
Agnasia termenung menatap balkon kamar, badai salju sudah datang beberapa saat lalu ketika ia sampai di kekaisaran dan membungkus semuanya seperti selimut putih.
Sesekali ia menghembuskan nafas kasar mengingat kenyataan yg baru ia ketahui beberapa hari lalu.
Ketika dia ingin melepas rindunya pada Snow karena sudah empat tahun pria itu tidak kelihatan, sekaligus ia akan memperkenalkan pangeran kecilnya Lucan pada Snow.
Bergegas Agnasia langsung pergi meminta izin Dellion untuk menemui Snow di kediaman Alddes.
Mendengar permohonanku, Dellion menyetujuinya dan akan mengantarkan ku langsung.
Sungguh aku terkejut, karena biasanya ketika berbicara soal Snow Dellion akan cemburu atau mengganti topik, tetapi kali ini tidak.
Kami berdua pun pergi bersama-sama, dan yg membuat aku bingung, Dellion mengantarku ke makam seseorang.
"Makam siapa ini Dellion?" Tanyaku penasaran.
"Bukankah kau ingin bertemu dengannya?" Jawabnya menatap ku.
Awalnya aku kaget dengan perbuatan yg di lakukan pria ini sambil terkekeh pelan.
"Jika tidak ingin mengantarku, bilang saja. Biarkan aku yg pergi menemuinya sendiri. Cemburu mu itu tidak hilang-hilang."
Ucap Agnasia pasrah sambil pergi meninggalkan Dellion yg masih diam seperti patung di tempatnya berdiri.
Begitu sampai di kekaisaran, aku memanggil Merry agar menemaniku ke kediaman Alddes untuk menemui Snow.
Tetapi wanita itu terlihat terkejut dengan apa yg ku katakan.
"Apa-apaan ekspresi mu itu? Kau sama saja dengan Dellion. Kau tahu tadi dia membawaku kemana? saat aku meminta bertemu Snow? Di kuburan belakang kekaisaran."
Kataku menggeleng tidak percaya sambil tertawa garing.
"bukankah anda ingin bertemu dengannya? Snow di sana Nona... "
mendengar perkataannya yg sama dengan Dellion beberapa saat lalu, aku terhenti dan menatapnya tajam.
"Lelucon apa ini?" Cetusku padanya.
Melihat aku yg tidak percaya, Merry kemudian menceritakan kisah lama yg tidak aku ketahui, tentang Snow.
Jantung ku berdetak begitu cepat, tubuhku gemetaran, tanpa di sangka-sangka air mata ku keluar begitu saja dan aku terjatuh lemas tidak dapat bergerak.
Mengingatnya hatiku begitu sakit.
Pukulan terbesar yg ku terima saat mendengar cerita Merry, adalah mengetahui dia pergi karena menggunakan sihir terlarang agar aku bisa selamat.
Setitik air mata jatuh begitu saja, Agnasia merasa seperti telah merebut kehidupan seseorang.
Dalam kepedihan Agnasia menangis, tiba-tiba ia merasakan seseorang datang dan memeluknya dari belakang dengan erat.
"Apa yg kau lakukan. Mari turun makan bersama ku, bukankah beberapa saat lalu kau keluar tanpa mantel bulu. Jadi kau harus makan makanan hangat"
Ujar Dellion, ia menyandarkan kepalanya pelan pada tubuh wanita itu.
"Aku tidak ingin makan saat ini..."
Jawabnya sambil menghapus air mata di pipi agar tidak di lihat oleh Dellion. Akan tetapi itu langsung di ketahui lawan bicaranya, segera Dellion langsung menghadapkan tubuh Agnasia untuk menatapnya.
"Kenapa, apa yg terjadi? Siapa yg menyakiti Ratu kekaisaran ini? Katakan padaku, akan ku hukum dia."
Dengan terburu-buru dia berbicara karena marah melihat Agnasia yg menangis tanpa sebab.
Mendengar kata-kata Dellion, wanita itu sedikit tertawa namun suaranya terdengar bergetar sedih.
"Kau tidak bisa menghukumnya, karena dia tidak ada di dunia ini."
Pandangan Agnasia menjadi sayu melihat Dellion, pria itu langsung mengerti apa maksud perkataan istrinya.
"Agnasia... apa kau mengingat Snow? Apa kesedihan mu sekarang karena mengingatnya?"
Dellion memegang kedua pundak Agnasia erat, sembari menatap wanita itu dalam, dia merasa khawatir dengan sikap Agnasia.
"Benar..." jawabnya pelan.
"Maafkan aku Agnasia..." balasnya.
"Maaf... maaf ya... kau tahu apa yg kurasakan?"
Tanyanya menatap Dellion, tetapi pria itu menggeleng tidak tahu sebagai balasan.
"Rasanya seperti aku telah membunuhnya Dellion! Seperti kematiannya itu karena aku! Dia mati karena menyelamatkan ku! Sama seperti ibu! Aku memang pembawa sial sejak awal!"
Teriak Agnasia sambil memegang kepalanya kasar. Dia seperti kehilangan akal sehat sekarang.
"Agnasia tenangkan dirimu! Kau tidak bersalah atas kejadian itu!"
Ucap Dellion memegang tangan Agnasia.
"Hahaha... bukan salah ku ya! Lalu salah siapa! Dan kau kenapa merahasiakan ini Dellion!"
Dia mengepalkan tangannya erat kemudian memukul
lemah dada pria itu, dan kembali lagi Agnasia menangis sampai tersedu-sedu.
"Kau jahat padaku Dellion! Dia sahabatku! Dan aku baru tahu kematiannya setelah empat tahun berlalu!"
Ucapannya terdengar begitu pilu, perlahan-lahan pukulan Agnasia melambat tepat saat itu dia pingsan dalam pelukan Dellion.
Lekas pria itu memanggil Merry memerintahkan dia untuk segera membawakan dokter kerajaan memeriksa kondisi Agnasia.
...๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ...
Dellion diam melihat Agnasia, tatapannya tersirat kekhawatiran yg dalam. Ini kali pertama ia melihat sosok Agnasia yg begitu hancur.
Padahal dia berbuat seperti itu karena tidak ingin Agnasia sedih, tetapi malah jadi seperti ini.
"Yang Mulia... Ratu saat ini butuh istirahat, trauma lama Ratu muncul lagi... saya akan memberikan vitamin agar dia tidak sakit nantinya."
Dellion mengangguk, kemudian keluar bersama dengan dokter. Dia menyuruh Merry untuk tetap berjaga di samping Agnasia selama ia tertidur.
Setelah mengantar dokter sampai ke pintu depan, Dellion pergi menuju ruangan kerjanya. Perlahan ia membuka pintu menuju meja bundar di samping tempat duduk.
Ia menarik laci meja itu dan nampak sebuah kalung dengan ukiran yg elegan, di tengah-tengahnya terdapat permata berwarna putih yg indah.
Teringat kembali Dellion tentang pesan dari Snow yg mengunakan sihir telepatinya saat hendak menyembuhkan Agnasia.
Pesannya untuk memberikan ini pada Agnasia ketika wanita itu sudah siuman. Tetapi Dellion tidak memberikannya karena takut wanita itu akan sangat sedih.
"Apa seharusnya ku berikan ini padanya?"
Ia menggenggam erat kalung itu, perasaannya begitu bimbang.
...๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ...
Di atas tempat tidur Agnasia memimpikan Snow yg pergi meninggalkannya sendirian. Tanpa sadar wanita itu terbangun dengan air matanya yg mengalir.
Mengetahui itu ia langsung meringkuk dalam keheningan, dari arah pintu datang Merry membawakan sup hangat untuk di nikmati Agnasia.
"Nona, anda sudah bangun. Mari makan dulu."
Merry tersenyum mendekati ku.
"Tidak, aku tidak lapar"
"Tapi nona kondisi anda sedang tidak baik." Ujarnya.
"Kau tidak mendengarkan perkataan ku!"
Bentak Agnasia membuat Merry menunduk sambil meminta maaf.
"Letakan saja itu di meja."
Suara Dellion terdengar, Merry mengangguk lalu berbalik meletakan makan di atas meja dan pergi dari dalam ruangan.
Dellion melangkah mendekati Agnasia dan duduk di samping wanita itu.
"Jika kau seperti ini, sia-sia sajakan pengorbanan Snow. Padahal dia ingin kau bahagia."
Perkataan Dellion membuat Agnasia balik menatapnya dengan mata yg sembab karena tidak berhenti menangis.
"Huft... aku tidak melarang mu untuk menangis karena itu wajar untuk seseorang yg berduka, tetapi terlalu larut dalam kesedihan tidak baik juga."
Ucap Dellion sambil menghapus sisa air mata Agnasia.
Seketika wanita itu langsung memeluk Dellion erat, dia menangis dalam pelukan pria itu. Sesekali Dellion menepuk-nepuk punggung Agnasia untuk menenangkannya.
Menjelang beberapa menit mereka melepaskan pelukannya.
Dellion tersenyum sayu kemudian mencium kepala wanita itu lembut.
"Kau tidak bersalah, aku seharusnya tidak merahasiakan ini sejak awal. Dan ada yg ingin ku berikan."
Pria itu mengambil sesuatu dalam kantong dan memberikannya pada Agnasia.
"Sebelum pergi, dia menitipkan ini untuk di berikan padamu. Maaf aku sudah menyimpannya lama."
Dengan hati-hati Agnasia mengambil kalung itu, terdengar nafas berat yg ia keluarkan.
"Tidak apa-apa..."
"Nah kalau begitu sekarang saatnya kau makan bukan?"
Dellion tersenyum sembari berdiri mengambil makan Agnasia.
...๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ...
Menjelang tengah malam, Agnasia terbangun ia ingin memeriksa keadaan Lucan karena biasanya anak itu sering bermimpi buruk setiap tengah malam akibat dongeng seram yg di ceritakan Dellion tanpa sepengetahuannya.
Dengan lentera kecil di tangannya Agnasia keluar menuju kamar Lucan yg tepat di samping kamar mereka.
Begitu masuk, nampak Lucan yg tertidur pulas. Wanita itu mendekat dan membelai lembut rambut anaknya, lepas itu dia mencium Lucan hati-hati agar tidak terbangun.
Agnasia kembali mengingat kenangan mereka beberapa tahun yg lalu, ketika ia bangun sebulan kemudian.
Saat itu mereka pikir aku tidak akan bangun kembali.
Tanpa Agnasia sadari, seseorang sudah mengganti posisi kematiannya.
Sementara itu kekaisaran di bangun dan butuh waktu satu tahun karena begitu kacau. Setelah pembangunan selesai, Dellion langsung ingin mengadakan pernikahan.
Sungguh masa-masa yg indah. Gaun putih yg cantik, cincin emas yg melingkar di jari manis serta janji pernikahan kedua pihak.
"Andaikan kau waktu itu ada di sana."
Ujar Agnasia pelan sambil menyentuh kalung yg melingkar di lehernya.
Dalam sekejap kalung yg ia sentuh melayang dan mengeluarkan cahaya kecil, cahaya itu keluar dari dalam kalung dan langsung berubah menjadi sosok seseorang yg tidak ia sangka.
Pria itu berdiri di depan Agnasia sambil tersenyum hangat.
Agnasia bahkan sampai tidak percaya dengan yg dia lihat sekarang. Snow benar-benar berdiri dan tersenyum kearahnya.
"Snow!"
Agnasia langsung berlari memeluk pria itu erat. Untuk kesekian kalinya dia menangis.
"Setelah ku tinggalkan kau menjadi wanita yg cengeng rupanya" jawab Snow sambil terkekeh.
"Jangan mengejekku! Bagaimana bisa kau ada di sini!"
Ucapnya yg masih memeluk erat Snow dengan terisak-isak. Pria itu lalu melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Agnasia.
"Ini karena Sihir. Aku memasang sihir pada kalung itu, seperti wasiat mungkin. Dan ketika orang yg bersangkutan menyentuh tengah kalung, akan terjadi seperti sekarang." Jelasnya lembut.
"Begitu ya..."
Pria itu mengangguk.
"Kenapa baru sekarang kau menyentuhnya? Kau tahu aku sudah sangat menunggu lama untuk bertemu denganmu walau hanya sebentar." Gerutu nya.
"Ah itu karena Dellion baru memberikan kalung itu sekarang."
Jelas Agnasia, pria itu terlihat tidak senang mendengarnya.
"Lebih baik tidak ku serahkan padanya!"
Snow menatap kesal kearah yg berbeda. Tetapi saat melihat wajah Agnasia yg tidak berseri seperti biasanya dia jadi khawatir.
"Ada apa?"
"Kau tanya padaku! Ini semua gara-gara kau! Kenapa senekat ini menolong ku ha! Kau tahu aku merasa telah merebut kehidupan mu!" Bentak Agnasia dengan suaranya yg parau.
Melihat tindakan wanita yg ada di hadapannya, dengan lembut snow langsung memegang wajah Agnasia.
"Jangan berkata seperti itu... aku melakukan ini atas keinginan ku sendiri, walaupun kau tidak memintanya aku akan tetap melakukan itu."
Suaranya yg begitu rendah dan lembut membuatku semakin sedih mendengarnya.
"Tetapi.."
"Agnasia. Apa kau ingin mati seperti itu tanpa merasakan kebahagiaan?" Ujar Snow.
"Lalu bagaimana dengan kebahagiaan mu!"
Mendengar kata-kata ku dia tertawa pelan.
"Melihat mu yg sekarang saja adalah kebahagiaan ku, aku tidak mau melihat kondisimu seperti waktu itu, mungkin jika aku tidak bisa menyelamatkan mu. Selamanya aku akan menuduh diriku sendiri."
Pria itu menautkan kedua alisnya menatap ku sayu.
"Jangan berkata begitu Snow!" Cegah Agnasia.
"Aku tahu, untungnya aku dapat menolong mu. Sejak saat penyerang itu aku langsung pergi mencari caranya, dan hanya sihir terlarang yg dapat ku lakukan untuk menolong mu.
Agnasia... kau jangan merasa bahwa ini salahmu. Aku melakukan ini karena aku menyayangi mu, kau orang pertama yg mengerti luka ku, dan kau juga orang pertama yg membalut luka itu."
Perkataannya membuat Agnasia tersenyum. Dia begitu tersentuh dengan kata-kata Snow yg terdengar tulus.
"Baiklah... aku tidak akan menyalahkan diriku sendiri dan akan menerimanya." Jawab Agnasia tersenyum.
"Ini lebih baik! Tersenyumlah terus, karna jika menangis kau terlihat jelek."
Agnasia langsung melayangkan tangannya memukul Snow atas ucapnya itu. Pria itu meringis sakit sambil tertawa.
"Ah ia! Kemarilah akan ku perkenalan Lucan padamu."
Agnasia menarik Snow mendekat kearah tempat tidur di mana pangeran kecilnya sedang beristirahat.
"Siapa anak itu?" Tanya Snow.
"Kau tidak kenal? Penilaian mu begitu buruk ternyata. Ini adalah anakku dan Dellion. Lucan Alcander" Jelas Agnasia tersenyum cerah.
Snow melebarkan matanya terkejut mendengar itu. Dia berkedip beberapa kali memproses semuanya.
"Kalian sudah menikah!" Tanyanya lagi.
"Ia, ini sudah empat tahun berlalu sejak kepergian mu."
"Astaga! Jadi selama itu aku menunggu! Keterlaluan sekali Dellion!" Geram Snow.
"Hahaha sudahlah jangan berekspresi seperti itu!"
Cetusnya di akhir kalimat. Membuat Snow mendegus kesal.
Sisa waktu yg ada mereka habiskan untuk berbincang-bincang, memberikan carita masing-masing. Sampai waktu perpisahan tiba. Tubuh Snow perlahan mulai menghilang.
"Apa hanya sampai di sini saja?" Tanya Agnasia.
"Mungkin, sihirnya begitu di pakai hanya bertahan sejam saja. tetapi walau hanya singkat aku senang bisa bertemu dan berbicara dengan mu Agnasia..."
Snow tersenyum sambil mencium pipi Agnasia lembut. Detik-detik sebelum ia menghilang sepenuhnya ada hal yg ia katakan.
"Berjanjilah, di kehidupan selanjutnya kau akan hidup bersamaku." Ucapnya.
"Kenapa berkata seperti itu? Belum tentu kita bertemu."
"Kita pasti bertemu. Bagaimana?"
Tanya snow sekali lagi. Agnasia tersenyum sembari mengangguk, ia menjawab Snow.
"Baiklah. Aku berjanji."
Setelah perkataan ku, terlihat Snow tersenyum mengatakan bahwa dia tidak akan melupakannya, selepas itu ia menghilang dari pandangan, menyisakan kesunyian lagi dalam ruangan.
Agnasia tersenyum lega setelah berbincang bersama Snow, walau hanya sebentar. Ia berjanji akan hidup bahagia kali ini, pengorbanan Snow tidak akan menjadi sia-sia.
Dia memegang kalung pemberian Snow sambil menutup mata menggumamkan sesuatu.
"Sampai bertemu lagi Snow."
...ยง End ยง...