The President'S Crazy

The President'S Crazy
part. 70



"Kau semakin berani, ya!"


"Arkg!"


Tanpa berpikir panjang, Zeha mencekek leher itu dalam cengkraman kedua tangan besarnya. Kembali mengulang apa yang telah ia lakukan di mansionnya siang tadi secara tidak sengaja. Zeha kembali lupa tangisan Aeri kala itu karenanya.


"B-bunuh saja aku jika d-de--dengan be-gitu bisa me-me--menyenangkanmu erkk....." Air mata kembali keluar melalui sudut mata.


Kata-kata Aeri bagai air yang terciprat hingga mengenai wajah, menyadarkan Zeha. Cengkraman kuat dileher sontak ia lepaskan. Zeha mungutuk diri dalam hati. Begitu mudah baginya membuat gadis itu menangis. Lalu, bisakah ia berharap lagi untuk cinta tulus Aeri? Sedang ia tidak dapat menahan emosi.


"****!" Zeha melepaskan kungkungan nya, seraya beranjak. "Aku akan melepasmu hingga sampai di apartemen!" dinginnya suara itu tidak Aeri hiraukan. Ia hanya fokus menetralkan detak jantung serta nafasnya yang sempat berantakan tadi.


Zeha mengendarai mobil bagai kesetanan. Kini tangan balik mencengkram stir mobil. Bayangan saat Yohun dan Aeri berpelukan membuat emosinya membuncah. Sungguh, ingin rasanya ia melenyapkan Yohun, lelaki yang menjadi cinta pertama Aeri. Itulah yang ia yakini.


Zeha melirik pada kaca spion. Mata teduh bening Aeri masih menghasilkan lihuid bening bak kristal itu.


𝘚𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘪𝘳 𝘮𝘢𝘵𝘢 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘬𝘶.


Dengan emosi yang tersulut, Zeha menancap gas, membelah jalan raya malam itu. Menyelit diantara mobil yang mulai senggang saat itu.


"Tuan... sakit," lirih Aeri, menahan perih dikala Zeha langsung menariknya keluar dari dalam mobil dan menyeretnya menuju unit apartemen milik lelaki itu.


Zeha tidak ingin menyahut. Salah sedikit saja, ia tidak akan dapat mengontrol emosinya, dan pada akhirnya akan melukai Aeri lagi.


"Kenapa, sih Tuan marah? Aku tidak melakukan apapun dengan Yohun, sungguh." Tepat saat itu Zeha membuka pintu apartemen dengan wajah bengis nan dingin tidak bersahabat.


Bruk!


Punggung Aeri dihempas oleh Zeha pada pintu sesaat setelah menutup pintu dengan kasar. Lengan kokoh, berotot Zeha dihempas hingga membuat tubuh Aeri terjingkat kaget.


"Kau bertanya kenapa?" Zeha tersenyum sinis, merendahkan. "Bagaimana mana denganmu? Enak berada dalam pelukan Yohun? Aku tidak menyangkah kau begitu murah, Aeri."


Manik Aeri menyala nyalang, berair serta memerah karena ucapan Zeha. Ya, Zeha selalu berhasil membuat hatinya sakit bagai tersayat belati.


"Kenapa menatapku seperti itu? Merasa terhina? Ingin menamparku lagi?" Ingin rasanya Zeha memukul mulutnya sendiri yang tak terkontrol. Zeha menghela napas yang hanya ia dapat rasakan.


"Kenapa kau selalu menolak diriku? Tetapi, disaat lelaki lain yang memelukmu atau menyentuhmu kau terima. Kau mempermainkanku, begitu?"


"Hanya Tuan yang suka mempermainkanku. Aku tidak pernah melakukan hal itu padamu."


"Terus kenapa lelaki itu memeluk mu? Aku sudah pernah mengatakan bahwa kau tidak bisa meninggalkan ku!"


"Dia hanya mengucap terima kasih. Dan... bagaimana bisa aku akan meninggalkan Tuan sedangkan kita tidak benar-benar dalam perhubungan--emp!"


Zeha langsung menyambar bibir Aeri yang telah berujar demikian. Mengemutnya dalam raupan yang intens.


"Aku tidak peduli dengan status yang pasti, tapi yang pasti kau telah menjadi milikku, Aeri." Zeha mencengkram rahang Aeri. "Jika saja aku tahu akan seperti ini, maka aku tidak akan peduli dengan penolakanmu, aku tetap akan menjadikanmu milikku sepenuhnya dalam ruangan itu," sambung Zeha yang otomatis mendapat tatapan kebingungan dari Aeri.


"M-maksud--"


"Iya, benar. Itu aku."


Refleks wajah Aeri berkerut penuh amarah. Ia mendorong tubuh itu menjauh, namun tidak bisa.


"Brengsek!"


Cengkraman semakin kuat sehingga membuat bibir Aeri terbuka karena tekanan yang dibuat oleh Zeha. Manik tajam memerah itu berkedut, penuh emosi.


"Bibir ini benar-benar minta untuk dihukum," cicit Zeha penuh penekanan, dan kemudian langsung mencumbu bibir Aeri liar, kontan membuat mata sang empu membulat kaget.


Melum** bibir itu atas bawah begitu intens, tidak memberi ampun sedikitpun pada Aeri untuk lepas dari kungkungan lengan gagahnya. Sedang sebelah memeluk erat pinggang kecil Aeri hingga jika dilihat dari samping, bentuk tubuh Aeri melengkung karena pelukan itu.


"Emp--lep--pas... Eup!"


Walaupun manik Aeri terpejam, ia sama sekali tidak menikmati apa yang Zeha lakukan. Kedua tangannya terus memukul dada Zeha kuat bersama tubuh yang memberontak. Sebelum kemudian, Zeha menangkap sebelahnya tanpa melepas cumbuan ganasnya.


Zeha terus membuka mulutnya, meraup bibir Aeri dalam hingga lidah ikut berperan, menerobos masuk ke dalam rongga mulut. Kepala Zeha terus bergerak kiri dan kanan bahkan kepala Aeri telah mentok pada daun pintu.


Set!


"Apa yang ingin Tuan lakukan?" tiba-tiba saja Zeha langsung mengangkat Aeri seperti karung beras, lantas menuju kamarnya dan lansung melempar tubuh kecil Aeri ke atas ranjang.


"Ahk!"


"Iya, aku memang mencintainya--mmp!"


Tanpa menunggu ucapan Aeri selesai, Zeha langsung menyambar bibir Aeri, lagi.


"Kau berani mengatakan itu di hadapanku?!" ujar Zeha setelah beberapa detik kemudian.


"Tapi itu dulu. Sekarang kami tidak memiliki hubungan apapun. Tadi itu Yohun hanya mengucapkan terima kasih saja. Aku sudah mengatakan nya sebelumya, kan."


"Kau jangan mencuba membodohiku, Aeri! Aku bukan anak kecil yang bisa kau bodohi! Apa perlu sampai berpelukan hanya karena untuk ucapan terima kasih? Omong kosong!"


"Tuan cemburu?" Aeri memicingkan matanya curiga. Sebenarnya, Aeri akan sangat senang jika itu benar.


Zeha menyungging smirk remeh. "Kau jangan mimpi terlalu!"


Jawapan itu membuat Aeri tersenyum kecut. Ia lupa, Zeha mana mungkin mengakui perasaannya bahkan sekalipun itu benar.


"Aku capek jika seperti ini terus. Bisakah Tuan melepaskan tangan ku?"


"Kau pikir aku peduli?" Bahkan sebelah alis Zeha tertukik tajam saat mengatakan itu.


Aeri bergeming dengan seribu bahasa yang tidak terluahkan. Menatap lurus pada Zeha yang berada di atasnya. Pandangan mereka bertemu dengan pancaran yang berbeda.


"Dulu aku begitu membenci Yohun, jadi aku tidak mungkin mencitainya lagi. Rasa itu telah mati untuknya."


Tatapan mata Zeha menunjukkan bahwa ia samasekali tidak mempercayai apa yang Aeri katakan padanya. Aeri sangat faham dengan ekspresi itu.


Dengan memaksakan diri, Aeri mengangkat kepala dan mengecup lama bibir tipis Zeha, tanpa menutup mata. Ia melihat keterkejutan di mata Zeha kala itu. Lantas, ia ***** kecil sesaat sebelum dilepas secara perlahan.


𝘒𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘫𝘢𝘵𝘶𝘩 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶.


Zeha masih termangu dalam keterkejutannya dengan manik menatap lurus pada Aeri yang juga tengah mentapnya hingga membuat pandangan mereka terkunci. Sudut bibir Aeri tertarik kecil, ia tidak menyangkah lelaki yang biasanya dingin dan memberikan ciuman padanya bisa jadi seperti itu disaat ia menciumnya. Sedikit imut.


"Aku hanya menganggapnya kini sebagai teman saja," ujar Aeri, sekali lagi menjelaskan. Ia tidak tahu akan sesulit ini menjelaskan pada Zeha.


"Jika kau masih tidak percaya, maka aku tidak tau harus bagaimana lagi menjelaskan pa--ump!"


Zeha meraup dalam kulit leher Aeri bagian tengah dengan mulut. Menjilat dengan gerakan memutar tanpa melepas bibirnya. Sesapan kuat yang dapat meninggalkan bekas kemerah-merahan membuat Aeri melenguh.


"Sekurang-kurangnya tanda ini tidak akan hilang selama dua hari. Dengan melihat ini lelaki di luar sana akan tahu bahwa kau telah ada yang miliki."


Tangan kecil dalam genggaman Zeha refleks bergerak menutup bekas tersebut. Aeri tidak tau jika Zeha akan meninggalkannya di sana. Aeri menggeram tertahan. Ingin rasanya kembali memaki lelaki di atas tubuhnya itu.


"Bukankah tadi kau telah menciumku? Jadi ... aku harus membalasnya."


"Tapi, kau bahkan sering melakukannya padaku...."


"Lalu ... maksudmu kau ingin melakukan hal yang sama setiap kali aku menciummu, begitu?" goda Zeha. Sepertinya amarah dalam hatinya telah reda karena ciuman mendadak dari Aeri.


"Bu-bu--bukan begitu--em!"


Zeha mengangkat kepala Aeri tampak begitu mudah. Dalam sekali gerak, ia dengan mudah kembali menyatukan bibirnya dengan Aeri. Cukup liar ******* yang Zeha lakukan. Menuntun Aeri turut membuka bibir, untuk saling bergumul dengan dalam.


"Eumphh!"


"Sekarang kau bisa melakukannya." Zeha mendongakkan kepalanya, memampangkan leher kokohnya pada Aeri untuk dicumbu hingga meninggalkan bekas.


"Aku tidak akan melakukannya." sekuat tenaga Aeri mendorong jauh tubuh Zeha. Sedangkan Zeha malah tertawa melihat wajah memerah Aeri.


Dalam sekali gerak, Zeha dengan mudah menarik lengan Aeri hingga terduduk dalam pangkuannya. Kedua lengan Zeha yang berotot melingakar sempurna di perut kempis Aeri.


"Baiklah. Tadi... kau mengatakan bahwa dulu kau membenci Yohun yang artinya sekarang tidak, kan?" Zeha menyanggahkan kepalanya di pundak sempit Aeri. Manik tajam, tak teralihkan dari wajah Aeri dari samping. Bahkan saat kepala itu bergerak menunduk dikala mendengar ucapannya.


"Aku tidak mempermasalahkan itu. Yang ingin aku tahu... alasan kau membencinya."


Otomatis wajah yang sentiasa terlihat dingin itu mengernyit melihat Aeri sontak menggigit bibir bawah kala mendapat pertanyaan tersebut. Sebenarnya apa yang telah Yohun lakukan? Begitu fatalkah? Tanpa sadar wajah Zeha berubah bengis dengan aura membunuh. Maniknya tajam seolah bisa menenbusi pipi Aeri dari samping.


"Katakan, apa yang telah terjadi?"


Aeri menelan susah salivanya mendengar suara penuh penekanan Zeha.