
Terdengar derap langkah memenuhi ruangan, mungkin karena kuil sedikit sunyi derap langkah itu terdengar begitu keras.
Senyuman lebar terukir di bibirnya yg merah seperti buah delima, dia mencari sosok yg beberapa waktu lalu pergi mengambil sesuatu di dalam ruangan pribadinya.
Rambutnya yg panjang dan bergelombang di kuncir satu bergoyang-goyang mengikuti langkah kaki wanita itu.
Setelah sampai di tempat yg dia tujuh, sedikit tarikan nafas kemudian dia mengetuk pintu putih yg ada di hadapannya dengan penuh semangat.
Begitu pintu terbuka yg menampakkan seseorang pria dengan pakaian putih seperti orang-orang Yunani menatapnya dengan kedua bola mata yg membesarkan.
"Putri? Ada apa?" Tanya Diego.
Agnasia berdehem mengatur nafasnya perlahan-lahan, kemudian dia mengangkat tangan yg memegang Batu kekuatan, yg membuat pria dia hadapannya terdiam seketika.
"Bagaimana mungkin?!"
Gumam Diego dengan mulut yg berbentuk O sebagai ekspresi terkejutnya. Agnasia yg melihat reaksi Diego yg nampak berbeda membuat dia memiringkan kepala bertanya.
"Anda tidak senang? Saya bisa mengeluarkan Batu kekuatan!"
Tanpa menjawab Diego dengan cepat mengambil Batu itu dan memerhatikan Batu itu seperti seorang yg begitu penasaran.
Dia tidak henti-hentinya mengelengkan kepala semua kata-kata yg ada di dalam pikirnya terhenti, padahal baru beberapa menit yg lalu dia meninggalkan Agnasia untuk pergi mengambil buku dalam ruangannya, dan tiba-tiba saja Agnasia datang membawa Batu kekuatan.
Padahal latihan tadi tidak menunjukan efek apa-apa dan sekarang! Mujizat apa yg terjadi?!
"Diego? Anda menggigit Batu kekuatan ku..."
Agnasia dengan ekspresi wajah tidak nyaman menunjuk Batu kekuatan itu, Diego dengan cepat membersihkannya dan memberikan pada Agnasia.
Dia menarik wanita itu untuk masuk kedalam dan menutup pintu ruangan, kemudian mempersilakan Agnasia untuk duduk terlebih dahulu.
"Ada banyak pertanyaan dalam kepala ku tapi satu saja sudah cukup untuk menanyakannya"
"Ia apa?"
"Bagaimana caranya Batu itu bisa muncul"
Agnasia menggaruk tengkuk lehernya yg tidak gatal, sambil membuang pandang dan menjawabnya.
"Dengan cara menangis"
"M-menangis?!"
Agnasia memganguk dia menceritakan saat ketika dia bangun dan setitik air matanya jatuh lalu berubah menjadi batu kekuatan.
Diego nampak tidak begitu percaya, tapi Agnasia terus meyakinkan dia sampai pria tersebut menerima semua yg dia ceritakan.
"Baiklah, mulai besok kita akan uji coba kekuatan putri"
"Tunggu.. kenapa tidak sekarang?!"
Diego menujuk kearah jendela menampilkan warna langit yg sudah berubah menjadi jingga, sepertinya karena sangat bersemangat dia tidak melihat perubahan langit sekarang.
Dengan berat hati Agnasia mengangguk menyutujui perkataan dari pendeta Diego, dia pun bangkit berdiri mengucapkan salam dan pergi
"Putri? Simpan batu kekuatan itu dengan baik" Ucap Diego tiba-tiba.
"Baiklah akan saya ingat"
Lepas itu keduanya berpisah karena waktu sudah sangat sore, sudah saatnya Agnasia untuk kembali pulang ke kediamannya.
Sejak dari kuil Agnasia terus melihat batu kekuatan yg ada dalam genggamannya sedang senyuman bahagia.
Dia sudah tidak sabar menguji kekuatan yg dia dapatkan sekarang.
...🌼🌼🌼🌼...
Dalam ruang yg begitu senyap, Carin membuat suatu lingkaran yg memancarkan cahaya keunguan yg begitu kelam, berikutnya dia mengucapkan beberapa kata dalam bahasa aneh.
Perlahan cahaya tersebut redup, Carin menyunggingkan senyumannya. Sihir yg dia letakan akan semakin kuat kedepannya untuk menyerang fisik Agnasia dan pasti akan mempermudah rencana kedepannya.
Agnasia yg sekarang cukup mempersulit dia dalam semua rencana.
Carin mengepalkan tangannya erat, semua harus hancur tidak terkecuali meskipun dia harus menukar jiwanya pada iblis pun, akan dia lakukan.
"Kedepannya aku tidak boleh lengah seperti waktu itu..."
Dia mengingat kembali kejadian di mana Dellion mengulang waktu sampai dia harus terseret kedalam lingkaran sihir itu, padahal tinggal mendapatkan batu kekuatan dan mereka akan menjadi tidak terkalahkan.
"Pintu kegelapan harus di buka segera, sebelum penyegel pintu tersebut lahir kembali" Ucap Carin.
...🌼🌼🌼🌼...
Tapi semua itu lenyap saat ternyata orang yg dia cari tidak ada di tempat, karena kejadian kebakaran itu mereka begitu sibuk mengurus para masyarakat sampai sekarang.
Dia pun pergi kearah kamar untuk membersihkan diri terlebih dahulu, tubuhnya saat ini terasa begitu lengket karena banyaknya aktifitas yg dia lakukan seharian.
Setelah selesai Agnasia memilih gaun yg nyaman, dia mendekat kearah meja rias mengambil batu kekuatan yg dia simpan di dalam laci meja.
Dia menatap lekat Batu kekuatan itu dengan kedua matanya yg berwarna hitam pekat seperti mutiara hitam.
Kemudian dia mendekapnya dalam pelukan.
'Sesak'
Agnasia terkejut karena mendengar suara yg begitu dekat dengannya, dia bahkan melihat sekeliling kamarnya memeriksa jika ada orang selain dia di sini.
"Sepertinya Hanya halusinasi ku saja"
'Apanya yg halusinasi?'
Detik berikutnya Agnasia melempar Batu kekuatan itu dan bersembunyi di balik tirai kamar sambil sesedikit mengintip
'Hei! Ini sakit sekali!'
Dugaannya benar suara itu berasal dari Batu kekuatan, Agnasia kembali memberanikan diri untuk mendekat dan mengambil kembali Batu itu.
"K-kau bisa bicara?"
'Tentu saja... jangan-jangan kau sudah melupakan ku begitu cepat?'
"Ah tidak, Hanya saja aku terkejut kau tiba-tiba bicara"
Agnasia tertawa canggung, untuk pertama kalinya dia berbicara dengan benda mati seperti orang gila.
"Apa kau tidak bisa berubah wujud menjadi seperti semula?"
'Untuk itu tidak bisa, kau hanya dapat melihat wujud manusia ku di alam pikiran bukan nyata'
"Begitu? Artinya kau bisa terus berbicara dengan ku?"
'tidak selalu, hanya seperlu ku saja'
Agnasia mengangguk lalu pergi kearah teras kamar sambil berbincang ringan dengan Batu kekuatan.
"Oh ia, siapa nama mu? Aku suka lupa menanyakannya"
'Namaku belum di buat oleh mu kan'
"Kenapa harus aku?!"
'Karena kau sekarang tuanku'
Mendengarnya Agnasia menatap langit yg hampir malam itu sambil memikirkan nama yg bagus untuk batu kekuatan.
"Hmm bagaimana dengan Tears? Kau kan muncul dari air mataku"
'Lumayan, kalau begitu aku istirahat dulu sampai nanti'
"Eh.."
Keheningan pun terjadi Agnasia mengeleng pasrah.
Setelahnya dia kembali kedalam, menunggu yg lainnya pulang, namun sepertinya akan memakan waktu yg lama bahkan kepala pelayan menyuruh ku untuk tidur lebih dahulu karena ayah akan pulang sedikit larut.
Ku ikuti perintahnya dan masuk untuk beristirahat.
...🌼🌼🌼🌼...
Besoknya aku bangun dengan tubuh yg lemas lagi, seperti memikul beban yg berat setiap membuka mata.
Kali ini ada surat yg datang padaku pagi sekali, bahkan Merry terkejut siapa orang yg pagi-pagi buta ingin berbicara dengan ku.
Amplop itu terlihat begitu sederhana membuat rasa curigaku muncul.
Begitu membukanya, tidak ada nama pengirim dan lebih anehnya hanya beberapa kata saja yg di tulis.
"Apa-apa lolucon ini?"