
Setelah selesai, Carin di bimbing keluar ketempat yg sudah di sediakan Kaisar untuk dia beristirahat beberapa hari kedepan.
Tempat itu bersebelahan dengan kerajaan yg Dellion tempati itu adalah kerajaan kecil untuk tamu yg berkunjung di kekaisaran Aegeus dan sekarang di pakai oleh Carin.
Wanita itu sedikit mengepalkan tangannya karena begitu kesal.
"Agnasia, dia berbeda dengan saat itu, kenapa sampai seperti ini?!!"
Carin menghentakkan sepatunya keatas keramik putih, dia kira ini akan selancar masa lalu tapi sepertinya tidak. Apa karena waktu yg di putar oleh Dellion waktu itu, sampai bisa berpengaruh pada perubahan orang sekitar? Mana mungkin dia kan sudah mati sebelum Dellion memutar waktu!
Satu hal yg perlu di ketahui, tepat saat dia mengejar pangeran Dellion yg lari saat itu karena sudah mengingat semuannya, Carin juga ikut terseret karena sihir terlarang yg di buat oleh Dellion untuk mengembalikan waktu.
Tapi yg anehnya, dia tidak melupakan ingatannya saat kembali. Mungkin itu karena bukan dia yg membuat perjanjian, jadi hanya Dellion saja yg melupakan ingatan masa lalu.
Carin juga tidak menceritakannya pada ayahnya karena jika begitu, takdir akan berubah dan mungkin saja akan ada perubahan juga di masa depan.
"Tenanglah... semua akan baik-baik saja, sesuai rencana ku. Dan akan menghancurkan kekaisaran Aegeus lebih awal sesuai permintaan ayah."
Carin tersenyum sambil memutar-mutar ujung rambutnya.
...💐💐💐💐...
Setelah selesai mengunjungi pangeran, Agnasia segera menuju kuil suci untuk melatih Kekuatannya. Untungnya kereta kudanya sudah ada di depan gerbang jadi dia tidak perlu menumpang lagi pada Galen lelaki berisik itu.
"Agnasia tunggu!"
"Ada apa Galen?"
"Kenapa kau melakukan itu? Kau seperti mencurigainya"
Agnasia menghembuskan nafas kasarnya sambil memanggil Galen untuk menunduk karena dia akan berbisik.
"Rahasia!"
Balas Agnasia seperti yg di lakukan Galen tadi di kereta kuda, lelaki itu menatap Agnasia bosan.
"Apa yg kalian bicarakan?"
Tanya Dellion, Agnasia Lupa bahwa di samping mereka saat ini ada Dellion juga, dia hanya mengeleng begitu juga bersama Galen. Kemudian lelaki Alastor itu berpamitan terlebih dahulu meninggalkan kami.
"Kalau begitu, saya juga akan pergi pangeran sampai nanti"
Saat berbalik Dellion menahan tangan Agnasia hingga perempuan itu terhenti di tempat.
"Ada apa?"
"Apa kau akan datang lagi?"
"Tentu, sampai wanita itu pergi dari kekaisaran" jawab Agnasia jujur pada Dellion,lelaki itu tersenyum mendengar jawaban dari Agnasia.
"Kau begitu memperdulikan ku"
"Kalau begitu saya akan pergi, sampai nanti"
Dellion melepas genggamannya membiarkan Agnasia pergi masuk kedalam kereta kuda, lepas itu kereta yg di naiki Agnasia pergi dari hadapannya, Dellion tersenyum di satu sisi dia bisa menjadi wanita yg lembut dan di sisi lain bisa menjadi wanita yg dingin.
...💐💐💐💐...
Agnasia pergi menuju kuil tempat dia akan melatih kekuatannya bersama dengan pendeta Diego.
Setelah sampai di sana, dia masuk dan pergi ke tempat kemarin dia di latih, ternyata seseorang yg akan melatihnya sudah menunggu di sana sambil duduk membaca sebuah buku dengan lambang kuno.
Agnasia mendekat menyapa Diego dengan senyuman sebagai salam pembuka. Tanpa berlama-lama Diego menyuruh Agnasia untuk duduk di tengah lingkaran itu lagi.
"Sekarang, kita akan membuat putri mengeluarkan batu itu. Buat agar putri bisa setenang mungkin, agar bisa merasakan energi sekitar dan bisa mendorong batu kekuatan untuk keluar"
Jelas Diego padaku, aku mengatur nafasku sambil memejamkan mata mencari titik fokus.
...💐💐💐💐...
"Sepertinya tidak ada yg keluar dari tubuh mu bahkan aura kekuatan tidak muncul"
Aku melemaskan tubuh ku sambil mengangguk setuju atas perkataan dari Diego, kemudian teringat kembali pembicaraan ku dengan gadis itu, bahwa aku sudah tahu caranya tapi selalu mendorongnya masuk kembali.
'Apa maksudnya itu? Aku tidak mengerti, memangnya kapan aku melakukan itu'
Pikiran Agnasia bercampur aduk, banyak teka-teki yg tidak begitu jelas jalan keluarnya di tambah Carin sudah datang itu membuatnya menjadi semakin pusing.
Kami pun mencoba beberapa cara yg lain, namun tetap saja tidak memunculkan efek yg pasti tentang munculnya batu kekuatan.
Menjelang sore aku kembali ke kediaman dengan begitu lemas, Karena tadi membuang sedikit tenaga, pikiran dan lainnya yg tidak dapat di jelaskan.
Agnasia merebahkan tubuhnya keatas tempat tidur, sembari menutup matanya.
"Tidak berhasil lagi?"
Suara yg dia kenal muncul di samping kiri tempat tidur, dia berbalik menatap Snow yg kini duduk sambil melihat dirinya.
"Tebakan yg benar"
Agnasia tersenyum lemas dengan sedikit nafas kasar, melihat ekspresi yg di tunjukkan Agnasia, Snow merasa sedih, tidak biasanya Agnasia menunjukkan perasaannya sejelas ini melalui ekspresi.
Dia pun menjentikan jarinya, seketika ruangan kamar Agnasia berubah menjadi seperti angkasa malam di mana banyak sekali bintang-bintang yg indah dan gemerlapan.
Agnasia reflek bangun menatap sekeliling dengan terkejut sekaligus kagum.
"Bagaimana bisa kau melakukan hal yg begitu indah!" Ujarku.
"Kau lupa aku ini penyihir? Hal seperti ini mudah"
Agnasia, bangkit berdiri mengelilingi kamarnya sambil tersenyum begitu cerah, matanya saat ini di penuhi bintang-bintang yg begitu cantik. Untuk pertama kalinya dia bisa menikmati langit angkasa malam yg begitu dekat.
"Kau tidak cocok berekspresi sedih"
Ucap Snow sambil menyentuh bintang-bintang yg bercahaya biru di depannya. Namun Agnasia tidak begitu mendengarnya karena terlalu kagum dengan hal yg saat ini sedang dia nikmati.
"Tak ku sangka wajah yg ingin ku bunuh sebelumnya, begitu membuat ku menjadi sedih ketika senyumannya tidak muncul"
"Apa? Maksud mu, Siapa?"
Agnasia segera berbicara dengan nada yg begitu penasaran.
"Bukan apa-apa"
Snow membuang pandangan kesembarang arah ketika melihat Agnasia menatapnya, wanita itu mendekat dan duduk di samping Snow.
"Katakan saja Siapa yg kau maksud, kau tahu untuk pertama kalinya kau berkata romantis"
"Apa?" Tanya Snow lagi.
"Ya memang begitu, selama ini kau kaku senyum saja tidak pernah... mirip seperti patung di taman bunga yg tidak memiliki kehidupan"
Mendengar hal itu Snow menjadi kesal, dia pun menghilangkan sihirnya, kamar Agnasia kembali seperti semula.
"Apa yg kau lakukan! Padahal tadi begitu indah"
"Katamu aku tidak memiliki kehidupan."
"Kau tersinggung?"
Tidak menjawab, Snow beranjak pergi keluar teras kamar, dia pun berubah menjadi kucing dan pergi turun dari batang pohon yg berdekatan dengan teras.
Panggilan Agnasia pun tidak di hiraukannya, dia pergi tanpa berkata apapun dan hanya meninggalkan suara Angin saja.
"Apa aku berlebihan?"
Tanya Agnasia pada diri sendiri sambil memanggil Merry agar membantunya bersiap siap.