The Destiny Of A Princess

The Destiny Of A Princess
Bagian 37



Tiga hari berlalu, semua upaya yg kami lakukan untuk membujuk kakek sangatlah sulit, lebih sulit dari pada melawan seorang perampok.


Dari pada itu, tiga orang wanita yg selalu menempel pada Galen dan Dellion terlihat kurang menyenangkan untuk di lihat, mereka juga sepertinya tidak begitu menyukai ku. Kenapa misi ini sangat menyulitkan!


"Hacimm!!"


Debu yg masuk kedalam penciuman ku sangat menusuk, hanya demi mendapatkan penawar itu aku harus melakukan beberapa tugas agar sang kakek bisa luluh.


"Apa kau baik-baik saja?"


Tanya Galen dari bawah, aku mengangguk menatapnya sekilas, Kemudian seorang masuk memanggil Galen.


"Kak Alen, ayo duduk dan makan kue buatan ku.."


ucap Ayla dengan nada manjanya itu. Galen tertawa dan menerima ajakannya


"Ayo Sia kita makan kue."


Ucap Galen dengan lembut.


"Ah, kak kue ini hanya di buat sedikit saja, kak Sia tidak akan dapat."


Ujarnya sambil melihat kearaku, aku sudah tahu maksudnya dia hanya ingin berduaan saja dengan mu Galen, itu saja tidak peka.


"Tidak apa-apa... lagian aku sudah kenyang."


Kataku sambil menuruni tangga, kemudian Ayla menarik tangan Galen yg sedang menahan tangga, dan itu membuat sedikit guncangan, aku pun jatuh karenanya.


Bruuukkk


Terdengar suara tawa yg memecah karena aku yg jatuh. Galen bersama Ayla tertawa terbahak-bahak melihat aku jatuh tertimpa tangga


"Hahahaha astaga Sia, maafkan aku... kau tidak apa-apa kan?"


Ucap Galen sambil menyingkirkan Tangga yg ada di atasku, saat dia memberikan tangannya untuk membantu ku, aku menghempasnya dan berdiri.


"Aku tidak apa-apa! Silahkan nikmati waktu kalian."


Kesal, pasti ada. Di tambah mereka yg membuatku jatuh dan mereka juga menertawakan aku.


Ku hentakan kakiku karena mengingat kejadian tadi, sungguh aku malu setengah mati.


Saat sedang berjalan aku melihat bibi yg menjemur beberapa kain, ku putuskan untuk mendekat, menyapanya, sekaligus membantunya.


"Maaf merepotkan kalian, kakek tidak memberikan ramuan itu ya...."


aku hanya mengangguk pelan sambil mengambil beberapa kain dan menjemurnya.


"Aku akan berusaha, bibi tidak perlu khawatir."


Kataku sambil tersenyum padanya, bibi sedikit terdiam menatap ku, kemudian dia membuka suaranya berbicara padaku.


"Mungkin karena kejadian itu..."


suara yg pelan itu membuat ku penasaran apa yg terjadi.


"Kejadian itu? Apa ada sesuatu yg terjadi hanya karena ramuan itu?"


Tanya ku tiba-tiba, bibi kemudian tersenyum tapi dia tidakΒ  menjawab pertanyaan ku tadi.


'Aku yakin ada sesuatu yg terjadi.' Lirikku sekilas.


...πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’...


Makan malam pun tiba, aku membantu yg lainnya dan meletakan makanan di atas meja. setelah semua tersusun rapi, aku berbalik akan memanggil kedua pria yg bersama ku.


Tapi, ternyata mereka sudah datang bersama ke tiga anak perempuan.... siapa lagi kalau bukan Ayla, eliza dan Aldara.


Kami lalu duduk setelah semua berkumpul dan makan bersama-sama. Berbeda dengan ku, aku belum menyentuh makanan sama sekali dan masih tenggelam dalam lamunan sementara.


'Apa ini yg di maksud Galen soal aku akan menyesal? Sayang sekali aku tidak menyesal! Tapi...'


"Kalian pengembara yg keras kepala juga, sudah berapa kali ku katakan ramuan itu tidak ada."


Ucap kakek sambil mengunyah makanannya pelan-pelan.


"Tidak."


Mendengar jawabannya yg terakhir cukup membuat aku melirik yg lainnya.


"Tidak apa-apa, paman. Jika seperti itu kami akan melanjutkan perjalanan kembali."


Ucapku sambil memotong daging ikan yg segar dan memakannya.


Ughk


"Ada apa Sia?" Ucap Dellion tiba-tiba.


"Bukan apa-apa, aku hanya salah telan saja Lion."


Kataku sambil tersenyum, aku harus menahannya agar mereka tidak curiga. Ku lirik ketiga wanita yg sedang menahan tawa, hal konyol yg di lakukan mereka sangat membuat ku tidak nyaman.


'Bisa-bisanya ikan ini begitu asin. Aku bahkan tidak bisa menelannya'


"Ah, aku akan kebelakang sebentar."


Ucapku sambil berlalu dari dalam ruangan, cepat-cepat aku mengambil air dan meminumnya sampai habis.


"Haaa... para wanita itu sangat kekanak-kanakan...sebegitu tidak sukanya padaku? Aghhh! Lebih baik aku keluar mencari udara segar."


Ku putuskan untuk keluar dari pintu belakang dan pergi menuju ke tempat yg sedikit sunyi. Dari jauh aku melihat bukit kecil yg di penuhi oleh kunang-kunang.


Setelah sampai aku duduk di atas rumput sambil menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan.


Malam yg dingin, tapi tidak begitu menusuk kulit, di tambah bintang-bintang yg menghiasi langit yg gelap begitu cantik.


"Aku merasa tenang sekarang... oke saatnya memikirkan rencana selanjutnya"


Beberapa hari yg lalu, kami tidak mendapatkan informasi penting. Lalu Galen dan Dellion sering menghabiskan waktu dengan para gadis itu sekaligus mencari sesuatu agar kakek mau memberikan ramuan itu.


'Tapi percuma saja, itu tidak berhasil.'


"Entah bagaimana sekarang aku pun bingung."


...πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’...


Dalam ruangan kedua lelaki sedang bingung mencari Agnasia yg tidak ada di tempat. Mereka bahkan menanyakan pada bibi dan lainnya tapi mereka tidak melihat Agnasia setelah dia pergi kebelakang.


"Bagaimana ini? Jangan-jangan dia marah soal aku yg tertawa melihatnya jatuh saat sore tadi?" Ucap Galen sambil melirik Dellion.


"Kau... melakukan itu?" Tanya Pangeran dan di angguki oleh Galen.


"Jangan memarahi kak Alen, lagi pula yg salah itu kak Sia, dia yg tidak bisa menyeimbangkan tangga itu." Ucap Ayla.


"Aku akan mencarinya keluar"


Pangeran segera beranjak dari sana, tapi tangannya di tahan oleh Eliza.


"Kak Sia pasti akan kembali, kak Lion tidak perlu mencarinya ya... lagi pula dia kan bukan anak kecil lagi"


ucap Eliza. Dellion sedikit menyunggingkan senyumnya kemudian menatap Eliza.


"maaf sebelumnya, aku memang senang bersama dengan kalian, tapi jika Sia tidak kesini aku juga tidak ada disini" ucap Dellion.


Dellion lalu melepaskan tangan Eliza dengan kasar dan Pergi dari dalam ruangan. Galen melihat itu menggeleng pelan sambil melirik wanita yg terdiam karena Dellion.


"Ahahah dia hanya sensitif saja, jangan di masukkan kedalam hati soal perkataannya tadi"


Galen dengan lembut menyentuh kepala Eliza agar dia tidak sedih.


"Sebenarnya kak Sia itu siapa? Kenapa kak Lion begitu suka pada wanita yg bermuka dua seperti itu?" Ucapnya menatap Galen.


Lelaki itu sekarang tidak terima dengan perkataan Eliza yg sudah mulai kelewatan, dia lalu menunduk mensejajarkan tinggi mereka, Galen pun tersenyum padanya


"Kau tidak tahu apa-apa tenang Sia, jadi jangan mengomentari seperti kau sudah tahu segalanya tentangnya... mengerti?"


Bisik Galen pelan, Eliza terkejut mendengar perkataan Galen dia hanya bisa terdiam saja. Detik itu, terdengar suara berisik dari arah luar, Galen segera pergi ingin memastikan apa yg terjadi.


Saat sampai di sana dua orang lelaki dengan pakaian yg rapi sedang menunjuk-nunjuk Dellion tanpa rasa takut.