The President'S Crazy

The President'S Crazy
part. 65



"Bagaimana keadaan Tuan?" Tanya Gary saat Aeri masuk ke dapur.


"Dia sudah baikan. Suhu tubuhnya juga sudah menurun sejak semalam, tapi Tuan masih tetap harus istirahat. Jadi aku turun untuk mengambilkannya sarapan," sahut Aeri.


"Syukurlah ...."


"Setiap tahun, Tuan Zeha memang selalu seperti itu,ya?"


"Iya," Gary menjawap cepat seraya membiarkan Aeri mengambil makanan untuk sang tuan. "Setiap tiba hari peringatan kematian nyonya, Tuan Zeha selalu menderita seperti semalam. Beliau senantiasa dihantui rasa bersalah bersama rasa benci yang semakin menyiksa batinnya. Tidak ada yang berani mendekat karena Tuan Zeha selalu mengusir bahkan mengancam yang membuat tubuh bergetar."


Aeri terdiam. Ia membenarkan semua yang dikatakan Gary dalam hati. Semalam nyawanya hampir melayang


Karena kenekatan tetap tinggal bahkan setelah diusir oleh Zeha.


"Apa nona tidak apa-apa? ... maksudku Tuan Zeha tidak melukaimu?"


Sekilas Aeri tersenyum kecil. Betapa ngeri jika ia membayang kejadian semalam. Untung saja ia masih tertolongkan. "Jangan cemas, semuanya dalam kendali," sahut Aeri kemudian.


"Baguslah jika begitu, karena jika tidak, aku akan merasa bersalah karena telah membawa nona ke sini," ujar Gary.


Aeri memberikan senyuman manis yang menandakannya baik-baik saja, lalu berkata. "Kalau begitu aku akan mengantarkan ini, aku naik dulu." Aeri pun berbalik pergi dengan nampan berisi meninggalkan Gary yang terus menatap kepergiannya bahkan setelah hilang dibalik pintu dapur.


"Nona adalah yang pertama yang berjaya bertahan di sisi Tuan Zeha dalam keadaan itu," cicit Gary, lalu ikut keluar untuk melanjutkan kerjaannya pagi itu.


Aeri membuka pintu besar kamar Zeha. Ia mengernyit karena tidak mendapati Zeha di atas kasur. Setaunya tadi lelaki itu langsung berbaring setelah ia melarangnya untuk ke dapur karena masih harus istirahat, lantas ke mana hilangnya? Seisi kamar itu terlihat tak berpenghuni.


Tidak lama Aeri tiba-tiba mendengar kemercik air di dalam kamar mandi. Refleks kakinya menganyun cepat menuju pintu yang tertutup itu. Nampan berisi makanan tersebut bahkan lupa ia taruh di atas nakas.


Aeri membelalak tidak percaya. Ternyata apa yang ia dengar tidak salah, Zeha memang sedang mandi.


"Lelaki itu memang cari penyakit. Mandi padahal baru saja sembuh," kesal Aeri.


Gadis kecil itu berniat untuk mengetuk pintu, tetap sebelum tangannya mengena pintu, Zeha sudah lebih dulu membukanya dari dalam hingga membuat Aeri tercegat dalam keterkejutan. Apalagi tanpa diduga matanya malah langsung bertemu pandang dengan tubuh atas Zeha yang polos.


Aeri meneguk saliva. Aliran air yang mengalir dari tubuh berotot itu membuat tubuh itu terlihat semakin sexy di mata Aeri.


"Kau mengintaiku?" Tanya Zeha dengan manik memicing menggoda sembari tangan sengaja menyugar rambut ke belakang.


"T--t-tidak. Buat apa mengintaimu?" Sahut Aeri kelabakan.


"Ouh, benarkah?" Zeha beralih melihat ke arah nampan yang dipegang Aeri. "Terus, kau mau bawa ke mana makanan ini? Jangan bilang kau ingin menyuruhku makan di dalam kamar mandi ...."


"Jangan sembarangan Tuan!" Sahut Aeri tangkas, membuat Zeha menahan senyum. Apa lagi melihat wajah merona Aeri yang tampak cantik.


"Anda sendiri kenapa pergi mandi? Bagaimana jika suhu Tuan kembali naik lagi? Kalau Tuan sakit lagi aku harus bagaima--sudahlah! Sekarang Tuan harus makan."


"Kenapa kalau aku sakit lagi?" Zeha sengaja mempertanyakan ucapan Aeri yang sengaja digantung.


"Tidak ada." Aeri mengelak dengan kelabakan. Ia menarik tangan Zeha agar duduk pada sofa di kamar tersebut. "sekarang makan dulu baru makan obat, ya."


Tetapi, bukannya menarik, tangan Aeri yang justru ditarik oleh Zeha, mencegah gadis itu dari menariknya. Secara perlahan Zeha membuat Aeri kembali menghadapnya, mengambil alis nampan tersebut, lalu Zeha letakkan pada meja yang berdekatan. Aeri yang kebingungan hanya bisa melihat apa yang ingin dilakukan Zeha tanpa bisa bersuara.


Tatapan intens Zeha kembali menemui manik bening teduh itu yang terus menatapnya tanpa henti dalam kebingungan. Jemari besar Zeha bergerak secara perlahan, menyelit diantara jari-jemari Aeri hingga dapat menyatu dengan tangannya, kemudian kembali menemui wajah yang menunduk melihat tangan mereka.


"A-apa yang Tuan lakukan?" Tanya Aeri gelabakan.


"Kenapa? ... aku hanya ingin menggengam tanganmu, tangan wanita yang mencemaskanku ...."


Cup!


Blush!


Sontak kedua pipi itu merah bak tomat. Menunduk tanpa berani beradu pandang dengan lelaki tak berbaju di hadapannya itu. Detak jantung bahkan hampir ingin keluar dari tempatnya. Aeri ingin menarik tangan agar terlepas, namun genggaman tangan Zeha begitu erat. Apalagi, Zeha semakin mendekat membuat Aeri bergerak resah.


"Tuan." Tiba-tiba Aeri menghentikan Zeha dengan sebelah tangannya yang menganggur. Memberanikan diri, Aeri menatap lelaki itu. "Lebih baik Tuan pakai baju, jika seperti ini terus nanti masuk angin."


"Kau mencemaskanku atau merasa tidak nyaman?" Zeha mendekatkan wajah ditelinga merona itu.


"Ke-keduanya," sahut Aeri dengan suara meredam.


"Ahhkk!" Tanpa aba-aba Zeha mengangkat Aeri ala brydal style membuat sang empu tubuh kaget bukan main. "Tuan turunkan aku! Anda harus makan sebelum makanan itu sejuk," tukas Aeri, memberontak dalam gendongan Zeha.


Namun, Zeha malah tersenyum nakal menanggapi ucapan Aeri. Ia berbisik. "Sekarang aku lebih ingin memakanmu."


"T-tuan...." detak jantung Aeri sudah tidak bisa dikatakan normal lagi. Ia hampir sulit bernapas kala itu.


"Jika kau tidak ingin melihat sesuatu yang tak ingin kau lihat lebih baik kau jangan banyak bergerak." ancam Zeha membuat Aeri bergeming tanpa berani mentapnya.


Punggung kecil Aeri sudah rapat pada ranjang, namun Zeha belum melepaskan rangkulan pada bahu kecil Aeri. Sedang yang di bawah tidak berani mengangkat pandangan. Ia takut, apalagi detak jantungnya yang terasa ingin meletup.


"Lihat aku," ucap Zeha dengan suara dingin menakuti Aeri.


Walaupun perlahan, namun pasti Aeri mulai mengangkat pandangannya menemui manik gelap Zeha yang tidak lari dari menatapnya. Memandangnya dalam. Tepat disaat manik teduh bening Aeri bertemu pandang dengan Zeha, refleks satu kecupan lembut mendarat disalah satu mata Aeri membuat sang empu bingung dalam pancaran matanya.


"Aku ingin mata ini selalu tertuju padaku," tutur Zeha kemudian. Senyum samar tercetak walau secepat mungkin Aeri hilangkan. Ia merasa senang mendengar peruturan itu. Ingin kembali menunduk, tetapi dicegah oleh Zeha dengan memegang dagunya.


Satu kecupan kembali Aeri dapatkan, namun kali ini jatuh pada bibirnya yang terbuka bingung dengan sedikit ******* dalam sebelum Zeha kembali mengangkat wajah.


"Dan aku ingin bibir ini terus menyebutkan namaku." ibu jari Zeha terus bergerak kiri kanan mengusap bibir bawah ranum Aeri. "Bisakah?"


Aeri melarikan pandangan matanya gelisah. "Ba-ba-bagaimana bisa aku selalu menyebut nama anda...."


"Aku memberimu hak itu."


Aeri bergeming tanpa bisa mengalihkan pandangannya. Walaupun lelaki di atasnya itu memberinya hak untuk menyebutkan namanya, namun Aeri tetap tidak mengerti. Mengapa ia harus menyebut nama dari lelaki tersebut?


Tangan besar Zeha membelai surai kecil-kecil Aeri. Tatapannya memindai wajah lembut itu membuat Aeri terlena dengan manik tertuju padanya. Menatap intens manik indah Aeri yang tanpa sadar menggodanya. Dan bibir yang telah menjadi candu.


Zeha mendekat. Irisnya kembali menemui manik Aeri, ingin mengetahui seperti mana reaksi wajah lembut Aeri disaat bibirnya mendarat di atas miliknya. Sempurna keduanya bersatu. Kontan manik Aeri terpejam, namun cengkraman kecil dirasakan Zeha di dada telanjangnya.


"Tuan.... " dorongan kecil dari Aeri membuat tautan itu terlepas begitu saja.


"Kenapa?"


Aeri berujar kaku, "T-tuan harus segera makan, lalu memakai baju....."


"Kan aku katakan bahwa aku ingin memakanmu."


Aeri semakin menolak tubuh itu, mencipta jarak. "Bagaimana bisa memakanku--"


Ucapan Aeri terhenti dikala bibir Zeha kembali menubruk bibir Aeri dalam kecupan dalam yang menggairahkan. Liar namun lembut. Itulah yang Zeha lakukan pada bibir ranum Aeri yang menggoda.


Melum**nya nikmat silih berganti. Kepala bergerak pelan kiri dan kanan tidak melewatkan seincin pun bibir kenyal milik Aeri. Tanpa sadar Aeri telah terbuai oleh ciuman memabukkan Zeha hingga kini mereka saling membuka bibir untuk saling menyambut dalam ******* dalam.


Melepaskan tautan hanya untuk meraup oksigen sebelum kembali bersatu dengan masing-masing mulut terbuka saling meraup intens. Lidah Zeha bahkan terjulur lebih dulu memasuki mulut Aeri yang terbuka menyambutnya. Bunyi kecipan bibir yang saling menyesap dan melum** terdengar jelas dalam kamar besar itu.


Secara perlahan tangan Zeha mulai nakal membuka kancing baju yang Aeri kenakan hingga terbuka setengah, menampakkan setengah dada Aeri yang terbungkus.


Zeha beralih pada leher jenjang itu dengan menyeret bibir sehingga menimbulkan rasa geli yang membuat Aeri bergeliat kecil.


"Emm.... " Tanpa sadar Aeri melenguh kecil kala bibir nakal Zeha menyesap kuat kulit lehernya dan meninggalkan tanda kepemilikan di sana.


Dikala bibir basa nan lembab Zeha mengeksekusi bagian leher Aeri, tanganya pula kembali merayap ke bawah punggung Aeri demi melepaskan kaitan yang membungkus buah kenyal yang belum pernah ia cicipi lagi.


Sedangkan Aeri sudah tidak sadar lagi. Dia dilupakan oleh rasa nikmat yang Zeha lakukan pada tubuhnya. Apalagi saat ini tangan besar Zeha telah berada pada salah satu milik berharganya. Tangan brengsek itu meremas secara perlahan, semakin menghanyutkan Aeri semakin dalam.


Bibir Zeha kembali menemui bibir Aeri yang terbuka terengah-engah. Kembali bergumul dengan liar dan agresif pada bibir Aeri. Dan sementara tangan Zeha memijat sebelah buah kenyal Aeri, tangan lainnya kembali membuka kancing baju yang baru setengah terbuka hingga menampakkan penutup yang telah longgar karena pengaitnya telah dilepaskan.


Dikala bibir Zeha bergumul intens dengan bibir Aeri, kedua tangannya juga bertindak dengan menaikan penutup yang membungkus milik sensitif Aeri hingga terlihat, kemudian dengan kedua tangan Zeha, ia memijat buah kembar Aeri sehingga membuat sang empu berteriak dalam tautan mereka.


Pandangan sayu mereka bertemu disaat tautan itu dilepas oleh Zeha. Lalu, secara perlahan Zeha menunduk, menatap buah ranum yang terpampang jelas dikedua matanya. Lidahnya terjulur menyentuh puncak yang telah kuncup karena ulahnya.


"Uhh~" lenguhan itu membuat Zeha menggila. Dalam sekali gerak, sebelah buah kenyal Aeri sudah berada dalam mulut besarnya. Menyesap dan mengemutnya bak bayi yang kehausan. Ujung lidahnya bahkan memainkan puncak yang berada dalam mulut, hingga membuat tubuh Aeri bergerak seperti cacing kepanasan.


Detik itu, tiba-tiba Aeri tersadar. Matanya terbuka lebar walau wajah masih terlihat mengernyit karena ngemutan Zeha pada salah satu miliknya. Otomatis kedua manik mengembun. 𝘼𝙥𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙡𝙖𝙝 𝙖𝙠𝙪 𝙡𝙖𝙠𝙪𝙠𝙖𝙣? Ujar Aeri dalam hati.


"Tuan.... Berhenti!" sebisa mungkin Aeri menolak tubuh Zeha agar menjauh. "Tuan!" Aeri berteriak, tetapi sepertinya telinga Zeha sudah tidak berfungsi lagi karena nafsu yang menguasai.


Namun, Aeri tidak menyerah. Ia tidak ingin apa yang ia takutkan selama ini terjadi, dan kesucian yang telah dijaga selama 20 tahun terenggut oleh lelaki yang tidak mencintainya. Sekuat tenaga, Aeri menolak wajah yang terus berada pada salah satu buah kenyalnya sehingga menjauh.


"Tuan tidak bisa melakukannya...," cicit Aeri dengan lihuid bening yang mengalir keluar dari kelopak mata. Melihat manik sayu penuh kabut Zeha membuat Aeri takut. Bagaimana jika ia tidak bisa menghentikan lelaki tersebut? Sedang tubuh atasnya telah terekspos di mata liar Zeha.


Seakan buta dan tuli, Zeha malah balik menyambar bibir Aeri yang melengkung takut dengan liar. Zeha sudah dikuasai oleh gairah yang membakar seluruh tubuhnya hingga wajah memelas serta suara rayuan Aeri yang memintanya berhenti pun tidak ia peduli.