The Destiny Of A Princess

The Destiny Of A Princess
Bagian 45



Aku lalu menegah pada mereka berdua, dan memberi penjelasan agar Galen tidak marah dan sedikit mengatur emosinya.


"Lion saja tidak marah?"


Kataku sambil melirik Dellion, Galen pun berdecak kesal lagi kemudian berjalan meninggalkan kami.


Aku menggeleng tidak mengerti tentang apa yg dipikirkannya.


"Baiklah... ayo pergi..."


"Kita teleportasi saja."


"Kau bisa?"


Tanya ku pada Snow dan tanpa basa-basi dia menjentikan jarinya, seketika keadaan berubah menjadi di tengah kota, karena perpindahan itu aku sedikit pusing dan hampir jatuh, tapi itu di tahan oleh Snow dan Pangeran segera.


"Ah terima kasih... tunggu Galen dimana?" Tanyaku pada Snow


"Dia juga teleportasi, tapi di tempat berbeda, namun masih di dalam kota."


Ucap Snow santai sambil melihat sekitar dengan malas.


"Eh! Dimana kau mengirimnya?"


Pertanyaan ku tidak di balas olehnya dia malah pergi berjalan dengan santai, ku lirik Dellion yg sedang membaca kertas bahan yg dia pegang.


"Ayo kita pergi..."


"Eh bagaimana dengan Galen?"


"Dia akan baik-baik saja..."


ucap pangeran, kami pun pergi kearah tokoh yg ditulis dalam kertas tersebut.


...๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’...


Setelah sampai kami masuk kedalam dan memesan apa yg tertulis. Mereka katakan untuk menunggu sebentar, kami pun duduk sambil melihat keadaan sekitar, dalam ruangan ini sangat tercium bau obat-obatan.


Yg aku dengar seharusnya kami tidak perlu mencari bahan-bahan karena kakek memiliki ramuannya, tapi karena saat itu aku sekarat terpaksa dia memberikan ramuan terakhir padaku.


Tiba-tiba pintu depan terbuka, nampak Galen yg penuh dengan bulu ayam mendekat kearah kami melihat itu atau sedikit syok.


Dia langsung menarik Snow dengan kasar, wajahnya bahkan merah saat ini.


"Kau... lelaki sial!!"


"Ohw.. sudah sampai rupanya... bagaimana perjalanannya?"


Tanya Snow dengan tenang pada Galen. Nampak dia akan memukul Snow tapi itu ku tahan segera.


"Jangan bertengkar disini!"


"Tapi... dia keterlaluan! Mengirim ku ke pertenakan ayam!"


Mendengar hal itu aku sedikit terkejut sekaligus tertawa karenanya.


"Siapa suru pergi lebih dulu..."


Ucap Snow dan segera melepaskan cengkraman Galen.


"Ugk! Lion anda tidak memberikan tanggapan tentang dia?"


Tunjuk Galen meminta untuk di bela.


"Tidak, jika dia berbuat hal yg sewajarnya. tapi... saat kau melukai Sia, lihat saja nanti"


Ucap pangeran, melihat hal itu Galen senang dan menyenggol Snow dengan berani.


"Sepertinya kalian sudah dekat saat aku tidak sadarkan diri ya"


"Tidak!!"


Jawab mereka bersama-sama dan sedikit terjadi adu mulut lagi.


Sebenarnya apa-apa semua ini? Apa aku sudah salah menyelamatkannya? Kenapa mereka tidak bisa akur sekarang. Kemudian pesanan kami pun tersedia kami segera membayarnya dan pergi keluar.


Saat akan mencari bahan selanjutnya, seorang yg tidak asing di mataku terlihat.


"Itu Carin?!"


Kataku sambil pergi Melihatnya untuk memastikan itu benar atau tidak. Aku menghiraukan panggilan dari pangeran bersama Galen.


'Dia... aku yakin rambut hitamnya itu!'


Saat semakin dekat, aku tiba-tiba bertabrakan dengan seseorang hingga terhuyung.


"Maaf Tuan saya tidak sengaja---"


"Ternyata itu anda Ledy?"


Mendengar dia memanggil ku, segera aku mendongkakkan wajah Melihatnya. Ternyata itu adalah Tuan kue eh, Acel benarkan?


"Ah... anda..."


"Saya senang bertemu dengan Ledy, apa yg anda lakukan di tempat seperti ini dengan baju begitu?"


Tanpa sadar wajah ku di pegang olehnya secara tiba-tiba, aku segera memundurkan langkah ku sedikit menjauh darinya.


"Apa yg anda lakukan!"


Bentakku padanya, lelaki itu sekarang menatap ku dalam diam. Kecanggungan apa yg terjadi sekarang?


"Ledy... ada harus berhati-hati dengan pilihan yang anda ambil... jika salah, itu akan membunuh Ledy sendiri."


"Apa-apaan perkataan mu itu?"


Perlahan dia mendekat dan menyentuh mata kiri ku, tatapnya begitu dingin aku bahkan takut Melihatnya.


"Keberuntungan dan kemalangan... sedang berdampingan"


Mendengar ucapannya, aku teringat akan mimpi ku beberapa hari yg lalu. Lelaki itu kemudian menjauh dariku dan tersenyum kembali.


"Apa, jalaskkan padaku?"


Grep..


Ku pegang tangannya erat meminta jawaban yg pasti untuk pertemuan tidak di duga ini. Dia lalu melihat ku kembali.


"Sebagai anak pilihan Dewa, bukannya ada keharusan anda membuang masa lalu kelam itu... dan mengikuti kebenaran.. Ledy"


Ucapnya sambil mengangkat tangan ku dan menciumnya pelan, aku tertegun beberapa saat, sampai seseorang memanggil ku dari arah belakang.


"Agnasia! Kau baik-baik saja?"


Aku menyampingkan pandangan melihat Dellion yg berada di samping ku baru saja. Mata lelaki itu melirik tanganku yg di pegang oleh Acel, dia pun segera melepaskan genggaman itu dan menarik ku kebelakang tubuhnya.


"Siapa kau!"


Tanya Dellion dengan suara yg begitu berat dan dingin. Acel sedikit terdiam beberapa detik kemudian tersenyum kembali.


"Saya temannya Ledy... nama saya Acel."


Dellion melihat ku mempertanyakan apakah dia berkata jujur atau malah berbohong.


"Ia, dia adalah temanku, kami berkenalan di perpustakaan negara waktu itu."


Jelasku, kemudian wajah Dellion sedikit terlihat lega namun dari tatapan yg dia berikan kepada Acel masih sedikit curiga.


"Kalau begitu saya undur diri dulu Ledy... jangan lupakan apa yg saya katakan"


Di tersenyum begitu lembut padaku, kemudian berbalik pergi menghilang dalam kerumunan. Dengan cepat Dellion memegang tubuhku memutarnya agar bisa menghadapnya


"Jadi kau pergi hanya karena lelaki itu?!"


Perkataannya begitu santai namun terasa seperti ada sesuatu yg tersembunyi di dalamnya.


"Tidak, kami hanya kebetulan saja bertemu... soal aku yg pergi ada seorang yg ku kenal dia kebetulan saja lewat"


"Siapa?"


Pertanyaannya membuat ku sedikit berfikir, apakah harus di jawab atau tidak.


"Ah... anda akan mengenalnya jika sudah waktunya... jadi mari kembali"


Segara aku memutar tubuh ku mencari lainnya, meninggalkan Dellion yg masih berdiri menatapku dalam diam.


...๐Ÿ’Kekaisaran Ango๐Ÿ’...


Dalam ruangan, Kaisar Nick tengah duduk sambil membuka beberapa lembar surat bisnisnya. Tiba-tiba pintu di ketuk dari luar, dia menyuruh orang itu masuk kedalam.


Klieeettt...


Seorang wanita dengan senyuman yg manis datang pada Kaisar Nick yg tengah duduk, melihat hal itu Kaisar pun bangkit berdiri memeluk wanita itu dengan gembira.


"Ayah... sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan mu..."


Suara yg begitu tenang namun selalu memiliki kewaspadaan terhadap sesuatu hal.


"Benar... bagaimana perjalanan mu?"


Tanya Kaisar sambil memanggil wanita itu duduk di sampingnya lalu menuangkan teh ke dalam cangkir dan memberikan padanya.


"Ah... melelahkan... tapi sangatlah seruh..."


Ujarnya dengan senang sambil sedikit meneguk teh kedalam mulutnya. Kaisar mengangguk dan membalasnya dengan sedikit senyuman juga.


"Bagaimana perkembangannya Ayah? Apa rencana mu berhasil?"


Lelaki itu hanya diam saja, dengan rahang yg mengeras. Hal itu sudah di pahami oleh Putrinya, dia lalu menggenggam tangan Kaisar Nick dan berbicara.


"Apakah tidak berhasil?"


"Ia! Putrinya! Agnasia menggagalkan semua hanya dengan berbicara saja!! Padahal aku pikir semua akan berhasil!! Tapi dia sekarang sudah berubah menjadi lebih waspada!"


"Jadi sepupuku itu menyulitkan Ayah... apa ku bunuh saja?" Ucapnya.


"Untuk itu aku punya rencana lebih bagus... dan kau yg akan melakukannya... Carin De Alasd"