
Mendengar keluh-kesah Aeri terhadap Zeha, membuat lelaki itu sedikit-sebanyak merasa bersalah atas apa yang telah ia lakukan terhadap Aeri. Jujur Zeha tiada niat untuk mempermainkan Aeri seperti mana yang keluar dari mulutnya. Tetapi, Zeha juga tidak ingin mengakui perasaannya yang ia sendiri masih tidak yakin. Satu sisi dalam diri Zeha menolak keberadaan Aeri, namun ada sisi lainnya yang terus mengatakan bahwa Aeri bukan seperti wanita lainnya yang membuat ia membenci wanita.
Sebelum semuanya jelas, Zeha tidak ingin mengganggu hidup Aeri lagi, tapi ia juga tidak bisa melihat Aeri bersama lelaki lain, apalagi sampai bersentuhan. Argk! Kepalanya terasa panas seperti beberapa menit yang lalu saat Zeha melihat John hampir mendaratkan bibirnya di atas bibir Aeri. Kepalanya terasa mau meletup.
"Arggkkkkk!" Zeha meraung sambil memegang betisnya yang baru saja Aeri tendang dengan sekuat tenaga secara tiba-tiba.
"Gadis sialan!" Maki Zeha emosi. Ia menatap nyalang pada Aeri yang terbaring di atas kasur. "Kau mau membuat kakiku patah?!" Zeha terus mendesis menahan sakit.
Zeha jadi bingung. Disaat mabuk gadis itu tiba-tiba memiliki tenaga super kuat, tidak seperti saat ia sadar, lembutnya bikin kesal setengah mati. Ingin rasanya Zeha remuk-remuk tubuh itu.
Tiba-tiba Aeri bangkit tanpa membuka mata, membuat tubuh Zeha terjingkat kaget. Apalagi saat itu Aeri mulai melangkah cepat mendekati Zeha yang tiba-tiba merasa takut jika Aeri berada dekat dengannya.
Zeha bergerak menjauh. "Kau mau apa? Mau menendangku lagi?" Tukas Zeha terus mengelak saat Aeri mendekat. Kedua tangan Aeri bahkan terulur ke depan seperti zombi.
"Tuan Zeha yang tampan ...," cicit Aeri membuat Zeha yang terus menghindar tersenyum.
"Setelah memaki sekarang kau memujiku? Kau pikir aku termakan oleh pujianmu itu? Hah?!" Desis Zeha geram. Ia bergerak dengan lincah saat Aeri hampir memeluk tubuhnya. Bahkan saat Aeri terjatuh Zeha hanya melihat tanpa niat untuk membantu. Zeha takut, jika ia berada di dekat Aeri maka gadis itu akan langsung menendang betisnya. Sakitnya membuatnya hampir terkencing di celana.
"Tuan Zeha memang tampan, tidak ada yang lebih tampan darinya," puji Aeri, melantur gaya orang mabuk. Seketika Zeha tersipu mendengar pengakuan dari hati Aeri. Namun, seketika luntur setelah mendengar perkataan selanjutnya.
"Tapi ... begitu brengsek."
Jatuh setelah terbang itu memang sakit, sakit menghantam kenyataan. Zeha menggeram, tanpa sadar menghentikan kakinya dari mengelak.
"Apa ka--arggkkkk! Aeri!"
Bruk!
Tubuh Zeha jatuh terduduk tepat saat Aeri sekali lagi menghantam betisnya. Air matanya hampir keluar bagai anak kecil karena rasa sakit yang begitu ketara.
"Kau balas dendam, kan?"
Bruk!
Aeri menjatuhkan tubuhnya begitu saja pada Zeha yang refleks disambut dengan kedua tangan lelaki itu. Aeri memeluk tubuh besar itu dengan begitu erat.
"Teri ... m .. ma kas ... sih."
Seketika Zeha termangu, kaku. Detak jantungnya tiba-tiba berdetak dengan cepat. Ia hanya diam saat Aeri menyamankan posisi dalam dekapannya.
"Terimah ... ka .. sih Tuan ...."
Deg!
Deg!
Deg!
Tidak dapat dikontrol lagi. Entah mengapa detak jantung Zeha semakin memicu mendengar ucapan terima kasih dari Aeri, padahal itu hanya sebuah ucapan biasa, tetapi karena keluar dari bibir Aeri, perkataan itu seolah berubah menjadi perkataan yang sakral.
Zeha masih bergeming bahkan saat napas Aeri secara perlahan mulai teratur dalam pangkuan dan pelukannya. Jantung Zeha seolah mau melompat dari tempat kala itu juga.
"Tu ... an penyela .. mat .. kuuh ..."
Bagaikan aliran listrik bervoltase tinggi saat bibir Aeri mengecup ringan leher kekar Zeha sesaat sebelum gadis itu tidak sadarkan diri, bersandar di dada bidang itu.
Penyesalan semakin kuat menghampiri dada Zeha kala itu. Tanpa perintah dan tidak tahu dari mana, manik yang biasanya dingin itu berembun seolah siap mengeluarkan hujan. Zeha terharu dan tersentuh. Belum pernah ada seorang pun yang benar-benar menganggap dirinya dan menghargai keberadaanya selain ibuya dan Sehun. Perasaan Zeha tidak terluahkan. Ia tidak tahu, perasaan senang itu karena apa. Karena ucapan Aeri atau karena Aeri yang mengucapkannya, entahlah.
Tidak disangkah gadis yang Zeha permainkan, kasari dan ia sakitkan hatinya menganggapnya begitu bermakna dalam hidup. Ingin rasanya Zeha sembunyikan Aeri untuknya saja.
Zeha melepaskan dekapan itu. Ia menatap wajah merah karena pengaruh alkohol serta lelah Aeri yang terlelap. Mengusap pipi mulus berisi Aeri. Jika seperti ini, Zeha merasa begitu jahat.
Apakah ia telah begitu kejam terhadap Aeri? Pertanyaan itu tiba-tiba terbit dihatinya.
Tanpa melepas pandangan matanya, Zeha mengangkat tubuh Aeri, lalu ia baringkan kembali di atas kasur, lantas ia selimutkan.
"Apakah kau bisa menerimaku yang seperti ini?" Bisik Zeha yang diakhiri kecupan lembut di dahi Aeri.
Zeha takut jika suatu saat nanti ia mengatakan perasaannya, Aeri malah tidak bisa menerimanya. Apa yang harus ia lakukan saat itu? Melepas? Zeha tidak mungkin melepaskan Aeri, tidak akan.
•••
Tubuh langsing Yeoryun menggeliat dibalik selimut tebal pagi itu. Sinar matahari yang mulai meninggi mengenai wajahnya yang tampak berantakkan, membuat kesadarannya semakin naik ke dasar.
Dalam kesadaran yang setengah itu, alis Yeoryun mengernyit. Sesuatu terasa membelit perut ratahnya. Secara perlahan tangannya meraba-raba. Seketika kesadaran Yeoryun kembali, ia langsung menoleh dengan cepat dan ....
"Argggggg ..... brengsek!" Yeoryun memekik sambil menolak tubuh lelaki yang menepel padanya hingga tersadar.
"Ada apa katamu?!" Yeoryun merasa semakin meradang kala melihat tubuh lelaki itu telanjang. "Apa yang kau lakukan padaku brengs*k!" Teriak Yeoryun hingga tenggorokannya serasa mau keluar.
Tangannya terus memukul tubuh lelaki itu membabi‐buta disaat satu tangannya memegang selimut untuk menutupi dadanya. Ingin rasanya Yeoryun membunuhnya saat itu juga. Saking kuatnya pukulan tangannya, mampu membuat mata lelaki itu segar dalam sesaat.
"Aku membencimu!" Teriak Yeoryun lagi. Tangannya yang terus memukul telah dicekal oleh sang empu tubuh. "Kau licik Lee!"
"Itu karena aku mencintamu. Aku ingin menjadi lelakimu dan memilikimu hingga kau tidak bisa lagi menolakku," tutur manager Lee lembut, mencuba menjinakkan seorang Yeoryun.
"Brengsek! Lepas!" Yeoryun ingin memukul manager Lee lagi, tetapi tangannya malah tidak bisa bergerak dalam cekalan lelaki itu.
"Kau pikir dengan begini kau bisa memilikiku? Tidak! Aku akan lari darimu dan menemukan lelaki yang bisa menerimaku apa adanya!" Sarkas Yeoryun tepat di depan wajah manager Lee yang seketika mengeras. Cekalannya semakin mengerat, sakit.
"Sakit Lee!"
"Maka aku akan langsung membunuh lelaki itu!" Kata-kata itu berjaya membuat wanita itu terdiam dalam tatapannya.
"Kenapa harus aku? Kau bisa menemukan yang lain, jangan aku."
"Aku cuma mau kau, tidak yang lain." Manager Lee membawa tubuh Yeoryun masuk dalam dekapannya, seraya mengusap punggung polos itu.
"Aku akan bertanggungjawap," tukas manager Lee membuat Yeoryun kembali menolaknya.
"Aku tidak mau!" Manager Lee terkesiap mendengar penolakan Yeoryun. "Aku ... tidak mau dengan lelaki yang sudah tidur dengan banyak wanita."
"Yeoryun ...." Manager Lee menahan Yeoryun yang bersusah payah ingin beranjak turun, sesuatu yang berada dipangkal paha Yeoryun terasa begitu perih. Manager Lee menarik Yeoryun sehingga berada diantara kedua kakinya, memeluk tubuh polos itu.
"Kau adalah wanita pertama yang aku tiduri," tutur manager Lee berbisik tepat di telinga yang bersemu merah itu. Yeoryun menunduk. Pengakuan lelaki itu membuatnya terkesiap kaget serta malu. Apalagi tatapan penuh cinta manager Lee dari samping terus terarah pada wajahnya.
"Tanda merah di sekujur tubuhmu tidak pernah aku lakukan pada tubuh wanita lain." Lagi, pengakuan yang tidak pernah Yeoryun bayangkan membuatnya tidak bisa berkata-kata.
"K-kau pikir aku akan percaya?" Imbuh Yeoryun sedikit bergumam. Apa yang lelaki itu katakan begitu sulit untuknya percaya. Namun, jauh dalam hatinya mempercayai setiap perkataan yang manager Lee katakan.
Manager Lee tersenyum lembut. Tangannya yang membelit perut rata Yeoryun mengusap secara perlahan membuat sang empu sedikit menggeliat.
"Kau tidak ingat apa yang kita lakukan semalam?" Goda manager Lee membuat tubuh Yeoryun menegang dengan pikiran melayang. Dalam hati wanita itu memaki perkataan manager Lee yang terkesan begitu absurd.
"Memangnya apa yang kita lakukan?" Bodoh! Yeoryun menggigit bibir bawahnya. Kenapa ia malah mempertanyaan hal tersebut? Ia meruntuki dirinya yang bodoh dalam hati.
"Apa perlu aku melakukannya lagi? Aku akan membuktikan bahwa hanya kau satu-satunya wanita yang aku tiduri."
"T-tidak perlu--uh!" Tiba-tiba saja tangan nakal lelaki itu bermain di dada Yeoryun yang menggantung bebas hingga tak ayal sang empu kontan mendesah tanpa sadar.
Bibir berisi manager Lee bergelirya dari leher jenjang Yeoryun hingga bahu polos dan punggung yang tidak tertutup apapun di depannya. Ia kecup dan meninggalkan jejak yang membuat Yeoryun tidak tenang.
"Percayalah ... aku bukan lelaki brengsek pemain wanita seperti lelaki lain. Aku hanya akan menyentuh dan menyetubuhi wanita yang ingin aku miliki dan nikahi," aku manager Lee terus mengecup punggung polos Yeoryun.
"T-tapihh aku biasa melihatmu uhh bersama wanita. Kalian tampak mesra ...."
Manager Lee kembali menemui leher jenjang Yeoryun yang kontan memiring ke samping kala itu. "Kau cemburu melihatnya, hmm?"
Yeoryun bergeming. Ia tidak tahu harus menjawap apa karena memang saat itu ia merasa sedikit cemburu. Ia merasa tidak rela saat lelaki itu dekat dengan wanita lain selain dirinya. Namun, untuk mengakui, rasanya tidak bisa. Di mana akan ia letak wajahnya jika ia mengatakannya? Padahal ia selalu menolak lelaki itu.
Tiba-tiba ******* Yeoryun bergema lembut kala tangan nakal manager Lee memijit kedua gunung kembar Yeoryun.
"Aku ini manager, sayang," bisik manager Lee tanpa menghentikan pijatan lembut pada kedua bulatan kenyal yang telah ia nikmati semalam. "Itu hanya sebagian dari tugasku untuk mengawasi club," lanjutnya memakan leher itu yang tak ayal membuat Yeoryun lagi lagi mendes**.
"Tetapi mata dan pikiranku tidak pernah lari dari melihat dan memikirkanmu. Setiap kau datang ke club mataku hanya tertuju padamu, pada tubuhmu yang begitu menggodaku."
"Ahhh!" Saking gemasnya lelaki itu, ia sampai memilin dan menarik puncak milik Yeoryun hingga membuat sang empu berteriak. "Kau mesum Lee .. uhh," tukas Yeoryun dengan dada yang naik turun tidak beraturan. Tangan lelaki itu begitu lihai memanjakan miliknya.
"Aku hanya mesum kepadamu."
"J-jangan ...," lirih Yeoryun saat tangan besar manager Lee bergerak liar menuju pangkal pahanya, sedikit melebarkan, lalu pasti, lelaki itu menyelitkan jari telunjuk, membelai inti dari tubuhnya.
"Mari kita lakukan sekali lagi."
"Apa?!" Kaget Yeoryun dengan napas tidak stabil.
"Karena semalam kau dalam pengaruh obat, jadi mungkin kau tidak mengingatnya. Aku ingin kita melakukan dalam keadaan kau sadar sepenuhnya."
"Ta-tapi-- argk!"
Terlambat, manager Lee lebih dulu membuat tubuh Yeoryun berada di bawahnya dan menyambar liar bibir wanita yang terbuka ingin protes.