The Destiny Of A Princess

The Destiny Of A Princess
Bagian 66 - pertengkaran



Aku mendekat kearah gadis itu, bertanya apa yg harus di tolong. Dia menunjuk seorang pria yg berlari di depan dan sedang di kejar oleh kelompok kesatria penjaga dari Addles. Ternyata pria itu mengambil tas berharga milik gadis ini


Dari arah samping datang Neacel dengan anak-anak tadi. Aku menjelaskan pada gadis itu bahwa semua akan baik-baik saja.


namun belum sempat berbicara lagi terdengar keributan di depan, pria itu mencuri kereta kuda yg terparkir dengan menghajar Sang kusir untuk segera turun dari tempat mengemudi


Dia segera menjalankan kereta kudaΒ  dengan begitu cepat.


"Hei bukankah itu Michael!"


Teriak seorang anak kecil yg bersama kami. Melihat arah yg dia tujuh, aku begitu terkejut dan reflek berlari kearah anak tersebut .


Kereta kuda yg di bawah pencuri itu, sedang mengarah pada anak ygΒ  sedang bermain mobil-mobilan miliknya di atas jalan setapak.


"Agnasia!!"


Neacel berteriak memanggil namaku, begitu mendengar teriakan dari Neacel. Dari arah yg tidak terlalu jauh, seseorang mendengar teriakan itu langsung mendekat.


Aku berlari secepat mungkin dengan sedikit mengangkat keatas gaunku dengan kedua tangan.


Begitu sampai aku langsung memeluknya begitu erat,Β  kereta kuda akan segera menabrak kami karena itu aku tidak dapat mengelaknya.


Aku menutup mataku erat di ikuti suara benturan yg cukup keras menyambar sesuatu di sampingku, aku tidak merasakan apapun sekarang.


Ketika membuka kedua mata, kereta kuda tadi yg akan menabrak kami hancur sedangkan pencuri itu terhempas cukup jauh dan pingsan di tempat.


Orang-orang berkerumunan membantu kami untuk bangkit berdiri, teman-teman dari anak yg ku peluk juga datang mendekat bersama Neacel dan Deondre.


'Kenapa dia kesini!'


"Agnasia kau baik-baik saja?!"


Neacel mendekat padaku dengan wajah yg khawatir, aku mengangguk sambil memberikan peringatan jangan menyebut namaku sembarang, tapi Deondre sudah mendekat dan melihat ku.


"Nama nona Agnasia?" Tanyanya padaku.


"Ah, be-benar Kenapa?"


Jawabku sedikit kikuk, dan terus berharap agar dia tidak mengenali ku dengan mudah.


"Maaf saya pikir nona adik perempuan saya, nama nona mirip dengannya.."


"Hahah begitukah..."


Aku tertawa canggung melihat Deondre, ingin sekali aku berkata ini aku kakak! Tapi bukan waktu yg tepat.


"Melihat nona dan tuan, sepertinya bukan dari tempat ini dan juga sihir yg saya lihat, nona seorang penyihir?"


Deondre melihat ku dengan serius, aku mengangguk sebagai tanda jawabannya walaupun itu bohong. Kemudian anak-anak tadi mendekat dan berterima kasih padaku, lalu pergi ke arah taman bermain yg cukup dekat dengan tempat kami berdiri.


Orang-orang juga saling berbisik mengatakan bahwa aku hebat, pencuri tadi juga sudah di tangkap karena tidak sadarkan diri.


Kami segera berpamitan dari sana sebelum ada seseorang yg curiga dengan ku. Deondre juga tidak menahannya dan malah memberi jalan untuk kami.


...πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’...


Aku bernafas lega ketika sudah berada di dalam kereta kuda. Tadi sungguh tidak terpikirkan akan ada kejadian seperti itu, kaisar Neacel juga berpamitan untuk kembali, melihat ekspresi wajahnya dia cukup terkejut juga.


'Untuk pertama kalinya aku melihat ekspresi terkejut dari seseorang yg tidak peduli akan sesuatu itu'


Aku melepaskan rambut palsuku dan menyimpannya di dalam tas yg ada di dalam kereta. Aku lalu melirik kearah pergelangan tangan ku, gelang yg di berikan Snow tidak ada mungkin menghilang karena hanya sekali pakai.


Tapi itu tidak terlalu penting, yg jadi masalahnya adalah pemilik kereta kuda yg hancur itu, kami melupakannya dan tidak mengganti rugi. Sungguh sihir yg luar biasa, pelindungnya bukan hanya melindungiku, tapi dia juga menghancurkan sesuatu yg akan melukaiku.


'Sebenarnya seberapa kuat Snow? Tapi katanya dia tidak begitu hebat, apa jangan-jangan dia berbohong?'


...πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’...


Sementara itu, di tempat kejadian Carin diamΒ  melihat sekitar dia begitu yakin kekuatan sihir tadi adalah milik Pitter. Tapi yg anehnya sihir itu segera lenyap tidak meninggalkan jejak.


Lalu seorang wanita yg mengeluarkan sihir ciri khas dari Pitter begitu mencurigakan, apa mungkin dia sedang bersama-sama wanita itu? Tapi jejaknya hilang karena begitu banyak orang tadi.


Ucap Carin sambil berbalik menghilang dalam kerumunan orang-orang.


...πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’...


Setelah tiba di kediaman Alddes, aku langsung masuk kedalam kamar tanpa sepatah katapun.


Hari yg melelahkan, padahal dia masih ingin berbicara dengan kaisar Neacel tapi karena kejadian tadi semua gagal. Agnasia juga tidak dapat memungkiri hal itu, kakinya reflek bergerak menolong anak yg bernama Michael.


Brak!


Dari arah jendela seseorang muncul secara tiba-tiba membuat jantung ku hampir melompat keluar dari tempatnya.


Dia mendekat dan segera bertanya secara langsung padaku.


"Tunggu... bagaimana kau tahu ada hal buruk yg terjadi?"


"Itu adalah sihir milik ku tentu saja ketika dia meledak aku bisa merasakannya"


Jelas Snow, aku pun menjelaskan padanya kejadian tadi agar lelaki di hadapan ku ini tidak khawatir.


Setelah penjelasan itu dia hanya diam menatap ku tanpa berkedip sedikit pun, aku menjadi canggung karenanya.


Aku lalu berbalik sambil sedikit tersenyum singkat tapi dia langsung menarik tangan ku hingga tubuh ku juga reflek menghadap padanya.


"Sebenarnya kenapa sampai kau keluar tidak berkata apapun tentang orang yg kau temui?!"


Suaranya sedikit berubah seperti sedang marah.


"Bukan orang penting" balas ku.


"Sampai harus menyamar?!"


Aku bungkam, kemudian menunjukan sedikit senyuman samping. Aneh sekali pria di hadapan ku ini, keingintahuannya begitu besar.


"Berhenti bertanya dan lepaskan aku"


Aku sedikit meronta agar dia melepaskan tanganku segera, tapi Snow malah makin mempererat genggamannya padaku.


"Jawab saja siapa dia?"


Sungguh sekarang aku jadi kesal padanya yg beberapa hari ini sedikit aneh. Memangnya apa pentingnya itu sampai dia seperti ini padaku!


"Bukan urusan mu Snow!"


Suara ku menjadi sedikit meninggi karena pergelangan tanganku juga makin sakit dan berdenyut.


"Lepas!"


"Tapi itu berhubungan dengan ku!" Teriaknya.


Setelah teriak itu semua jadi hening, samar-samar hanya terdengar suara Angin dan dedaunan yg jatuh dari arah jendela, sampai aku mengangkat suara kembali.


"Lepas ini sakit!"


Kataku sembari menghempas kasar tangannya yg memegang ku, Snow juga sedikit terdorong kebelakang.Β 


Aku meringis kesakitan sambil memegang tangan kanan ku, kutatap dia tajam, perbuatannya kali ini sungguh kelewatan, Pergelangan tangan ku bahkan menjadi merah dan ada juga bekas genggaman tangannya padaku.


"Ada apa denganmu! Ini urusan ku dan kau tidak berhak sedikit pun! Kau tahu aku sudah sangat terusik dengan tingkah aneh mu!"


"Bukan seperti itu Agnasia aku--"


"Kau bukan siapa-siapa! Jaga batasanmu" bentak ku.


Snow tidak berekspresi apapun dia jadi diam dan langsung menghilang tiba-tiba dari hadapan ku.


Aku terduduk lemas di atas tempat tidur sambil memegang tangan ku yg sakit.


'Aku sudah kelewatan'