The Destiny Of A Princess

The Destiny Of A Princess
Bagian 67 - ingatan



Menjelang malam aku turun makan bersama-sama dengan ayah dan kakak yg sudah menunggu.


Begitu masuk keduanya menyambut ku dengan gembira, aku pun mendekat dan duduk. Kami mulai makan bersama dan ada juga sedikit perbincangan ringan.


"Bagaimana dengan latihan mu?"


Ayah melirik ku karena penasaran mungkin saja ada perkembangan yg kudapatkan beberapa hari berjalan ini.


Namun aku hanya diam dan menunduk menatap makan yg ada di depan ku, melihat itu ayah tahu bahwa tidak ada perkembangan yg pasti soal kekuatan ku.


"Sudah Jangan berkecil hati, ayah yakin kau bisa."


Dia tersenyum memberi semangat padaku, perasaan yg ada pun menjadi hangat ternyata dukungan dari keluarga juga sangat penting di saat-saat sekarang.


"Berbicara soal kekuatan, tadi ada pendatang dari negara lain. Dia punya sihir, dan yg paling mengejutkan namanya mirip dengan mu"


Deondre memotong beberapa daging dan langsung memakannya sambil melirik ku dan ayah.


Aku menjadi begitu canggung, kenapa dia membahas itu di depan ku dan ayah. Haruskah aku menganti topik!


"Benarkah? Bagaimana ciri-cirinya?"


"Hmm bentuk tubuhnya sangat mirip dengan Agnasia, tapi rambutnya berwarna putih"


Makan yg baru saja aku masukan kedalam mulut, ku telan begitu saja sampai-sampai aku tersedak dan langsung mencari air seperti orang yg kehausan.


"Ada apa dengan mu? Kau baik-baik saja?" Tanya Deondre khawatir.


"I-ia.. hanya salah telan saja... hmm ayah bagaimana perkembangan kekaisaran saat ini?"


Kataku mengganti topik, Jangan sampai Deondre berbicara soal perempuan pendatang yg adalah aku sendiri.


Ayah mulai menceritakan beberapa tugas serta pergantian posisi untuk menjaga kekaisaran, juga ada beberapa latihan prajurit yg di perketat.


Sampai waktu pun terus berputar, setelah selesai makan bersama aku pamit untuk kembali beristirahat.


Di tengah perjalanan, aku teringat kembali bahwa Snow sedari tadi belum muncul di hadapan ku. Apa mungkin dia marah padaku?


'Kita lihat saja besok... Ku harap dia cepat kembali'


...💐💐💐💐...


aku terus saja kepikiran, mungkin aku sudah terlalu kasar saat membentaknya.


Akibat pertengkaran itu, aku sudah tidak melihat Snow lagi. Biasanya setiap sore atau menjelang malam dia akan muncul, namun sekarang tidak.


Tiba-tiba seseorang menyentuh tanganku pelan, segera aku keluar dari lamunanku yg entah lama atau tidak. Melihat Dellion yg kini menatap ku dengan ekspresi bingung, aku mengatur nafasku pelan dan menarik tangan ku perlahan darinya.


"Apa kau tidak suka acara hari ini?"


"Uh, bukan saya sangat senang terima kasih"


Mana mungkin aku tidak senang acara minum teh yg di adakan pangeran untukku, di tambah taman yg dia hias sendiri ini cukup membuatku tersentuh dengan tindakan yg dia lakukan.


Dellion sekarang sudah menjadi sedikit lebih lembut dan perhatian dari biasanya, dia bahkan sering menyediakan hadia-hadia yg tidak aku duga sebelumnya.


Apa mungkin ini efek dari obat yg dia minum? Aku juga penasaran jangan-jangan dia sudah mengingat ku. Walaupun kenyataan yg sebenarnya tentang dia melupakan ingatan kehidupan lama sungguh membuat ku sedih.


Dellion mungkin menyesalinya sampai dia harus berkorban seperti itu, tapi semuannya percuma jika dia tidak mengingat untuk apa dia kembali kesini.


"Apa yg kau pikirkan? Beberapa hari ini kau tidak seperti biasanya"


Dellion menatap lembut kearah ku, aku hanya membalasnya dengan sedikit mengelengkan kepala pertanda tidak ada hal yg penting.


"Agnasia... kau adalah tunangan ku, dan aku sangat tahu jika kau dalam kesulitan. Biarkan aku mengambil sedikit beban itu"


Mendengarnya berbicara seperti itu, aku pun mulai melunak dan menceritakan semua pada Dellion. Pria itu mendengarkan cerita ku dengan saksama, sampai setelah aku selesai berbicara dia lalu berkomentar.


"Benar, setiap kali saya mengunjungi satu tempat dia selalu mengikuti ku"


"Hmm.. sudah kukatakan dia aneh, tapi kau membawanya begitu saja. Bisa jadi dia adalah anak buah penjahat" ucap Dellion.


"Tapi dia baik pangeran..."


Dellion menghembuskan nafas kasarnya kemudian memegang tangan ku.


Hembusan angin di taman bunga begitu sejuk, di tambah aromah dari uap teh yg mengepul-ngepul sangat enak saat masuk kedalam penciuman, tangan Dellion juga hangat seperti menyalurkan energi padaku.


"Sepertinya ada sesuatu yg dia sembunyikan, tunggu saja sampai dia kembali. Aku sangat yakin dia akan menemui mu"


Senyuman pun terukir di wajahku, aku mengangguk menyetujuinya mungkinkah aku harus bersyukur karena perubahan Dellion ini?


"Jadi apa pangeran sudah mengingat saya?"


"Tentu saja, berkat ramuan yg di racik putri Carin ingatan-ingatan kecil tentang mu muncul ketika aku tertidur"


Dellion mengambil cangkir teh dan meminumnya secara perlahan.


"Saya sangat senang mendengarnya, jadi apa yg anda ingat?"


Dia pun mulai menceritakan ingatannya yg baru saja kembali, namun itu semua aib ku yg memalukan! Lebih baik aku tidak menanyakannya.


Kenapa ingatan yg dia ingat hanya hal yg membuatku malu saja.


"Ah ia, saat pesta di kekaisaran kau bersikeras ingin minum anggur merah. Tapi hanya seteguk saja kau langsung memuntahkannya di pakaian ku"


Dengan cepat aku mencondongkan badan kedepan dan menutup mulut Dellion dengan kedua tangan ku.


Perasaan ku kali ini sangat tidak enak, mungkin kulit wajah ku berubah warna mengikuti warna teh yg ku minum sangking malunya.


"To-tolong berhenti... tidak adakah ingatan yg indah? Itu begitu buruk untuk di kenang"


Dia pun melepaskan tangan ku dari wajahnya.


"Apa kau malu?"


"Tentu saja! Serasa ingin menghilang"


Mendengar ucapan ku, dia malah tertawa aku semakin tidak tenang sekarang. Apa perkataan ku salah?


Tiba-tiba Dellion bangkit berdiri, dia mendekat dan berlutut di hadapan ku.


"Baiklah.. bagaimana jika sekarang aku membuat kenangan indah yg kau minta"


Dia mengambil dan mengenggam tanganku, kemudian perlahan dia menciumnya dengan lembut, nafasnya yg mengenai sarung tangan putih yg ku pakai masuk menyentuh kulit tangan ku.


Hanya keheningan yg ku dengar, aku tidak begitu tahu apa yg ku lakukan selanjutnya atau ekspresi apa yg ku tunjukkan.


Saat itu yg terdengar jelas hanyalah jantung ku yg berdetak cepat ketika menatap Dellion.


...💐💐💐💐...


Dari jauh, Carin menatap kedua orang yg sedang terhanyut dalam cinta mereka satu sama lain. Dia berbalik dengan cepat, kedua tangannya mengepal erat.


Bisa-bisanya rencananya malah tidak berhasil dan membuat mereka semakin dekat saja. Ini semua karena waktu itu dia salah bicara dan membuat janji pada Agnasia


Sekarang malahan dia yg kesulitan untuk menjebak mereka berdua.


Jika dipikir-pikir dia tidak butuh mengikuti alur masa lalu, karena sudah seperti ini.


"Baiklah, akan ku buat cerita yg berbeda"


Carin menyunggingkan senyumannya yg begitu jahat, targetnya selanjutnya bukan mereka, waktunya dia mengganti pionnya yg sudah dia sediakan.