
Dellion memutuskan untuk pergi dari hadapan Galen yg tiada hentinya tertawa, tapi saat dia melangkah mendekati pintu, perkataan Galen membuat dia terhenti dan berbalik lagi.
"Apa yg kau katakan tadi?"
"Akan ku bantu karena aku ahlinya"
"Tidak, aku sudah malas" Balas Dellion dingin padanya
"Ah baiklah, Agnasia yg malang.. memiliki calon yg tidak peka"
Perkataan Galen menusuk begitu tajam bagai belati, tepat sasaran mengenai perasaan Dellion. Lelaki itu kembali dan duduk sambil memangku kakinya dengan kedua tangan di lipat di depan dada
"Katakan"
"Baiklah, untuk membuat wanita jatuh hati.. yg pertama harus tampan!"
"Jadi menurut mu aku tidak tampan?"
"Ahahaha tidak itu hanya bercanda saja, buat wanita merasa bahwa dia terlindungi, memberi perhatian yg khusus padanya, sering membuat dia tertawa dan yg paling penting mengerti perasaannya."
"Perasaan?" Ulang pangeran pada Galen.
"Iyap! Tidak cukup hanya romantis tetapi juga harus mengerti perasaan wanita karena kebanyakan pria tidak memiliki poin penting ini" jelas Galen.
"Bukannya wanita juga sama?"
"Hmm... itu terjadi ketika pria tidak mau mengerti perasaan wanita, jadi wanita juga akan melakukan hal yg sama. Dan itu sering terjadi"
Galen menjelaskan semua yg dia tahu pada pangeran Dellion, hal-hal yg perlu di lakukan dan tidak perlu. Seperti seorang guru mengajarkan muridnya pangeran memahami perkataan Galen dengan baik.
Setelah dia selesai menjelaskan, Galen meneguk teh yg ada sampai habis karena dia lelah menjelaskan, serta mulutnya sudah kering sejak tadi.
"Apakah ini akan berhasil?"
"Tentu saja, kenapa pangeran tidak percaya?"
Galen balik bertanya pada pangeran, pangeran mengaduk teh miliknya kemudian menjawab Galen.
"Karena kau belum memiliki pasangan, bagaimana bisa aku percaya... harusnya ada bukti"
Galen terdiam kemudian meletakan cangkir teh dengan pelan keatas meja yg ada di depannya.
"Bukan tidak memiliki pasangan, hanya saja wanita yg ku cintai tidak sadar bahwa aku mencintainya, dan dia sudah punya seseorang yg tepat untuk dirinya sendiri"
Pandangan galen menatap Dellion dengan tenang, kemudian dia tertawa lagi agar pangeran tidak menyadarinya.
Kemudian pintu di ketuk dari luar, ternyata itu adalah Marques Christoffel yg baru saja tiba sehabis berkeliling melihat kota karena perintah Kaisar.
...💐Kediaman Alddes💐...
"Hacimm!"
Agnasia bersin cukup keras, dia menutup hidungnya sambil menatap cairan yg berwarna coklat yg ada di dalam cangkir.
"Ughkk Snow aromahnya tidak enak, bagaimana dengan rasanya pasti lebih tidak enak"
Ucap Agnasia sambil menolak cangkir yg di pegang Snow, dia tidak mau meminum obat itu karena bisa membayangkan rasanya yg tidak enak.
"Tapi ini obat manjur, harganya juga sangat mahal"
"Tidak! Pasti kau mencurinya atau menggandakannya seperti waktu itu"
Agnasia mengeleng cepat, dengan tangan yg masih menutup hidungnya begitu erat.
"Aku tidak mencurinya atau menggandakannya, aku membelinya dengan uang buatan"
"Sama saja!"
Bentak Agnasia, melihat itu Snow terpaksa harus melakukan hal yg tidak ingin dia lakukan, dia menjentikan jarinya, sekejap Agnasia tidak dapat melakukan apa-apa hanya ada rasa manis dalam mulutnya.
"Hmm itu.. boleh aku memintanya lagi?"
Snow melihat ku sembari menggelengkan kepalanya, dia pun meletakan kembali cangkir ke tempat semula kemudian menjentikan jarinya lagi, cangkir itu pun hilang.
"Cukup itu saja." Ucapnya
Aku membuang nafas kasar dan kembali ke tempat tidur, sedangkan Snow duduk dikursi yg bersebelahan dengan jendela yg sedikit terbuka hingga cahaya matahari terbenam beserta hembusan angin menerpa rambutnya yg berwarna putih itu.
Aku teringat akan perkataan ku sewaktu kami berada di kekaisaran timur, bahwa aku ingin menanyakan sedikit kisah tentangnya.
"Bagaimana dengan orang tuamu pasti dia begitu khawatir"
Ujar Agnasia untuk membuka topik pembicaraan padanya yg hanya duduk diam sambil melihat kearah jendela, begitu mendengar perkataan Agnasia dia hanya diam saja tidak bersuara.
"Ah jangan-jangan kau di usir?"
Ucapnya sekali lagi namun Snow tidak berkutik sama sekali.
"Tidak sopan sekali kau ini..."
Balasnya padaku, sedikit aku tertawa sambil menghempaskan tubuh ke tempat tidur menatap hiasan langit-langit kamar yg begitu cantik.
"Lalu bagaimana dengan diri mu sendiri apa tidak sopan?"
Dia kembali diam tidak bersuara, sepertinya dia tidak ingin membicarakan hal menyangkut kehidupannya dulu, apa aku terlalu cepat sekarang?
"Huft... baiklah jika kau tidak ingin mengatakannya aku juga tidak memaksa mu"
Setelah perkataan itu dia berubah menjadi kucing, dan tepat saat itu Merry masuk kedalam untuk membantu Agnasia bersiap-siap karena makan makan sebentar lagi.
...💐💐💐💐...
Dellion membuka kancing kemeja yg dia pakai kemudian duduk menyilang kedua tangan di depan dada sembari menunduk menutup mata memikirkan perkataan dari Marques Christoffel.
Bahwa mungkin saja batu kekuatan Agnasia tidak muncul karena itu adalah pertama kalinya, atau mungkin karena dia tidak tahu cara mengeluarkan atau memunculkan batu kekuatan, seperti Marques Christoffel.
Dua hal yg entah mana yg benar, pangeran berfikir apa jangan-jangan itu karena pertama kalinya? Oleh karena itu batu tersebut belum muncul.
Tiba-tiba pangeran dellion merasakan kepalanya sakit, dia sedikit membaringkan tumbunya dan menutup matanya bersamaan dengan sebelah tangannya di letakan di atas kepala.
'Beberapa hari ini kepala ku sakit...'
Kemudian setelah itu Dellion tertidur tenang, memasuki mimpinya yg sama setiap harinya mungkin itu adalah mimpi yg indah untuk dirinya karena bisa melihat tawa dan senyum bahagia yg begitu tulus dari Agnasia.
Dellion duduk dikursi taman melihat kearah kolam air mancur kecil di depannya, seperti mimpi sebelumnya pasti yg akan menjemputnya adalah Agnasia.
Dari arah samping terdengar seorang mendekat memeluk Dellion dari belakang, lelaki itu tersenyum memegang tangan yg melingkar di kedua bahunya.
"Aku sudah menunggu mu Agnasia.."
"Agnasia? Kau masih menyebut nama itu? Bukankah dia sudah mati?"
Sontak Dellion melepas pelukan itu dan bangkit berdiri berbalik melihat kearah belakang menatap wanita yg berbeda.
'Dia bukan Agnasia!'
"Kau si-siapa?"
Wanita itu tersenyum sambil mendekat kearah Dellion, namun lelaki itu sedikit menjauh.
"Hmm kau melupakan ku lagi, apa karena menyesal, kau membunuh orang yg kau cintai? sampai berpura-pura tidak mengingat istri mu ini"
Wanita itu tertawa, Dellion hanya bisa melihat rambutnya yg hitam dan lurus itu begitu mengkilap di terpancar cahaya matahari, kemudian dia berbalik pergi menjauh.
'Mimpi ini sama seperti sebelumnya, tapi yg berbeda Agnasia tidak datang, dan apa maksudnya soal aku membunuh orang yg ku cintai?!'