
"Aeri!" Teriak Yohun khawatir. Sedang tungkai telah mengayun secara insting membawa tubuh mengambil langkah besar.
Manik Aeri tertutup rapat, mempersiapkan tubuh bertemu dengan marmer dingin yang baru saja selesai dipel. Saking terpesona oleh keindahan yang berada di depan mata, ia malah tidak menyadari bahwa tungkai telah berubah arah dari haluan awal, berpisah dari sang tuan.
Tapi, sedari tadi entah mengapa punggung serta bokongnya tidak sampai-sampai dan menghantam lantai. Kenapa lama sekali?
"Kau bodoh, ya?"
Kontan manik Aeri terbuka mendengar suara berat nan serak milik Zeha. Ternyata tubuhnya telah berada dalam rangkulan lelaki itu. Pandangan mereka terkait cukup dekat. Aura yang terpancar membuat Aeri takut. Rangkulan pada pinggang yang kuat semakin menguat.
"Kau memang suka cari masalah, ya?" Secara perlahan Zeha membenarkan letak tubuh kecil Aeri yang terlihat takut padanya. Saat itulah Yohun juga datang.
"Kau tidak apa-apa?" Tanyanya cemas. Mencuba meraih tangan itu, namun Aeri segera mengelak sehingga tubuh kembali linlung. Ia menyesal karena menyenakan heels yang bawah cukup licin.
Tangannya otomatis berpegangan pada lengan kekar Zeha, yang langsung mendapat tatapan tajam dari sang empu. Tapi Aeri malah cengengesan menampakkan deretan gigi putih miliknya.
"I-imut..." tidak sadar, Zeha mengucapkan kalimat itu dalam hati tanpa menguba ekspresi wajah yang datar. Lantas ia segera membuang wajah ke arah Yohun.
Dan interaksi itu tidak lepas dari sorot mata Yohun. Keningnya berkedut aneh. Sehingga suara Zeha mengagetkannya.
"Pecat wanita itu." Tanpa beban ayat itu meluncur keluar. Hotel tersebut seolah miliknya. Tapi sebenarnya, tanpa diminta pun Yohun memang akan memberhentikan wanita itu. Lagian ia tidak butuh pekerja yang tidak becus.
"Kau--"
"Tidak perlu," sela Aeri memotong ucapan Yohun. Ia menunduk. "Lagian ini bukan kesalahannya. Aku yang salah karena tidak hati-hati," tutur Aeri. Ia tidak ingin kesalahan yang ia lakukan berimbas pada orang lain.
Zeha menoleh dengan mata mendelik tidak suka.
"Dia salah, karena tidak meletakkan tanda larangan di sini!"
Aeri baru menyadari hal itu. Ia melihat sekitar, ternyata apa yang diucapkan Yohun benar. Tiada tanda-tanda keberadaan benda tersebut. Aeri bungkam. Niat untuk menolong tidak berhasil karena ini ternyata kesalahan wanita cleaning service itu. Namun sepertinya, ada atau tidak adanya benda itu, Aeri akan tetap terjatuh jika matanya tidak digunakan dengan sebaik-baiknya.
Aeri menatap iba wanita cleaning service itu melangkah pergi dari sana setelah Yohun memecatnya. Sebenarnya wanita tersebut bukan sengaja tidak meletakkan tanda larangan di sana, tetapi ia hanya lupa. Tiada manusia di dunia ini yang luput dari kesalahan bukan?
Seharusnya tidak perlu sampai memecat. Cukup memberi waktu untuk merenui diri atas kesalahan yang tak disengajakan ini. Majikan yang baik itu adalah seseorang yang akan memberi peluang bukan yang langsung memecat seperti Yohun ... dan Zeha.
Yohun pun kembali membawa rekan kerjasamanya itu melanjutkan langkah yang sempat terhenti dengan masalah sepele. Sebenarnya undangan yang ia kirim pada perusahaan J'Foodies bukan bertujuan untuk membahas kembali soal kerjasama tersebut, melainkan bertujuan untuk mengeratkan lagi siraturahmi antara dua persahaan beda jurusan itu.
Ada cerita yang melewati telinga Yohun, yang mengatakan bahwa pimpinan baru J'Foodies memiliki sifat keras sehingga mengundang untuk hanya sekedar makan siang pun tidak bisa kecuali hal tersebut ada sangkut pautnya dengan bisnis.
Sebisa mungkin Zeha menahan emosi yang meluap setelah mengetahui tujuan kedatangannya ke Kim'Hotel. Apalagi saat mendengar Yohun mengatakannya tanpa beban. Yohun pikir ia itu mainan? Mengugar rambut ke belakang dengan jari, menatap Aeri dengan rahang yang mengers.
Brak!
Dentuman pintu mengagetkan Aeri yang telah masuk dahulu ke dalam mobil yang diikuti oleh Zeha menghempas pintu, seakan bisa terlepas dari tempatnya saat itu juga. Ia menatap tajam pada Aeri yang tidak berani menatapnya.
Aeri sudah menduga ini, tepat setelah mengetahui tujuan sebenar dari kunjungan mereka. Sejak dalam ruangan tadi lagi, ia bisa melihat wajah merah dengan rahang mengeras itu. Ia telah mempersiapkan diri.
Tetapi ini bukan salahnya, lho. Ia tidak tahu apa-apa. Nasib seorang bawahan memang begini, ya? Hanya bisa pasrah walaupun tidak bersalah.
"Jangan harap bisa pulang tepat waktu. Kau lembur sampai jam 10 malam!" Cecar Zeha emosi. Ia sudah bersabar sedari tadi.
........
Hazel gelap Zeha terus bergulir secara teratur membaca setiap data-data Aeri hasil dari penyelidikan Sehun. Wajah serius dan dingin bak es itu tidak menunjukkan ekspresi apapun saat membaca lembar demi lembar kertas di sana.
Lampu dalam kamar sengaja ia matikan dan hanya menyisakan lampu yang berada di atas meja kerjanya. Ini memang sudah menjadi kebiasaan Zeha sejak ibunya meninggal. Disekeliling yang gelap membuatnya tenang, dan sejenak dapat melupakan kehidupan yang menyiksa. Dari itulah, Zeha mulai terbiasa bahkan disaat sedang bekerja sekalipun.
Tangan berurat itu meraih cerutu, membakar serta menghisapnya tanpa mengalihkan pandangan dari beberapa baris fakta tentang Aeri. Pandangannya menggelap dengan aura yang mencekam.
Dikertas mengatakan bahwa Aeri pernah dekat dengan Kim Yohun, namun disebabkan suatu alasan Aeri menjauh darinya, tanpa ingin terlibat lagi dengan lelaki tersebut.
"Jadi itu benar?" Zeha bergumam. Mengembuskan asap cerutu yang tebal keluar dari dalam mulut, lalu kembali ia hisap. "Tapi apa alasan yang membuatnya was-was dan takut saat didekat lelaki itu?"
Ia beralih ke fakta berikutnya. Otomatis tubuh tegap bertato itu menegak, memastikan apa yang ia lihat dan baca tidak salah.
"Yatim piatu?" Kata yang seperti bisikan itu tersirat nada kebingungan.
Ia melanjutkan, sehingga semuanya jelas dalam bait-bait seterusnya. Aeri atau nama lengkapnya Kwon Aeri diadopsi oleh keluarga Kwon pada tanggal sekian. Dijaga dan disekolahkan seperti anak sendiri. Namun, setelah selesai SMA kelas tiga dan ingin melanjutkan ke jenjang berikutnya, terjadi masalah yang tidak terduga hingga Aeri tidak dapat melanjutkan pembelajarannya.
Ibu angkat Aeri telah meninggal bahkan sebelum Aeri lulus menengah pertama. Aeri juga menjadi tulang punggung ayahnya yang sakit di rumah sakit.
Alis tegas Zeha otomatis ternaik seolah tidak peduli dengan bahu yang mengedik disaat membaca satu fakta ini. Kwon Aeri phobia dengan kegelapan.
Zeha tiba-tiba teringat bahwa hari ini Aeri lembur sampai jam sepuluh malam. Tadi setelah pulang dari Kim'Hotel, Zeha langsung mengantar Aeri kembali keperusahaan sebelum ia pergi menemui Sehun untuk menanyakan sesuatu. Dan sekarang gadis itu pasti sendirian di lantai paling atas, menyelesaikan kerja yang diberikan Zeha.
Sebenarnya itu hanya berkas-berkas lama yang tidak diperlukan lagi. Ia ingin dihukum seperti demikian, kan? Biarkan saja ia mengerjakan hal tidak perlu. Zeha tidak peduli.
"Apa mungkin ia takut?"