
Keadaan semakin kacau di dalam kekaisaran Aegeus, namun mereka masih bisa menanganinya dengan baik, karena bala bantuan dari dua kekaisaran lainnya datang bertarung bersama-sama membantu Kaisar Theo.
Dellion menebas monster sihir yg begitu besar dengan sekali ayunan, makhluk itu pun terbelah menjadi dua bagian dan mati berubah menjadi debu hitam.
Tidak menunggu waktu lama lagi, beberapa ekor monster muncul mengepung mereka, Dellion berbalik berteriak pada para kesatria untuk bersiap-siap.
Dalam hal ini mereka di bagi dalam beberapa kelompok, Dellion ada dalam pasukan dua, sedangkan Kaisar Theo pasukan awal bersama-sama dengan beberapa Kaisar lainnya, untuk pasukan ketiga ada Galen bersama dengan marquess Christoffel, dan untuk pelindung, sedang mengumpulkan beberapa warga yg butuh bantuan.
"Galen! Tahan monster arah jam tiga!"
Teriak Marquess Christoffel, pria itu berbalik dan melompat merobek tangan makhluk itu, akan tetapi tangan monster tersebut kembali menyatu dengan tubuhnya.
"Apa yg terjadi ini kakak!" Teriak Galen.
"Sepertinya kita harus menyerang jantungnya, agar dia tidak hidup lagi."
Balas Christoffel sembari mengeluarkan kekuatannya menghantam tanah sampai terbelah hingga monster itu jatuh kedalam.
"Sebenarnya dari mana asal monster ini!" Tanya Galen lagi.
"Tebakan ku, ini dari kota yg di tempati Duke Alddes. Kelihatannya ada sesuatu di sana yg memicu semua ini" ujar Marquess.
"Baiklah, akan ku katakan ini pada pangeran"
Galen pun menyalurkan kekuatannya pada pedang yg ia pegang, menitik fokuskan jantung monster dan dengan cekatan dia melompat lalu menusuk monster tersebut tepat pada jantungnya dan all hasil itu membunuh mereka.
Sekarang Galen tahu apa yg harus di lakukannya.
...🌼🌼🌼🌼...
Dari luar Snow menarik Agnasia untuk masuk kedalam ruangan, dia lalu mengeluarkan beberapa pakaian ganti untuk Agnasia pakai dengan sihirnya, karena tidak mungkin Agnasia pergi mengunakan gaun terbuka seperti sekarang.
"Ambillah ini dan cepat ganti gaun mu."
Jelas Snow, dan dia berbalik pergi keluar ruangan, berjaga di depan pintu yg sering di pakai para Ledy untuk berbincang-bincang.
Tanpa berlama-lama Agnasia membuka gaunnya, dan menggantinya dengan baju serta celana yg di berikan Snow tadi.
'ini adalah pakaian latihan khusus wanita, dan cukup nyaman.' Pikir Agnasia.
Dia lalu membuka pintu memberi tanda pada Snow bahwa ia sudah siap untuk pergi, pria itu menatap Agnasia sedikit lama.
Dia lalu memegang kedua bahu Agnasia dan menatapnya dalam.
"Ingatlah, jangan jauh-jauh dari ku. Aku takut kau terluka."
Ucapnya dengan suara yg begitu lembut. Agnasia menanggapi perkataan Snow dengan mengangguk, lalu menjawabnya.
"Percayalah aku akan baik-baik saja!"
Mereka pun pergi, sempat Snow mengira-ngira tempat landasan yg akan mereka tujuh dengan aman. Setelah menemukannya, mereka pun menghilang bersama, kemudian muncul di bagian hutan tempat paviliun lama.
Di sana cukup senyap, namun lama-kelamaan dari kejauhan terdengar suara-suara yg menyeramkan dari seluruh penjuru.
"Kenapa kita tidak langsung pergi ke kekaisaran Sebasta?" Tanya Agnasia yg penasaran.
"Sebelum itu, ada yg harus aku urus. Beberapa pelayan di sini akan ku kirim pergi ke kekaisaran" jelas Snow.
Dia pun menjentikan jarinya, seketika selubung yg menutupi sekitarnya terbuka, ternyata di sana ada banyak pekerja kediaman Alddes sekaligus Merry.
Wanita itu berlari memeluk Agnasia erat, dia begitu gemetar dengan wajah yg memucat.
"Tenanglah kau akan aman sekarang."
Ucap Agnasia menguatkan Merry, kemudian menatap beberapa pelayan lainnya termasuk kepala pelayan.
"Kalian akan di kirim ketempat yg aman, jadi tenanglah."
Entah kenapa Snow melakukan ini, tetapi itu lebih menunjukan bahwa dirinya sudah berubah. Agnasia melepaskan Merry menyuruhnya untuk pergi, tetapi wanita itu terlihat tidak ingin melepaskan majikannya.
"Bagaimana jika nona kenapa-napa!"
"Aku akan kembali, aku janji..."
Melihat itu Merry melepaskan Agnasia dan pergi kembali pada kumpulan para pelayan. Kemudian Snow mulai membacakan sesuatu, dan muncul tanda yg bercahaya dari permukaan tanah, seketika mereka menghilang yg menyisakan hembusan angin saja di tempat itu.
...🌼🌼🌼🌼...
Di tengah-tengah ruangan yg gelap dan suram, dengan banyaknya mayat serta tulang-belulang manusia, Kaisar Nick menggores tangannya dengan belati tajam, kemudian meneteskan darah ke lantai tempat dia berpijak.
"Selesai sudah."
Dengan kesenangan dia menatap kedepan, perlahan-lahan tanah bergetar di iringi tembok-tembok ruangan yg runtuh. Dari dalam tanah muncul pintu berwarna hitam dengan ukiran kepala hewan bertanduk ada di pintu itu.
Kaisar Nick lalu berteriak mengatakan mantra akhir. Kemudian pintu terbuka lebar, Roh kegelapan mulai keluar satu persatu dari dalam pintu itu, semakin lama semakin banyak.
Tiba-tiba Carin muncul bersama Arthur dari belakang.
"Ayah!" Teriaknya, sembari mendekat kearah kaisar Nick.
"Uh! Tenaga ku sedikit terkuras karena ini, tapi tidak apa-apa. Kau pergilah bersama dengan pasukan roh kegelapan ini, Ayah akan menyusul mu nanti." Ujarnya kemudian menghilang dari sana.
Carin lalu memberi perintah pada pasukan kegelapan yg sudah menunggu untuk menyerang dan memporak-porandakan semua tempat.
Dia berkata untuk mengikutinya masuk kedalam pintu teleportasi yg sudah di buat sebagai akses untuk mereka masuk dengan mudah kedalam kekaisaran.
Sementara itu kaisar Nick masuk kedalam ruangannya mengambil pedang kegelapan yg begitu kuat dan sulit untuk di dapatkannya.
"Pedang ini... akan ku gunakan untuk membunuh keturunan kaisar, berserta Agnasia... tunggu saja!"
Dia tersenyum dingin, mengusap besi tajam itu dengan jari-jari tangannya, lalu menyarungkan pedang tersebut dan menggantungkannya di samping tubuh.
"Ah! sebelum itu, bagaimana jika aku melihat keadaan tuan tikus?"
Kaisar Nick berbalik dalam sekejam berpindah tempat di bawah tanah tepat dimana kaisar Neacel berada.
Mendengar seseorang yg datang, Neacel berbalik rautnya menjadi semakin marah melihat pria paru baya dengan pakaian perang yg lengkap sedang berdiri dengan senyuman iblis melihatnya.
"Aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu, pintu kegelapan sudah terbuka, sekarang tutuplah pintu itu--oh iya! Kau tinggal seorang diri, bagaimana kau bisa menutup pintu itu?"
Ujarnya dengan suara yg di buat-buat seperti seorang yg bingung.
"Kasihan..."
Lanjutnya, kaisar Nick kemudian mengeluarkan beberapa besi tajam dengan sihir, kemudian melayangkan tangannya pada Neacel.
Seketika besi-besi tajam itu menusuk kedua tangan dan kaki lalu perut Neacel, pria itu berteriak dan jatuh ke lantai dengan berteriak kesakitan tanpa henti.
"Matilah dengan tenang..." ucapnya dan pergi dari sana, meninggalkan Neacel yg sekarat.
...🌼🌼🌼🌼...
Sementara saat Carin bersama Kaisar Nick pergi, Agnasia bersama dengan Snow tiba di kekaisaran Sebasta ingin mencari di mana Neacel berada.
Tetapi begitu sampai di sana, keadaan hancur lebur. Udaranya begitu keruh dan sulit untuk keduanya bernafas. Snow lalu memakai sihirnya agar Agnasia tidak kesulitan untuk bernafas, lalu melanjutkan perjalanan berkeliling dalam kekaisaran Sebasta mencari Neacel, nyatanya pria tersebut tidak ada di sana.
"Bagaimana ini?" Tanya Agnasia.
"Lebih baik kita tanyakan pada pekerja di sini."
Usul dari Snow di terima oleh Agnasia, mereka pun pergi mencari para pekerja yg mungkin saat ini sedang mengungsi ke tempat yg lebih baik, mengingat udara yg keruh ini.
Perjalanan kami terhenti saat mendapati seorang pelayan wanita sedang mengangkat kopernya ingin pergi dari kerajaan. Dengan cepat kami menahannya dan menanyakan di mana Kaisar Neacel.
"Saya juga tidak tahu Nona, tetapi dari perbincangan kesatria lainnya mereka sedang menuju ke kekaisaran seberang untuk menyelidiki sesuatu"
Jawab pelayan itu, aku mengangguk dan membiarkan dia pergi.
"Ini sangat buruk. Kita harus kesana Snow!" Ucap Agnasia.