The President'S Crazy

The President'S Crazy
part. 55



Taehoon hanya geleng kepala melihat layar ponselnya setelah Zeha akhiri panggilan itu dengan cepat. Taehoon sudah menduga akan seperti ini. Karena setiap tahun selama lima tahun berturut-turut, ada saja alasan yang Zeha katakan agar tidak datang ke perjamuan peringatan hari kematian ibunya.


Ya, Taehoon bisa memakluminya. Semua itu karena Zeha malas untuk bertemu muka dengan Tuan Jeon, ayahnya sendiri. Sebenarnya itu bukan salah Zeha. Ini adalah hasil dari apa yang telah Tuan Jeon lakukan, ia harus sabar dengan setiap kelakuan Zeha sebab semuanya berpunca darinya.


Taehoon hanya berharap, suatu hari nanti Zeha bisa menerima ayahnya kembali dan memaafkan semua kesalahan lelaki paru baya itu. Sesungguhnya Tuan Jeon telah berubah. Ia sudah benar-benar menyesal atas kesalahan yang telah dilakukan.


Saat berbalik Taehoon dikejutkan dengan keberadaan Seoji yang berdiri di belakang dengan kopi ditangan.


"Apa yang kau lakukan?"


Seoji tampak takut-takut untuk mendongak menatap wajah Taehoon yang beberapa hari ini begitu dingin padanya.


"A-aku membuatkanmu kopi," ujar Seoji sedikit berbisik.


"Kau ke bawah seperti ini?" Taehoon menatap penampilan Seoji dari atas ke bawah. Wanita itu hanya mengenakan dress tipis tanpa lengan, dan satu lagi yang membuat Taehoon mendesah panjang. Seoji tidak memakai bra.


"Iya."


"Ya, ampun! Kau sunggu suka ya memperlihatkan tubuhmu pada sembarang lelaki?!" Dengan jengkel Taehoon membawa Seoji kembali ke kamarnya, setelah meletakkan kopi yang dibuat Seoji di lemari pendek yang rapat pada dinding.


"Kau dibiarkan tinggal di sini bukan untuk berkeliaran dengan pakaian seperti ini." Taehoon semakin kesal saat melihat gelagat Seoji yang sepertinya tidak sadar bahwa ia tidak memakai penutup bagian depannya. Saat itu mereka sudah berada di dalam kamar tamu yang ditempati oleh Seoji.


"Ada apa dengan baju ini? Ini nyaman dipakai Taehoon." Taehoon menepuk jidat. Seoji memang tidak sadar dengan kelalaian yang telah ia lakukan.


"Kau sadar jika kau tidak memakai penutup?"


Seoji mengernyit. "Penutup apa?"


Jika seperti ini, Taehoon jadi malu untuk mengatakannya. "Itu ..."


"Itu apa Taehoon?"


"Ya, ampun. Penutup ... dada," ujar Taehoon dengan nada memelan diujungnya.


"Dada?" Seoji sontak memegang dadanya di depan membuat lelaki itu kontan menutup mata. "Aku lupa."


"Ya sudah, pakai sana." Taehoon membuang wajah melihat Seoji hanya tersenyum setelah mengetahui kelalaiannya.


"Aku lebih selesa jika seperti ini, lagian hanya ada kau di sini."


Taehoon terbelalak mendengar ucapan Seoji. "Apa maksudmu hanya ada aku di sini? Apa kau tau dengan begini kau bisa mengundang banyak mata jahat terhadap dirimu? Itulah mengapa mereka menganggap dirimu wanita murahan karena begitu terbuka."


"Termasuk kau?" Sahut Seoji cepat. "Apa kau juga menganggapku begitu, Taehoon?"


"Kau tahu aku tidak pernah sekalipun berpikiran seperti itu tentang dirimu," imbuh Taehoon lembut.


Seoji tersenyum samar. "Ya, aku tahu itu. Maka dari itu, aku tidak apa jika seperti ini di hadapanmu. Bahkan aku berani untuk membuka bajuku ini di depan matamu."


Tiba-tiba wajah Taehoon berubah gelap dengan tatapan tajam. "Apa maksudmu?" Dinginnya suara Taehoon tidak disadari oleh Seoji.


"Iya. Aku berani telanjang di hadapanmu karena kau tidak seperti lelaki di luar sana. Apa kau tidak percaya? Aku akan buktikan ...."


Grep!


Tangan Seoji sudah bergerak untuk membuka dress tipis yang ia kenakan, tetapi sebelum sempat Seoji menyentuh dress itu, tangannya sudah dicekal di udara oleh Taehoon. Seoji yang tersetak kaget, secara perlahan mengangkat wajahnya.


Betapa kagetnya Seoji melihat tatapan mata Taehoon yang tajam dengan aura yang gelap. Wajah yang biasanya terlihat lembut dan ramah entah bagaimana bisa berubah begitu dingin dan mengerikan. Lelaki itu seakan bukan Taehoon yang Seoji kenali.


"Apa katamu?" Bulu Seoji meremang mendengar suara berat nan dingin itu. "Aku tidak sama dengan lelaki di luar sana?"


Dengan membawa tungkai melangkah ke belakang, Seoji menelan susah salivanya. "Ta--Taehoon ... apa itu kau?" Sebisa mungkin Seoji menarik tangannya dari cekalan kuat Taehoon, tapi ia tidak berhasil.


Taehoon tersenyum sinis sembari terus melangkah maju. "Iya, ini aku. Kenapa?"


"Kau menakutkan," cicit Seoji tidak berani menatap mata Taehoon yang mengerikan.


"Apa maksudmu mengatakan aku tidak sama dengan lelaki lain?"


"Iya, karena kau selalu menjagaku. Aku yakin, walaupun aku tidak memakai baju, kau tidak akan menye--eup!"


Tanpa aba-aba Taehoon langsung menyambar bibir yang selalu menolaknya sedari dulu dengan liar membuat kedua manik Seoji terbelalak kaget. Sedang kedua tangan kekarnya pula menarik tubuh ramping Seoji merapat, lalu ia angkat dan direbahkan di atas ranjang tanpa melepas tautan itu.


"Apa kau menganggapku gay, hmm?" Bisik Taehoon tepat di depan bibir Seoji yang terbuka dengan napas tidak stabil. Kedua tangan Seoji, Taehoon satukan pada kasur dengan kedua tangannya yang menekan sehingga Seoji yang sebelah tali spagettinya telah melorot tidak bisa untuk melawan.


"T-tidak ... aku tidak bermaksud--" sekali lagi Taehooan mengehentikan ucapan Seoji dengan kecupan singkatnya.


Bibir lembab Taehoon secara perlahan menuruni rahang Seoji dengan gerakan lambat, menyiksa wanita itu dengan rasa geli yang ia ciptakan. "Aku lelaki dewasa yang normal Seoji, " gumam Taehoon disela penyiksaannya.


"Apa kau pikir aku tidak beriaksi melihat tubuh yang sexy ini, hm? Apa lagi tadi kau tidak memakai bra!"


"Euhh ...." Seoji melenguh saat Taehoon mengecup dalam bagian tengah tulang selangkahnya.


"Taehoonhh ...." Taehoon melanjutkan aksinya. Bagian bahu yang terekspos tidak sedikitpun terlewatkan dari jelajahan bibir basah dan lembab Taehoon. Jari-jemari Seoji bahkan menggenggam erat tangan Taehoon yang menekan tangannya.


Apalagi saat ini, Taehoon menyeret bibirnya melalui bahu telanjang Seoji, lantas ia kecup pada ujungnya. "Kau meremehkan, ku sayang." Kini Taehoon menggerakkan bibirnya semakin turun ke dada Seoji yang sedikit terlihat, mengendus aroma lembut yang menawan dari tubuh Seoji yang benar-benar menantang jiwa kelakiannya.


"Bagaimana jika aku tidak seperti yang kau katakan?" Tanya Taehoon diselanya.


"Tidak. Aku yakin kau bukan lelaki yang seperti itu. Bahkan jika kau menyerangku, aku rela, asalkan itu kau," ujar Seoji bersusah payah karena Taehoon terus menghukupnya dengan sentuhan yang begitu melambungkannya.


Taehoon reflek mendongak tanpa menarik bibirnya yang telah berada di belahan dada Seoji yang terlihat. Jujur ia cukup terkejut mendengar pengakuan dari empu tubuh itu. Taehoon mengecup dalam membuat Seoji menggeliat sebelum ia mengangkat wajahnya.


"Aku sama saja dengan lelaki bejat yang berada di luar sana, tapi aku tahu bagaimana caranya menghormati seorang wanita. Namun, aku lelaki yang sangat normal, jadi jangan pernah lupa untuk memakai bramu dan jangan berpenampilan seperti tadi. Mungkin aku bisa menahan diri, tapi aku tidak tahu bagaimana dengan lelaki di luar sana, apa kau mengerti?"


Seoji hanya mengangguk. Betapa kagetnya ia saat Taehoon tiba-tiba mendaratkan kecupan lembut di atas keningnya sebelum lelaki itu pergi setelah menutup tubuh Seoji dengan selimut. Bibir Seoji tertarik bahagia dengan tangan menyentuh bekas bibir Taehoon. Ia berjanji akan mengejar cinta lelaki itu.


.....


"Aeri ... kau di mana?"


"Kenapa Yuri?"


"Ini, kan malam minggu, jalan yuk?" Ajak Yuri. Tapi di seberang terdengar begitu bising. "Kau di mana? Kenapa ada musik?"


"Oh! ... itu, anu ... suara tv. Iya suara tv," sahut Aeri kelabakan. Pasalnya Yuri langsung tidak tahu tentang kerja sambilannya di club. "Maaf, ya. Aku tidak bisa. Malam ini aku ... akan menemani ayahku di rumah sakit. Maaf, ya?"


"Oh, ya sudah tidak apa. Apa ayahmu sudah lebib baik?"


"Iya, semua baik. Terima kasih pada tuhan. Ya sudah aku tutup, ya. Aku mau bersiap. Bye."


Yuri pun hanya bisa menghela napas panjang. Niatnya untuk jalan-jalan malam itu bersama Aeri pun batal. Tetapi, Yuri sudah terlanjur berada di luar. Sebenarnya, ia ingin mengajak Aeri makan tteobeokki super pedas seperti mana biasanya mereka habiskan waktu malam minggu mereka.


Namun, semenjak Aeri menjadi sekretaris mereka sudah jarang ada waktu bersama. Ya, mau bagaimana lagi, itu sudah tanggung jawap Aeri, masanya sudah banyak tersita karena posisinya yang mengharus sentiasa di samping sang presdir.


Kaki Yuri melangkah melewati restoran lima bintang yang dindingnya didominasi oleh kaca sehingga, ia bisa melihat ke dalam. Yuri tersenyum, dalam benaknya terbit untuk mengajak nenek dan Aeri makan di sana. Walaupun mahal apa salahnya jika hanya sekali-sekali saja.


Namun, seketika Yuri memicingkan matanya seraya merapatkan wajah ke dinding kaca. Ia ingin memastikan benarkan lelaki di dalam sana itu lelaki yang ia kenali, dan matanya memang tidak salah. Diantara banyaknya orang di sana, ia melihat Sehun bersama seorang wanita.


Yuri berdecih dengan bibir melengkung jengkel. Dasar lelaki memang buaya, tidak cukup dengan satu wanita. Di depan begitu lihai memainkan kata-kata, di belakang ternyata begini. Ingin rasa Yuri masuk dan memukul kepala Sehun. Rasanya dia ingin remuk-remuk seluruh tubuh itu saking jengkelnya ia.


Tatapan aneh dari dua pasang mata yang berada di balik kaca tepat di depan Yuri, membuatnya tersenyum kikuk dan segera membalik badan. Yuri menggigit bibir seraya berlalu. Ia merasa begitu malu.


"Maaf, aku tidak bisa melakukannya. Aku harap kau menemukan lelaki yang tepat," tukas Sehun sesaat setelah atensinya tersita oleh wanita yang berada di luar. "Aku harus pergi sekarang."


"Sehun, tunggu!"


"Oh Sehun!"


Lelaki itu tidak peduli. Ia hanya terus melangkah lebar meninggalkan pertemuan yang dirancang oleh keluarganya itu. Kepalanya bergerak kiri dan kanan mencari sosok seorang wanita. Sehun sangat yakin bahwa yang ia lihat tadi adalah Yuri, tapi ke mana perginya?


"Cepat sekali hilangnya," gumam Sehun dengan pandangan terus beredar, sebelum seketika ia tiba-tiba berlari.


Medadak perasaan Yuri tidak bagus, ia bad mood karena melihat Sehun. Cih! Dasar lelaki semua sama. Bahkan mantan sebelumnya juga menduakannya. Tapi, dia dan Sehun, kan tidak memiliki hubungan apapun? Lalu untuk apa ia merasa seperti ini?


"Menyebalkan!" Decaknya dengan mengayun kaki kesal sebelum tangannya tiba-tiba di tahan.


Greb!


Yuri menoleh kaget. Hampir saja tangannya melayang untuk melawan. "Eh ... Tuan Sehun ...."