The President'S Crazy

The President'S Crazy
part. 89



(1 𝚃𝚊𝚑𝚞𝚗 𝙺𝚎𝚖𝚞𝚍𝚒𝚊𝚗)


"Kapan kau akan kembali ke Soul Aeri?" tanya Yohun tepat setelah Aeri menyelesaikan makan siang. Pandangan Yohun seperti biasa, dalam pada wajah lembut Aeri.


"Tidak boleh ya, jika aku ingin tinggal terus di sini?" sahut Aeri balas menatap Yohun dengan pandangan sendu.


Benar sekali. Selama setahun ini, Aeri tinggal di pavilion Yohun yang terletak di daerah Gimsan yang sangat jauh dari kota Seoul. Pavilion tersebut adalah peninggalan turun temurun dari kakek buyut Yohun.


Tepat setahun yang lalu, disaat Aeri pergi dari rumah sakit, Yohun yang detik itu juga datang untuk menjenguk Aeri seperti biasa, melihat gadis itu membawa tas kecil datang dari arah yang berlawanan semenit sebelum Zeha datang.


Dan kala itulah, Aeri memohon pada Yohun untuk membawanya jauh dari kota Soul, ia tidak ingin terlihat lagi bahkan jika hanya bayangnya saja. Yohun yang akan melakukan apa saja untuk Aeri semakin iba disaat melihat lihuid bening yang membasahi pipi itu, walaupun Aeri berusaha untuk menutupinya. Tanpa diceritakan pun, Yohun tahu semua ini berkaitan dengan Zeha. Yohun menggeram kesal. Tanpa banyak bicara lagi, malam itu juga Yohun membawa Aeri pergi ke Gimsan.


"Bukan seperti itu Aeri ...."


Aeri tertawa kecil. Ia sangat faham apa yang dimaksud oleh temannya itu. "Iya, aku hanya bercanda .... Aku hanya sudah sangat nyaman di sini. Bekerja sebagai sukarelawan membuat aku merasa tenang. Suasana tempat ini benar-benar membuatku tanpa sadar melupakan segalanya."


"Benarkah?" Yohun mendekat ke arah Aeri yang memandangi kawasan berumput yang sangat indah itu.


Sebagai jawapan, Aeri mengangguk kecil setelah menoleh pada Yohun yang telah berdiri di samping. "Iya."


"Begitu juga dengan cintamu?" Aeri terdiam dalam sentakannya. Lirikan matanya tertuju pada tangannya yang diraih lembut oleh tangan besar Yohun.


"Kau sudah melupakan Zeha dan perasaanmu?"


Aeri menarik tangan sambil membuang wajah keluar, namun tak ingin dilepas oleh Yohun. "Kau selalu mempertanyakannya. Walau aku terus mengatakan hal yang sama, kau tidak akan pernah percaya padaku, Yohun."


"Aku percaya padamu." secara perlahan Yohun menautkan jari-jemari besar miliknya diantara jari kecil Aeri. "Tapi, soal perasaan, walau kau menyangkalnya, matamu mengatakan sebaliknya."


"Kau yang membuatku terus mengingatnya Yohun! Kau terus membahas dirinya denganku!" sesal Aeri menarik tangan.


"Baiklah, aku minta maaf. Aku tidak akan menyebut dirinya lagi." Yohun menahan pergelangan Aeri agar tidak pergi. "Kau bisa tinggal di sini selama yang kau inginkan, okay. Tapi, sekarang kau harus pergi ke Soul."


"Kenapa?"


"Ayahmu ingin bertemu. Dia sangat merindukanmu."


"Aku juga sangat merindukan ayah," lirih Aeri.


Yohun tersenyum kecil melihat kerinduan yang terlihat jelas di mata dan wajah Aeri.


"Aku sudah mengatakan pada paman bahwa aku akan membawamu pulang. Bagaimana? Kau tidak menolaknya, kan?"


Tidak terluahkan dengan kata-kata. Aeri sangat bersyukur memiliki seseorang seperti Yohun. Mungkin jika bukan kesilapan yang Yohun lakukan yang membuat mereka berpisah dan tidak berhubung lagi cukup lama, maka Aeri merasa yakin mereka akan bersama dalam ikatan janji suci pernikahan. Namun, kaca yang pecah tidak akan pernah bisa seperti semula lagi. Begitulah perumpaan untuk hati Aeri. Seiring berjalannya waktu, cinta itu terkikis sedikit demi sedikit dan menyisakan perasaan yang hampa dan kecewa.


Walaupun begitu, kini perasaan memiliki seorang sahabat lelaki sangat baik, juga seperti memiliki seorang abang yang terus merawat dan menjaganya. Aeri sangat bersyukur pada tuhan yang menghadirkan kembali Yohun padanya.


Perasaan yang bercampur aduk membuat air mata bening itu mengalir serta merta. Yohun yang melihatnya kontan merasa cemas dan bingung.


"Ada apa Aeri? Kenapa kau menangis, hm?" Yohun mencuba untuk menyeka lihuid bening itu, tetapi Aeri malah langsung memeluknya dengan melingkarkan kedua tangan pada leher Yohun. Yohun termangu dalam keterkejutannya. Ia bergeming dengan mata membulat tidak percaya. Ini adalah pelukan pertama kalinya setelah sekian lama.


"Terima kasih banyak Yohun, terima kasih. Selama setahun ini kau terus menjaga ayahku demi aku. Memberi tumpangan dirumahmu tanpa bayaran. Aku tidak tahu harus bagaimana membalasmu atas semua yang telah kau lakukan. Bahkan ucapan terima kasih terasa sangat kurang, tapi hanya itu yang dapat aku lakukan, Yohun."


Kini Yohun mengerti arti dari pelukan mendadak yang Aeri berikan padanya. Ia terkekeh kecil dengan pemikirannya yang mengarah ke sebaliknya. Semua itu tidak mungkin.


Secara perlahan kedua tangan Yohun terangkat demi membalas pelukan hangat Aeri. "Tentu saja kau dapat membalasku."


Aeri mengernyit, lantas melepaskan pelukannya. Namun, kedua tangan kekar Yohun masih bertengger diatas pinggang Aeri. Lelaki itu tidak ingin membiarkan Aeri bergerak jauh darinya.


"Bagaimana?" tanya Aeri antusias yang tentu saja membuat Yohun tersenyum manis.


Yohun kontan menunduk hingga hidung mereka hampir bersentuhan sambil menarik pinggang kecil Aeri merapat padanya.


"Dengan menikah denganku," tukas Yohun tersenyum evil sembari menukik sebelah alisnya, menggoda Aeri. Tatapan matanya bahkan terus melirik bibir indah Aeri yang terbuka karena kaget dengan tindakan Yohun.


"Bagaimana? Mudahkan?"


Aeri segera mendorong tubuh itu menjauh. "Maaf Yohun. Aku tidak akan menjawabnya karena kau tahu akan seperti apa jawapanku, kan?"


Yohun tersenyum manis, tetapi terkesan sedikit kecewa walau ia tahu Aeri akan kembali menolaknya. Namun, ia tidak peduli. Yohun mengedikkan bahu. "Ya, aku tahu haha. Aku hanya bercanda." Tapi, siapa yang tahu apa yang sebenarnya Yohun inginkan. Entah bercanda atau sebaliknya, hanya dirinya sendiri yang tahu itu.


"Baiklah. Sore nanti kita berangkat, jadi malam kita akan sampai kalau tiada halangan."


"Baiklah. Terima kasih, ya." Setelah itu, Aeri pun berlalu meninggalkan Yohun seorang diri.


𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘤𝘢𝘯𝘥𝘢 𝘈𝘦𝘳𝘪, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 '𝘪𝘺𝘢' 𝘥𝘦𝘵𝘪𝘬 𝘪𝘵𝘶. Yohun hanya tersenyum miris dengan harapannya itu. Yohun tahu Aeri tidak akan menerimanya, namun ia tetap ingin berharap sebelum ada yang mengikat Aeri dengan janji suci pernikahan.


"Huh! Kau sungguh tidak beruntung Yohun." Yohun pun berlalu dengan gelengan kepala.


Sekarang akhirnya mereka berdua tiba disebuah bangunan yang menjulang tinggi beberapa saat yang lalu, setelah melakukan perjalan yang cukup jauh.


Hal inilah yang membuat Aeri mengernyit bingung. Ia datang ke soul untuk bertemu dengan sang ayah, tapi mengapa Yohun malah membawanya ke sini?


Aeri menoleh pada Yohun yang entah mengapa terlihat tegang dibangku kemudi.


"Bukankah kita akan ke rumah Yuri?"


"I-iya."


"Lalu buat apa kita ke sini? Ini salah satu hotel keluarga mu, kan?"


"Sebenarnya mereka mengatur untuk bertemu denganmu di sini," ujar Yohun membuat Aeri terdiam. "Dengan bantuanku," tambahnya. Hal tersebut tentu saja kontan membuat Aeri terharu dan senang.


"Ya ampun, mereka tidak harus melakukannya. Seperti hari ulang tahun saja." Aeri tertawa kecil membayangkan tindakan ayah dan sabahatnya itu.


"Yuk kita turun." Aeri sudah tidak sabar ingin bertemu dengan sang ayah setelah setahun tidak bertemu.


"Tunggu!" cegah Yohun sebelum Aeri sempat membuka pintu.


"Karena ini suprise, maka aku akan menutup matamu dengan kain ini." Yohun menunjukkan sepotong kain hitam yang ia raih dari balik tempat duduk penumpang.


Aeri kembali dibuat bingung, akan tetapi Aeri tidak akan banyak bertanya karena itu mungkin saja permintaan Yuri. Dengan tersenyum kaku Aeri menggaru kepalanya yang tidak terasa gatal sebenarnya. Ia mengangguk kecil.


Aeri memutar tubuh untuk mempermudahkan Yohun mengikat kain hitam tersebut di matanya. Setelah itu, barulah Yohun keluar demi memimpin Aeri keluar, lantas menuju tempat di mana ayahnya berada.


𝘔𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘈𝘦𝘳𝘪.


Genggaman tangan Yohun terasa begitu erat. Sedangkan sebelah tangan lelaki itu mengepal dengan kuat hingga menimbulkan urat-urat berwarna keunguan. Sedang ***** mukanya terlihat seperti merasa bersalah. Yohun terus melihat ke arah Aeri yang terlihat bingung dengan keadaan sekitar.


"Hati-hati," kata Yohun saat ia membawa Aeri menaiki tangga setelah keluar dari dalam lift.


"Kenapa jauh sekali Yohun? Kau seperti ingin membunuhku saja. "


Kontan Yohun menelan susah salivanya. " mana mungkin aku membunuhmu, Aeri. Sebentar lagi kita akan sampai."


Aeri tersenyum kecil. "Baiklah."


Tepat dihadapan sebuah pintu Yohun berhenti. Membawa tubuh Aeri menghadapnya tanpa melepas genggamannya. Menatap wajah dengan senyum tipis di wajah itu.


"Aeri ... Aku ingin mengatakan sesuatu," tutur Yohun lembut dan dalam.


"Ada apa?"


Seketika Yohun terdiam sebelum melanjutkan ucapannya. "Jika kau merasa dunia ini begitu berat untuk kau pikul sendiri maka kau bisa datang padaku. Aku akan sentiasa ada untukmu. Aku harap kau jangan melupakan itu. "


Senyum itu semakin mekar dibibir Aeri. "Terima kasih, Yohun."


"Aku mencintaimu...."


Zzuuffhh!


Tepat saat itu layar besar yang tepat berada disamping bangunan tersebut menyala dengan suara yang besar sehingga membuat atensi mereka teralihkan, terutama Aeri.


"Apa kau mengatakan sesuatu?"


Yohun terdiam. Ini bermakna Aeri tidak mendengar apa yang Yohun katakan barusan. Yohun bernapas lega dengan itu, namun juga kecewa, tetapi tidak apa-apa. Asal gadis dihadapannya itu selamat itu cukup untuknya.


"Ini saatnya bertemu ayahmu."


Cklek!


Kembali menarik Aeri dengan perlahan. Aeri tidak tahu mengapa ia merasa tidak tenang. Detak jantungnya berdetak dengan cepat secara tiba-tiba.


Langkah mereka berhenti. Genggaman tangan Yohun dilepas oleh lelaki itu sendiri. Pergerakan yang bergerak ke belakang Aeri rasakan.


"Aku harap kau tidak membenciku karena ini."


"Hm?" Aeri tersentak kaget dengan bisikan yang datang dari Yohun itu. "Apa maksudmu?"


Tiada sahutan. Penutup mata itu pun terbuka. Dengan perlahan Aeri membuka mata, tapi entah mengapa ada yang aneh.


"Akhirnya aku menemukanmu, Aeri."