The Destiny Of A Princess

The Destiny Of A Princess
{Season Dua} Bagian 90 - Ciuman pertama



Waktu bergulir sangat cepat, tidak terasa acara kekaisaran sebentar lagi akan tiba.


Beberapa hari ini juga aku berserta Neacel sering mengirimkan pesan soal keadaan di masing-masing tempat.


Tidak ada yg menyerang, semua terlihat baik-baik saja akan tetapi kami terus mengawasinya. Neacel juga sering membatu ku untuk melatih cara penyegelan dan itu cukup sulit.


Beberapa hari yg lalu juga aku mendengar kabar bahwa tanda misterius yg muncul di kota itu makin banyak, anehnya tanda tersebut tidak menunjukan efek apapun.


Kebanyakan mereka menanggapi itu adalah gambar dari anak-anak desa yg suka mencoret dinding serta jalanan.


...🌼🌼🌼🌼...


Agnasia menyentuh permukaan jalan dengan hati-hati, memperhatikan tanda itu, dia menautkan kedua alis berfikir keras, mungkin ada sesuatu yg akan terjadi tapi entah itu kapan.


Kemudian dia melirik Galen yg berada di samping kiri, sedang mencatat hasil dari penyelidikannya.


Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara kereta kuda mendekat, itu adalah kereta kuda milik pangeran.


Dia turun dan menyapa kami berdua.


"Pangeran, ada apa kesini?" Tanya Agnasia setelah selesai menyapa Dellion.


"Aku hanya ingin melihat tanda yg sedang di bicarakan banyak orang"


Pria itu mendekat dan memerhatikan tanda tersebut, hanya bulatan yg tidak begitu special tetapi banyak sekali yg muncul.


"Tanda ini bisa bertambah dua sampai tiga dalam sehari pangeran, dan itu di tempat yg tidak bisa di tentukan" jelas Galen.


"Kita coba menggunakan kekuatan pemurnian saja, jika makin banyak." Pintah Dellion.


Dia menatap Galen serius, setelahnya dia mengangguk menerima perintah dari pangeran. Kemudian pandangan Dellion kembali menatap Agnasia yg diam terhanyut pikirannya sendiri.


Dia lalu mendekat dan berbisik tepat di samping telinga wanita itu.


"Apa yg kau pikirkan?" Bisiknya dengan lembut.


Seketika Agnasia tersadar, dan segera berbalik menatap kedua bola mata pengeran yg saat ini berada dekat dengannya.


"Saya hanya penasaran ini apa"


Tunjuk Agnasia pada tanda itu sambil memundurkan langkahnya kebelakang, sedikit menjauh.


"Tenanglah, aku yakin itu tidak bahaya."


Dellion memegang tangan Agnasia sembari tersenyum padanya.


"Ku harap begitu...."


"Jangan terlalu di pikirkan, sekarang... apakah kau menyukai hadiah yg ku kirim?" Tanyanya.


Aku mengangguk sebagai jawaban, sangking sukanya bahkan Merry tidak ingin aku melepaskan gaun tersebut.


Mengingat kejadian itu, hampir saja kita bertengkar. Dan juga masih banyak hadiah yg belum di buka karena sangking banyaknya.


Tiba-tiba Dellion mencubit kedua pipiku dengan gemas.


"Hei... aku di sini, tapi pikiran mu di tempat lain. Apa yg sedang kau bayangkan sampai-sampai menghiraukan aku?" Ucapnya sedikit cemberut.


Agnasia menatapnya sambil berpura-pura berfikir.


"Hmm, aku sedang memikirkan begitu banyak hadia yg harus aku buka."


Jawabnya sembari menatap Dellion lagi.


"Begitu... jika lelah istirahat saja. Aku khawatir kau akan jatuh sakit karena membuka kota hadiah itu"


Ujarnya sambil tertawa kemudian melepaskan tangannya dari wajah Agnasia.


"Kau pikir aku selemah itu?" Jawabnya berani.


Dellion kemudian mengangguk pertanda menyerah, dia lalu menarik Agnasia untuk masuk kedalam kereta kuda.


"Kau mau membawaku kemana?"


"Ikuti saja Tuan putri..."


Ucapnya kemudian mencium tangan Agnasia.


...🌼🌼🌼🌼...


Hari ini Dellion mengajak ku untuk berjalan-jalan, karena sudah lama kita tidak menghabiskan waktu bersama jadi kali ini kita akan melakukannya.


Dari membeli berbagai macam makanan, mencoba beberapa perhiasan sampai hal seru lainnya.


Tidak henti-hentinya Agnasia tersenyum bahagia melihat tingkah konyol yg di tunjukkan pangeran Dellion di hadapannya, dia berfikir kapan lagi bisa melihat sisi lucu dari kekasihnya.


Setelah selesai berkeliling kota, menjelang sore mereka berdua berjalan bergandengan tangan menikmati suasana di alun-alun dengan tenang.


Sampai suara Dellion yg memanggil membuat Agnasia menatapnya segera.


"Ada apa?" Tanyaku.


"Apa kau memiliki mimpi?" Tanya Dellion.


Agnasia lalu mengada keatas, melihat gumpalan awan yg berwarna putih.


"Mimpi tentu saja ada, dan itu adalah kebahagiaan tanpa henti."


Ucap Agnasia sambil kembali menatap Dellion.


Mendengar itu Dellion sedikit terkejut sebelum kemudian tertawa. Agnasia menjadi bingung, kenapa pria yg ada di sampingnya tertawa, padahal tidak ada hal lucu yg dia katakan.


"Kenapa? Mimpi ku lucu ya?" Tanya Agnasia lagi.


"Bukankah kau sudah mendapatkannya?"


jawabnya.


"Mendapatkannya?" Ulang Agnasia sekali lagi.


"Benar, dan itu dalam bentuk aku." Katanya dengan percaya diri.


Agnasia balik tertawa begitu mendengar jawaban yg di lontarkan Dellion yg tidak seperti dugaannya.


"Baiklah Tuan yg begitu pede, sekarang apa mimpi mu?" Tanya Agnasia.


Dellion melirik wanita itu dan mulai berbicara dengan lembut.


"Mimpi ku membuat mu bahagia dan..." Dellion berhenti kemudian menghadapkan Agnasia kearahnya lalu lanjut bicara. " hidup bersamamu, Agnasia."


Matanya yg menatap ku dengan hangat membuat debaran teratur dalam diriku, sore yg begitu tenang ini seperti membiarkan kami untuk menikmati waktu bersama.


Perlahan Dellion menyampingkan rambut ku kebelakang telinga.


"Aku mencintaimu Agnasia." Bisiknya.


Sekarang aku tidak bisa berkata-kata lagi, hanya terdengar suara jantung ku yg berdetak kecang serta hembusan angin yg bertiup melewati kami, Dellion lalu mendekatkan wajahnya dan semakin dekat, nafasnya yg hangat pun terasa menyentuh kulit wajahku.


Melihat itu, aku langsung menutup kedua mata karena merasa malu, sampai terasa sebuah sentuhan yg lembut dan hangat di berikan Dellion kepadaku.


Sempat aku terkesiap, tapi perlahan itu menjadi sebuah rasa yg aneh dan aku terbuai karenanya.


...🌼🌼🌼🌼...


Agnasia melambaikan tangannya melepas kepergian Dellion setelah mengantarnya kerumah.


Wanita itu berbalik kemudian berlarian masuk kedalam kediaman meninggalkan Merry yg baru saja sampai di sana untuk menjemputnya.


Sesampainya di kamar, Agnasia menghamburkan dirinya keatas tempat tidur kemudian berteriak dalam selimut penuh kesenangan.


Dia lalu menyentuh permukaan bibirnya yg mungkin masih terasa hangat, itu adalah kali pertama dia melakukannya, bukankah bisa di sebut sebagai ciuman pertama mereka.


"Tidak ku sangka Dellion melakukan itu. Tapi, apakah mulut ku bau ya? Tadikan aku habis makan sate." Gumam Agnasia khawatir.


Dia kemudian mengacak-acak rambutnya, hal tersebut jadi kepikiran.


Sampai seseorang muncul di sampingnya pun tidak di hiraukannya, dan masih bergumam kesal, Agnasia lalu memukul tempat tidurnya.


"Kerasukan apa lagi kau ini?"


Ucap Snow yg bingung melihat Agnasia.


Wanita itu terkejut, dia lalu keluar dari selimut dan menarik Snow untuk duduk di atas tempat tidur.


"Bantu aku sekarang! Ada yg harus ku pastikan."


Ujar Agnasia sambil mendekatkan wajahnya kearah Snow.


Melihat itu dengan cepat Snow mendorong Agnasia dengan rautnya yg seketika merah padam.


"K-kau gilaa! Mau apa kau ha! Jangan bilang kau akan mencium ku!" Ucapnya gelagapan.


"Eh Apa-apaan pemikiran mu itu! Aku hanya ingin kau mencium aroma mulut ku, bau atau tidak!"


Jawab Agnasia sambil meninggikan suaranya.


Snow terkejut mendengar perkataan Agnasia, dia kira apa, ternyata hanya untuk itu?


'Dia tidak tahu apa, seberapa gugup aku saat ini, kerena perbuatannya itu!' Pikir Snow.