
'Ayah anda harus segera dioperasi jika tidak pembengkakan pada otaknya akan sangat berbahaya dengan kondisi jantung yang begitu lemah.'
Air bening itu sontak mengalir begitu saja keluar dari kelopak mata indahnya. Kepalanya menunduk dengan kaki yang melangkah gontai keluar dari rumah sakit. Rasa penat yang Aeri rasakan sehabis bekerja belum hilang dan malah hal ini semakin membuatnya sulit untuk bernapas.
Bukan ia tidak ingin mengurus ayahnya itu, hanya saja ia belum siap jika harus kehilangan orang yang begitu bermakna dalam hidupnya. Cukuplah ibunya yang pergi meninggalkannya selamanya. Semakin deras air mata itu mengalir membentuk aliran sungai kecil dipipinya yang putih. Apalagi mengingat biaya operasi yang begitu besar.
"Di mana aku harus mendapatkan uang sebanyak itu, ibu?" Aeri mendudukan bokongnya pada bangku taman rumah sakit. "Ya tuhan... Aku harus bagaimana?" Aeri tidak perlu takut terlihat orang dalam kondisinya itu, karena hari sudah cukup malam untuk ada orang lalu lalang.
Kakinya bergerak gelisah sembari berpikir keras. Jemari kecilnya bergetar seraya bergerak mengusap air mata yang terus mengalir. Detak jantung sedari tadi terus berdetak tidak tenang, ia gelisah.
"Yeoryun...," lirih Aeri seraya merogoh saku untuk mengambil ponsel dan segera memhubungi nomar dari nama yang ia sebut tadi. Tidak perlu menunggu lama hingga panggilan itu terhubung dengan sang empu nama.
"Hello...."
"............"
"Hari itu kau mengatakan ada pekerjaan--"
"..........."
"Aku ingin pekerjaan itu."
".........."
"Tapi, kau mengatakan gajinya tinggi, kan?"
"........... "
"Baiklah. Sampai ketemu."
Tut tut tut
Bibir yang dilapisi lipstik merah coral itu tersenyum miring sesaat setelah panggilan itu terputus.
"Siapa? Sampai kau tersenyum seperti itu." bahkan sampai menarik atensi sang kakak yang sedang asik menonton serial kegemarannya 'Running Man'. Serial yang akan menghilangkan rasa penat setelah seharian bekerja di kantor.
"Aeri, gadis kesayanganmu," sindir Yeoryun yang refleks membuat sang kakak menoleh padanya.
"Ada apa dia menelponmu?"
"Hmm... Sepertinya dia sangat membutuhkan uang hingga menginginkan pekerjaan itu tanpa mengetahui pekerjaan macam apa yang akan dia lakukan," sahut Yeoryun tanpa menjawap pertanyaan yang dilontarkan padanya.
"Kau terlalu jahat padanya...."
"Lalu bagaimana denganmu Kim Yohun?" sebelah alis Yeoryun tertukik naik. Ia rasa apa yang ia lakukan tidak seberapa dengan apa yang pernah sang kakak lakukan pada gadis itu.
Atensi Yohun kembali fokus pada apa yang ia nonton. "Memangnya apa yang aku lakukan?"
Yeoryun memutar bola mata malas. "Dasar lelaki memang semua sama!"
*****
Jantung Aeri berdetak gelisah memasuki tempat yang sama sekali belum pernah ia masuki sebelumnya. Tungkainya mengikuti Yeoryun yang memimpin jalan, membawanya masuk semakin dalam.
Benar, setelah membuat janji dua hari yang lalu dengan Yeoryun, akhirnya ia di bawa ke tempat ini.
Netranya bergulir menatap sekeliling tempat tersebut. Dentuman musik yang dimainkan DJ sungguh memekakkan telinga. Juga wanita-wanita penghibur yang memakai pakai yang cukup terbuka membuat Aeri menelan susah salivanya apalagi saat manik matanya melihat ada tangan seorang lelaki memasukkan tangannya ke dalam rok wanita yang duduk dipangkuannya. Sontak Aeri membuang pandang kala melihat ekspresi sang wanita yang membuatnya merasa jijik.
Walau demikian, termpat membuang stress bagi sesetengah orang itu terlihat begitu mewah dengan interior di dalamnya. Aeri tidak mengerti mengapa tempat seperti itu dibuat sedemikian mewah. Dan Aeri yakin dengan satu hal, tempat yang ia yakini akan menjadi tempat kerjanya itu adalah club nomor satu di negara tersebut melihat dari banyaknya pejabat-pejabat yang memiliki kedudukan tinggi di sana.
Aeri dengan cepat menarik wajahnya disaat tanpa sengaja ia bertemu pandang dengan seorang lelaki yang sepertinya telah memerhatinya sedari tadi. Langkahnya sontak melaju, mendekat pada Yeoryun. Pandangan seperti seekor harimau yang siap menerkam mangsanya, sungguh membuat Aeri takut.
"Manager Lee," sapa Yeoryun. Berhenti tepat dihadapan seorang lelaki yang terlihat berumur pertengahan 30-an.
"Wow! Nona Yeoryun." Baru saja lelaki itu hendak mencium pipi Yeoryun sebelum gadis itu sontak menahan menggunakan tangannya.
Membuat lelaki yang di panggil manager Lee itu tersenyum samar dengan manik menyapu Aeri sekilas yang berdiri disamping.
"Kau selalu saja menolakku, baby," tukas lelaki itu mencolek dagu runcing Yeoryun.
"Maaf... Aku tidak tertarik padamu." Ejekan itu menjatuhkan harga diri sang lelaki, namun ia hanya tersungging menanggapinya. Ia sudah biasa.
"Ini gadis itu," ujar Yeoryun menoleh pada Aeri.
Manager Lee menatap Aeri dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu kembali pada wajah lugu Aeri. Sudut bibirnya terangkat.
"Wajah yang menarik," cetusnya membuat Yeoryun tersenyum remeh.
"Tapi dia punya pensyaratan untuk bekerja di sini." Yeoryun kembali berujar. Lelaki itu mengernyit seraya menoleh pada Aeri. "Katakan Aeri," pinta Yeoryun.
"Aku tidak ingin kesucianku dipertaruhkan. Dengan kata lain, aku akan melayani tapi tidak akan melalukan sesuatu yang sepasang suami isteri lakukan. Walau berapapun yang orang itu tawarkan." Akhirnya dengan rasa takut, Aeri menyampaikan juga apa yang menjadi pensyaratannya.
Manager Lee mengernyit kaget. "Yang benar saja. Bagama---"
"Manager Lee!" panggilan seseorang menghentikan ucapannya. Mereka bertiga refleks menoleh pada sumber suara.
"Ouh, Oh Sehun. Ternyata anda juga di sini," ujar manager Lee antusias melihat keberadaan orang berpengaruh itu.
"Apa dia pekerja baru?" Manik nakal nan tajam itu melirik pada Aeri yang tidak berani menatapnya. Sehun tersenyum samar, seraya kembali membawa maniknya pada manager Lee.
"Ya," sahut manager Lee semangat. Ini bisa menjadi peluangnya lagi untuk mendapatkan uang, mengingat Sehun salah satu sumber rezekinya yang besar. Ia yakin lelaki tampan nan tinggi itu tertarik pada Aeri.
Sedangkan Aeri susah payah menelan salivanya setelah mendengar perkataan lelaki itu. Apalagi itu adalah lelaki yang bertemu pandang dengannya tadi. Ia harus segera melakukan perjanjian tersebut.
"Belum bekerja sudah saja sudah ada yang tertarik. Hebat," cetus manager Lee mengacungkan jempol pada Aeri.
"Tapi aku tidak akan mau sebelum persyaratanku disetujui." Aeri kembali mengingatkan.
"Melayani secara lebih atau hanya biasa saja itu sebenarnya tergantung pada kalian yang melayani, sama ada ingin menerima atau tidak. Jadi tidak perlu sampai melakukan perjanjian seperti ini," sahut manager Lee menerangkan.
Manager Lee tidak habis pikir. Gadis mungil dengan wajah lembut di hadapannya ini begitu menjaga kehormatannya. Tetapi jika demikian, mengapa memilih bekerja ditempat seperti ini? Yang sudah jelas cara kerjanya seperti apa. Lagipula, akan terlambat jika melakukan perjanjian itu sekarang, Sehun telah menunggu di dalam ruangannya.
"Tapi sewaktu-waktu itu bisa berubah dan bisa saja suatu hari nanti anda memaksa saya untuk melakukannya. Jadi lebih aman jika saya melakukan perjanjian ini."
Manager Lee menghela napas panjang. "Ok, aku setuju. Tapi sekarang kau masuk dulu ke ruangan it---"
"Tidak! Sebelum perjanjian itu ditanda tangani."
Manager Lee pun tidak ingin membuang waktu lagi. Segumpal uang itu akan melayang jika tidak segera ia setujui. Sedang Yeoryun merasa kagum dengan negosiasi yang dilakukan Aeri. Gadis mungil disampingnya itu cukup pandai menggunakan kesempatan yang ada disekelilingnya.
Setelah perjanjian ditanda tangani barulah Aeri di bawah masuk ke dalam ruangan Sehun setelah lima menit lebih lamanya. Yeoryun pun telah pergi lima menit yang lalu.
Dengan pakaian yang sedikit terbuka dan menampakkan lekuk tubuhnya, ia berdiri tidak nyaman di hadapan lelaki yang bernama Sehun. Walaupun manager Lee telah mengatakan hal tersebut, tetap saja ia merasa tidak tenang. Jika nafsu sudah menguasai, bukankah itu begitu sulit untuk dikontrol seseorang?
"Mendekatkanlah," titah lelaki tampan itu. Itu tidak diragukan lagi oleh Aeri, namun ia bukan seorang gadis pencinta lelaki tampan.
Aeri meletakkan tangan kecilnya diatas tangan Sehun yang terulur, lantas secara perlahan menarik gadis mungil itu duduk dipangkuannya.
Berkali-kali Aeri menelan susah salivanya. Dalam hati terus merapalkan doa agar ia dilindungi oleh hal yang dapat memusnakan masah depannya.
"Wahh, tubuhmu begitu ringan, seolah dapatku remukkan dengan satu tangan." Lelaki itu terkekeh dengan tangan memeluk pinggang kecil itu. Manik matanya memancarkan aura buas dan genit seperti lelaki hidung belang pada umumnya yang suka bemain wanita.
Sedangkan tangan Aeri berada dikedua sisi dada Sehun, sebisa mungkik menahan agar tubuh mereka tidak semakin merapat. Napasnya seolah tercekat ditenggorokan akibat jantung yang berdetak diluar kata normal. ***** wajah sebisa mungkin ia kawal agar tidak menunjukkan kerisian.
Apalagi kini tangan besar itu bergerak mengelus-ngelus pinggang dan paha Aeri. Namun, ia harus menahannya, ini semua demi ayahnya, demi kesembuhan sang ayah yang dicintai.
"Eugh~~"
"Emm rasamu manis.... "
Aeri meremang dalam hati setelah tiba-tiba lelaki itu mengecup dada atas miliknya. Bahkan kini bibir itu berada seinci di depan bibirnya. Manik tajam dengan aura brengsek itu bersitatap depan manik sayu nan lembut Aeri. Membuat sekujur tubuh Aeri membatu kala lidah Sehun terjulur, bergerak menyapu bibir bawah Aeri secara seksual yang sontak membuat mata Aeri terpejam.
Apalagi kini bibir Sehun telah ******* ganas bibir mungil Aeri dengan lidahnya memenuhi rongga mulut gadis itu. Mahu tak mahu mulut Aeri terbuka. Kedua pipinya terasa panas kala lidah itu bergerak liar dalam mulutnya. Matanya sedikit terbuka melihat wajah lelaki tampan itu berada begitu dekat padanya.
"Eumgk~~"
Lengan besar Sehun memeluk erat tubuh Aeri, menariknya semakin dekat, manakala sebelah tangannya semakin menekan tengkuk Aeri ke arahnya.
Drrrt... Drrrt... Drrrt
"****! Siapa sih?!" Sesal Sehun kala ada yang menelponnya. Dan memaksanya untuk menghentikan kegiatannya itu. Benang saliva terjuntai membuatnya mengusap ujung bibir Aeri sebelum mengangkat panggilan tersebut.
"Kau di mana?!" Suara tajam penuh penekanan sontak menyapa telinganya.
"Aku di tempat biasa," balas Sehun tidak kalah kesal. "Ada apa? Kau mengganggu saja, kau tau!" Sentak Sehun. Ia menoleh pada Aeri yang menyandarkan kepala di dadanya dengan napas yang tidak teratur.
"Aku mau kau datang ke pelabuhan A. Sesuatu telah terjadi di sana," jelas suara ditalian.
"Kenapa bukan kau saja yang pergi?" prote Sehun. Bukankah ini maknanya ia harus mengakhiri kesenangannya itu?
"Sekarang aku di rumah ayahku. Ya, sudah aku tutup."
Tut tut tu!
Sehun menghela napas panjang, lalu melihat ke arah Aeri. "Maaf sayang, aku harus pergi."
Aeri berteriang senang dalam hati kala lelaki itu mengecup dan melupat pendek bibirnya. Hari ini ia selamat.
........
"Jeon Zeha! Kenapa kau begitu keras kepala?!" Tn. Jeon mengerang frustasi.
"Aku tidak ingin menjadi seperti kakakku!" Balas Zeha dengan manik fokus pada ponselnya.
"Memangnya kenapa dengan River? Dia meninggal karena kebodohannya bukan karena perusahaan."
"Bukankah semuanya berkait?" Kali ini pandangan Zeha ia angkat kearah sang ayah. Melihat lelaki paruh baya itu memikit pelipisnya.
"Apa kau tidak kasihan melihat ayahmu yang tua ni terus bekerja? Ini sudah saatnya untuk dia beristirahat dan dilanjutkan oleh anaknya." Taehoon mencuba memberi nasihat. Dan sepertinya itu berhasil disaat melihat Zeha tampak berpikir.
Zeha menatap lekat wajah keriput ayahnya. Bukan ia tidak peduli atau kasihan, namun sebahagian dalam dirinya menolak untuk menduduki kursi president yang pernah menjadi milik kakaknya, River. Perasaan bersalah terhadap River masih terus memenuhi ruang hatinya yang telah mengeras sejak kepergian sang kakak. Rasanya ia begitu tidak berguna.
Zeha meletak ponsel seraya menarik napas panjang. Menyandarkan punggung pada sandaran sofa dengan tangan yang terlipat di dada.
"Baiklah," ujar Zeha akhirnya setuju. "Tapi, aku ingin mengganti seketaris dengan seketaris pilihanku sendiri," lanjutnya membawa pandangan Tn. Jeon padanya.
"Itu tidak masalah. Semua bisa diatur." Pancaran kelegaan itu terpancar cerah diwajah keriput Tn. Jeon. Akhirnya Zeha mau menggantikannya memimpin J'Foodies.
"Kalau begitu aku pergi dulu dan sampai ketemu besok di perusahaan."