
Dalam kereta kuda, Neacel menatap telapak tangannya sambil tersenyum mengingat bentuk tangan Agnasia yg begitu kecil dalam genggamannya.
Padahal masih banyak yg ingin dia katakan tapi melihat aura pangeran yg berbeda mengganggu pembicaraan Neacel.
"Lain kali kita akan berbicara lagi"
Ucapnya sambil mencium aroma Agnasia yg tertinggal di telapak tangannya.
...🌼🌼🌼🌼...
Setelah kepergian Neacel yg membuat pangeran Dellion menjadi sosok yg berbeda, sekarang dia malahan tidak mengajak ku bicara dan malah diam menikmati kue yg tersedia di meja.
"Pangeran, sebenarnya kenapa anda kesini?"
"Memangnya aku tidak boleh kesini? oh atau aku mengganggu pembicaraan kalian?"
Agnasia mengeleng pelan, kenapa Dellion jadi begitu sensitif tentang apa yg dia tanyakan.
"Saya dan acel--ehm maksud ku Yang Mulia Aleister tidak memiliki hubungan apa-apa hanya sekedar teman" jelasku.
"Aku tidak bertanya tentang hubungan kalian tuh."
Dellion membuang pandangannya kearah yg berlawanan tidak mau menatap ku.
'Dari cara bicaranya saja, sudah terlihat dia penasaran akan hubungan kami'
"Sudah... sekarang ada keperluan apa pangeran kesini?"
"Tidak ada. Sekarang aku akan pergi memenuhi permintaan putri Sanha untuk menikmati jamuan teh bersama"
Dellion bangkit berdiri tanpa menatap ku, dia berbalik menuju pintu keluar. Jadi, dia membalasnya dengan mengabaikanku? Padahal Neacel hanya ingin berbicara, tidak lebih.
"Begitu ya... apa pangeran mengatakan ini untuk balas dendam pada saya?" Tanya Agnasia.
Dellion sedikit memberhentikan langkahnya berbalik menatap Agnasia.
"hmm... kenapa? apa anda akan melarang saya? menolak permintaan seseorang itu tidak sopan jadi saya harus menerimanya" ucapnya formal.
Ternyata benar, dia ingin membalas dendam. Pangeran yg biasanya tidak menerima jamuan teh seorang putri tiba-tiba menerimanya? Ya sudahlah biarkan saja dia, yg terpenting aku tidak memiliki hubungan khusus dengan Neacel.
"Baiklah terserah anda"
"Kau.. kau tidak melarang ku!!"
"Kata Pangeran, permintaan seorang tidak bisa di tolak?"
Mendengar perkataan ku dia diam dan berbalik dengan kasar ada sedikit hembusan kesal yg di keluarkan Dellion yg membuat Agnasia sedikit tersenyum geli.
"Aku akan pulang sore! Jangan mencari ku"
"Baiklah..."
"Aku juga akan sibuk beberapa hari ini jadi tidak bisa bertemu dengan mu"
"Iya.."
Dellion pergi dari ruangan dengan cepat serta sedikit terdengar kekehan kesalnya, ada-ada saja, sikap Dellion membuat Agnasia menjadi lelah.
Tetapi ini tidak penting, sekarang saatnya Agnasia mencari celah agar tidak ada yg tahu dia pergi diam-diam ke arah hutan mansion tua.
Ini kesempatan terakhir.
Matanya melihat sekitar, tidak ada seseorang di dalam ruangan, dengan cepat Agnasia pergi kearah jendela, membukanya lebar-lebar dan keluar dari sana.
Dengan pelan Agnasia bergerak dalam semak-semak, untuk pergi kearah hutan barat dia harus melewati taman utama, ruangan kerja duke, dapur lalu gudang dan sampai.
'Perjalanannya cukup jauh juga, padahal jika dari kamar hanya tinggal melewati dapur dan gudang saja' pikir Agnasia.
Dari tempat satu menuju tempat lainnya, Agnasia bersembunyi layaknya pencuri yg berhati-hati jika tertangkap salah satu penjaga kediamannya.
Tidak sia-sia dia membaca novel putri yg kabur, saat itu. yg membuatnya tahu cara bersembunyi.
Setelah melewati taman, kini dia akan melewati ruangan duke, beruntungnya itu ada di lantai dua namun dia harus lebih menambah kewaspadaan sekitar, sempat ada pelayan lewat, Agnasia berhenti sejenak di balik pohon menunggu pelayan itu pergi.
Jika saja ada Snow di sini pasti dengan mudahnya dia bisa keluar masuk hutan mengunakan kekuatan sihir.
'Sekarang aku jadi merindukan sosoknya'
Agnasia menunduk melihat rerumputan yg menyentuh permukaan sepatunya.
"Uak! Astaga! Sudah ku katakan untuk jangan mengagetkan ku!"
Geram Agnasia, hampir saja dia ketahuan untungnya dia dapat mengerem teriakan terkejutnya.
'Jangan-jangan kau akan kembali lagi kesana?'
"Jika sudah tahu diamlah jangan bertanya"
Ucapnya melihat sekitar kemudian dengan langkah yg cukup besar Agnasia ambil agar cepat sampai.
'Aku baru tahu kau bisa secepat itu dalam melangkah, di tambah menggunakan gaun'
"Diamlah, Aku juga baru sadar. Memang benar jika sedang gugup akan ketahuan, langka seseorang akan semakin cepat"
ucapnya kemudian melangkah lagi.
...🌼🌼🌼🌼...
Dalam perjalanan Dellion mengerutkan alisnya berfikir soal kejadian tadi, padahal dia datang untuk mengajak Agnasia pergi bersama-sama dengannya minum teh dengan putri Sanha yg kebetulan mengundangnya untuk membicarakan sesuatu.
Tapi malahan dia melihat hal yg begitu membuat hatinya sakit, Kenapa banyak sekali yg mendekati Agnasia?!
"Lalu Agnasia juga nampak tidak mempermasalahkannya, jadi kesal saja!" Gerutu Dellion.
Lihat saja dia akan membuat Agnasia mencarinya dan meminta maaf--
Dellion mengacak-acak rambutnya frustasi, kenapa pikirannya jadi kacau! Sebenarnya dia melakukan itu agar Agnasia sadar bahwa dia merasa cemburu, walaupun hanya teman saja tapi dia itu seorang pria!
"Tapi, kenapa aku berfikir dangkal begini! Kekanak-kanakan sekali--biarkan saja!"
...🌼🌼🌼🌼...
Kini tujuan Agnasia sudah sampai, dia bernafas lega kemudian masuk kedalam melihat petunjuk kemarin yg dia tinggalkan agar tidak tersesat seperti saat pulang waktu itu.
Kemarin hanya beruntung saja dia menemukan mansion itu.
Dan ya, dia juga tidak lupa membawa beberapa cadangan seperti roti untuk di makan jika lapar, serta susu jika haus.
Jadi bagaimana bisa Agnasia mendapatkan roti dan susu itu?
Sebelum kesini dia menyelinap masuk kedapur dan mengambil beberapa roti dan susu untuk dia bawah.
Beruntung tidak ada orang di dapur jadi aman-aman saja.
"Mengambil di rumah sendiri tidak apa-apa kan?"
Cengir Agnasia sambil menepuk-nepuk roti dan susu yg dia bawah.
'Menurut ku itu tetap salah, karena itu bisa di sebut mencuri' balas Tears.
"tapi 'kan makanan di dapur di beli untuk di makan tuan rumah jadi--"
'Ahk! Terserah. Aku tidak mau pikirkan itu'
Setelah perkataannya Tears selesai, perjalanan berikutnya kami berdua tidak berbicara sama sekali dan sampai tiba di tujuan.
Agnasia melangkahkan kaki dengan percaya diri dan masuk kedalam mansion, setelah menjelajahi kamarnya kemarin, dia harus mencari ruangan-ruangan lainnya siapa tahu mendapatkan sesuatu yg berharga seperti contoh foto ibunya kemarin.
Setelah menaiki tangga menuju lantai dua, banyak ruangan yg di lewatinya, namun ada satu hal yg menarik pandang Agnasia.
Nampaknya itu adalah ruangan keluarga, di lihat dari tempat pembakaran, rak buku sampai sofa yg empuk dan ada dua jendela yg besar menampilkan keadaan luar mansion yg dimana sekarang sudah tertutupi oleh beberapa akar yg merambat.
Ternyata saat pindah Ayahnya tidak membawa benda-benda tersebut, sungguh aneh.
Lalu Agnasia mendekat menyentuh beberapa benda di sana, sampai tanpa sengaja dia menekan sesuatu di salah satu rak buku dan terdengar suara gesekan atar benda.
Awalnya Agnasia takut tapi perlahan-lahan itu membuat dia terkejut, sebuah pintu tersembunyi ada di samping rak buku yg dia sentuh tadi.
"Apakah aku harus masuk?" Tanya Agnasia tidak yakin.
'Kau ingin mengetahui masa lalu kan?'
"Benar! Jadi Aku harus masuk"
Agnasia menepuk wajahnya memberi keberanian untuk dirinya sendiri dan melangkah masuk.