The Destiny Of A Princess

The Destiny Of A Princess
{Season Dua} Bagian 96 - Penghalang



Terjadi perkelahian yg dasyat antara keduanya, Dellion menebas semua monster yg mendekat. Tetapi ia tidak mengerti cara untuk menghancurkan bayang-bayang hitam yg bersama dengan Carin.


Dellion memegang bahu kanannya menahan sakit, sementara Carin mengatur nafasnya karena ia semakin lelah.


Goresan pedang dari Arthur melukai bahu Dellion cukup dalam.


Begitu dia akan menyerang Carin lagi, tiba-tiba tanah yg menopang tubuh Dellion bergerak, muncul Arthur dari bawah yg hampir melukai Dellion sekali lagi.


"Sial!" Ucapnya kesal.


"Ada apa Dellion? Kau sepertinya kelelahan."


Carin tersenyum sambil terus mengerakan tangannya, menyuruh para roh serta monster untuk menyerang Dellion secara acak-acakan agar konsentrasinya teralihkan.


Begitu ada cela yg carin dapat untuk melukai Dellion, tiba-tiba dari belakang seseorang muncul dan menahan roh tersebut. Itu adalah Deondre yg sudah selesai dengan tugasnya, ia menggunakan kekuatan pelindung menahan serangan yg datang.


"Deondre!"


"Pangeran anda baik-baik saja kan?"


Dellion mengangguk sebagai jawaban, kemudian ia bangkit berdiri menatap Carin yg sedang diam cukup jauh menatap keduanya.


"Siapa dia?" Tanya Deondre.


"Lebih tepatnya dia itu biang keladi dari semua yg terjadi."


Jawab pangeran dingin, dia begitu marah. Entah apa alasan mereka menyerang kekaisaran yg tidak bersalah.


Carin lalu tertawa membuat keduanya semakin bingung.


"Kau! Bukankah Kakak dari Agnasia... sepupu laki-laki ku." Ujarnya.


"Apa maksud mu! Sejak kapan kau berhubungan darah dengan ku!" Balas Deondre.


Mendengar hal itu, Carin berdecak kesal menautkan kedua alisnya menunjukan rasa tidak suka sehabis ia tertawa tadi.


"Oh, ayolah. Agnasia saja mengakuinya."


Ujarnya melengking membuat Deondre terkejut akan yg ia katakan barusan.


"Agnasia?"


"Iya, ouh atau... dia tidak mengatakan apapun padamu ya? Dia menyebunyikan hal sebesar ini pada kalian? Kasihan sekali..."


Tiba-tiba dari belakang Arthur menyerang Dellion, beruntungnya ia dapat menahan serangan tersebut dengan pedang.


"Licik sekali kau!"


Teriak Deondre, ia memanfaatkan waktu hanya untuk dapat menyerang Dellion.


Deondre kemudian mengeluarkan pedangnya dan langsung mendekat menyerang Carin.


Begitu ia mengayunkan pedangnya, Carin menghilang dan muncul di belakang Deondre. Melihat itu, Dellion dengan cekatan mengeluarkan belati dan melemparnya kearah Carin.


Benda tajam itu pun menancap di punggung Carin dengan sempurna, wanita itu berbalik menatap sinis kearah Dellion.


"Kau!"


Saat hendak berbalik, Deondre langsung mencegahnya.


Melihat itu, Dellion mulai merasakan sesuatu yg aneh. Kecepatan dari Carin sedikit demi sedikit mulai melambat.


'Ini akan jadi kemenangan kita, jika yg ku perkirakan benar'


Dellion lalu mengukur waktunya Carin menghilang dan saat ketika dia muncul kembali itulah waktu yg tempat membunuhnya.


Dengan kasar Dellion menendang Arthur sampai terhempas, kemudian menyerangnya menggunakan pukulan tangan, dia tidak berniat membunuhnya, rencana Dellion adalah mengincar titik lemah dan membuat Arthur pingsan.


Ketika sedang memikirkan rencana seterusnya, terdengar suara Deondre yg berteriak, Carin ternyata melukai punggung Deondre dengan sihirnya.


Hal itu menjadi kesempatan untuk Arthur memukul Dellion, Dellion pun balik terpental cukup jauh, akibat serangan yg ia terima.


Deondre pun dengan cepat berbalik mendekat kearah Dellion, sembari menahan sakit.


"Pangeran!" Teriaknya.


Ujarnya mengusap wajah, mengatur nafasnya pelan.


Dia lalu melirik Deondre, mengatakan rencana yg ia buat selama bertarung dengan Carin. Deondre pun mengangguk dan mengikuti sesuai instruksi dari pangeran.


...🌼🌼🌼🌼...


Snow langsung menyuruh Agnasia untuk menahan nafasnya segera. Karena panik tanpa berlama-lama Agnasia mengangguk mengikuti pintah pria yg bersamanya.


Tiba-tiba suara Snow muncul dalam kepala Agnasia yg sontak membuat ia melirik kesamping.


'Tenanglah, ini juga sihir telepati. Itu monster pelacak. Dia buta, dan hanya menggunakan pendengaran saja. Selain bisa mendengar gerakan tubuh, dia juga bisa mendengar suara nafas manusia.' Jelas Snow melirik Agnasia.


'Ah begitu rupanya, tapi sampai kapan kita menahan nafas. Aku tidak bisa lama-lama.' Ujar Agnasia khawatir bercampur gelisah.


Lalu terdengar suara langkah kaki yg mengelilingi ruangan dengan hati-hati, seperti mereka tahu bahwa dua orang yg sedang di cari, ada dalam ruangan tersebut.


Sementara itu Agnasia mulai merasa sesak, ia tidak bisa Menahan nafasnya lagi. Dia pun meremas tangan Snow erat setelah kemudian langsung terbatuk-batuk.


Penjaga bersama hewan yg ia bawah reflek melihat kearah lemari, dan langsung mendekat, membukanya kasar pintu lemari. Seketika penjaga itu membatu, tidak ada siapa-siapa di dalam lemari.


Agnasia yg sudah takut menutup matanya, enggan untuk melihat.


'Buka matamu! Kita baik-baik saja'


Ucapan dari Snow di angguki Agnasia pelan, sedikit dia mengintip, saat melihat penjaga itu di depan mereka, pandangannya melebar, dan sempat akan berteriak tetapi langsung di cegah Snow.


'Kenapa dia tidak menangkap kita!' Tanya Agnasia.


'Sihir transparan sudah aku pasangkan saat dia membuka lemari, tepat waktu bukan?'


Agnasia tersenyum sambil mengangguk sebagai respon, Snow pun menariknya untuk keluar dari sana.


Mereka pun lolos dengan sempurna, sampai terdengar nafas lega yg Agnasia keluarkan, mereka lalu melanjutkan perjalanan dengan cepat sebelum waktu transparan habis.


Tinggal satu lorong yg perlu mereka priksa di lantai satu, saat masuk kedalam, nampak ruangan kosong. Dalam ruangan juga sangat pengap, debu bertebaran di mana-mana.


"Sepertinya bukan di sini"


Ucap Snow sebagai tanggapan. Ketika ia menarik Agnasia untuk pergi entah kenapa ada rasa yg aneh wanita itu rasakan.


"Kurasa ini jalannya."


Agnasia balik menarik Snow untuk mendekati ujung ruangan, dia kemudian memegang satu persatu dinding ruangan itu. Tetapi tidak sesuai dugaan.


"Sudah ku katakan, ini hanya ruangan yg tidak terpakai. Kita cari yg lain saja" Ucap Snow, Agnasia pun mengangguk.


Begitu kakinya beranjak, dia mendengar suara Neacel samar-samar. Dengan cepat Agnasia berbalik menatap kearah tembok.


"Kau dengar itu?" Tanya Agnasia.


"Tidak, memangnya kenapa?"


Snow heran dengan yg di katakan wanita ini, suara apa yg ia dengar sampai seterkejut itu.


Agnasia langsung melepaskan genggamannya, sihir pun lenyap dari tubuhnya.


"Apa kau bisa menghancurkan penghalang?"


Snow mengangguk, Agnasia pun menunjuk kearah tembok.


"Ku rasa ada sesuatu di permukaan ini, tapi jangan sampai kau merusak temboknya. Aku takut pintu masuknya akan tertutup bukan terbuka." Jelasnya.


Entah kenapa ia bisa terfikirkan sesuatu seperti itu, tetapi yg Agnasia tahu perasaannya tidak pernah salah.


Snow lalu mengerakan tangannya, lingkaran segitiga pun muncul, dengan cahaya di sikitaran Snow. Cahaya itu semakin besar,membuat pandangan menjadi silau.


Seketika terdengar suara retakan, namun tiba-tiba cahaya itu menghilang begitu saja.


"Apa yg terjadi?!" Tanya Agnasia.


"Ini... seperti yg kukatakan sebelumnya, kekuatan sihir ku tidak setara dengan Kaisar Nick. Sepertinya ia menyegel pintu masuk dengan sihir yg besar."


Dia tidak percaya dengan kata-kata yg terlontar begitu saja, Agnasia mengerutkan alisnya. Ia yakin sekarang, di dalam sana ada Neacel yg terkunci. Apa yg harus dia lakukan untuk menolong pria itu!