
Tadi itu sungguh menegangkan. Hampir saja air dalam tubuh Aeri keluar tanpa bisa ditahan lagi. Namun, untung pertahanan tubuh Aeri masih bagus. Dan sekarang ia sudah dapat bernapas dengan lega. Segala suatu yang berlomba untuk keluar tadi telah melebur ke dalam tempat pembuangan, membuat tubuh terasa ringan. Sungguh sesuatu yang sangat melegakan.
Jika ditahan lebih lama lagi, entah apa yang terjadi. Ini semua karena Sehun dan Yuri. Jika bukan karena suara dan bunyi yang mereka hasilnya, mungkin Aeri tidak akan menahannya dan tidak akan kebeletan yang hampir saja membuatnya terkencing di celana. Jika terjadi, itu akan menjadi hal paling memalukan dalam hidupnya.
"Hah ... sangat menyenangkan." Setelah membersihkan **** *************, Aeri kembali menarik naik ****** ***** dan merapikan rok yang ia kenakan.
Aeri menekan tombol yang berada di atas closet hingga dari dalam keluar air dengan kecepatan yang tinggi, membawa pergi apa yang Aeri keluarkan.
Wanita bertubuh kecil itu menegang. Ia memutar knock pintu, namun benda pipih itu tidak dapat untuk dibuka.
Cklek! Cklek!
"Ada apa ini ...?"
Aeri terus berusaha, terus memutar knock pintu yang tetap saja tidak berhasil dibuka. Sesuatu seolah menahannya dari luar. Ia mulai panik dengan pikiran melayang jauh. Dengan tubuh kecilnya, ia menggedor-gedor pintu tersebut.
"Apa ada seseorang di luar ..?" teriaknya menyeru. Lama menunggu, tetapi tidak ada satupun orang yang menyahutnya, malah terkesan begitu sepi bak di kuburan.
Aeri pun mengeluarkan seluruh tenaga yang ia miliki demi membuka pintu terbut. Menendang-nendang dengan kedua kaki kecil miliknya, juga kembali menggedor dengan sekuat tenaga, namun tetap saja semua usahanya itu sia-sia belaka. Pegangan pintu itu bahkan masih terlihat baik-baik saja tanpa ada kerosakan sedikit pun.
"Tolong! Seseorang diluar ...." sembari berteriak, Aeri masih terus berusaha. Siapa tahu, apa yang menahan di balik pintu itu patah atau apalah itu. Atau bahkan ada orang yang mendengar teriakannya.
Bukankah usaha tidak pernah menghianati hasil? Itulah yang Aeri tekankan dalam hatinya saat ini.
"Tolong! Aku terkunci di sini!" Teriaknya sekuat mungkin, sesuatu pada lehernya terasa akan keluar saking kuatnya ia berteriak. Merasa tiada yang mendengar teriakan membuat Aeri semakin panik dengan napas yang tidak beraturan. Ia ketakutan.
Situasi ini mengingatkan Aeri pada kejadian sewaktu ia masih sekolah. Waktu itu, sekolah mengadakan pekemahan di kawasan sekolah. Kejadiannya berlaku pada malam hari tepatnya pukul 9 malam. Dengan jahil teman Aeri mengunci dirinya dalam WC, lalu mereka meninggalkannya sendiri tanpa peduli dengan teriakan ketakukannya. Berada dalam WC dengan suasan gelap membuat Aeri trauma akan kejadian tersebut.
Sama halnya dengan saat ini. Aeri takut jika ia kembali terkunci sampai besok pagi. Maniknya mulai berembun pada tempat.
"Tolong ...."
Aeri teringat. Sewaktu ia memasuki WC tersebut ia sempat melihat wanita yang ia temui di depan lif juga berada di sana. Aeri menggigit bibir bawah seperti mana kebiasaannya. Apa mungkin ini perbuatannya?
Sekali lagi, Aeri menggedor-gedor juga terus memutar knock pintu seolah ingin merosak benda itu. Tidak bisa membukanya membuat wajah berkerut sedih dengan bibir melengkung aneh, seperti anak yang dimarahi oleh ibunya.
"Seseorang di luar tolong!"
Sepertinya kali ini berbeda. Apa yang Aeri harapkan tidak terjadi. Usaha memang telah menghianati hasil, terbukti dengan keadaannya saat ini. Bagaimanapun ia berusaha tetap saja tidak membuahkan hasil. Banyaknya orang di gedung tersebut, tidak satu pun dari mereka mendengarkan teriakan meminta tolongnya.
Ini pasti telah direncanakan. Wanita itu pasti menghalang orang-orang yang ingin memasuki WC dengan cara apapun. Air mata mengalir membentuk sungai kecil di wajah Aeri, dadanya terasa sesak mengenang dirinya yang sungguh malang.
Ayah yang belum sadar, lalu menjadi wanita penghibur di Black Club untuk membiayai sang ayah. Menjadi sekretaris dari seorang lelaki yang tak terluahkan dengan kata-kata sifatnya. Menjadi bahan gunjingan yang mengatakan bahwa ia menjual diri. Terus dihina dan dimaki karena perbuatan yang tidak pernah ia lakukan, dan sekarang terkunci di dalam WC yang pengap. Sungguh miris sekali hidupnya. Entah apa lagi yang akan terjadi pada hidupnya nanti.
"Eh! Rosak? Bukannya tadi baik-baik saja, ya?" Seorang wanita mengernyit bingung saat membaca pemberitahuan yang menempel pada pintu yang mengatakan bahwa WC tersebut sedang diperbaiki.
"Iya, WC-nya sedang diperbaiki," sahut teman dari wanita yang mengunci Aeri di dalam. Ia memang ditugaskan untuk menjaga di luar.
"Padahal tadi baik-baik saja ...."
"Entahlah. Kertas itu sudah menempel di sana waktu aku ingin masuk. Mungkin besok WC ini baru bisa dipakai kembali," dalih teman wanita tersebut, begitu pandai ber'acting.
"Harap saja WC ini cepat diperbaiki," ujar wanita yang ingin memasuki WC tadi dengan penuh harap.
"Iya." Teman dari wanita itu melirik melalui ekor mata ke arah pergi wanita yang ingin memasuki WC tersebut. Lalu, ia tersenyum licik setelahnya.
•••••
Sehun baru saja sampai di sebuah restoran lima bintang untuk menemui klien sebelum ponsel IPhone miliknya berbunyi.
"Hello ...," sapanya sembari membawa langkah kaki memasuki restoran tersebut.
Sehun tersenyum penuh arti. "Katakan saja jika ingin bertanya tentang Aeri ...."
"Keduanya!" Jawapnya judes. Malas melayani sikap sahabatnya itu.
"Haha... tadi aku dari J'Foodies dan semuanya baik-baik saja. Aeri juga tidak ada masalah, sepertinya sekretarismu itu memiliki otak yang cerdas," terang Sehun, menarik kursi dan mendudukkan bokongnya. Namun, sang klien belum terlihat, sepertinya belum datang.
"Aku tidak pernah salah memilik orang." Zeha berbangga diri.
"Iya, iya... hanya saja--"
"Hanya saja apa?" Sela Zeha cepat membuat Sehun berdecak kesal.
"Dengarkan dulu! ... Tadi ada karyawanmu dari bagian pemasaran mencari masalah dengan Aeri, untungnya aku tepat waktu jika tidak, pipi gadis lugu itu akan membekas oleh tamparan," terang Sehun.
Zeha langsung terbayang hari di mana sebelum ia berangkat ke London. Waktu itu Aeri juga mendapat perlakuan buruk hingga membuat sekretarisnya itu terluka luar dan dalam. Mungkinkah saat ini gadis itu baik-baik saja? Hatinya merasa gelisa.
"Sekarang kau di mana?"
"Aku di restoran---"
"Kau meninggalkannya?!" Zeha terdengar kesal.
"Terus, kau ingin aku terus berada sana begitu?" Sehut menyahut kesal juga.
"Ckk!" Zeha mengerang kesal dengan mengacak rambutnya. Kesal karena ia tidak tahu harus melakukan apa, sedang dirinya berada jauh. "Apa Aeri baik-baik saja sewaktu kau pergi tadi?"
"Kau jangan cemas, aku sudah menegur stafmu itu. Dan Aeri sekarang baik-baik saja, jangan khawatir semua aman dalam pengawasanku."
"Cih!"
Tut tut tut
"Dasar Zeha si*lan!" Maki Sehun menatap layar ponsel yang panggilannya tiba-tiba diputus secara sepihak oleh Zeha.
Zeha beralih mendail nomor ponsel Aeri. Tersambung tetapi, tidak dijawap oleh sang empu ponsel. "Kenapa lagi perginya gadis bodoh itu?!"
Terus mencuba sehingga beberapa kali, namun tetap saja hasilnya tetap sama. Situasi seperti ini membuatnya tidak tenang, lagi pula ia paling benci panggilannya diabaikan oleh seseorang. Rasanya ia ingin segera membunuh orang itu jika panggilan telponnya diabaikan seperti ini.
Disaat Zeha menginjakkan kaki memasuki area syuting, benda pipih milihnya tiba-tiba bergetar dari dalam kantong celana bahan yang ia kenakan. Ia menerima panggilan dari bagian pengembangan produk.
Dengan alis berkerut, Zeha mengangkat panggilan itu. "Ada apa?" Suara berat nan dingin itu menyapa telingan seorang lelaki bertubuh tabun.
"Tuan Zeha ... seharusnya hari ini mengadakan pengetesan untuk produk makanan yang telah dicipta, tetapi sekretaris Aeri bersama penguji lainnya belum tiba sedangkan waktunya telah lewat beberapa menit," terang lelaki itu membuat sang atasan berpikir.
"Kau bisa memanggil penguji itu, kan?" Tukas Zeha bertanya.
"Iya tuan ...."
"Bagus. Jadi, kau pergi pada bagian penguji dan katakan ini perintah dari aku. Apa kau mengerti?"
"Siap tuan Zeha."
"Gary pesan tiket, kita pulang setelah ini. Urus semua pekerjaan yang belum rangkum," perintah Zeha tegas setelah memutuskan panggilan.
Zeha tersenyum, menampakkan sederet gigi putih miliknya disaat bergerak menuju depan camera yang belum di nyalakan. Ia menyapa MC yang akan menjalani tugas bersama dengannya di hadapan camera sebentar lagi.
Masalah mengenai Aeri akan Zeha ketepikan dulu dan fokus pada pekerjaannya saat itu, walau dalam hati ia terus didesak untuk segera pulang.