The Destiny Of A Princess

The Destiny Of A Princess
Bagian 46



Tidak terasa waktu berlalu dan sekarang sudah malam saja, karna kami sibuk mencari bahan-bahan untuk membuat ramuan sampai lupa waktu.


Aku sedikit lelah karena berjalan seharian. Di tambah Dellion yg aneh sejak tadi, itu membuat rasa canggung dalam perjalanan ini.


Perlahan Galen mendekat dan mensejajarkan tinggiku, dia berbisik menanyakan apa yg terjadi saat mereka tidak di sana. Aku hanya mengeleng saja malas menjelaskan detailnya.


"Oh, apa dia cemburu karena kau membawa kucing liar ini?"


Ucap Galen sambil menunjuk Snow yg tengah makan sate dari tadi.


"Apa yg kau lihat!"


Bentak Snow pada Galen, lelaki itu berdecak kesal sambil mengejek Snow dengan wajahnya yg di buat sejelek mungkin.


"Uhhh! Hentikan perkelahian kalian!"


Kataku pada mereka, keduanya pun terdiam dan mengikuti dengan hati-hati.


"Tapi Agnasia, apa kau yakin akan membatalkan pertunangan mu. Kurasa itu tidak adil untuk Dellion."


Aku menunduk melihat jalan setapak, dengan sedikit membuang nafas kasar lalu menjawab pertanyaan dari Galen.


"Tidak adil ya... sekarang, bagaimana jika di masa depan nanti dia malah membuang ku demi wanita lain?"


"Hmmm? Apa maksud mu itu? Biarpun dia melupakan mu tapi dia tetap menyayangi mu... aneh sekali, kau berkata seolah-olah dari masa depan."


"Ia.."


"Ha? Apa?!"


"Tidak... bukan apa-apa."


"Selalu saja seperti itu... kau kan tidak tahu Dellion hampir mati karena mengunakan Kekuatan berlebihan saat itu."


Seketika langkahku terhenti kemudian berbalik melihat Galen meminta penjelasannya tentang apa yg di ucap tadi.


"Hampir mati?"


Lelaki itu mengangguk sambil menceritakan kejadian saat aku jatuh dan tidak sadarkan diri. Saat dia sampai di sana Dellion sedang bertarung dengan Tuan Jors, aura yg dia keluarkan tidak seperti biasanya.


Tuan Jors bahkan kewalahan dengan luka-luka yg parah saat bertarung dengan Dellion. Dan pada akhirnya tuan Jors tidak dapat bergerak karna pukulan dari Dellion, saat memeriksa keadaannya Tuan Jors sudah tidak bernyawa.


Dan bahkan jika di katakan kekuatan yg berlebihan dari Dellion bisa saja membuat tubuhnya lumpuh.


Penjelasan dari Galen, membuatku semakin pusing jika memikirkan tindakan aneh yg di lakukan Dellion, harusnya dia tidak seperti ini harusnya dia membenci dan menjauhi ku.


"Pasti kau terkejut, tapi sungguh itu benar. Setiap kekuatan ada batasannya, dan aku baru kali pertama melihat Pangeran Dellion mengunakan kekuatan yg melewati batas."


Aku menatap punggung Dellion, dan teringat soal perkataan di dalam mimpi ku. Bahwa aku harus melihat sudut pandang yg berbeda.


Perlahan sentuhan hangat, ku rasakan di atas kepala ku, Galen tersenyum.


"Apa yg kau takuti? Dia sampai seperti itu demi melindungi mu..."


Aku mengepalkan tanganku erat, perasaan yg begitu bimbang ini mempermainkan diriku sepenuhnya.


"Dia hanya melupakan mu, bukan tidak mencintai mu kan?"


Mendengar perkataan dari Snow, aku sedikit kaget. Bagaimana bisa dia mengerti soal yg namanya perasaan, padahal dia hanya seorang penyihir aneh dan pendiam.


"Kenapa? Apa aku salah?"


Tanyanya karena kami menatap dia dalam diam.


"Ah itu---"


"Terdengar menjijikkan... untuk seorang penyihir"


Jawab Galen, mereka kemudian bertengkar kembali untuk kesekian kalinya. Aku mengeleng pasrah dan mempercepat langkah ku menyusul Dellion.


Setelah aku sudah sejajar dengan langkahnya, sekarang lidahku keluh tidak dapat berbicara apa-apa. Bahkan perkataan yg ku pikirkan menghilang begitu ada di samping Dellion.


Sebelum membuka mulut ku Dellion sudah bertanya terlebih dahulu, apa yg akan ku bicarakan dengannya.


"Itu... terima kasih karena anda sudah menolong saya."


'Ke-kenapa jadi diam? Aku harus berbuat apa sekarang'


"Maaf..."


Aku balik menatapnya bingung, sekarang kenapa dia meminta maaf? Padahal tidak ada kesalahan yg dia lakukan padaku sepanjang hari ini.


"Apa yg anda katakan? Saya tidak--"


"Harusnya aku bisa melindungi mu saat itu... maafkan aku..." 


Dia begitu terlihat sangat bersalah, harusnya sikapnya tidak seperti ini padaku... lebih baik dia seperti dulu, agar aku bisa pergi dan membuangnya.


"Jangan meminta maaf! Harusnya anda meninggalkan saya saja saat itu!! Apa pentingnya saya!"


Lelaki itu terhenti, aku yg melihatnya pun memberhentikan langkah ku. Sedikit jeda sebelum dia menjawab


"Kau benar... harusnya seperti itu, harusnya aku meninggalkan mu karna aku tidak mengenal bahkan tidak tahu tentang mu"


"Benar harusnya seperti itu---"


"Tapi... aku tidak bisa melakukannya, jika aku melakukan hal itu... entah kenapa, kau akan menghilang lagi lalu perasaan kosong dan bersalah itu akan muncul kembali."


Dellion menatapku dengan tubuh yg gemetaran, dengan cepat dia menarikku kedalam pelukannya.


Deg.


Deg.


Deg.


Detak jantungnya sangat bisa ku rasakan.


"Aku takut kau mati seperti dalam mimpi ku... padahal aku tidak mengingat mu, tapi ada rasa yg aneh saat melihat mu terluka Agnasia."


Suaranya yg begitu rendah dan pelan terdengar di samping telinga ku.


'Mimpi? Apa yg dia katakan? Mimpi tentang apa?'


Saat akan menanyakan apa yg dia katakan, tiba-tiba dia melepaskan pelukannya dan menjauh dariku.


"Tapi kau mungkin tidak akan mengerti apa yg aku rasakan... aku akan memutuskan hubungan kita."


Ucapnya lalu pergi meninggalkan aku.


Di satu sisi yg berbeda, dua orang sedang melihat kejadian yg ada di depan mereka dan hanya bisa diam saja.


"Aku tahu kau menyukainya. Harusnya tidak kau katakan itu."


Ujar Snow dengan nadanya yg dingin pada Galen. Lelaki itu tersenyum sambil menatap Agnasia dengan tulus.


"Suatu saat kau akan mengerti, walaupun sakit, Rasanya akan menghilang saat melihat dia tersenyum bahagia"


Lelaki itu terdiam, dia tidak mengerti sama sekali apa yg sedang di pikirkan lawan bicaranya. Yg dia tahu, bukannya jika seseorang menyukai orang lain itu harus di ungkapan? Tapi kenapa dia tidak?


Mungkin suatu saat aku akan mengerti apa yg di katakannya. Sambil terus berfikir apakah aku akan melanjutkan aksiku membunuh Agnasia atau tidak.


...💐💐💐💐...


Beberapa saat berlalu, kami sampai di tempat tujuan yaitu di rumah kakek. Sedikit sambutan saat kami sampai, lalu segera dengan cepat kami menemui kakek.


Di dalam ruangan, seorang paru baya sedang duduk sambil mencampurkan beberapa tanaman obat kedalam wadah, saat melihat kami datang, dia segera memberhentikan aktivitasnya yg sebelumnya.


Segera dia meminta bahan-bahan untuk membuat ramuan pemulihan. Kami pun duduk sambil melihat kakek yg sedang membuat ramuan.


"Berapa lama ini akan selesai?"


Tanya Galen yg penasaran akan hal yg ada di depannya.


"Hanya beberapa jam saja, jika kalian lelah tidurlah."


Setelah itu, kami semua diam sambil terhanyut dalam lamunan masing-masing. Agnasia yg tengah duduk sesekali memijat pergelangan tangannya karena merasakan sesuatu yg aneh, mungkin sedikit keram.


'Aneh sekali... kenapa beberapa hari ini pergelangan tanganku sakit'