
Agnasia menautkan kedua alis, perasaannya merasakan ada hal buruk yg terjadi. Tiba-tiba dari arah belakang seseorang menyentuh bahunya, seketika wanita itu sangat terkejut dengan sentuhan itu.
Ternyata sebenarnya Galen sedang ada di belakangnya, ingin memanggil Agnasia untuk kembali lagi karena kembang api akan di luncurkan.
Sempat Agnasia terlihat ragu-ragu untuk ikut bersama dengan Galen, dia lalu menarik pria itu dan menutup pintu teras dari luar.
"Galen, ada sesuatu yg tidak beres" bisik Agnasia, yg membuat Galen menaikan sebelah alisnya penasaran.
"Ada apa? Kau tidak kenapa-napa kan?"
"Ia aku baik-baik saja! Tapi lihat ini"
Agnasia mengangkat sebatang kayu tadi, menunjukannya pada Galen teman bincangnya saat ini. Dengan cepat Galen mengambil benda yg di pegang Agnasia dan melihatnya dengan telitih.
"Aku pernah melihat tanda ini di buku. dari mana kau dapatkan ini?!"
Sekarang rautnya berubah menjadi serius saat menatap Agnasia.
Dia lalu menceritakan kejadian sebelumnya kepada Galen, pria itu nampak berfikir keras.
"Apa ini ada hubungannya dengan ibu mu? Atau hal yg berbeda" tanya Galen.
"Salah satunya itu, dan alasan yg lain karena..."
Tiba-tiba seseorang membuka pintu teras dan itu membuat keduanya terkejut secara bersamaan.
"Kenapa kalian disini? Sebentar lagi kembang api akan di mulai" ujar Deondre.
"Ah ia kakak, kami akan menyusul, kau duluan saja."
Ucap Agnasia sembari tersenyum kaku. Pria itu mengangguk dan langsung pergi dari sana.
"Ada apa?! Kenapa kau tidak bilang saja?" Tanya Galen.
"Nanti saja, sekarang katakan apa arti tanda itu?"
Agnasia balik bertanya pada pria yg sedari tadi bersama-sama dengannya.
"Ini adalah tanda minta tolong, dan dari kekaisaran Sebasta." Ujar Galen.
Sekarang semua jelas, pasti sesuatu yg buruk sudah terjadi di sana, Agnasia dengan cepat menarik Galen untuk menyusul yg lainnya.
Sementara di tempat Dellion, para bangsawan sudah menghitung mundur waktu pemasangan kembang api. Namun Dellion masih saja melihat sekeliling mencari keberadaan Agnasia serta Galen yg belum muncul juga.
Tepat di hitungan terakhir, pintu buka dengan kasar, membuat orang-orang terfokus pada suara tersebut. Ternyata itu adalah Agnasia yg datang dengan terburu-buru menghadap Kaisar serta lainnya.
"Maaf Yang Mulia, tapi sepertinya ada sesuatu yg tidak beres."
Ucap Agnasia yg membuat Kaisar Theo bingung.
"Apa maksud mu putri?" Tanyanya.
Saat hendak menjelaskan, tiba-tiba kembang api di luncurkan, sontak semua berteriak terkagum-kagum, pandangan mereka yg sebelumnya ada pada Agnasia kini teralihkan.
"Tidak! Yang Mulia kita harus pergi."
Seru Agnasia, Galen sempat memegang tangan wanita itu dan meminta penjelasan darinya lebih rincih.
Begitu mulutnya terbuka, suara tanda bahaya terdengar, membuat para bangsawan menjadi terheran-heran, dari kejauhan nampak mahkluk hitam yg besar muncul dari arah kota yg di tempati oleh keluarga Alddes.
Jumlahnya sangat banyak, tiba-tiba Marquess Christoffel datang dengan tergesa-gesa melaporkan bahwa ada penyerangan yg tidak bisa terdeteksi oleh kekuatan pelindung dan sudah banyak warga yg terluka karena itu.
Kaisar lalu memerintahkan untuk para bangsawan berkumpul dalam ruang kekaisaran, sementara Pangeran, Duke serta pemimpin lainnya di suruh untuk mengeluarkan para pasukan.
Mereka harus melindungi kekaisaran dan menyelamatkan warga.
...🌼🌼🌼🌼...
Carin kemudian membanting Arthur ke lantai dengan kasar. Itu membuat ayahnya berbalik melihat kebelakang.
Pria itu tersenyum padanya saat melihat buruan yg di bawah putrinya.
"Kau memang hebat sayang..." ujarnya membelai lembut rambut hitam Carin.
"Bagaimana, jika jadikan dia sebagai tumbal saja ayah?"
"Lakukanlah sesuka hatimu, tapi lebih baik kau menjadikannya sebagai alat saja. Agar bisa menahan tuan tikus, supaya tidak berbuat ceroboh"
Mendengar perkataan dari kaisar Nick, Carin tertawa. Dia kemudian menunduk memegang wajah Arthur kasar dan menatap pria itu tajam.
"Lihatlah... kau akan menuruti ku seperti hewan peliharaan... temannya tikus."
Bisik Carin di telinga Arthur, pria itu tidak bisa berbuat apapun karena kondisinya yg sangat buruk, dia hanya bisa menunjukan kebenciannya dari tatapan saja.
"Bagaimana penyerangannya ayah?" Tanya Carin setelahnya.
"Sudah, dan masuk dengan baik, monster sihir yg kita buat sungguh hebat. Setelah tugasmu selesai, berangkatlah bersama dengan pasukan kegelapan, karena pintunya sedikit lagi terbuka" ucap kaisar Nick.
"Baik ayah."
Carin lalu berpindah ruangan bersama dengan Arthur sebagai tawanannya, menuju tempat di mana kaisar Neacel di kurung. Setibanya mereka, Carin mengangkat tubuh Arthur keudara, menunjukannya pada pria yg sedang terkurung dalam penjara.
"Apa yg kau lakukan!! Lepaskan dia!!"
Teriak Neacel dengan penuh amarah, begitu melihat Arthur yg sekarat.
"Ohw... tenanglah... aku tidak akan membunuhnya, hanya saja, dia yg akan melindungi ku... dan Mati demi aku..."
Carin membulatkan matanya menatap Neacel, kemudian dia tersenyum bahagia.
"Setelah kematian rekanmu, kau pasti akan di berikan kehormatan untuk menyusulnya..." lanjutnya.
Kemudian wanita itu membacakan suatu bahasa yg aneh, seketika gumpalan asap hitam muncul dan masuk kedalam tubuh Arthur yg saat itu telah pingsan, detik kemudian pria itu berteriak dan jatuh kelantai.
Begitu matanya terbuka, Neacel terkejut. Arthur terlihat seperti seorang iblis. Seluruh matanya menghitam, kulit tubuhnya mulai muncul urat-urat keunguan.
"Kau!!"
"Apa? Jika kau macam-macam dengan ku... maka aku tidak akan segan-segan membunuhnya... jadi jadilah hewan yg penurut dan tunggulah kematian mu... Neacel"
Carin tertawa dan menghilang bersama dengan Arthur, meninggalkan Neacel yg begitu marah, tetapi dia tidak bisa melakukan apa-apa karena ruangan ini di pasang sihir yg kuat untuk dia keluar.
"Sial! Ini semua salah ku!"
Neacel berbalik meninju tembok penjara, darah pun mengalir dari sela-sela tangannya, membasahi tembok serta lantai yg ada.
...🌼🌼🌼🌼...
Dalam ruangan pesta, terdengar suara kekhawatiran para bangsawan satu sama lain, Agnasia hanya bisa bolak-balik di tempat karena Dellion melarangnya untuk keluar, sebab keadaan sedang tidak memungkinkan, dan akan membuat Agnasia dalam bahaya.
'Aku harus keluar dari sini!' Pikir Agnasia
Dia melihat sekeliling, di sana terdapat penjaga di masing-masing pintu untuk keluar, padahal dia memiliki kekuatan, kenapa malahan dia hanya diam disini.
"Ini tidak bisa di biarkan, jangan bilang pintu kegelapan akan di buka untuk kedua kalinya." Ujar Agnasia pada diri sendiri.
Dia mengepalkan tangan, sembari memikirkan cara agar bisa keluar dari ruangan ini.
Tiba-tiba dari arah samping seseorang muncul, membuat Agnasia terkejut sekaligus bahagia.
"Snow! Kau disini!" Dengan cepat wanita itu memeluk pria yg ada di hadapannya, lalu menariknya untuk berbincang di sudut ruangan.
"Baguslah, sekarang bantu aku untuk keluar dari sini segera--"
"Tidak Agnasia! Di luar bahaya, banyak sekali monster sihir yg kuat, aku kesini karena di suruh Galen serta Dellion untuk menjaga mu." Jelas Snow.
Agnasia terkejut mendengar kata-kata yg keluar dari mulut Snow. Dia tidak bisa menerima semuannya sekarang.
"Apa gunanya aku disini? sementara mereka sedang kesusahan di sana!" Bentak Agnasia.
"Aku tidak bisa membiarkan mu pergi. Karena akan membahayakan nyawa mu" Ujar Snow.
Kini Agnasia menatap Snow dengan tatapan memohon.
"Bantu aku Snow... di luar sana ada seseorang yg membutuhkan bantuan ku, dan aku... aku harus menyelamatkan dia... aku tidak ingin mereka berakhir seperti ibuku..."
Suara Agnasia perlahan menjadi begitu pilu, hal itu tidak bisa di tahan oleh Snow karena dia tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang berharga.
"Baiklah... ikuti aku." Ucapan Snow, membuat Agnasia tersenyum.