The Destiny Of A Princess

The Destiny Of A Princess
Bagian 22



Pangeran membuka matanya dengan cepat, nafasnya memburuh tidak tenang. Dia lalu mengambil gelas berisi air yg ada di atas meja samping tempat tidurnya dan meminum air itu sampai habis tidak tersisa.


Tidak sampai di situ, karena mimpi buruk itu, tubuhnya masih bergetar takut. Dia tidak bisa melihat jelas siapa yg tergantung itu, tapi yg dia tahu cincin di jari wanita itu sama persis dengan cincin yg dia simpan didalam laci meja beberapa saat hari yg lalu saat dia sembuh.


"Siapa wanita itu?" Ucap Pangeran gusar. Dia lalu bangun dan membuka tirai kamarnya berharap ini sudah pagi, tapi ternyata tidak, hari masih sangat gelap dan pagi masih sangat lama muncul.


Dia sedikit memukul tangannya kearah dinding kamar, sungguh saat ini dia sangat takut. Karena untuk pertama kalinya dia mendapati mimpi buruk seperti itu, biasanya mimpi buruk yg dia alami hanya melihat punggung ibunya yg pergi saat dia masih kecil, tapi sekarang berbeda.


"Kenapa saat aku melihat mimpi itu perasaanku menjadi hancur dan menyesal! Ada apa ini!"ย  Pangeran lalu keluar menuju tempat kerjanya.


Dia membuka laci meja dan mendapat cincin itu disana. Dia mengamatinya sangat teliti untuk membandingkan cincin itu sama atau berbeda dengan yg ada di mimpinya.


Ternyata cincin itu sangat mirip dengan miliknya, sekarang pertanyaannya, siapa yg memiliki cincin yg sama dengannya.


Dia lalu duduk di samping meja kerjanya dan teringat akan sosok Agnasia.


"Apa dia memiliki cincin yang sama juga dengan ku?" Gumam Pangeran sambil terus memutar cincin yg ada di tangannya.


...๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’...


Besoknya, saat pagi menyingsing Agnasia sudah berada dikamar Merry dan terus menatap Merry yg terbaring.


Saat matanya tertuju pada tangan Merry, ternyata ada pergerakan disana. Dia sangat senang lalu memegang tangan pelayannya itu dengan erat.


Mata Merry perlahan terbuka, dia melihat keberbagai arah dengan pelan. Saat Merry menatap Agnasia dia sedikit tersenyum


"Nona? Kenapa anda disini?" Ucap wanita itu dengan pelan pada Agnasia.


"Kau tahu, aku sangat merasa bersalah. Seharusnya aku tidak menyutujui kau pergi ke sana"


Matanya mulai memanas melihat Merry, dia tidak ingin kehilangan orang yg paling dia sayang untuk kedua kalinya.


Merry membalas genggaman Agnasia dan sedikit mengelus permukaan kulit majikannya dengan pelan.


"Kita tidak tahu apa yg terjadi, kenapa Nona menyalakan diri sendiri, saya tidak apa-apa..." Ucap Merry.


Agnasia lalu memanggil pelayan, membuatkan bubur untuk Merry. Beberapa saat berlalu pelayan mengantar apa yg di pesan oleh Agnasia.


Merry lalu duduk dan mengambil makanan yg ada di pangkuan Agnasia, tapi di larang karena Agnasia ingin menyuapi Merry saja.


"Nona, biarkan saya yg memakannya sendiri, Nona tidak perlu menyuapi saya." Jelas Merry dengan pelan padaku.


Agnasia menggeleng tidak terima dia langsung mengangkat sendok yg ada di dalam wadah dan meniupnya lalu menyuapi Merry.


"Ayo, buka mulut mu..."


"Tapi Nona ini..." Merry merasa tidak nyaman karena biasanya dia yg sering melayani Agnasia tapi sekarang berbeda.


"Merry? Kau sudah ku anggap sebagai saudari. Jadi jangan menolak dan cepat makan sebelum buburnya dingin."


Merry mengangguk dan membuka mulutnya menerima suapan demi suapan dari Agnasia. Setelah selesai, Agnasia menyuruh pelayan yg lainnya untuk merapikan semuannya.


"Nona, terima kasih banyak." Agnasia mengangguk lalu dia menatap Merry serius.


"Saya hanya mengingatnya samar-samar, waktu itu saya sedang membeli beberapa sayur dan daging. Saat saya akan kembali saya melihat Snow di sana, lantas saya ikuti dia, saat akan menangkapnya tiba-tiba ledakan yg begitu besar menghempas saya lalu dari situ saya tidak mengingat apa-apa"


Penjelasan dari Merry membuat Agnasia tercengang, padahal kemarin Agnasia melihat dengan mata kepalanya sendiri Merry datang dengan luka-luka yg ada ditubuhnya dan itu masih dalam keadaan sadar.


"Apa kau tidak ingat, soal kau yg datang kesini sendirian?" Tanya Agnasia pada Merry untuk menyakinkan dirinya. Merry mengeleng dengan pelan sambil menatap Agnasia


"Ingatan saya hanya sampai disitu saja Nona" Ucap Merry, Agnasia lalu menyuruh Merry untuk beristirahat agar tenaganya kembali pulih.


Dia lalu keluar dan ingin menjelaskan pada Tuan Duke apa yg Merry katakan padanya tadi saat mereka berbicara berdua.


...๐Ÿ’Kekaisaran Beryl๐Ÿ’...


Kekaisaran mereka saat ini tengah gusar, karena beberapa warga tergeletak tidak bernyawa di samping sungai, rumah, dan sumur desa.


Dalam ruangan rapat, Kaisar sangat terkejut dengan kejadian ini, dia mencari solusi apa yg terjadi sekarang. Pintu lalu terbuka nampak kepala kesatria masuk.


"Salam Yang Mulia Kaisar, Kami mendapatkan informasi dari beberapa warga, kata mereka ada yg aneh dengan sungai dan sumur di kekaisaran saat ini"


"Apa maksud mu? Memangnya apa yg mereka katakan?" Ucap Kaisar


"Menurut warga, sungai dan sumur yg ada beracun. Karena itu warga sekitar yg meminum air akan mati."


Raut wajah Kaisar berubah, dia sekarang tidak bisa menahan emosinya. Kaisar lalu memerintahkan memanggil prajurit yg berjaga di daerah sungai dan sumur.


Mereka pun datang dengan keadaan yg takut, karena tatapan dari Kaisar sungguh sangat tajam bagaikan pedang.


"Apa yg ku dengar ini?! Racun?!! Bagaimana bisa, kalian kan ada di sana?!!! Apa kalian tidak bisa melihat seseorang di sana?!!!" Teriak Kaisar, semua terdiam menunduk dengan takut.


Lalu seseorang mengangkat tangannya dan menatap perlahan-lahan mata Kaisar.


"Kau?!! Ada apa?!" Ucap Kaisar penuh dengan penekanan.


"Maaf sebelumnya Yang Mulia Kaisar, sebenarnya saat itu, saya melihat seseorang sedang berdiri di dekat sumur. Saya tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena dia menutupinya."


"Lalu?!! Kenapa kau tidak menangkapnya!!" Teriak kaisar.


"Am-pun... saat itu sa-ya sudah mengejarnya tapi saat sampai di tengah kota, dia menghilang." Kaisar lalu memukul meja dan bangkit berdiri menuju prajurit itu.


"Tangkap dia karena tidak becus melakukan pekerjaannya!" Ucap Kaisar, saat yg lainnya akan mengangkat prajurit itu, dia tiba-tiba mengatakan sesuatu yg bahkan Kaisar sendiri tidak percaya.


"Ampun Yang Mulia Kaisar. Jangan hukum hamba. Sebenarnya saat mengejar orang itu saya, melihat lambang Mawar putih ada pada jubah pria itu, Yang Mulia." Kaisar terdiam menatap prajurit yg tersungkur di kakinya.


"Kau tahu siapa yg kau tuduh?! Berani sekali mulut lancangmu itu!!" Kaisar lalu mengeluarkan pedangnya dan mengarahkannya pada leher prajurit itu.


"Hamba tidak berbohong Yang Mulia, jika hamba salah atau berbohong Yang Mulia bisa menghukum hamba."


Kaisar berfikir sebentar dia lalu mengembalikan pedangnya kedalam sarung dan menatap pemimpi kesatria yg berdiri di depannya di samping kanan.


"Tahan dia, lalu tutup semua gerbang yg ada. Aku yakin saat ini penjahat itu belum bisa kabur karena pemeriksaan yg kita adakan beberapa hari ini. Selidiki semua termasuk anak kecil. Jika mendapatkan hal yg mencurigakan segera tangkap dan seret mereka kesini." Ucap Kaisar lalu berbalik pergi menjauh.