The Destiny Of A Princess

The Destiny Of A Princess
{Season Dua} Bagian 91 - Pesta kekaisaran



Setelah hari berlalu, besoknya ada kabar yg begitu mengejutkan dari Galen yg mengatakannya pada ayah.


Kemarin saat pangeran menyuruh dia untuk menggunakan kekuatan pemurnian, dan sudah mengumpulkan beberapa pendeta yg menguasai hal itu, tiba-tiba tanda tersebut tidak ada di sana. Bukan hanya satu yg hilang, tapi semua tanda tanpa terkecuali menghilang.


Itu semakin membuat Galen kebingungan, dia lalu melaporkan kejadian tersebut pada kaisar dan di beri perintah untuk tetap waspada.


Agnasia kembali teringat soal peristiwa yg ibunya ceritakan tentang Kaisar Nick yg selalu menyerang setiap akhir bulan, tetapi sekarang masih pertengahan, itu masih cukup jauh baginya.


"Tidak, sihir Carin juga saat itu masuk. Apa mungkin dia meletakannya saat pelindung kekaisaran melemah?"


Ujarnya pada diri sendiri dalam kamar, sembari menatap lurus kearah kursi yg ada di hadapannya. Agnasia lalu memanggil Merry untuk menyediakan secangkir teh agar dia bisa berfikir jernih untuk masalah ini.


Kemudian setelah itu dia bangkit berdiri mengambil alat tulis serta kertas, mengirimkan pesan pada Neacel yg cukup jauh dari tempat Agnasia sekarang.


Dia menulis semua yg di katakan Galen pagi tadi, lalu mengikat surat itu pada kaki burung merpati, tanpa berlama-lama burung tersebut terbang ke langit dan perlahan mengilang.


Lepas itu Merry datang dengan secangkir teh yg ku pesan tadi, aku meminumnya perlahan-lahan karena masih terasa panas.


'Apa yg harus ku lakukan...' seruh Agnasia dalam benaknya.


...🌼🌼🌼🌼...


Setelah kejadian itu, keadaan kekaisaran nampak sangat baik-baik saja. Bahkan tanda-tanda yg mencurigakan tidak muncul kembali, dan soal kekaisaran Ango, Kaisar Neacel juga tidak mengatakan apapun, dia seperti hilang di telan bumi.


Sempat aku ingin pergi mengunjunginya, tapi itu gagal.


Karena hari ini adalah acara ulang tahun kekaisaran, yg di tunggu-tunggu semua orang. Dan sudah sejak pagi tadi, banyak pendatang yg masuk. Namun, sebelum itu mereka di priksa satu-persatu.


Kesibukan para Dayang juga membuat aku kewalahan, karena sejak pagi mereka sudah ribut mempermasalahkan perhiasan yg akan ku pakai nanti.


'Ini semua salah Dellion! Jika dia tidak mengirimkan perhiasan yg banyak, pasti mereka akan baik-baik saja' Pikir Agnasia.


Wanita itu lalu bangkit berdiri mengambi salah satu perhiasan yg berada dalam kotak, perbuatannya itu membuat dayang serta pelayan yg ada menjadi diam.


Setelah sesi memilih selesai, Merry menarikku untuk melakukan berbagai macam pembersihan, di mulai dari kepala sampai kaki.


"Anda harus tampil cantik!"


Ujar Merry sambil menggosok kepala ku dan memijatnya lembut.


Mengingat kejadian waktu di alun-alun, itu membuat jantung ku terus berdebar tiada henti, sejak insiden itu, Dellion tidak muncul lagi di hadapan ku.


'Apakah ada sesuatu yg terjadi ya.'


Tidak terasa hari semakin malam dan acara tersebut sudah hampir mulai, aku bersama dengan ayah serta Deondre turun kebawah.


Dalam perjalanan kami tidak henti-hentinya keduanya memuji ku, memang tekat Merry hebat sampai membuat ku jadi lebih cantik seperti ini.


Kereta kuda kami berhenti, karena banyak sekali kerumunan kereta kuda lainnya yg ada di depan.


"Sebentar tepat jam 12 malam akan ada pesta kembang api, apa kau mau melihatnya bersama-sama dengan ku?"


Tanya Deondre, sekilas ayah meliriknya tajam seperti mata elang yg ingin memangsa buruannya.


"Dia akan pergi bersama ku."


Ucap ayah dengan menekan semua perkataannya. Aku hanya bisa tersenyum kaku, mereka tidak akan berkelahi hanya karena aku kan?


Selanjutnya giliran kami yg masuk, setelah memberikan kartu undangan, panjaga pun membuka jalan membiarkan kami masuk.


Begitu kakiku menginjak jalan setapak kekaisaran. Suara tawa orang-orang terdengar dari berbagai sudut tempat, kami bertiga pun masuk dengan ayah di sisi kanan sedangkan Deondre di sisi kiriku.


"Ingin ku congkel mata mereka"


Ucap Deondre. Sempat aku bingung apa maksud perkataannya.


"Memangnya kenapa?" Tanyaku.


"Lain kali akan ku tegur pangeran untuk tidak memberikan gaun seperti ini padamu" ucap ayah.


Aku semakin bingung di buat mereka, memangnya apa salah gaun yg ku pakai, dia hanya menunjukkan sedikit punggung tubuhku--atau mereka tidak suka karena banyak yg memandang ku karena gaunnya!


Setelah giliran kami, penjaga mulai membuka pintu pesta dan hal yg begitu indah langsung terlihat, ini sangat menakjubkan.


Beberapa lampu gantung yg indah, karpet merah yg begitu mencolok, para bangsawan yg banyak serta meja panjang yg di isi dengan berbagai macam makanan.


'Pasti para pelayan bekerja keras untuk acara ini'


Setelah kami masuk, beberapa menit kemudian kaisar serta pangeran Dellion datang, yg membuat aku terkejut adalah pakaian yg di pakai pangeran Dellion, serasi dengan gaun ku.


Sempat mata kami bertemu, dia lalu tersenyum hangat kearahku, aku langsung membuang pandangan karena malu.


Kemudian kaisar memberi kata-kata sambutan, dan selepas itu pesta pun di mulai.


Ayah serta Deondre berpisah dengan ku karena ada keperluan, tiba-tiba dari arah samping seseorang menyentuh bahuku pelan.


Saat berbalik melihatnya, itu adalah Galen, dia begitu memukau dengan stelan yg rapi dan cocok untuknya.


"Ku pikir siapa, kau sangat cantik." Ucapnya sembari mencium tanganku.


"Yah aku tahu itu, kau juga sangat tampan" kataku balik kepadanya.


"Mana Tuan Marquess?" Tanyaku setelahnya, ternyata dia sedang berjaga sekitar kekaisaran sebagai tugas kaisar.


"Tidak ku sangka selera pangeran cukup bagus."


Galen melirik gaun yg ku pakai sembari mengangguk-angguk. Tiba-tiba dari arah samping seseorang datang memanggil nama ku lembut.


Itu adalah Dellion, dia langsung menarikku kesamping dan melingkarkan tangannya padaku.


"Oh... tenanglah Yang Mulia, saya tidak akan merebut dansa pertamanya."


Ucap Galen sambil tertawa, dia begitu mengerti raut wajah Dellion sekarang.


Kemudian tanpa berlama-lama dia berpamitan pergi, meninggalkan kami yg diam satu sama lain.


"Pangeran..."


"Kau sangat cantik memakai gaun ini, aku tidak salah memilihkannya untuk mu"


Ucapnya sembari mencium puncak kepala ku, Dellion lalu sedikit menjauh, kemudian menunduk mencondongkan badannya dengan tangan yg terbuka di depan ku.


"Maukah kau berdansa dengan ku..." ucapnya.


"Dellion... kau tahu kan aku tidak pandai berdansa?"


Ujar Agnasia malu, dia juga tidak nyaman ketika menginjak kaki Dellion di tengah-tengah dansa mereka.


"Tidak apa-apa... sekalian akan ku ajarkan caranya"


Dellion langsung memegang tanganku dan menariknya ketengah ruangan pesta mengikuti para bangsawan lainnya yg sudah berdansa.


Aku lalu meletakan tanganku padanya, sementara Dellion melingkarkan satu tangannya memeluk pinggang ku.


Perlahan-lahan dia menuntun langkah kakiku sesuai dengan alunan musik, awalnya aku merasa begitu kaku, namun lama kelamaan perasaan itu menghilang, di gantikan kenyamanan karena berada di dekatnya.


...🌼🌼🌼🌼...


Di dalam ruangan bawah tanah, seseorang tertawa sambil melihat kedalam penjara. Dia begitu senang karena tikus kecil yg sering memantau beberapa hari ini tertangkap.


"Jika kau tidak ikut campur, mungkin kau tidak akan ada disini Yang Mulia."


Ucap Kaisar Nick pada pria yg ada di hadapannya.


Dia lalu bangkit berdiri berbalik meninggalkan ruangan tersebut dengan langkah yg lebar.


Hai para pembaca, balik lagi bersama Arthor...


Arthor cuma mau bilang ada novel baru yg di up, jika penasaran langsung priksa aja yaa🌻


Salam hangat semua... sehat selalu ♡️♡️