
Zeha melangkah keluar setelah lif berhenti di lantai tertinggi gedung tersebut. Melewati Seoji yang menunduk hormat dengan lirikan tajam. Kunjungan yang tidak bermakna kemarin sedikit sebanyak karena sekretaris ayahnya itu. Ditambah, ia tidak menjelaskan apapun soal kerja sama itu pada Aeri.
"Masuk ruanganku!" Nada berat beraura dingin itu melewati telinga Seoji. Ia menatap punginggung lebar yang menghilang di balik pintu.
Entah ada maksud apa dengan senyum miring yang tiba-tiba terbit di bibir Seoji. Ia pun melangkah ke ruangan itu sembari merapikan pakaiannya yang sedikit ... terbuka pagi itu. Kaki jenjang berbalut heels setinggi 5 inci semakin membuatnya terlihat seperti model berbody gitar spanyol.
Tok tok tok.
Intruksi dari dalam membenarkannya masuk. Dengan kaki yang disilang, Seoji mendekat dengan berlenggak-lenggok ke arah Zeha yang menyandarkan bokongnya pada pinggir meja. Sepertinya ia berniat menggoda tuannya itu.
"Ada apa, tuan Zeha?" Tanya Seoji mendayu-dayu. Ia berdiri tepat di hadapan Zeha yang bersedekap. Ditangan gadis itu memegang buku catatan berwarna hitam, berzip.
Manik gelap Zeha memindai penampilan Seoji pagi itu. Baju kemeja berbahan satin yang dikenakan wanita itu transparan, memperlihatkan dalam berwarna merah miliknya. Sedang rok yang dipakai bergitu pit, memperlibatkan bentuk bokong yang aduhai. Zeha menyeringai penuh makna.
"Kau tahu, kau telah melakukan kesalahan? Jadi, apa perlu aku menjelaskannya LAGI?!" Tekan Zeha di ujung kata. Ia tahun Seoji sengaja tidak menjelaskan secara menyeluruh pada sekretarisnya, Aeri.
Selama ini bukan ia menutup telinga atas gunjingan-gunjingan mengenai Aeri. Ia tahu banyak wanita di perusahaan tersebut yang merasa iri pada Aeri, karena bisa mendampinginya kemana saja ia pergi. Zeha tersenyum samar mengingat pesonanya tidak dapat ditolak oleh siapa pun.
Entah dapat keberanian dari mana, Seoji mendekat pada Zeha yang memang tinggal beberapa langkah saja. "Kenapa bukan aku saja yang menjadi sekretarimu?" Dan dengan lancangnya ia memanggil Zeha tanpa embel-embel tuan.
Alis Zeha tertukik naik mendengar pertanya itu. Apalagi mendengar sekretaris ayah itu memanggilnya dengan 'kau'.
"Karena aku menginginkan Aeri bukan kau!"
"Tapi kenapa? Aku sudah lama bekerja dibidang ini. Aku yakin, aku lebih baik darinya yang hanya bekas cleaning service," ucap Seoji tidak suka, jelas tergambar wajah cantiknya. "Jangan-jangan apa yang beredar di perusahaan ini benar bahwa dia menjual tubuh demi menjadi sekretaris--"
"Kenapa?" Sela Zeha cepat, menarik pinggang ramping itu merapat "Apa kau juga ingin aku menyentuhmu, Hmm?" Tangan besarnya mencengkram lembut pinggang itu, membuat Seoji mengeram tertahan.
"Aku merasa lebih buruk darinya dengan kau memilihnya. Padahal aku ada di depan mata...." Tangan lentik Seoji meraba dada bidang Zeha yang menonjol membuat Zeha menatapnya dengan lekat.
Sebagai seorang lelaki yang biasa bergonta-ganti wanita, tentu saja tindakan Seoji itu membangkitkan sesuatu yang liar, yang saat itu sedang tertidur.
Zeha menyeringai. "Tentu saja tidak." Ia menarik rapat tubuh bawah Seoji hingga menempel bak prangko dengan tubuh bawah yang mulai terasa sesak. Tentu saja hal itu dapat di rasakan oleh Seoji. Dalam hati ia tersenyum penuh kemenangan.
"Gadis itu tidak ada apa-apanya banding dirimu. Apa lagi tubuhmu? Itu sangat jauh beda," bisik Zeha seksual. Menggesek-gesek bagian bawah tubuhnya dengan pusat inti Seoji hingga tak ayal membuat wanita itu melenguh dengan mata sayu menatap Zeha.
Dengan berani tangannya menyentuh benda yang telah mengeras dibalik celana Zeha hingga membuat lelaki itu tersentak dan kontan mencekal tangan kurang ajar itu. Kilatan gabut gairah di mata beradu dengan kilatan amarah. Tidak ada seorang wanita pun yang boleh menyentuh pusaka miliknya. Lancang sekali ia!
Dengan kasar Zeha memutar tubuh ramping itu sehingga terbentur pada pinggir meja dan langsung mempertemukan bibir mereka, membuka mulut dan menujulurkan lidah. Saling menyesa*p bibir dengan ganas, penuh nafsu.
Kepala terus bergerak kiri dan kanan mencari kepuasan. Sesekali melepaskan tautan hanya untuk meraup oksigen sebelum kembali mempertemukan bibir yang terbuka saling menyambut. Belitan lidah Zeha tak jarang membuat Seoji meleng*h.
Tubuh bagian bawah Zeha bergerak, menggesek bahkan menekan-nekan **** ********** Seoji hingga membuat wanita itu bergerak membalas gerakan seksual Zeha dengan mengangkat-ngakat bokongnya sehingga bertumbrukan dengan milik Zeha.
Tangan Zeha bergerak liar membuka kancing kemeja Seoji hingga rampung sembari terus saling mel*mat.
"Eumhh~" tanpa aba-aba Zeha langsung memasukkan sebelah buah kembar itu ke dalam rongga mulut. Mengemut dan menyesap bagai baby yang kehausan. Hingga satu lenguh*n itu berhasil keluar dengan kepala Seoji yang mendongak.
Dada yang membusung itu semakin di tekan oleh Zeha agar semakin dalam masuk ke dalam mulutnya, sedang sebelah tangan sibuk memberi pijatan pada sebelahnya yang membuat Seoji serasa ingin gila.
Bergantian Zeha memanjakan buah kembar Seoji. Lidahnya menari-nari dengan gerakan memutar pada puncak yang menegang.
"Zehaahhhh~" Seoji tidak kuat menahan rasa geli nikmat itu. Ia membawa tubuh kekar itu berbalik seraya menarik wajah Zeha agar kembali mempertemukan bibir. Tangannya mengalung erat dengan bibir yang mencubu panas. Tautan mereka begitu dalam.
Secara perlahan Zeha membawa kakinya melangkah dengan Seoji berjalan mundur tanpa melepas tautan membarah itu. Sebelah tangannya memeluk posesif pinggang Seoji yang masih berbalut kemeja satin. Sedang sebelahnya lagi sibuk mer*mas dada Seoji yang telah terekspos sempurna secara berganti. Membuat sang empu menggelinjang tidak tenang.
Punggung Seoji mentok pada punggung sofa. Saking kuatnya dorongan ciuman Zeha membuat tubuh atas Seoji sedikit condong ke belakang.
"Ternyata, apa yang aku dengar benar belaka," lirih Seoji dengan wajah memerah karena gairah. Buah dada terpampang jelas tanpa penghalang di hadapan Zeha saat tautan mereka terlepas. "Aku sangat suka saat kau bermain begitu ganas padanya." Tanpa malu tangan kanannya mere**s dadanya sendiri.
"Ini baru permulaan," sahut Zeha langsung menyambar menggunakan tangan benda yang menggantung di tubuh bagian depan Seoji hingga membuat sang empu memekik nikmat. Tangannya segera melepas kancing baju yang Zeha gunakan sehingga tubuh berotot itu terlihat.
"Ternyata kau sudah menantikannya," bisik Zeha tepat di depan bibir Seoji yang merekah karenanya. Kembali menarik pinggang itu agar merapat saat ia mempertemukan bibir mereka lagi, liar.
Sedang tangan di bawah, membawa ke samping penutup segi tiga itu. Meneroboskan masuk jari tengah, memcuba mengecek keadaan di dalam sana sehingga tak ayal Seoji langsung meleng*h dalam tautan penuh gairah itu.
Zeha membarikan tubuh ramping Seoji pada lantai marmer yang dingin dan lansung memasukkan pusaka yang dari tadi sudah memberontak pada tempat. Menghentak-hentak dengan liar membuat dada itu memantul tidak beraturan.
Ruangan itu menjadi begitu panas dengan lolongan dan ******* penuh nikmat yang saling bersahutan memenuhi, menggambarkan betapa panas bergulatan yang mereka lakukan di berbagai tempat. Sofa, meja,toilet dan tidak tertinggal juga dinding kaca yang menjulang tinggi di ruangan itu dengan melakukan dalam posisi berdiri dengan sesekali Seoji membelakang.
***
Sedari tadi Aeri terus bolak balik antara kamar, ruang tamu dan dapur. Ia merasa begitu bosan hanya duduk tanpa berbuat apa-apa. Sudah empat jam ia hanya nonton dan sesekali membaringkan tubuh seteh sarapan tadi. Ia sudah benar-benar merasa baikan, tapi Zeha tidak membiarkannya pergi bekerja. Dan kini ia sungguh merasa bosan dan jenuh.
Tidak mungkin juga ia hanya duduk tanpa berbuat apa-apa. Apalagi tempat ia berdiri saat ini adalah rumah bosnya. Tapi setelah memerhatikan seisi apartemen mewah ini, sepertinya tidak ada yang bisa Aeri lakukan, semuanya telah bersih tanpa debu yang menempel. Sepertinya setiap hari akan ada yang membersihkan tempat tersebut.
"Apa aku buatkan makan siang saja, ya?" Gumam Aeri berpikir, berdiri di depan dapur. "Tidak. Dia pasti makan diluar." Aeri kembali membawa tungkainya menuju ruang tengah.
"Bersihkan saja, biar makin bersih," pungkasnya mengambil keputusan saat melihat pembersih ruangan. Ia menghidupkan mesinnya, lalu memulai pembersihan.
Mulai dari bawah meja, bawah sofa dan bagian sela-sela yang lain. Kemudian, Aeri membawa pembersih ruang untuk menyedot debu pada sofa.
Drrt drrt drrt
Deringan ponsel membuatnya terpaksa mengangkat benda pipih itu, mengapit antara bahu dan pipi sembari terus berberes.
"Aeri!"
Aeri membeku mendengar suara yang sudah begitu lama tidak ia dengar. Kerja berberes kontan terhenti dengan tubuh mematung.
"Yuri, aku merindukanmu," ujar Aeri berwajah sedih. Ingin rasanya ia memeluk temannya itu.
"Aku juga merindukanmu. Kau sudah melupakanku setelah menjadi sekretaris, ya?" Ucap Yuri seberang. Jujur, ia memang merasa jengkel, karena sejak Aeri menjadi sekretaris Zeha, ia sudah tidak pernah menemuinya lagi.
"Hei! Aku tidak akan melupakan teman yang memberikan aku pekerjaan. Aku hanya sibuk... maaf."
Yuri tertawa mendengar candaannya ditanggap serius oleh Aeri." Hahaha, maaf aku hanya bercanda," ujarnya terus terbahak.
Aeri berdecak kesal. "Kau!" Ia geleng-geleng kepala. "Terus ada apa kau menelponku? Kau tidak bekerja?"
Aeri kembali melanjutkan kerja yang sempat tertunda tadi karena panggilan dari Yuri. Menyelitkan pada bagian-bagian terpencil sofa.
"Yohun menelponku dan menanyakan kau berada di mana?"
"Yohun!?" Seketika Aeri terhenti, karena bingung akan Yohun yang mencarinya, sebelum akhirya kembali melanjutkan kerja, acuh tak acuh. "Ada apa dia mencariku?"
"Aku tidak tahu. Ia terus memaksaku untuk mengatakan kau ada di mana karena katanya aku pasti mengetahui keberadaanmu."
"Lain kali kalau lelaki itu menelponmu kau ma ... tikan .... saaja ....."
Yuri mengeryit dengan cara bicara Aeri yang tiba-tiba berbeda, seperti melihat sesuatu hingga membuatnya terdiam.
"Aeri, ada apa?"
Aeri yang terdiam mengulurkan tangan pada selit-selit sofa untuk mengambil selembar foto yang tampilannya seperti habis diremuk. Ia menatap foto itu lama memindai wajah yang terlihat di sana. Sehingga suara Yuri yang mulai cemas menyadarkannya.
"Aeri?!"
"Aku tidak apa, jangan khawatir ..." matanya tak berkedip dengan kerutan halus melihat foto yang ia jumpai di apartemen sang tuan.
"Aku tutup dulu."