The President'S Crazy

The President'S Crazy
part. 83



Zeha melangkah mendekat saat melihat tubuh itu jatuh tersungkur. Peluru yang dilayangkan pas mengenai lipatan belakang lutut John, membuat lelaki licik tersebut meringis penuh kesakitan.


"Brengsek kau Zeha! Kau main curang!" tuding John tidak terima kala Zeha menjulang tinggi di hadapannya.


"Main curang?" Zeha tersenyum miring. "Cuih! Kau cermin dirimu sendiri Park John!" serga Zeha emosi. Senjata api yang berada di tangan melayang kuat, mengenai wajah tampan John.


"Kau mempergunakan Aeri untuk menjebakku! Dan karena kau, dia sekarang meregang nyawa BRENGSEK!" Urat-urat di leher berotot Zeha terlihat mencuat dikala ia membentak penuh emosi pada John.


Sungguh mengira dirinya sudah begitu kuat dan bisa menjatuhkan Zeha? Maka John salah besar. Sedari dulu, dan sampai kapanpun ia tidak akan mampu menjatuhkan seorang Jeon Zeha karena lelaki itu tidak memiliki kelemahan.


Namun, mungkin mulai detik ini, Aeri adalah kelemahannya, tetapi gadis itu juga adalah kekuatannya, maka akan sama saja.


Zeha menarik wajah dengan bibir yang telah pecah karenanya itu. "Kau begitu berani mengusik sekelilingku John. Mungkin dulu aku membiarkanmu, tapi sekarang tidak lagi. Kau bahkan berani mengincar Sehun yang juga salah satu orang penting dalam hidupku! Aku terlalu berlembut hati padamu!"


John tertawa, meremehkan Zeha. "Nyatanya kau hanya lelaki kesepian yang terus ditinggalkan. Walau terlambat, semua orang akan meninggalkan dirimu yang begitu egois!"


Dor!


Sontak satu peluruh menembusi bahu kanan John. Suara teriakan yang terdengar serak menyapa telinga Zeha. Wajah Zeha tampak datar dengan manik tajam menghunus tajam, menatap John yang meringis kesakitan. Tangan besar berurat nya terulur ke belakang.


Sebatang besi runcing diberikan Gary. Benda itu memang selalu dibawah ke mana saja sebagai alat penyiksaan Zeha. Tanpa peduli pada rasa sakit John, Zeha menusukkan besi sebesar jari kelingking tersebut menembusi bahu yang tadi telah ia tembaki.


"Argkk!" teriak John kesakitan dikala besi itu telah berhasil tembus.


"Aku akui kau lelaki yang berani!"


Manik tajam Zeha memindai wajah kesakitan itu. Bibir itu terus melengkung penuh siksa akan rasa sakit yang dirasakan. Tiba-tiba Zeha teringat kissmark yang terlihat begitu jelas di atas kulit leher Aeri. Zeha yakin bibir itulah yang telah melakukannya.


Zeha berdiri tegak. Maniknya berkedut penuh emosi. Sebelah kaki Zeha terangkat, lantas mendorong tubuh John hingga terlentang. Kemudian, Zeha meminta pistol Gary melalui kode tangan.


Dengan kedua tanga memegang pistol Zeha menggila. Kedua pistol tersebut mengeluarkan timah panas tanpa henti pada bagian-bagian tepi tubuh John. Teriakkan terus terdengar kala itu.


Dor!


Dor!


Dor!


Zeha menghancurkan kedua tangan John hingga berderai dengan timah panas. Kedua tangan itulah yang telah membawa Aeri darinya.


Zeha menarik besi tersebut dari bahu John, dan langsung ia tancapkan pada kedua tangan John secara bergantian.


"Aaarrrgggkkkkkk!" kepala itu bergerak kiri dan kanan menahan sakit. Ingin menggerakkan tubuh tapi John sudah tidak mampu karena peluru yang telah bersarang cukup banyak pada tubuhnya.


Kali ini mulut lelaki itu yang menjadi incaran Zeha. Kembali ia melakukan hal yang sama pada bibir itu. Zeha menusuk-nusuk bagai menusuk tanah hingga darah mengalir keluar dari setiap tusukkannya.


"Bukankah kau lelaki jago?"


Dor!


"Kedua mata inilah yang telah melihat tubuh Aeri dengan kurang ajarnya."


"Arrgggkkk!!"


Setiap mata mendapat tiga tembakan sekaligus. John sudah tidak tahan lagi. Jika seperti ini lebih baik ia mati saja.


"Kenapa tidak sanggup?"


"Bunuh saja aku Zeha," tutur John lemah. Suaranya bagaikan bisikan kecil yang hampir tak terdengar.


"As u wish...."


Ujung senjata api itu telah masuk ke dalam mulut John sebelum ponselnya berdering dan menghentikan dirinya. Zeha tidak ingin mengabaikan, karena ia takut panggilan tersebut berkaitan dengan Aeri.


Dan seperti yang Zeha duga, panggilan itu datang dari ayahnya. Zeha menyerahkan John pada Gary, lantas ia sedikit beranjak menjauh sebelum mengangkat panggilan tersebut.


"Ada apa? Aeri baik-baik saja, kan?" Walau bagaimana pun, benak Zeha dipenuhi oleh keadaan wanita itu.


"Dokter sudah mulai menanganinya, tapi..."


"Tapi apa ayah?!"


"Ayah tidak bisa menjelaskan. Sekarang lebih baik kau cepat datang ke rumah sakit besar!"


Perasaan Zeha semakin cemas. Ia takut. "Apa sesuatu yang buruk terjadi?"


"Datanglah sebelum terlambat. Aeri membutuhkanmu."


Tut tut tut.


Panggilan itu pun berakhir. Zeha segera memasukkan ponselnya kembali. Tanpa banyak pergerakan lagi, Zeha langsung menembak mati John yang ditahan oleh Gary tepat di jantung.


"Ledakkan tepat ini dan buat seakan itu terjadi karena kesalahan mereka sendiri."


"Baik Tuan."


"Aku harus pergi sekarang."


"Apa.... Nona Aeri baik-baik saja?" tanya Gary takut-takut.


Zeha menoleh. Selama ini Gary bukanlah seseorang yang akan mengkhawatirkan orang lain. "Aku juga tidak tahu."


....


"Apakah masih lama lagi? Bukannya apa pasien harus segera dioperasi karena jika tidak keadaan pasien bisa semakin parah," ujar sang dokter, menerangkan.


"Iya, dokter kami tahu, tapi mohon tunggu sebentar. Tidak akan lama lagi," sahut Tn. Jeon. Ia tidak berani mengambil keputusan atas apa yang akan dilakukan pada Aeri. Apalagi ini berkaitan nyawa.


Atensi tiga pasang mata teralihkan disaat mendengar bunyi langkah kaki yang terkesan tergesa-gesa dalam menapak.


"Bagaimana keadaannya dok?" Zeha langsung bertanya setibanya di hadapan sang dokter dan bersebelahan dengan sang ayah.


"Apakah ini orangnya?"


"Ben--"


"Benar. Saya suaminya," sela Zeha cepat. Memotong ucapan Tn. Jeon.


Sedangkan Tn. Jeon beserta Taehoon yang mendengar ucapan Zeha kontan menoleh pada lelaki dingin itu. Bukan terkejut karena apa, namun karena cinta lelaki itu yang terasa begitu besar pada Aeri.


"Baiklah, begini Tuan. Peluru memasuki rongga dada pasien dan berada diantara tulang rusuk bagian belakang. Arteri jantung hampir tertekan," tukas dokter tersebut membuat Zeha menahan napas dengan tubuh menegang, debaran jantung meningkat.


𝘈𝘦𝘳𝘪.... Zeha memegang mulutnya cemas.


"Prosedur pembedahan untuk mengeluarkan peluruh sangat rumit dan harus segera dilakukan. Kami membutuhkan tanda tangan anda segera."


Dokter tersebut menyerahkan formulir untuk ditandatangani oleh Zeha. Tetapi, sepertinya Zeha masih kaget dengan apa yang didengarnya. Inikah wanita yang selama ini ia hina? Inikah wanita yang selalu ia rendahkan? Bermacam-macam lagi kata-kata Umpatan yang berhasil menyakiti hati Aeri.


Dengan tangan bergetar, Zeha membubuhkan tanda tangannya.


"Tolong selamat dia dok," pinta Zeha terkesan memohon, bukan perintah yang mendesak.


Seperti apa seorang Zeha setelah ibunya meninggal begitulah yanh dikenal oleh Tn. Jeon dan Taehoon. Ini yang kedua kalinya mereka dibuat kaget oleh apa yang Zeha ucapkan. Setelah sang ibu, ini yang kedua kalinya Zeha memohon demi seseorang. Sepertinya Aeri begitu berarti bagi Zeha.


"Itu sudah tugas kami," sahut sang dokter. "Kalau begitu saya permisi."


Berberapa menit telah berlalu. Proses pembedahan sedang berjalan. Ketiga lelaki beda usia itu menunggu dengan gelisah. Terutama Zeha.


Sedari tadi, kaki Zeha tiada henti-hentinya berjalan bolak-balik bak setrika di atas kain. Membuat kedua lelaki lainnya yang tenang menunggu menjadi pusing. Tidak lama kemdian, mama tiri Zeha, istri kedua Tn. Jeon tiba.


Bertepatan dengan itu, pintu ruang operasi terbuka. Seorang dokter yang menjadi salah satu yang menangani operasi Aeri keluar dengan wajah tegang.


Keempat orang itu mendekat dengan didahului oleh Zeha. "Kenapa dok?"


"Terjadi pendarahan. Pasien kekurangan darah."


Deg!


Serangan itu mengejut Zeha. Seketika ia tampak membatu, sebelum kembali bersuara.


"Lalu, apa masalahnya dok? Tinggal infuskan saja."


"Sayangnya stock golongan darah AB telah habis dan pasien dalam keadaan kritis."


"Bagaimana bisa?! Rumah sakit sebesar ini kehabisan stock!" Zeha naik pitam. Emosinya mencuat kala itu juga. Ia meraih kerah seragam yang dokter tersebut kenakan. "Jika sampai sesuatu terjadi padanya, rumah sakit ini akan ratah dengan tanah!" Melihat hal tersebut membuat dokter itu menelan susah salivanya.


"Zeha!" bentak Tn. Jeon. "Dengan kau seperti ini akan semakin memperburuk keadaan. Sekarang kita harusnya membantu mencari golongan darah tersebut, bukan malah mempertanyakan bagaimana kinerja mereka."


"Ckk!" Zeha mengehempas kuat kerah tersebut. "Semua tidak berguna!"


"A-apa diantara kalian ada yang bergolongan dararh tersebut?" tanya sang dokter takut-takut.


"Saya akan mendonorkan darah saya."