The Destiny Of A Princess

The Destiny Of A Princess
Bagian 68 - kekuatan



Aku duduk termenung menatap lurus kearah pilar-pilar tempat latihan,sesekali aku menghembuskan nafas berat sambil memijat pundak dengan sebelah tangan.


Saat ini aku sedang istirahat, mengingat sudah dua jam latihan itu cukup menguras tenaga.


Beberapa hari yg lalu aku sering menunggu kedatangan Snow tapi, dia tidak datang. Harus ku cari kemana lagi? Andaikan aku tidak emosi saat itu semua akan baik-baik saja sampai sekarang.


"Huft..."


Saat hendak berdiri tiba-tiba rasa sakit di bagian mata kiriku muncul, padangan ku menjadi buram di ikutiΒ  dengan keseimbangan ku yg tidak stabil, aku terjatuh cukup keras.


Dari arah depan seseorang berteriak memanggil ku, itu adalah pendeta Diego yg baru saja kembali sehabis mengambil air untuk ku minum.


Dia membantu dan menuntunku kearah tempat duduk kayu yg ada di bawah pohon.


'Uhk! sakit! ini tidak seperti yg lalu'


Aku mengatur nafasku agar menjadi tenang, sedikit demi sedikit rasa sakitnya perlahan memudar.


"Bagaimana anda melakukan itu?"


Dengan begitu terkejut dia bertanya padaku, aku menatap Diego bingung.


"Apa yg anda katakan?"


"Barusan putri mengeluarkan aura penyembuh yg cukup besar"


"Apa!"


Aku reflek berteriak padanya, mulut ku masih terbuka menatap Diego yg sama halnya terkejut. Kami berdua diam satu sama lain, mencerna semuanya


"Apakah maksud dari perkataan anak itu adalah..."


Semua menjadi jelas, ternyata selama ini rasa sakit itu adalah efek munculnya batu kekuatan! Pantas saja waktu itu dia mengatakan aku sering mendorongnya masuk kembali.


Diego yg memanggilku tidak ku hiraukan karena aku yg hanyut dalam pikiran sendiri, sampai dia melambaikan telapak tangannya di depan wajah ku barulah aku menatapnya.


"Putri?"


"Oh ya? Maaf aku tidak mendengar mu, apa yg ingin anda tanyakan?"


"Perkataan putri tadi soal seorang anak, siapakah dia?"


Aku menjadi diam tanpa sadar aku mengatakan itu dengan bersuara, gawat jika Diego mengetahuinya.


"Bukan apa-apa.."


Aku tersenyum padanya, untuk saat ini sampai di sini saja. Aku harus segera pulang memastikannya, aku bangkit berdiri dan sedikit merasakan sakit di bagian lutut tapi ku tahan dan segera berpamitan pada Diego.


...πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’...


Dalam perjalanan pulang, pikiran ku bercampur aduk, tetapi pandangan ku terus melihat kearah jendela sambil berpangku tangan.


Ketika memasuki jalan setapak melewati beberapa rumah, mataku menangkap seseorang yg begitu femiliar


'Rambut putih itu... s-snow!'


Dengan cepat aku memerintahkan untuk memberhentikan kereta kuda, dan segera turun berlari dengan tergesa-gesa. Lelaki itu duduk di bangku kayu dekat pohon yg begitu besar sambil menunduk.


'Aku yakin itu dia!'


Saat semakin dekat, tidak sengaja aku menabrak seseorang pria yg sedang membawa setumpuk kayu kering.


Kayu itu jatuh beruntungnya tidak berserakan, aku meminta maaf dan membantu dia segera dan langsung pergi.


Dia masih duduk di bangku yg sama, saat sudah dekat aku menyentuh bahunya dengan senyuman yg merekah sambil menyebut namanya.


Ketika dia berbalik, ternyata dugaan ku salah itu bukan Snow tapi rambutnya tadi... nyatanya rambut pria di hadapan ku berwarna abu-abu.


"Ada apa nona?"


"Itu.. maafkan saya, saya pikir anda orang yg saya cari"


kataku sambil menarik tanganku kembali.


"Ah begitu..."


"Kalau begitu saya pergi dulu, maafkan kelancangan tadi" ucapku berbalik.


Namun sebelum benar-benar pergi, aku sedikit melihat kebelakang memastikannya lagi namun tidak ku temui dia.


Setelah cukup pasti, aku pergi menahan rasa sakit sebelah kakiku yg kini terasa kembali.


Melihat kepergian Agnasia, Snow segera mengubah warna rambutnya serta warna kedua mata menjadi semula, sungguh dia begitu terkejut saat Agnasia tiba-tiba menghampirinya untungnya dengan cepat dia mengunakan sihir perubahan.


"Kenapa dia mencari ku? Bukankah aku tidak di anggap"


Dia menatap punggung Agnasia, menyadari ada sesuatu yg berbeda, perempuan itu berjalan dengan pincang seperti menahan sakit.


"Apa ada yg terjadi?! Aku harus menolong--"


Snow terhenti, tangannya yg dia angkat di turunkan kembali kesamping tubuhnya sambil mengepal erat.


"Apa peduli ku, biarkan saja dia"


Setelah ucapan Snow, dia langsung berpindah tempat mengunakan teleportasi, sejak kejadian sore itu dia pergi dan ingin kembali lagi ketempatnya berasal.


Tapi mengingat mereka juga membuangnya seperti barang rongsokan niat itu terhenti, dia memutuskan untuk tetap di kekaisaran Aegeus.


Sesekali setiap dia ingin berteleportasi, selalu saja dia akan muncul di taman belakang kamar Agnasia. Beruntungnya wanita itu tidak di sana, walaupun Agnasia berkata seperti itu entah kenapa dia masih ingin tetap bersamanya.


"Aku bisa gila jika seperti ini terus."


...πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’...


Setelah selesai makan malam bersama, Agnasia kembali sambil menutup pintu kamar rapat-rapat.


Ternyata ada memar di sebelah kakinya karena benturan saat dia jatuh beberapa waktu lalu di tempat latihan, tapi sudah di kompres oleh Merry tadi sore dengan sedikit omelannya seperti biasa.


Setelah menganti gaun dengan pakaian tidurnya, dia mengambil kursi dan memindahkannya ke teras kamar kemudian duduk sambil menarik nafas dalam-dalam.


"Berhenti memikirkan soal tadi, sekarang harus fokus pada kekuatan!"


Agnasia menutup kedua matanya memfokuskan diri, berfikir tentang batu kekuatan agar di dorong keluar.


"Keluar!"


Ucapnya sambil sedikit berteriak tapi tidak ada yg terjadi, sekali lagi dia mencobanya tapi tidak ada hasil yg memuaskan. Agnasia menghentakkan kaki bergumam kesal


"Tadi bagaimana ya?! Ukh!"


Dia menyadarkan tubuhnya kebelakang tempat sandaran kursi, sambil mengangkat tangan kirinya keudara menunjuk langit dengan jari telunjuk sambil memutar jarinya berbentuk lingkaran.


"Simsalabim!"


Agnasia tertawa kecut, dia seperti kehilangan akal sehat saja, selepas membaca buku dongeng anak-anak sebelumnya. Tapi kemudian dia memfokuskan pandangan, nampak gumpalan asap yg menghitam di udara bercampur dengan gelap malam.


"Apa-apaan itu!"


Dia segera bangkit berdiri melihat kearah kota yg lumayan jauh, gumpalan asap itu berasal dari sana dan semakin hari semakin banyak membumbung kelangit.


"Kebakaran?!"


Agnasia berbalik cepat, dia turun dengan pakaian tidurnya, melangkah pergi ke kamar yg di tempati Tuan Duke, kebetulan saat sampai ayahnya juga baru akan masuk.


"Ayah!" Teriak Agnasia.


"Agnasia? Ada apa? Kenapa kau berlarian begitu? kakimu masih memar"


"Ah tidak apa-apa.. hanya saja dari arah kota aku melihat gumpalan asap yg begitu besar"


Setelah penjelasan ku, dari arah berlawanan seorang penjaga datang terburu-buru melaporkan bahwa terjadi kebakaran besar di kota yg memakan beberapa tokoh sekitar.


"Kau tetaplah disini, ayah akan segera kembali"


Aku mengangguk, sebelum pergi aku mendengar ayah menyuruh pengawal itu untuk memanggil beberapa orang pergi bersamanya ke kota.


Dia harus bergegas, karena wilayah itu ada di bawah kekuasaan keluarga Alddes.


Namun, Agnasia tidak tahu itu hanya sebuah rencana untuk mengahlikan penjagaan di kediamannya.