The Destiny Of A Princess

The Destiny Of A Princess
Bagian 59



Sebelum matahari muncul tepatnya pagi sekali Agnasia sudah bangun, dan sedang mengayunkan pedangnya dengan semangat, mungkin karena perkataan membangun dari Snow membuat dia jadi tenang dan berfikir positif.


'Hari ini aku harus bisa!'


Dia memutuskan beberapa jerami dengan sempurna, sampai seseorang yg dia kenal memanggil namanya dari belakang. Itu adalah Merry, dia berlari mendekat kearah Agnasia.


"Nona! Ukh ku pikir anda hilang"


"Maaf membuat mu khawatir, terlalu pagi aku bangun ya?"


"Ia.. ini keringkan keringat anda dulu"


Merry memberikan handuk putih kecil untuk ku, aku pun mengambilnya dan segera mengeringkan keringat ku yg cukup banyak.


Merry mengajakku duduk di bawah pohon sambil memberikan botol minum padaku.


"Acara ulang tahun kekaisaran sudah dekat"


Ucap Merry padaku, aku terhenti dan baru ingat akan hal itu untung saja di katakan oleh Merry.


"Nyaris aku lupa"


"Astaga bagaimana bisa Anda lupa! Itu kan acara besar"


Merry bangkit berdiri, kemudian mulai berbicara dengan penuh semangat seperti seorang yg sedang berdansa dengan kekasih yg dia cintai.


"Akan ada acara di kekaisaran, festival tiga hari berturut-turut, serta kembang api yg mewah sebagai penutupnya dan terlebih lagi pangeran dari macam kerajaan akan datang kesini!"


Wanita itu melompat seperti anak kecil yg mendapat permen saja, aku sedikit tertawa dengan ekspresinya sekarang yg berubah-ubah.


"Dan nona! Anda harus berdansa dengan pangeran kan!"


Seketika memori lama terulang kembali di mana Agnasia tidak pandai dalam hal berdansa, saat itu mungkin karena dia begitu senang akan ajakan dari Dellion, dia pun menerimanya tanpa mengingat bahwa kekurangannya itu adalah dansa.


Jika mengingat ekspresi wajah Dellion waktu itu, dia seperti menahan rasa sakit karena kakinya ku injak terus menerus.


'Memalukan sekali'


"Sepertinya aku tidak akan berdansa"


"Kenapa?!!"


Merry terhenti menatap ku sedih, belum sempat ku jawab seseorang dari belakang datang mendekat kearah kami berdua. Itu adalah Deondre dengan seragam lengkapnya


"Agnasia?"


Panggilnya dengan senyuman terukir di wajahnya yg tampan. Merry pun sedikit menjauh karena Deondre ingin mengatakan sesuatu padaku.


"Terlalu pagi untuk latihan?"


"Hmm iya"


Deondre mengacak rambut ku yg di ikat satu, sambil tertawa.


"Aku akan pergi ke kota, sebelum itu aku ingin melihat mu, bagaimana kemarin?"


"Lancar-lancar saja"


"Begitu ya... lain kali aku akan mengunjungi mu di kuil oke? Aku pergi dulu, sampai nanti"


Deondre pun berbalik pergi dari sana, aku memanggil Marry masuk membantuku bersiap-siap untuk hari ini.


...💐💐💐💐...


Aku menjatuhkan sendok yg ku pegang, saat mendengar perkataan dari ayah, sungguh aku melupakan hal yg begitu penting hari ini. Kenapa sampai bisa aku lupa!


Aku harus pergi kesana, menemui Dellion dan menghalangi Carin agar tidak mencampur ramuan yg berbeda dan memberikannya pada Dellion.


Meskipun dia sudah berkerja sama dengan Kaisar agar sebelum di minum oleh Dellion harus di periksa dulu, tapi lebih baik dia sendiri yg kesana agar lebih aman.


"Ayah aku pergi dulu!"


"Ini masih pagi, dan mereka akan sampai siang nanti"


Setelah selesai, aku menuju kamar karena ada satu hal juga yg ku lupakan, yaitu membalas pesan Kaisar Neacel waktu itu, karena banyak sekali yg ku pikirkan sampai-sampai hal yg penting ku lupakan begitu saja.


Aku pun menulis surat, menjelaskan tanggal dan tempat pertemuan kita kedepannya. Lepas itu aku memanggil Merry untuk mengantarkan surat ini agar di kirim dengan cepat.


Merry mengerti dan pergi ke tempat yg ku katakan, agar lebih aman di kekaisaran memiliki tempat untuk pengiriman surat rahasia agar sampai tanpa ada yg bocor atau di ketahui orang walaupun biayanya cukup mahal tapi itu tidak apa.


Kembali lagi, aku berdiri berjalan kesana kemari menunggu siang yg akan datang.


Tiba-tiba pandang ku menjadi buram, mata kananku masih bisa melihat dengan jelas hanya saja sebelah kiri ku yg jadi agak aneh.


"Uhk.. apa yg terjadi sekarang?"


Serasa seperti ada sesuatu yg menutupi penglihatan ku di mata kiri ini. Aku kemudian kembali duduk menenangkan pikiran, harus tenang.


Setelahnya penglihatan ku kembali normal, tapi yg aneh aku merasa mengantuk sekarang.


Perlahan-lahan mataku tertutup, hanya ada kegelapan yg nampak.


'Hei! Bangun!'


Dengan cepat aku membuka mataku, di depan sekarang terlihat seorang anak kecil yg aku kenal. Dia adalah anak yg ku temui di hutan Theos beberapa hari yg lalu.


"Kau! Kenapa aku di sini lagi? Aku tidak menghilangkan kan?"


'Tidak... ini berbeda dengan waktu itu'


Anak itu menarikku untuk bangun dari rerumputan, dan mengajak duduk di bangku yg sudah di sediakan di bawah pohon dengan beberapa cemilan serta dua cangkir teh.


'Sudah lama sekali kita tidak bertemu, bagaimana kabar mu?'


Dia menuangkan teh Lippe kesukaan ku kedalam cangkir, aku menatapnya dan menjawab bahwa aku baik-baik saja.


'Aku sangat senang jika bertemu kembali dengan mu, bagaimana keadaan kekasih mu?'


Dia tersenyum begitu semangat padaku, sambil mengambil kukis dan memakannya dengan lahap.


"Sebenarnya siapa kau?"


Aku tidak menjawab apa yg di tanyakannya tadi malah memberikan pertanyaan, itu membuat dia terdiam, dan kembali dia tersenyum padaku.


'Ku pikir kau sudah tahu, sekarang aku adalah kau'


Teh yg ku minum baru-baru ini ku semburkan keluar lagi mendengar jawabannya yg tidak masuk akal.


"Apa? Kau adalah aku? Mana bisa seperti itu kita berbeda."


'Itu dulu sekarang kita satu! Kau adalah aku dan aku adalah kau'


"Oh ya? Artinya rambut ku akan sama seperti mu?"


'Benar! Kau pintar sekali'


Pintar? Padahal itu hanya asal-asalan ku katakan tapi ternyata dia mengakui itu benar? Anak yg tahu semua cerita masa lalu dan kali ini mengatakan kita adalah satu?


'Ternyata kau belum mengerti ya... biar ku perjelas aku adalah batu anugerah'


"Apa!! Tidak-tidak kau bercanda kan?!"


'Tidak tuh.. kau ingat terakhir kali aku memberikan bunga kan? Itu adalah lambang yg muncul di tangan mu'


Aku membantu mendengar dia yg berbicara banyak saat ini, otakku memproses begitu lambat karena keterkejutan tiba-tiba.


"Tunggu dulu... sekarang jelaskan dari awal oke! Jangan dari anugerah dulu ceritakan kenapa kau bisa tahu masa lalu ku serta semuannya!"


Jelasku padanya dengan pelan sambil mengambil kukis dan menyuapinya, dia menerima itu dengan senang hati dan menghabiskan kukis yg ku suapi.


'Hmm aku sudah hidup lama lebih tepatnya sangat lama'


Ucapnya sambil melirik ku.