The Destiny Of A Princess

The Destiny Of A Princess
Bagian 28



Kaisar Louis memasukan pedangnya kembali kedalam sarung dan duduk menatap Agnasia yg sangat tenang saat itu.


"Kau hebat juga dalam berbicara, tapi perkataan mu itu tidak bisa membuat ku percaya jika kalian tidak bersalah."


-Oh satu hal lagi, kau bilang tanpa bukti yg jelas? Sekarang kau lihat ini" Kaisar lalu membawa dua lelaki dengan luka-luka sobek di sekujur tubuhnya, serta barang-barang bukti.


"Dia adalah mata-mata yg di letakan dalam Kekaisaran Ango dan Berly lalu meracuni sungai perbatasan. Mereka juga menyimpan botol racun serta lambang Kekaisaran Aegeus" jelas Kaisar Louis pada Agnasia.


"Apa-apaan itu? Kami tidak pernah berniat meracuni sungai dan sumur yg ada!" Ucap Galen pada kaisar Louis


"Benarkah? Lalu bukti itu?" Tunjuk kaisar pada barang-barang yg berserakan di lantai. Tiba-tiba Agnasia memotong pembicaraan


"Saya tidak percaya, apa jangan-jangan anda berdua memanipulasi bukti?" Ucap Agnasia.


Keduanya terkejut mendengar perkataan dari wanita ini.


"Kenapa kau membalikan perkataan ku?" Ucap kaisar Nick tiba-tiba, Agnasia tersenyum padanya.


"Oh ya? Saya tidak tahu, bukankah saya tadi tidak di sini saat kalian sedang berbicara?" Perkataannya membuat Kaisar Nick terdiam.


'Wanita licik ini! Sifatnya sangat Mirip dengan Mariana!' Pikir Kaisar Nick.


"Hmmm jadi saya tidak percaya bukti yg anda bawah Yang Mulia, jadi anda bisa pergi dari sini"


"Kenapa kau tidak percaya! Dan apa hak mu mengusir ku dari sini?!" Teriak Kaisar Louis pada Agnasia, Dellion yg melihat itu mengepalkan tangannya mungkin sebentar lagi kesabarannya akan habis.


"Kenapa? Ya zaman Sekarang apa saja bisa di lakukan... benarkan Yang Mulia kaisar Nick... lalu hak saya, karna anda sudah melakukan tindakan yg tidak sopan di Kekaisaran orang. Apakah anda pantas untuk tetap di sini? Atau apakah anda pantas untuk kami layani?" Ucap Agnasia, membuat Kaisar Louis terdiam kesekian kalinya.


"Sudah! Sekarang kami akan menuntut Kekaisaran ini, karena telah melakukan kejahatan meracuni kedua Kekaisaran." Ucap Kaisar Nick.


"Anda terlalu terburu-buru Yang Mulia, oh atau anda takut? Jadi Yang Mulia menuntut kami secepatnya?" Ucap Agnasia.


"Tahu apa kau?!! Seorang wanita yg bahkan tidak mengerti masalah besar yg memakan banyak jiwa! Lebih baik kau diam lalu pergi!" ucap Kaisar, Agnasia lalu menatapnya dingin dengan senyuman yg cukup mengerikan itu.


"Kekaisaran yg asing, tiba-tiba membuka mulut lalu memutar balikan fakta dan menuduh kekaisaran lain..." ujar Agnasia sambil mengambil teh yg tersedia untuk Kaisar Nick dan meminumnya.


"Kau! Tidak sopan sama sekali!" Teriak Kaisar.


"Bagaimana dengan anda yg berteriak di depan saya?" Ucap Agnasia.


Semua tidak mengerti jalan pikiran Agnasia dan hanya bisa terdiam melihat Drama yg di mainkan wanita ini.


'Agnasia bukalah celah supaya aku bisa masuk' pikir Galen. Tapi lelaki itu masih khawatir dengan tangan Agnasia.


"Sekarang kembali lagi ketopik, bagaimana anda bisa tahu akan ada banyak jiwa yg menjadi korban? Apa, anda sudah mengatur semuanya?" Lirik Agnasia, pada Galen mengisyaratkan bahwa dia sudah membuka sedikit ruang.


"Kau!! Kan sudah terlihat beberapa jiwa yg mati karena racun itu! Karena mata-mata dari kalian!" Ucap Kaisar Nick, Agnasia mengangguk mengerti.


"Hmm baiklah mata-mata itu memang dari Kekaisaran kami, tapi racunnya bukan dari Kekaisaran kami..."


"Jadi?" Ucap Kaisar Louis.


"Jika di pikirkan, seseorang pasti sudah merencanakan ini semua dan dia tahu bahwa kami akan mengirim mata-mata kedalam dua Kekaisaran. Yang Mulia Louis, saat anda menangkap mata-mata kami butuh waktu berapa saat?" Tanya Agnasia.


"Hanya butuh beberapa jam saja, memangnya kenapa?"


"Itu benar kaisar Louis, mata-mata itu memang dari kami, karena penyerangan di Kekaisaran kami saat itu berasal dari Kekaisaran Ango dan ternyata dia membawa kalung Brely, jadi kami curiga kalian sedang melakukan sesuatu untuk menghancurkan kami" Ucap Galen. Kaisar Louis sedikit berfikir lalu kembali melirik Galen dan Agnasia.


'Perkataan wanita ini benar juga, jika mereka niat meracuni pasti mata-mata itu sudah pergi dan tidak dapat kutemukan, tapi bagaimana dengan botol racun itu?' Pikir Kaisar Louis


"Jawabannya, ada seseorang yg meletakkannya tanpa sepengetahuan mata-mata kami. Sudah saya katakan orang yg membuat rencana ini pasti sudah tahu apa yg akan terjadi kedepannya." Jawab Agnasia yg membuat Kaisar Louis terheran-heran, dia bisa membaca pikiran orang begitu mudah? Atau hanya kebetulan saja?


"Zaman sekarang apa yg tidak bisa di buat? Itu perkataan saya tadi kan? Jadi, semua masalah ini pasti di rencanakan dan soal bukti yg anda tuduh... Yang Mulia bisa memeriksa kalung itu, karena di belakang kalung itu ada tanda tangan anda sendiri dan bukan barang yg palsu" Kaisar lalu dengan cepat mengambil kalung yg ada pada Galen dan melihatnya, ternyata benar.


"Jika kami yg membuatnya, pasti tidak akan ada tanda tangan anda kan? Apa Yang Mulia masih belum bisa percaya atau anda pikir tanda tangannya juga kami yg buat? " ucap Agnasia, Kaisar Louis lalu membuang nafas kasarnya.


"Baiklah aku percaya, jika semua ini hanya konspirasi agar Kekaisaran kita mengalami perpecahan..." mendengar jawaban dari Kaisar Louis ada sedikit nafas lega dari Agnasia, tapi di lain sisi Kaisar Nick sangat marah rencana yg sempurna dirusak oleh Agnasia.


"Jadi siapa dalangnya?" Ucap Galen.


"Mungkin Kaisar Nick?" Ucap Agnasia spontan. Semua kini menatap Kaisar Nick, lelaki itu lalu tersenyum.


"Mana mungkin, bukti ini saja bisa di manipulasi kan? Aku juga tidak kenal ke tiga orang ini..." balas Kaisar Nick dengan berpura-pura.


...๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’...


Setelah kejadian itu, kedua Kaisar kembali kekediamannya lagi saat Agnasia berbalik pergi dari arah belakang Dellion menariknya sebelum yg lainnya memanggil Agnasia.


Wanita itu bingung dengan apa yg di lakukan Dellion, sampai pada ruangan pribadi miliknya. Dellion mendorong Agnasia duduk dia lalu memanggil pelayan untuk mengobati tangan Agnasia yg terluka tadi.


Agnasia melirik Pangeran yg serius menatap kearah luka, hingga sampai obat di oleskan barulah Pangeran memasang ekspresi wajah yg seperti biasanya.


Pelayan lalu keluar dari dalam ruangan. Dellion lalu duduk saling berhadapan dengan Agnasia.


"Kau tahu apa akibat tindakan mu ini?" Tanya Pangeran tapi Agnasia mengeleng tidak tahu.


"Bagaimana jika pedang milik Kaisar Louis itu memiliki racun? Kau tidak memikirkan keselamatan mu sendiri!!" Bentak Pangeran, Agnasia mengerutkan alisnya karena untuk pertama kali Pangeran nampak khawatir.


"Maafkan saya karena sudah membuat Pangeran khawatir" balas Agnasia.


"Khawatir? Tidak, kau salah paham! Aku tidak mengkhawatirkan mu!"


"Lalu? Kenapa Pangeran memarahi saya?"


"Itu... itu... sudah diam saja aku memiliki alasan untuk itu!" Ucap Pangeran Dellion sambil melihat kearah lain karena takut ketahuan dia berbohong.


"Kalau begitu terima kasih sudah mengobati saya, dan saya akan undur diri dulu." Ucap Agnasia.


"Terima kasih juga untuk hari ini, dan berhati-hatilah jika kembali." Pangeran Dellion berdiri dan pergi kearah jendela, Agnasia lalu berbalik pergi keluar.


'Hari yg sangat melelahkan.' Pikir Agnasia.


โค๏ธHai semua, Arthor kasih bonus eps untuk hari ini semoga kalian suka jangan lupa like dan komen โค๏ธ


sebenarnya Arthor mau buat cerita baru tapi lagi di pikir' dulu nanti setelah Novel ini selesai๐Ÿ˜.


๐Ÿ’™ terima kasih udah baca dan sampai nanti๐Ÿ’™