
"Eh! Kau mau pergi?"
Sehun menatap bingung ke arah Zeha disaat mereka bertemu di depan pintu ruangan lelaki itu. Matanya turut memindai gadis mungil yang berdiri di samping Zeha. Imut adalah kesan pertamanya. Di tangannya juga tampak memegang map berwarna coklat dengan tali rami melilit.
"Hmm. Ada apa?" Zeha hanya menatap sekilas, sebelum ia membawa langkahnya yang serta merta diikuti oleh Sehun dan Aeri.
"Kau ingat saat kau meminta ku untuk menyelidiki Kwon Ae-- ...eump!"
Mata Zeha melotot pada Sehun yang tampak kaget dengan tindakannya itu. Ia pun membawa lirikkan matanya pada Aeri yang berdiri sedikit jauh dari mereka, diikuti oleh manik kebingungan Sehun.
Sehun mendelik. Dalam hati berkata, " inikah gadis itu?"
Sembari tangan membekap mulut Sehun, Zeha membawa wajah untuk berbisik pada telingan temannya itu.
"Jangan bicara apa-apa kalau kau tidak mau mulutmu aku potong!" Ancam Zeha yang refleks mendapat anggukan dari Sehun. Sesungguhnya, ia tahu Zeha tidak pernah hanya sekedar mengancam.
"Ayo kita pergi." Setelah merampas map yang berisi data-data Aeri dari tangan Sehun, ia segera berlalu dari sana meninggalkan Sehun dengan memasuki lif dan cepat-cepat menutupnya kembali. Ia tidak ingin satu lif dengan Sehun.
Ia bisa ketahuan oleh Aeri jika Sehun ikut masuk. Sedang tadi itu hampir saja, nasib baik ia sempat membekap mulut Sehun dan mencegah kejadian itu. Zeha melirik Aeri yang sibuk melakukan sesuatu di dalam ipad. Ia bernapas lega. Sepertinya Aeri tidak curiga.
Tangan itu terus saja aktif bergerak di atas layar ipad, namun siapa yang tahu bahwa pikirannya melayang mengingat di mana sang tuan tadi membekap mulut temannya dalam jarak yang begitu dekat. Aeri menahan senyum. Entah mengapa itu terlihat romantis di matanya.
"Apa mungkin tuan Zeha menyukai sesama jenis?" Tanyanya pada diri sendiri. Ia melirik Zeha melalui ekor mata. Memindai wajah tegas nan dingin itu.
"Tapi ... bukannya lelaki brengsek ini suka tidur dengan wanita?" Ujarnya lagi. Ia menarik wajah. "Mungkin saja seleranya telah berubah." Tanpa sadar kepala yang manggut-manggut itu menarik atensi Zeha.
"Kau kenapa?"
Aeri tersadar. "Iya? Oh ... ah! Tidak ada," sahutnya gelabakan. Kembali ia merutuki dirinya.
"Tidak perlu banyak berpikir. Lakukan saja tunggasmu dengan benar!"
"B-baik tuan," jawap Aeri pasrah. Lagian, kenapa juga ia perlu memikir kejadian itu? Dasar bodoh. Untung saja Zeha tidak memiliki kemampuan membaca apa yang memenuhi ruang pikiran seseorang. Jika tidak, ia bisa dihukum kembali oleh tuan'nya itu.
Sedangkan Sehun masih berdiri ditempatnya. Menatap ke arah menghilangnya sang teman. Wajah lembut dan imut Aeri terbayang dibenaknya.
"Gadis itu sepertinya gadis baik-baik. Tapi kenapa ... ah! Terserah dengan kaulah Zeha." Sehun mendekat ke arah lif, menekan tombol yang ada di sana. Ia bersedekap dada sembari memegang dagu sambil menunggu lif terbuka. "Apa mungkin seleranya berganti? Dari sexy ke imut?" Sehun ketawa sendiri dengan pikirannya itu. "Yang benar saja." Ia hanya mampu geleng-geleng kepala.
Kembali ia membawa langkah kakinya keluar dari lif, melewati loby utama yang tampak ramai oleh orang-orang yang sibuk dengan kerja mereka masing-masing. Pandangan Sehun memindai seisi loby, ya walaupun ini bukan kali pertema ia datang ke perusahaan tersebut, namun ia selalu saja dibuat takjup dengan interior'nya. Begitu moden.
Dulu, beberapa kali Sehun pernah mengunjungi perusahaan itu bersama Zeha sewaktu Jeon River masih menjadi president'nya. Dan beberapa kali juga saat ayah Zeha--Tn. Jeon kembali pemimpin, begitu juga disaat kini berpindah tangan pada Zeha. Sehingga para staf di perusahaan itu mengenal Sehun sebagai lelaki tampan sekaligus sahabat dari Zeha--majikan mereka.
Sehun mengangkat kepala sedikit angkuh. Ia menyadari ada banyak pasang mata dari bunga-bungan yang tertuju padanya. Sebisa mungkin ia terlihat tenang, padahal bibirnya sudah setengah mati menahan senyum. Ia ingin dikenal sebagai lelaki dingin, angkuh serta tampan.
Barulah bibir itu tersenyum lebar setelah kaki berjaya menapak pada luar loby. Ia merasa seperti seorang idol yang terus diekori oleh lirikan mata para penggemar. Sehun berbelok ke samping, sebelum seketika matanya tersita sesuatu.
"Lepas!" Yuri memberontak, sekuat tenaga menahan tubuh dari tarikan kuat seorang lelaki yang menyeretnya ke belakang gedung. "Kau keparat Juan!"
Seakan tuli, lelaki bernama Juan itu terus saja menyeret Yuri hingga kini mereka telah tiba di belakang gedung. Dengan kasar Yuri menepis tangan Juan yang memegangnya.
"Aku tidak punya urusan denganmu!" Tangan Yuri kembali dicekal oleh Juan saat ia ingin melangkah pergi.
"Yuri ... tolong dengarkan aku. Aku bisa jelaskan semua," ujar Juan memohon. Ia membawa tubuh Yuri yang langsung menarik tangannya.
"Tidak perlu. Semua sudah jelas. Terbukti kau memang lelaki brengsek yang seperti nenekku katakan. Aku seharusnya mendengar kata nenek waktu itu!" Serga Yuri emosi. Di mata Yuri, Juan tidak lebih seperti sampah yang mengotori masyarakat.
Mendadak Juan tertawa, cukup mengerikan ditelinga. Satu langkah ke belakang kontan Yuri lakukan. Ia menatap bingung ke arah mantan kekasihnya itu. Terlihat seperti orang tidak waras.
Srak!
"Erkkk!" Juan menggenggam tangan kecil Yuri sehingga membuat sang empu meringis sakit. Kekuatannya seolah ingin mematahkan tulang wanita itu. "Sakit sial*n!"
"Apa semua itu salahku?!" Yuri terpaku. Dalam sekejap Juan sudah terlihat seperti sycopat. Matanya tajam menghujus ke arah Yuri. "Kau sendiri yang tidak ingin mendengar kata nenekmu! Lalu kenapa kau menyalahkanku?! Hahhhh!" Sentak Juan mengagetkan Yuri.
Bunyi sairen dikepala Yuri telah aktif. Menandakan bahwa bahaya menghampiri. Ia sudah merasakan perih pada pergelangannya itu. Namun, sekuat apapun ia berusaha, tetap saja ia tidak bisa melepaskan tangan dari cekalan Juan.
Pandangan Juan memindai sekujur tubuh Yuri, lalu menyeringai. "Kau tidak membiarkan aku menyentuhmu bahkan tidak mengijinkanku untuk mencium, jadi jangan salahkan aku jika aku mencari wanita yang lebih menarik dari wanita kuno sepertimu," cibir Juan tersenyum remeh. Menatap Yuri seperti sesuatu yang begitu hina.
Perkataan itu begitu menyayat hati walau Yuri berusaha mengabaikan. "Aku bersyukur karena tidak pernah memberikannya pada lelaki sampah sepertimu!"
Juan menggeram. Merapatkan tubuh hingga tidak meninggalkan sedikit ruang pun. "Atau kau memang telah menjual tubuhmu pada orang-orang tua kaya demi membiayai nenekmu?!"
Plak!
Satu tamparan mendarat begitu dasyatnya pada pipi Juan. Yuri merasa terhina oleh ucapan lelaki yang pernah menjadi kekasihnya itu. Kenapa Juan begitu tega mengatakan hal itu pada dirinya? Padahal mereka pernah saling mencintai, walau mungkin itu hanya akting yang dimainkan Juan dihadapannya. Tapi tetap saja, kan.
Wajahnya memerah dengan lelehan air mata yang tak dapat ia tahan lagi. "Tutup mulutmu!" Ucap Yuri penuh penekanan.
"Jal*ng si*lan!" Makin Juan menggeram.
Juan melayangkan tangan dengan amarah yang membuncah. Berani sekali wanita dihapannya itu melayangkan tangan pada pipinya. Cih.
Seinci lagi tangan itu mengenai pipi putih Yuri yang telah siap menerima tamparan yang ia yakini akan meninggkan bekas. Netranya yang terpejam secara perlahan terbuka setelah seperdetik tidak merasakan apa-apa.
Namun, Yuri dibuat kaget oleh kehadiran lelaki yang menahan tangan kasar Juan dari mengenai pipinya. Sedang Juan terus berusaha menarik tangan namun ia tidak bisa. Tenaga lelaki itu begitu kuat banding dirinya.
"K-kau ...."
"Sehun."