengering.


"Akkggggg!" Kembali jeritan penuh perih itu terdengar begitu nyaring memenuhi kamar yang bernuansa gelap. Kamar yang diperuntukkan untuk menyiksa mangsa yang berkelamin wanita. Lihuid bening mengalir deras di pipi pelayan wanita itu. Tubuhnya seolah terkoyak menjadi dua saat Jack menerobos masuk ke dalam pusat intinya. Perih yang tak terkira ia rasakan.


"Jadi, bagaimana?" Tanya Zeha bernada ancaman. Tanpa rasa jijik atau apapun itu, Zeha menyaksikan Jack menggauli pelayan tersebut. Jelas dikedua bola mata Zeha melihat raut tersiksa di wajah sang wanita. Ia tersenyum senang.


"Ak--akuh ahk... akan mengatakanhh.... to-tolong hentikan i-inihh shh," pintanya memelas. Hentakan bruntal itu menyiksanya, ia ingin ini segera berakhir.


"Katakan dulu," sahut Zeha tidak peduli.


"Ak--ahkkk kuh ...."


"Jack, hentikan!"


Melihat wanita itu kesulihatan berbicara akibat hujaman Jack yang keras, membuat Zeha memerintahkan sang gigolo untuk berhenti yang lansung ditanggapi tanpa banyak protes.


"Katakan!"


"Aku hanya menyampaikan ... bahwa tuan suka tidur dengan berbagai wanita," jelas wanita itu dengan napas yang tidak teratur.


"Hanya itu?" Wanita itu refleks mengangguk. Zeha hanya menganggukkan kepala. Ia cukup percaya dengan apa yang dikatakan wanita itu, karena mengingat betapa jarang ia pulang ke mansion miliknya. Untuk mendapatkan informasi tentangnya kemungkinannya sangat kecil. Jadi bisa ditafsikan bahwa wanita itu berkata jujur.


"Baiklah." Zeha membawa tubuh untuk meninggalkan ruangan tersebut. Sebelum seketika, ia kembali berbalik setalah membuka pintu, lantas berkata yang sukses membuat bola mata wanita itu hampir melompat keluar dari singga sananya.


"Lanjutkan Jack. Buat wanita itu tidak bisa berjalan lagi, lalu kembalikan pada pemiliknya. Biar mereka tahu bahwa mereka tidak bisa mengganggu singa yang sedang tertidur!"


"Tidak! Bukannya kau akan melepaskanku?!"


Blam!


Tanpa peduli, Zeha keluar dan kemabli menutup pintu. Seketika, ia dapat mendengar wanita itu menjerit antara rasa nikmat dan perih.


*****


Di sinilah saat ini Aeri, duduk sambil menggenggam tangan rapuh ayah'nya yang telah menjalani operasi siang tadi. Mengikut kata dokter, semua berjalan lancar. Darah beku yang berada di kelapa ayah telah berhasil dikelurkan.


"Maafkan Aeri karena tidak ada di sini menemani ayah saat melakukan operasi itu," cicit Aeri mencium punggung tangan itu penuh cinta. Matanya tiba-tiba terasa panas.


Itu semua karena Zeha yang menghukumnya hingga ke sore bahkan hampir gelap. Akan tetapi, berkat Zeha juga ia mendepatkan uang untuk biaya operasi ayahnya. Jadi, Aeri tidak tahu, apa ia harus bersyukur karena dipertemukan dengan Zeha atau malah sebaliknya. Karena kehadiran zeha yang selaku bos'nya membawa dampak kedua-duanya. Kesialan dan keberuntungan.


"Aeri harap setelah ini, ayah kembali sihat seperti semula." Kali ini Aeri mendaratkan kecupannya pada kening sang ayah cukup lama.


Hari-hari seterusnya yang akan Aeri jalani dengan berada di sisi Zeha sebagai sekretarisnya tidak tahu akan seperti apa jadi. Apakah muda atau semakin sulit, Aeri tidak bisa menebaknya. Tetapi, isting Aeri mengatakan bahwa kehidupan seorang Jeon Zeha itu gelap tidak tergapai. Dikelilingi oleh banyak wanita yang berlomba ingin disentuh olehnya.


Mungkinkan salah satu diantara banyaknya wanita itu akan cemburu melihatnya terus berada di sisi Zeha? Jika demikian, bermakna ia akan berada dalam masalah.


Jadi, Aeri sangat berharap, bila waktu itu telah tiba, ayah'nya telah sembuh dan dapat mendengar setiap keluh kesah yang ia rasakan setiap harinya. Menjadi tempatnya bersandar apabila telah lelah bekerja.


Aeri merebahkan kepalanya pada pinggiran brangkar sembari terus menggenggam tangan yang terpasang selang infus tersebut. Jujur Aeri sangat merindukan belaian lembut ayahnya yang dapat menenangkan pikiran dan hatinya.


Dengan buliran yang keluar, Aeri memejapkan manik yang terasa begitu lelah. Sekujur tubuhnya serasa diremuk-remuk dengan begitu teruknya. Setelah pulang dari club tempatnya bekerja, ia langsung menuju rumah sakit. Hingga saat ini ia begitu mudah untuk terlelap.


Dunia terasa begitu kejam untuk seukuran gadis sepertinya.


Namun, tiada yang tahu apa yang akan menunggu di masa depan.