
Mengetahui bahwa Neacel tidak ada di sana, keduanya pun langsung pergi menuju ke tempat yg di katakan pelayan tadi, namun untuk lebih berhati-hati, Agnasia menyuruh Snow untuk langsung berpindah kedalam kekaisaran saja.
Tetapi pria itu sepertinya tidak bisa melakukannya, fakta sebenarnya, kekaisaran Ango di penuhi oleh kekuatan sihir yg cukup kuat untuk di tembus, kata Snow.
"Jadi, bagaimana kita bisa masuk!"
Agnasia mulai kehilangan fokus karena mendengar perkataan dari Snow.
"Jangan khawatir, meskipun begitu, aku tahu satu jalan agar bisa masuk dengan aman."
Dia kemudian menggenggam tangan Agnasia dan menghilang dari tempat mereka berdiri, lalu muncul tepat di belakang kekaisaran Ango.
Begitu Agnasia mengedarkan pandangannya, di sana tidak ada yg bagus untuk di lihat, semuanya nampak rusak, tanda kehidupan saja sedikit.
Tiba-tiba dari langit terlihat awan hitam bersama dengan roh kegelapan yg entah mereka akan kemana.
"Roh itu... jangan-jangan pintunya terbuka!" Ucapnya khawatir.
"Kita fokus saja pada tujuan Agnasia, ayo."
Snow kembali menarik Agnasia, dia kemudian menyentuh permukaan tembok dengan berharap tidak ada yg berubah dari sana. Tiba-tiba apa yg ia inginkan terwujud, tombol untuk masuk dan akan muncul dalam ruangan kaisar Nick masih ada.
Snow lalu menekan permukaan tembok tersebut, seketika tanah yg mereka pijak mulai bergetar, kemudian tampak tangga untuk turun kedalam.
Mereka pun tanpa berlama-lama masuk, pintu itu pun dengan sendirinya tertutup kembali seperti sebelumnya.
"Bagaimana kau bisa tahu?" Tanya Agnasia heran.
"Dulu aku kan tinggal di sini, dan itu adalah salah satu jalan masuk dari luar menuju ruangan pribadi kaisar Nick."
Jelas Snow sembari terus berjalan, beberapa menit berlalu, pemberhentian mereka pun tiba, Snow mendorong kotak persegi empat yg menjadi akses mereka keluar.
Begitu tiba di dalam ruangan, Agnasia langsung terbatuk-batuk mencium aroma yg menyengat.
"Apakah sihir ku kurang?"
Ucap Snow sembil membantu Agnasia melindungi penciumannya lagi, agar bernafas lega.
"Ini.. kenapa bisa terjadi?!" Ucap Agnasia.
"Pasti ada hubungannya dengan yg kau katakan."
Saat mereka sedang bercakap-cakap, tiba-tiba terdengar langkah kaki yg mendekat ke arah ruangan. Dengan cepat Snow menarik Agnasia untuk bersembunyi di bawah meja.
Begitu sosok itu masuk, Agnasia mulai terasa gemetar dan tidak enak. Ini sama halnya dengan kejadian sebelumnya di kekaisaran.
Dia menahan itu semua sambil terus mengatur nafasnya perlahan, Snow melihat Agnasia yg nampak tidak enak, segera langsung memegang tangan Agnasia erat.
Seketika nampak sebuah sepatu besi di depan mereka, jantung Agnasia terus bergulat dengan hebatnya. Untuk merendam rasa takut akan ketahuan, ia menutup mata dengan sedikit berpaling kearah Snow.
'Ku mohon, jangan menunduk' Tekannya dalam benak.
Sehabis itu, langkah kaki penjaga tersebut terdengar menjauhi mereka, setelahnya pergi dari dalam ruangan. Keduanya pun bernafas lega sembari keluar dari kolong meja tempat persembunyian mereka.
"Snow, Kali ini kita beruntung. Tapi bagaimana jika nanti? Pasti di luar lebih banyak penjaga, dan kita tidak bisa lolos dari mereka"
Lirik Agnasia dengan menautkan alisnya berfikir.
"Sebenarnya aku mempelajari sihir transparan. Tetapi, itu tidak bertahan lama. sekitar 5 menit bertahan."
Jelas Snow, Agnasia menjadi senang mendengarnya, karena itu tidak menjadi penghalang mereka untuk mencari Neacel.
Sebenarnya Agnasia mendapatkan ide yg cemerlang soal sihir Snow yg tidak bertahan lama itu.
"Begini saja, sebelum waktu habis, kita mencari tempat sembunyi lalu kemudian kau gunakan lagi sihir mu, bagaimana?"
Tanya Agnasia di akhir kalimat, sembari menatap pria itu menunggu jawaban yg akan dia pilih.
"Baiklah. Sekarang pegang tangan ku jangan sampai lepas agar sihirnya tidak hilang darimu."
Agnasia mengangguk sembari memberikan tangannya, sekitar dua menit Snow mengucap sihirnya, lalu keduanya keluar dari dalam ruangan mengelilingi tempat-tempat sekitar melanjutkan pencarian mereka.
...🌼🌼🌼🌼...
Begitu Carin tiba di tempat tujuan bersama dengan para roh kegelapan, tanpa berlama-lama ia langsung menuju ke arah kekaisaran Aegeus tempat dimana keturunan yg di berkati Dewa ada di sana.
Dalam perjalanan dia terus berfikir seharusnya ayahnya membuat akses masuk di dalam lingkup kerajaan, agar tidak kesulitan. Tetapi ternyata itu tidak bisa karena kekuatan suci di sana kuat.
Saat Carin tiba di sana, banyak sekali prajurit serta kesatria yg sedang membunuh monster sihir kiriman ayahnya.
Dia tersenyum tipis, sembari mengangkat tangan memerintah roh yg ia bawah untuk segera menyerang manusia-manusia tersebut dan mengambil nyawa mereka.
Seketika tentara roh yg begitu banyak, turun dan masuk kedalam tubuh semua kesatria dan prajurit yg ada di depannya tanpa terkecuali. Roh itu mengambil jiwa-jiwa mereka satu persatu.
Mendengar teriakan serta rintihan para kesatria, Dellion lekas berlari mendekat kearah depan, di lihatnya sekumpulan prajurit serta kesatria yg rebah di tanah, tubuh mereka perlahan-lahan berubah menjadi sangat kurus seperti mumi.
Tiba-tiba dari kejauhan terdengar seseorang yg memanggil namanya dengan keras.
"Dellion! Kita bertemu lagi... kekasih ku, oh tidak-tidak kau sudah menikah dengan ku waktu itu kan?"
Carin mendekat dengan baju perangnya, setiap pijakan yg ia injak mengeluarkan asap hitam yg mengeringkan tanah.
Dellion menggertakan giginya, menatap tajam kearah wanita yg tengah mendekat dengan rambut yg di putar menggunakan jari telunjuknya.
Dia merasa seperti pernah melihat adegan ini sebelumnya, itu sama dengan mimpi yg ia alami waktu itu.
'Wanita itu kenapa dia menyebut ku kekasih, lalu menikah? Apa dia gila!'
Tanpa basa-basi Dellion menebas pinjakan yg ada di hadapannya, seketika tanah tersebut mulai retak dan perlahan terbelah sampai pada tempat di mana Carin berada, menimbunnya sampai tidak kelihatan.
"Habis sudah--"
Tetapi setelahnya wanita itu langsung terbang keudara menembus debuh tanah yg menutupinya tadi. Dan turun di hadapan Dellion dengan cepat.
"Kau mau melukai istri mu di masa lalu Dellion?"
Ujar Carin sembari memajukan dirinya pada Dellion.
"Apa yg kau katakan! Siapa kau?!!"
Bentak Dellion. Carin pun melepas penutup wajahnya dan menunjukan pada Dellion sosoknya. Seketika pria itu begitu terkejut.
"Bukankah kau... Carin!!" Teriak Dellion.
"Nah benar, kau mengingat namaku dengan baik, sayang..."
Carin tersenyum bahagia menatap pria dihadapannya dengan raut yg sulit ia artikan.
"Kau gila!"
Dellion langsung mengangkat pedangnya menyerang Carin, goresan pun terukir di wajahnya dengan sedikit darah yg keluar di permukaan kulit meskipun ia sudah menghindari pedang Dellion.
Carin melihat kearah goresan dengan tatapan dingin, di usapnya darah dari wajahnya sambil tersenyum lagi dan lagi.
"Aku pernah mendapati luka yg sama, dan kau tahu... akhir dari orang yg membuat luka itu padaku?"
Carin menatap Dellion sambil menaikan sebelah alisnya bertanya, tetapi pria itu hanya diam menatap tajam Carin.
"Baiklah, diam mu itu menjadi jawaban kau penasaran."
Dia pun menepuk tangan sekali, sambil memanggil Arthur yg berada di belakang untuk mendekat padanya.
Terdengar langkah kaki yg berat mendekat kearah Carin, Dellion terkesiap saat sosok itu muncul. Keseluruhan matanya menghitam dengan warna kulit yg menjijikan.
"Bukankah itu kesatria pribadi Kaisar Sebasta!"
Ucap Dellion. Carin mengangguki jawaban pria itu.
"Lalu apa yg kau lakukan padanya, Carin!"
Geram Dellion, dengan cepat ia langsung menyerang. Carin pun menghilang dan muncul di samping Dellion tanpa hitungan detik.
Saat pria itu kehilangan fokus karena Carin yg muncul tak terduga, Dellion tidak melihat bahwa di depannya Arthur sedang mengangkat pedang ingin merobek tubuhnya.
...🌼🌼🌼🌼...
Sementara itu, Agnasia bersama Snow sedang bersembunyi di dalam lemari, beberapa saat yg lalu padahal rencana mereka berhasil. Tetapi karena Agnasia tidak sengaja melepas genggaman Snow, mereka jadi ketahuan.
"Maafkan aku Snow... Sekarang kita bagaimana? Apa kekuatan mu masih tersisa?!" Tanya Agnasia lelah, sehabis berlarian.
"Sebentar... aku akan menggunakan sihirnya lagi. Tenanglah."
Ujar Snow dan di angguki Agnasia. Tapi tiba-tiba pintu terbuka lebar, menampilkan penjaga yg mengejar mereka tadi, bersama dengan makhluk seperti hewan yg di bawahnya.
Agnasia terkesiap begitu melihat warna mata mahkluk aneh itu di sela-sela lemari.
"Apa itu Snow!" Bisiknya.
Begitu Snow melihat ke depan melalui celah lemari, matanya membesar seperti ia tidak percaya apa yg di lihatnya.
"Itu... tidak mungkin! monster pelacak!" Ucapnya.