
"Kau pasti tentang info yang kau dapatkan itu?"
Langkah tegas Tn. Jeon mengayun sejajar dengan langkah Taehoon sang asisten. Wajah tegas sama persis seperti milik Zeha tampak menahan geraman sedari di rumah. Rahang mengeras dengan remasan tangan yang disembunyikan pada kantong celana. Wajah yang telah dimakan usia tidak mengurangi ketampanan yang diwarisi Jeon Zeha dan mendiang Jeon River.
"Saya telah memastikan sebelum mengabari pada anda. Itu benar, sekretaris anda-Min Seo Ji."
Tn. Jeon kembali menggeram. "Zeha benar-benar keterlaluan!" Gumamnya penuh amarah. "Pukul berapa acara pelelangan itu bermula?" Tanpa menoleh, Tn. Jeon bertanya dingin. Namun begitu, Taehoon sudah terbiasa. Dibalik sikap dingin itu ada kebaikan yang membuat Taehoon tak mungkin berpaling.
"Sekitar 30 menit lagi, tuan."
Seketika tubuh besar Taehoon terhenti dikala Tn. Jeon tiba-tiba berhenti, menoleh menatapnya tajam.
"Taehoon kau ... aku sudah katakan jangan memanggilku dengan sebutan itu!"
Taehoon menunduk. "Maaf tuan, saya tidak bisa. Izinkan saya terus memanggil anda dengan sebutan itu."
"Jika kau ingin mengenang budi maka dengarkan aku." Tn. Jeon membawa tubuh menghadap Taehoon yang terus menunduk. "Jika bersamaku kau dilarang menunduk. Kau seperti orang asing saja."
Mendengar perintah lelaki paru baya yang telah membesarkannya dengan patuh. Menatap wajah yang menatapnya seperti anak yang dinasihati.
"Sekali lagi saya minta maaf Tuan. Jeon. Saya tidak bisa memanggil anda seperti yang anda inginkan."
"Ckk! Kau sungguh keras kepala. Dua kali lima dengan Zeha, sama-sama keras kepala." Tn. Jeon pun kembali melanjutkan langkah yang sempat terhenti tadi. Jika berdebat dengan Taehoon, sampai besok pun belum tentu kelar. "Kalau begitu bicara santai saja tidak perlu bicara normal, kau mengerti?! Awas saja aku mendengar kau bicara formal padaku."
Taehoon tersenyum tipis. "Baik bos," sahut Taehoon bercanda berhasil membuat wajah tua itu tertawa.
Tn. Jeon sudah penat meminta Taehoon untuk memanggilnya dengan sebut ayah sama seperti kedua anak lelakinya. Tetapi sepertinya kepala lelaki itu memang terbuat dari batu. Keras kepalanya kelewatan, membuat Tn. Jeon kadang kesal sendiri. Sekarang terserah ia ingin memanggil Tn. Jeon dengan sebutan apapun yang penting hatinya nyaman dan selesa. Karena panggilan apapun tidak akan menghilangkan rasa sayang Tn. Jeon pada Taehoon.
Pandanga mata yang tiba-tiba terkesan dingin bertemu pandangan dengan manik tajam milik Zeha yang kala itu langsung menyunggingkan senyum miring melihat sang ayah berada di casino miliknya.
Bukan ia tidak tahu maksud dari keberadaan itu. Ia sangat tahu. Karena memang niatnya menyebar berita tentang pelengan malam ini dengan barang utama yang membuat banyak lelaki brengsek kalangan atas tidak akan bisa menolaknya.
Keduanya semakin mendekat. Sebelah tangan Zeha ia selitkan di balik kantong celana. Begitu juga dengan Tn. Jeon. Kedua tangannya tersimpan rapi di dalam kantong celana bahan mewah miliknya.
Aeri refleks menunduk hormat saat tiba di hadapan Tn. Jeon, menyita pandangan lelaki tua itu beserta Taehoon.
Pandangan Taehon memindai penampilan Aeri malam itu. Terlihat sangat berbeda dari sebelumnya ia melihat Aeri. Seketika ia tidak percaya bahwa itu Aeri, tetapi setelah diteliti secara saksama, ia tidak salah lagi. Taehoon membalas senyuman sapaan yang Aeri lontarkan padanya. Ternyata Aeri gadis yang cukup cantik jika diperhatikan.
"Dia gadis cleaning service itu?" Suara dingin Tn. Jeon membuyarkan lamunan Taehoon.
"Aeri ... Kwon Aeri!" Sela Zeha cepat. Telingannya panas mendengar kalimat cleaning service tersebut.
"Untuk apa kau membawa sekretarismu ke acara seperti itu?"
"Kenapa? Kau takut dia tahu sifat sebenarmu?" Zeha tersenyum sinis dengan bola mata berputar jengah.
"Tn. Jeon benar Zeha. Gadis sepertinya tidak cocok acara seperti ini," Taehoon menimpali.
Memang ia tidak begitu mengenal sosok Aeri, tetapi dilihat dari tingkah dan gerak-gerik gadis mungil itu, jelas bahwa ia tidak sama dengan wanita-wanita liar di luar sana yang biasa dengan suasana menegangkan. Dan wajah lembut nan ayu yang dapat menenangkan siapa saja yang menatapnya sudah menjalaskan semuanya.
"Kau juga mencemaskannya?" Zeha beralih menatap Taehoon yang sudah ia anggap sebagai abang kandungnya sendiri. Ia menyayanginya sama seperti ia menyayangi River, kakak kandungnya. Tapi tetap saja, ia tidak suka jika seseorang mencampuri urusan pribadinya.
Zeha berdecak. Menarik pinggang Aeri merapat padanya, menatap wajah Aeri yang menoleh kaget padanya. Ia akui sekretarisnya itu sangat cantil malam itu. Bukan tidak sadar, sejak menginjakkan kaki masuk ke dalam casino hingaa sekarang, ada begitu banyak pasang mata tertuju pada Aeri yang selaku pasangannya malam itu.
Sama sepertinya saat pertama kali melihat penampilan Aeri tadi. Ia dibuat sulit untuk membuang pandangan. Sungguh tidak menduga Aeri akan lebih menawan setelah dirias tipis dengan rambut dimodel sedemikian rupa. Bahkan Taehoon tadi sempat terpesona walau hanya sebentar.
Cup!
Zeha mengecup dengan sedikit ******* membuat Aeri kaget setengah mati. Masalahnya ini tempat umum, ada banyak pasang mata yang menonton mereka. Apa lagi Tn. Jeon dan Taehoon. Kedua bola mata mereka seolah bisa keluar dari tempatnya. Aeri melirik tidak nyaman pada kedua lelaki beda usia di hadapannya.
"Sekarang dia kekasihku."
Pengakuan mendadak itu hampir saja membuat pasangannya jantungan. Apa-apaan ini? Ia mengira itu hanya akan menjadi rahsia diantara mereka berdua. Dan sekarang tanpa persetujuan darinya, Zeha malah terang-terangan bahkan sampai menciumnya.
"Dia saja tidak keberatan aku membawanya ke sini, lalu mengapa kalian harus mempermasalahkannya?" sela zeha cepat, memotong ucapan Aeri tanpa mengalihkan pandangan dari manik indah itu.
"Tentu saja dia tidak berani menolak." Tn. Jeon tersenyum remeh. Keterkejutan sebentar tadi hilang dalam sekejap. Ia sudah biasa dengan kelakuan brengsek sang anak. "Dan kau pasti tidak mengatakan apapun padanya, kan?" Tambah Tn. Jeon melirik pada Aeri.
"Jangan samakan dia dengan wanita-wanita yang kau tiduri di luar sana," Tn. Jeon kembali berujar.
"Apa yang di katakan Tn. Jeon benar," timpal Taehoon membenarkan.
"Terserah aku ingin melakukan apa! Kalian tidak berhak ikut campur!"
Kedua bola mata jernih Aeri bergulir silih berganti menemui wajah Zeha, Tn. Jeon dan Taehoon. Dalam kepala berterbangan seribu tanda tanya yang ia sendiri tidak tahu harus mencari jawaban di mana? Zeha dan Tn. Jeon terlihat seperti bukan anak beranak. Di wajah Zeha jelas tertulis bahwa lelaki itu tidak menyukai sang ayah. Entah ada apa dengan masa lalu mereka, Aeri tidak tahu.
"Ibumu pasti sedih dan kecewa melihatmu seperti ini."
"Jangan pernah membawa-bawa ibu dalam masalah ini!" Tukas Zeha penuh penekanan. Tiba-tiba saja wajah itu memerah dengan rahang mengeras. Emosinya memuncak jika ada yang membahas soal sang ibu.
"Jangan sok mengingat ibu! Dia korban darimu!" Serbu Zeha.
Aeri menahan napas. Melihat kemarahan menguasai diri Zeha membuatnya terkesima dan menegang. Tangan kecilnya tanpa komando menyentuh lembut lengan berurat Zeha, seolah memberikan ketenangan pada Zeha yang dikuasai amarah. Walaupun bibir bergetar karena takut, ia tetap menampilkan senyum terbaik yang ia miliki pada Zeha disaat kepala itu kontan menoleh.
Niat ingin menyembur Aeri luntur. Tenang seperti aliran sungai yang tenang saat melihat senyum lembut yang ditampilkan di wajah lembut itu. Hatinya terasa sejuk seperti disirami imbun pagi.
Melalui senyuman itu, Aeri seolah berkata 'tidak apa-apa ... semua baik-baik saja, tenanglah.' Semenjak ibunya pergi tidak pernah lagi ia merasakannya. Dan kini untuk pertama kalinya ia merasakannya lagi setelah beberapa tahun lalu.
Zeha kembali membawa matanya menemui wajah tua sang ayah dengan kilatan benci.
"Lebih baik sekarang ayah masuk, dan lihat sekretaris ayah itu aku lelang."
"Kenapa kau melakukan ini?" Tn. Jeon kembali mengingat tujuan awal ia datang ke casino tersebut. "Dia sangat berjasa pada perusahaan. Kenapa kau jadikan dia barang lelangan?!"
"Karena dia sudah lancang menyentuh barang milikku! Lagian aku sudah menikmati tubuhnya, dan sangat memuaskan. Jadi aku tidak memerlukannya lagi," ujar Zeha frontal dengan seringai mengerikan yang menghiasi bibinya. Bahkan ujung lidah membasahi bibir luar.
"Kurang ajar!'
Plak!
Tamparan keras yang di layangkan Tn. Jeon sempurna mengenai wajah keras Zeha hingga mengeluarkan darah. Bukannya meringis ia malah tertawa. Menatap nyalang pada sang ayah.
"Sikapku ini berasal darimu. Ayah harus sadar itu!"
"Mari kita pergi Taehoon. Percuma bicara pada orang sepertinya."
Gadis yang berdiri di samping Zeha sempat terjingkat saat tangan Tn. Jeon melayang cepat pada Zeha. Tubuhnya bergetar menyaksikan drama keluarga atasannya. Ia terus menatap wajah dingin Zeha, namun terlihat menyedihkan.
Secara naluri tangan lembutnya terangkat untuk menyentuh sudut bibir Zeha yang pecah dengan mengeluarkan darah. Zeha yang terluka, namun ia yang terdengar meringis perih.
Set!
Sebelum sempat mengenai bibir Zeha, tangan kecil itu sudah dicekal diudara, menggantung dengan pandangan yang saling bertemu. Zeha menatap lekat bola mata Aeri yang tampak sendu menatapnya. Ia mendekatkan wajah, hingga saling bersentuhan.
"Tidak perlu mengasihaniku!" Bisiknya dingin, lalu kembali menarik wajah. "Sekarang kita harus masuk!"
Zeha pun menarik tangan Aeri segera memasuki ruangan paling dalam dari casino. Sekitar lima menit lagi acaranya akan dimulai. Ia terus menarik Aeri duduk pada meja paling depan dengan bangku yang telah disiapkan. Melewati Tn. Jeon dan Taehoon begitu saja. Seolah tidak saling kenal.
Aeri benar-benar tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Ada begitu banyak orang yang datang pada acara pelelangan--itulah yang ia dengar dari Zeha tadi. Sebenarnya ia tidak mengerti tujuan dari acaran ini, tapi ia tetap harus menemani Zeha.
Berbicara mengenai Zeha, ia kembali teringat mengenai bibir terluka Zeha. Ia membawa pandangan pada Zeha yang tampak serius menatap lurus ke arah panggung. Mengabaikan bibir yang koyak karena tamparan sang ayah.
"Apa dia tidak merasakan sakit?"