The Destiny Of A Princess

The Destiny Of A Princess
Bagian 32



Setelah Pangeran selesai melihat sekitar penginapan dia lalu berbalik masuk untuk istirahat.


Di sana dia berpapasan dengan Galen yg baru saja turun.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Pangeran.


"Dia baik-baik saja Pangeran, besok mungkin dia sudah sadar" jelas Galen, Pangeran mengangguk lalu pergi menuju kamarnya.


...💐💐💐💐...


Setelah Dellion sudah selesai membersihkan dirinya, dia pergi dan membaringkan diri beristirahat. Rasa letih saat ini menjalar di sekujur tubuhnya.


Perlahan-lahan Dellion terlelap dan masuk kedalam dunia mimpinya yg aneh untuk kedua kalinya.


'Mimpi aneh ini, Sekarang aku dimana?' Dellion melihat sekitar, ini adalah taman Kekaisaran, lalu tiba-tiba dari arah depan datang seorang wanita dengan senyuman yg begitu manis melihatnya.


Rambutnya yg pajang sepinggang dengan bola mata merah mudah yg cantik dan elok sedang menatapnya dengan hangat.


'Siapa wanita ini?'


Tapi pandangannya teralihkan pada seorang wanita yg sedang bersembunyi di balik pohon melihat kearah tampatnya berdiri bersama dengan wanita yg tidak dikenalinya.


Rambut coklat dan mata hitam yg dia kenal itu... 'bukanya itu Putri Agnasia? Kenapa dia berdiri di sana? Di tambah lagi tatapan yg dia tunjukkan saat melihat ku terasa sangat pedih'


Langkah ku mendekat kearahnya, tapi tiba-tiba tanganku di tahan oleh wanita yg berada di di depan ku saat ini.


"Kamu tidak boleh kesana... biarkan saja dia..." Ucap wanita itu padaku. Saat berbalik melihat Agnasia ternyata dia sudah pergi menjauh.


'Tunggu!'


Tiba-tiba tempat yg tadinya di taman sekarang berganti. Aku sekarang duduk di antara Kaisar dan wanita bernetra merah muda tadi.


Keadaan saat ini ricuh banyak suara-suara rakyat yg berbicara dan ada yg berteriak. Pandangan ku tertuju pada wanita yg ada di tengah-tengah tempat eksekusi.


Tubuhnya yg sudah sangat kurus, luka-luka yg masih membekas, tubuh yg kotor rambut yg tergurai rusak itu membuat perasaanku sakit saat melihat wanita itu. Di sampingnya berdiri seorang lelaki... apa itu Galen? Dan benar tebakan Pangeran.


'Mimpi ini mirip seperti saat itu, tetapi yg berbeda di sini hanya beberapa orang baru yg terlihat'


Perlahan-lahan wajah wanita itu melihat kearahku, ada setitik air mata yg jatuh di pipinya.


Deg!!


'Putri Agnasia?! Kenapa dia di sana! Tunggu apa dia wanita yg di gantung di mimpi pertamaku!!'


"Berhenti!!"


Saat aku berbicara suara ku tidak bisa keluar dan hanya bisa diam saja begitu juga dengan tubuhku yg tidak dapat di gerakan.


Aku hanya bisa Melihatnya saja tatapan matanya terlihat seperti telah kehilangan sesuatu yg berharga. Wanita itu lalu membuka mulutnya tapi suaranya tidak terdengar oleh ku.


Perlahan-lahan mulutku bergerak dengan sendirinya.


"Aku tidak akan menyesalinya" aku terkejut dengan apa yg ku katakan, wanita itu lalu di tarik oleh prajurit.


Deg!!


Para prajurit mengikatkan tali itu di lehernya dan menarik tubuh Agnasia keatas, dia meronta kesakitan, Dellion yg melihatnya tidak tahan tapi percuma dia juga tidak bisa bergerak.


"Berhenti! Apa yg terjadi!" Aku terus berbicara agar terdengar oleh mereka tapi itu tidak mendapatkan hasil malahan Agnasia sudah terdiam di sana.


"jangan... jangan Mati! Kenapa... mimpi ini tidak ada habis-habisnya!aku harus menolong Agnasia"


Keadaan lalu tiba-tiba berubah menjadi putih, di ujung jalan aku melihat Agnasia yg duduk sendirian sedang menatap 1 bunga dengan senyuman yg begitu indah.


Sekarang tubuh ku sudah bisa di gerakan, ku putuskan untuk mendekati wanita itu. Aku lalu berdiri di depannya.


Tapi anehnya setelah aku berhadapan dengannya sesuatu yg bening jatuh keatas bunga itu, Agnasia... dia menangis.


"Kenapa... kau berbuat seperti ini padaku... kenapa Dellion... aku sangat mencintaimu tapi kau meninggalkan ku...dan memilih dia" suaranya yg lemah dan hancur itu membuat hatiku sakit mendengarnya.


Ku putuskan untuk berbicara dan itu berhasil.


"Apa yg kau katakan? Sejak kapan? Aku tidak tahu sama sekali..."


Wanita itu lalu berdiri menatapku dengan tatapan yg sayu serta sembab, aku menyentuh wajahnya pelan.


"Jangan sentuh aku!" Teriaknya,sambil menghempaskan tanganku


"Kau penghianat! Pembohong besar! Aku tidak bisa melupakan rasa sakit serta penyesalan yg dalam yg tidak bisa terobati!" Bentaknya lalu pergi dari hadapan ku membuang bunga yg ada di tangannya.


Aku mengambil bunga itu dan akan menyusul nya tapi Angin kencang tiba-tiba bertiup Agnasia pun menghilang begitu saja. Aku lalu menatap bunga yg ada di tanganku


'Ini bunga anyelir putih?'


Tiba-tiba kepala ku sakit, setelahnya aku terbangun dengan keadaan menangis. Aku terkejut lalu menghapus air mataku dan duduk.


Ku usap wajahku dengan kasar, 'ada apa dengan mimpi itu aku tidak mengerti sama sekali tetapi rasa sakitnya begitu terasa seperti sudah pernah terjadi sebelumnya' itu yg terus di pikirkan Dellion, dan hanya sedikit saja yg bisa dia ingat dari mimpi itu, di tambah lagi wanita yg ada di sampingnya wajahnya tidak di ingatnya.


"Apa mungkin ada kaitannya dengan ku?" Ucap Dellion, dia lalu melihat kearah jendela keadaan masih malam, dia putuskan untuk mengunjungi Agnasia untuk memeriksa keadaannya.


...💐💐💐💐...


Dellion membuka pintu kamar Agnasia, dia melihat wanita itu tertidur dengan tenang di sana, perlahan-lahan dia mendekat dan duduk di atas tempat tidur samping kanan Agnasia yg cukup luas itu.


Dengan pelan Dellion menyentuh wajah Agnasia, ada sedikit pergerakan dari Agnasia dan itu membuat Dellion sedikit tersenyum.


"Jangan..." gumam Agnasia pelan, Dellion terkejut ternyata Agnasia bisa berbicara saat sedang tidur.


Mengingat perkataan Agnasia di kereta saat itu membuat dirinya berpikir keras.


"Kenapa kau sampai berbicara seperti itu? Padahal aku tidak akan melukai mu" ucap Dellion, dia lalu memegang kepala Agnasia dan mengambil beberapa helai rambut coklat milik Agnasia.


Sangat halus, perlahan dia mencium ujung rambut Agnasia yg ada di dalam genggaman tangannya, Aromah manis yg tercium sedikit membuat Dellion tenang.


'Kenapa aku tidak bisa membencinya? Padahal dia sudah menunjukan sifatnya yg tidak menyukai ku'


...💐💐💐💐...


Besok saat fajar menyingsing, Agnasia merasakan sesuatu yg berat di tubuhnya serta angin pelan yg menyentuh wajahnya.


Saat membuka mata, dia melihat wajah lelaki di depannya. Agnasia sedikit tidak percaya, dia berfikir itu hanya ilusi saja, dia lalu mengerjap matanya beberapa kali.


Detik berikutnya dia berteriak, Dellion pun terkejut dengan teriakan Agnasia, berikutnya tangan Agnasia mendarat memukul wajahnya, mendorongnya jatuh ke lantai.


"ME-MESUMM!!!" teriak Agnasia dia tidak berhenti sampai di situ, dia lalu mengambil sepatu yg ada di lantai dan melemparnya pada Dellion, berikutnya dia memukul Pangeran menggunakan bantal miliknya.


"Agnasia! Berhenti! Aw! Sakit!" Ucap Pangeran yg kewalahan.


"Tidak! Siapa kau??!!! Kenapa kau kenal aku!! Apa yg kau lakukan di sini haaa!! APA!! RASAKAN INI!!" Agnasia mengambil gelas yg berisi air lalu menyiram Pangeran.


Mendengar keributan yg ada di kamar Agnasia, Galen bersama kepala penginapan datang dengan terburu-buru. Mereka kaget melihat kamar yg berantakan serta Pangeran Dellion yg sudah tergeletak di lantai dengan keadaan yg kacau.


"Lion!!" Teriak Galen, mendengar hal itu Agnasia terkejut. Dan berbalik melihat dengan cepat kearah lelaki yg terbaring di lantai


'Tunggu.... le-le-laki itu Pangeran Dellion?!!! Habislah aku!!!'