
Sesaat dunia seakan gelap karena aku menutup mataku tapi suara ambruk membuat ku membuka mata kembali.
Nampak Pangeran Dellion berdiri di depanku dengan nafas tersengal-sengal bajunya di penuhi percikan darah sekaligus darahnya sendiri.
"Kau baik-baik saja kan?" Setelah pertanyaannya selesai, detik berikutnya Pangeran jatuh ketanah. Sekali lagi dia batuk dan mengeluarkan darah yg banyak.
Agnasia putuskan untuk membawa Dellion kedalam kereta kuda, tapi Dellion menolak ajakannya dengan tegas.
"Anda ingin mati di sini!" Bentak Agnasia sambil menatap Dellion dengan sungguh. Lelaki itu lalu tersenyum sambil mengatur nafasnya perlahan-lahan.
"Kau pikir aku akan mati hanya karena racun sial ini?"
Mendengar jawabannya, aku mengepalkan tanganku erat, harusnya orang sakit ini tidak ikut. Agnasia lalu merobek ujung gaunnya kemudian mengikatkannya pada lengan kiri atas Pangeran.
"Ini akan membantu walaupun hanya sebentar, aku akan membantu Galen terlebih dahulu" ucapku tapi di tahan Dellion dengan cepat.
"Biarkan saja dia, kau disini bersama ku."
Perkataannya seakan-akan seorang yg sedang cemburu saja, aku lalu menghempas tangan Pangeran dan menatapnya tidak terima.
"Galen bisa mengatasinya, kau lupa dengan julukan monster tampan kekaisaran?" Dellion sedikit menyungingkan senyumnya padaku, aku mengerutkan alisku pertanda tidak tahu akan hal itu.
Dellion lalu menceritakan semuanya, selain pintar dia juga memiliki fisik yang bisa di sebutkan seperti seorang monster itu adalah anugerah Dewa perkasa, aku tidak boleh memandang Galen sebelah mata, karena dia orang terkuat setelah Pangeran.
Pandangan Ku melihat Galen dari jauh, tubuhnya yg hanya di isi oleh beberapa otot saja bisa sebanding dengan seekor monster?
'Mana ada hal yg seperti itu?'
Tiba-tiba aura merah keluar dari tubuh Galen, dia menangkap pedang perampok itu hanya dengan sebelah tangan kemudian dia menarik dan memutar tangan perampok itu, terdengar suara remukan tulang serta teriakan kesakitan.
Saat melihat itu, aku sekarang percaya apa yg di katakan Dellion, bisa-bisanya senyuman Galen yg manis sekarang berubah seperti seorang iblis? aku sudah salah memilih seorang sahabat?
Kemudian aku di kejutkan lagi, lelaki itu mematahkan tulang rusuknya hanya dengan sekali pukulan, perampok itu ambruk entah dia mati atau pingsan. Perlahan-lahan aura yg Galen keluarkan menghilang.
Sempat mata kami bertemu, Galen tersenyum manis melambai kearahku, tetapi berbeda dengan ku, aku memalingkan wajah melihat kearah yg berbeda.
"Kau percaya sekarang kan? Karena itu kau tidak perlu khawatir."
Aku mengangguk, kemudian para pengawal yg lainnya mulai sadarkan diri, Galen mendekat dan memberikan sebuah botol kecil, airnya berwarna hijau. Dellion lalu meminumnya tanpa tersisa
"Apa itu obat?" Tanyaku pada Galen lelaki itu mengangguk.
"Aku menemukan penawar racun di dalam kantong perampok itu"
"Tunggu mereka membawa penawar?"
"Ya begitulah, mereka takut mungkin ada kejadian seperti sekarang sejanta memakan tuannya jadi pasti mereka membawa penawar bukan?" Ucap Galen, dia lalu merenggang tubuhnya sambil bergumam lelah.
Lelaki itu lalu menunduk Melihat ku, dia memegang wajah ku pelan.
"Apa ini sakit?" Ucapnya dengan lembut, entah kenapaΒ mendengar suaranya yg sangat pelan ini pipiku memanas dengan cepat aku mengangguk padanya.
Dellion lalu menarik Galen, menjauh dari ku.
"Bukannya kau punya tugas Galen Alastor?!" Ucap Pangeran dingin, Galen tertawa dia lalu pergi sesuai yg di perintahkan Dellion.
"Dan kau! Masuk kedalam kereta kuda saja!" Pangeran sedikit membentak ku dia lalu pergi. Aku terdiam menatapnya dengan aneh.
...ππππ...
Setelah hari itu, kami pun pergi dengan tenang sekarang, bahkan kekaisaran Tayron sudah terlihat, banyak sekali pepohonan dan tumbuh-tumbuhan. Udaranya terasa sangat sejuk.
'Pertama kalinya aku pergi kesini, ternyata tidak buruk juga'
"Aku tidak menyukainya."
"Hmmm? Apa yg tidak kau sukai?" Pertanyaan Galen membuat aku sedikit terkejut, tanpa sadar aku mengatakannya dengan bersuara
"Bukan apa-apa..."
Kereta kuda kami lalu berhenti, prajurit kekaisaran Tayron meminta data lengkap tentang kami, Galen mengeluarkan tanda Mawar putih pada prajurit itu.
Dia sedikit terkejut kemudian mempersilakan kami masuk kedalam.
"Rumah Tuan itu di mana?" Tanyaku pada mereka berdua.
"Di belakang gunung" ujar Pangeran
"Kenapa di sana?" Tanyaku bingung, kenapa orang hebat yg mungkin bisa di sebut sebagai pahlawan itu tinggal di belakang gunung?
"Karena disana tempat yg tepat untuknya meracik ramuan, Kaisar juga menyuruhnya tinggal disana agar bangsawan luar tidak menemukannya." Jelas Pangeran Dellion
"Apa karena, kejadian penyogokan itu?"
"Mungkin.."
Setelah jawaban itu, aku hanyut dalam pikiran ku sendiri bagaimana bisa dia membenci para bangsawan seperti itu? Tapi aku juga tidak tahu kita lihat saja nanti.
...ππππ...
Saat melewati gunung, dari jauh nampak perbatasan antara kedua kekaisaran, memang terlihat dekat tapi ternyata itu sangat jauh.
Hutan perbatasan yg kita lewati pertama kalinya tadi sebelum menemukan kota pertama, hutan itu sekarang bisa di akses. Apa solusi ku waktu itu berhasil syukurlah jika itu benar.
Kereta terhenti, Galen dan Pengeran pun turun, mungkin sudah sampai tapi kenyataan itu tidak benar, kereta kuda saat ini tidak bisa melewati jalan kecil yg ada di depan, terpaksa kita harus jalan kaki dari sini.
"Butuh waktu berapa lama sampai disana?" Kataku sambil membawa tas yg berisi pakaian.
"Mungkin setengah menit" ucap Galen sambil memegang kepala ku lembut.
"Baiklah! Semangat!" Kataku sambil berjalan dengan penuh percaya diri, seumur hidup aku tidak pernah pergi sejauh ini apa lagi sampai masuk kedalam hutan.
Awalnya aku senang berjalan-jalan tapi makin lama kenapa jalan yg saat ini ku lihat, sangat panjang dan mencekam. Aku berbalik melihat kearah belakang menatap kedua pria yg sedang berbicara dengan santai.
"Katamu setengah menit?! Ini sudah lewat! Bahkan ini sudah satu jam!" Ucapku sambil menatap Galen tidak senang.
"Hahahaha maaf, aku bicara seperti itu agar kau tidak putus harapan untuk berjalan kaki" sekali lagi, aku ingin memukulnya tapi itu tertahan karena Pangeran bersamanya saat ini.
'Awas saja kau!!'
"Oh ia... satu hal lagi di sana banyak sekali perem--"
"Tidak! Aku tidak mau dengar perkataan bohong mu itu!" Teriak ku.
...ππππ...
Aku sampai terlebih dahulu di banding mereka, ternyata rumah Tuan itu cukup besar juga, dia tinggal sendirian dengan rumah sebesar ini?
"Hahaha mungkin seperti itu, di tambahΒ tempramen kakek itu buruk" ucapku sambil menggelengkan kepala, tiba-tiba dari arah depan seseorang berteriak dia datang kearahku dan menginjak kakiku.
"Aw!! Siapa... eh... wanita? Apa Tuan itu sudah jadi wanita?" Gumam Ku melihat kearah gadis tersebut dengan tidak percaya.
"Kau?! Melecehkan kakekku!! Mau ku pukul lagi?! Di tambah aku mendengar kau mengatakan hal buruk tentangnya?!!" Teriak wanita yg lebih muda itu padaku. Dia lalu menarik rambut ku kasar
'Ahk!!! tunggu! Apa yg terjadi?!!'