The Destiny Of A Princess

The Destiny Of A Princess
Bagian 60



Angin bertiup membawa aroma teh Lippe yg begitu manis, dia mulai menceritakan dan menjelaskan semua kepada ku dengan begitu jelas.


Dia sudah ada sejak awal mula pembentukan kekaisaran Aegeus, lalu setelah tahun berganti dia muncul kembali sebagai batu kekuatan Kaisar wanita.


Dan berikutnya adalah aku, orang special yg di pilih dewa. Satu hal yg pasti, jika seorang yg memiliki anugerah penyembuh maka semua yg tuannya tahu dia juga tahu karena mereka sudah menjadi satu.


Dan soal penjelasannya waktu itu, dia beri izin untuk mengatakannya kepada Agnasia agar tidak ada kebencian lagi dalam hatinya, karena selain pemegang anugerah penyembuh Agnasia juga pemilik kunci untuk menyegel pintu roh jahat.


Agnasia tertegun, jadi seperti yg di katakan Dellion waktu itu batu kekuatan seperti tombol bom waktu untuk mengaktifkan ledakan. Jadi jika salah satunya hilang itu sama saja seperti benda yg rusak dan hanya bisa di letakkan di sudut ruangan.


"Jadi sekarang kita ini satu?"


'Ia, kau benar'


"Lalu sebelumnya, kau katakan menjadi batu kekuatan Kaisar wanita itu. Apakah bisa kau katakan bagaimana akhir hidupnya?"


Anak itu terhenti, dia sedikit menatap lama ke arah ku. Kemudian dia tersenyum dan mulai angkat bicara.


'Setiap perpindahan, aku tidak akan bisa ingat lagi soal ingatan mereka. Hanya nama saja'


Agnasia mengerutkan alisnya, dia tidak terlalu percaya akan perkataan anak kecil ini. Tapi, mungkin saja dia berkata jujur.


'Ah! Kau harus kembali! Sebentar lagi siang, dan Carin akan datang.'


"Kau benar! Tapi aku ingin bertanya, kenapa kau tidak muncul? Kau kan batu anugerah!"


Tidak mendapatkan jawaban hanya dorongan untuk segera pergi dari sana, Agnasia berbalik menahan tangan anak itu sebelum menghilang seperti sebelumnya.


Anak itu malahan tertawa dan melepas genggaman ku dengan cepat


'Kau sudah tahu caranya, tapi kau malah menahan ku untuk keluar'


Setelahnya hanya ada cahaya putih yg begitu menusuk penglihatan ku, aku terkejut dan hampir jatuh dari kursi tempat ku duduk.


Mataku memandang sekitar, tidak ada orang dan benar hari sudah siang sepertinya aku tertidur cukup lama.


"Dia! Harusnya katakan padaku!"


...💐💐💐💐...


Aku berada di dalam kereta kuda menuju kerajaan Dellion, aku menyuruh kusir untuk menambah kecepatan. Sekarang waktu sudah semakin siang, aku yakin Carin sudah tiba.


Tapi perlahan kereta kuda berhenti, aku bertanya kenapa perjalanan di hentikan. Ternyata di depan sedang ada perbaikan jalan yg rusak jadi kita harus mengambil jalan berputar dan itu cukup memakan waktu.


'Tidak bisa! Bagaimana jika aku sampai Dellion sudah minum obat itu?'


Agnasia putuskan untuk turun dari kereta kuda, dan melewati para pekerja jalan. Para pengawal yg melihat itu segera menyusulnya dengan cepat sebelum Agnasia semakin jauh.


"Walaupun jalan kaki, ini akan lebih baik dari pada harus memutar perjalanan"


Di tengah perjalanan, seseorang memanggil namanya. Agnasia berbalik menatap keasal suara, Galen datang tergesa-gesa menghampirinya.


"Agnasia? Kenapa kau jalan kaki?"


"Karena jika aku memutar jalan itu akan sangat lama, dan dia akan datang"


"Dia siapa?"


"Ah! Tidak penting aku harus pergi!"


Agnasia membalas galen dengan cepat, kemudian tangannya di tarik oleh Galen dia membawa Agnasia ke arah kereta kuda yg terpakir di belakang mereka.


"Akan ku berikan tumpangan jadi jangan khawatir, bagaimana bisa calon istri pangeran jalan kaki?"


Galen membuka pintu kereta kuda dan membantuku masuk kedalam, ternyata hanya ada dia sendirian di dalam kereta kuda jadi karena itu Galen memberikan tumpangan syukurlah.


"Jadi kau habis memutar perjalanan?" Tanya ku.


"Benar, dan saat selesai aku melihat kau jalan kaki"


Balas Galen sambil mengeluarkan sapu tangannya dan membersihkan keringat ku yg cukup banyak di bagian wajah.


"Aku bisa sendiri"


Aku menatap Galen yg sedang fokus membersihkan keringat ku, kenapa dia berbicara seperti itu? Memang mungkin saat aku menikah, dia harus memberikan batasan sebagai seorang pria tapi, diakan sahabatku! Aku akan memberikan apapun yg dia minta.


"Tapi, kau sahabat ku Galen. Apapun yg kau minta aku akan memberikannya padamu"


Galen terhenti dan menyudahi apa yg dia lakukan, dia kemudian menatap mataku dalam, sambil memegang tanganku erat


"Permintaan ku ini tidak bisa kau kabulkan"


"Kenapa tidak?!"


Mendengar jawab ku dia tertawa dengan kencang, sampai aku di buat tidak mengerti oleh tindakannya ini.


"Karena permintaan ku itu..."


Dia mulai mendekat kearah telinga ku dan sedikit berbisik pelan.


"Rahasia!"


Mendengar itu, aku menjadi kesal dan mencubit tangannya yg memegangku, dengan kuat. Dia hanya tertawa sambil meminta maaf padaku, saat akan menanyakannya lagi dengan serius kereta kuda berhenti, ternyata kita sudah sampai.


...💐💐💐💐...


Galen turun lebih dulu dan membantu ku keluar dari kereta.


Lelaki Alastor itu melihat wanita yg berada di sampingnya dengan senyuman hangat, sambil berucap dalam hatinya.


'Permintaan ku adalah ingin hidup bersamamu'


Agnasia reflek melihat kearah Galen, menatap lelaki aneh ini yg terus saja Melihatnya dari tadi.


"Apa ada kotoran di wajah ku?"


"Tidak hanya saja... kapan kau jadi secantik ini?" Ucap Galen.


"Jadi sebelumnya aku tidak cantik?"


Agnasia menatap Galen dengan tajam, Galen terkejut karena Agnasia salah paham dengan perkataannya. Belum sempat menjawab, Agnasia beranjak pergi dari sana.


"Terima kasih sudah memberi tumpangan!"


"Eh tunggu kau salah mengerti jadi itu... "


Agnasia tidak mau mendengarkan penjelasan Galen dan cepat-cepat menuju kerajaan, sesampainya di dalam dia menanyakan keberadaan pangeran pada pelayan yg tepat saat itu sedang lewat.


Mereka menjawab bahwa pangeran sedang berada di kamarnya saat ini.


"Pangeran sedang..."


Tidak mendengar lanjutannya, Agnasia berbalik pergi dengan begitu cepat, melihat itu Galen mencega pelayan tadi dan bertanya kenapa sampai Agnasia terburu-buru.


"Saya tidak tahu Tuan, tapi saat ini putri sedang menuju kekamar pangeran dan pangeran sedang ganti pakaian"


"Apa Agnasia tahu?"


"Putri pergi begitu saja tanpa mendengarkan kami"


"Agnasia yg ceroboh"


Galen mengeleng, kemudian mengejar Agnasia yg sudah jauh di depan, ternyata tenaga wanita itu jika sedang khawatir bertambah kuat saat berlari.


...💐💐💐💐...


Pikiran Agnasia kacau mungkin saja dia sudah meminum ramuan itu sampai habis dan kejadian dulu akan terjadi. Seharusnya dia tidak adu mulut dengan Galen tadi agar bisa tepat waktu sampai.


Sesampainya di depan pintu tidak ada pelayan di depan yg berjaga. Agnasia dengan cepat membuka pintu kamar Dellion bersamaan suara Galen memanggil namanya dari belakang tapi tidak di hiraukannya karna melihat hal yg ada di depan mata Agnasia.


"Kyaa!!"


Terdengar Agnasia yg berteriak cukup kencang, Galen yg sampai segera menarik Agnasia keluar dan menutup pintu kamar Dellion.


'Apa-apaan itu!! Mataku ternodai!!!'