The Destiny Of A Princess

The Destiny Of A Princess
Bagian 38



Galen melihat bibi memegang pipinya yg memerah, sepertinya ada kejadian yg sudah melibatkan fisik hingga Dellion turun tangan seperti ini.


Kemudian kedua lelaki itu mendorong jauh Pangeran dan masuk kedalam rumah, Galen segera mendekat dan menghadang mereka.


"Minggir kau!!"


Teriak salah satu dari mereka tapi Galen hanya diam saja menatap mereka berdua.


"Mohon maaf, ada sudah tidak sopan jika datang dengan memberontak seperti ini."


Ucap Galen, lelaki itu tertawa dia lalu menunjukan sebuah lambang bangsawan.


"Kau tidak tahu siapa aku?!! Aku adalah tamu penting yg datang dari luar!! Ingin meminta ramuan."


Ucapnya dengan nada yg begitu sombong.


"Maaf Tuan Duke, tapi kami tidak akan memberikannya pada seorang bangsawan."


Ucap bibi pada keduanya, mereka mengepalkan tangan menunjukan amarah yg sudah memuncak.


Tiba-tiba ketiga anaknya datang keruangan tamu dan segera memeluk ibunya yg tidak dalam kondisi yg baik.


"Sombong sekali kau! Padahal tanah ini milik Kaisar kan? Dia itu sahabat ku! Jadi aku berhak meminta ramuan!"


Teriak Duke yg satunya pada bibi.


Eliza melihat mereka marah, perempuan itu berteriak sedikit kasar pada kedua Duke karena mereka sudah memukul ibunya. pria itu marah besar mendengar perkataan Eliza, saat dia melangkahkan kakinya Galen segera menahan pria itu.


"Ada sudah tidak sopan Tuan, jika seperti ini kami tidak bisa melayani kalian."


Ucap Galen, dia lalu mendorong lelaki itu menjauh.


"Kau sombong sekali!"


Duke segera menyerang Galen dengan tangannya yg di kepal, tapi dengan cepat juga Galen menahan serangannya.


Dellion segera menyentuh bahu Galen memberi tanda agar dia bisa sedikit mengendalikan auranya agar mereka tidak curiga.


"Tuan sekarang anda pergi dari sini"


ucap Dellion dia lalu melerai mereka.


Merasa tidak terima, Duke segera memukul  wajah Dellion hingga darah segar keluar di ujung bibirnya. Melihat hal itu, Aldara mendekat dan menghadang. Dia tidak ingin mereka melukai Dellion serta yg lainnya.


"Lelaki brengsek! Kau sudah kelewatan!"


Ucap Aldara, kemudian sebuah tamparan terdengar di dalam ruangan. Duke ternyata menampar anak gadis itu dengan sekuat tenaga sampai dia jatuh.


"Aldara!!" Teriak bibi.


Dellion segera menahan Aldara, dia menatap lelaki itu tidak senang karena sudah melukai wanita lemah, sekarang dia bisa tahu betapa kakek membenci para bangsawan.


"Tutup mulutmu gadis kecil!! Panggilkan saja kakek kalian!!"


Teriaknya pada gadis itu. Aldara perlahan-lahan kehilangan kesadarannya dan pingsan dalam pelukan Dellion.


aura penyerang Dellion sedikit keluar karena dia sudah marah. Saat akan menyerang, tiba-tiba duke itu terhempas keluar karena Galen yg memukulnya lebih dulu.


Mereka yg melihat itu terkejut, karena perubahan drastis yg Galen tunjukan. Duke segera bangun dan mengeluarkan pedangnya menunjuk kearah Galen, dia  mengatur aba-aba dan pergi menyerang Galen, tapi itu terhenti karena seseorang melemparkan batu hingga mengenai kepala Duke.


Buk!


"Ahkkk!!! Siapa yg melakukan ini!!!"


Teriak Duke, kemudian dari arah belakang seseorang menjawabnya, ternyata itu adalah Agnasia beserta paman dan kakek.


Dengan cepat paman bersama kakek masuk kedalam rumah melihat keadaan Aldara yg tidak sadarkan diri berserta bibi yg sedang menangis.


Agnasia mendekat sambil memainkan batu di tangannya dengan melempar batu itu ke udara.


"Seorang wanita?!! Kau yg melemparkan itu pada ku!" Teriak Duke tidak terima.


"Duke Jors biar saya saja mengurus wanita gila itu"


"Baiklah Duke Argus.."


Duke Argus mendekat dan akan menyerang Agnasia tapi wanita itu hanya mengangkat tangannya.


Agnasia sedikit menguap pertanda dia mengantuk lalu berjalan pelan mendekat kearah Galen.


"Kenapa kau tidak melawan?!!! Bilang saja nyalimu kecil!"


Teriak Duke Argus pada Agnasia.


"Aku malas meladeni kalian"


"Sudah saya katakan, kami tidak akan memberikan ramuan pada bangsawan."


Ucapannya di tertawakan oleh Duke Jors secara terang-terangan.


"Baiklah! Aku akan menuntut kalian yg sudah bersikap tidak sopan pada bangsawan terhormat seperti kami."


Duke Jors menunjukan senyuman remehnya pada kakek.


'Pasti mereka ketakutan sekarang.'


Pikir Duke Jors.


"Laporkan saja!"


Teriak Galen pada mereka, Agnasia pun mengangguk setuju


"Apa!! Kalian akan mati di penggal jika kaisar tahu ini!!"


Bentak Argus secara tiba-tiba kemudian satu batu di lemparkan Agnasia dan mengenai Duke itu, Galen sedikit tertawa melihat hal yg di lakukan Agnasia sekali lagi.


"Kaauuu!!!"


"Berbicara sekali lagi batu ini akan masuk kedalam mulut anda tuan!"


Teriak Agnasia, dia mengepalkan tangannya, sekarang dia paham perasaan keluarga ini. Di perlakuan tidak adil, karena derajat yg rendah dan tidak mempunyai kekuasaan sedikit pun.


Dia tahu bagaimana di rendahkan padahal tidak melakukan hal yg salah, karena status mereka menjadi sombong dan menyerang yg lemah.


"Kenapa diam! Bilang saja takut! Orang rendahan seperti kalian harus menghormati kami dan melakukan apa yg kami mau---"


Batu di lempar dan tepat masuk kedalam mulut duke Jors dia terbatuk-batuk karena itu.


"Uhuk! Uhuk! Uwekk!!"


"Pergilah dari sini sebelum benda lainnya kumasukan kedalam mulut kalian!"


Ucap Agnasia geram, keduanya lalu bangkit berdiri menatap wanita itu tidak senang.


"Lihat saja! Kami akan kembali!"


Teriak Duke Argus kemudian pergi meninggalkan rumah kakek dengan terburu-buru.


Agnasia mengatur nafasnya kemudian berbalik mendapati Aldara yg  pingsan di dalam pelukan Dellion.


Perasaan yg tidak dia sukai muncul lagi seperti saat dia melihat Dellion bersama dengan Carin di taman Kekaisaran.


Galen yg mengerti arti tatapan Agnasia segera membantu Aldara untuk di pindahkan kedalam kamar.


...💐💐💐💐...


Setelah semuannya beres paman dan kakek memanggil kami untuk berbicara di ruang tamu.


Kakek lalu menceritakan kejadian lama yg merenggut nyawa istrinya serta anak laki-lakinya.


Dulu, sebenarnya mereka senang membantu para bangsawan tapi suatu hari seorang bangsawan datang bersama dengan anak gadisnya.


Mereka sangat ramah membantu kakek yg kesusahan. Sampai, entah kenapa mereka berubah karena kakek tidak memberikan ramuan pemulihan pada mereka.


Alasan kakek tidak memberikannya, karena ramuan itu tidak boleh di salah gunakan.


Mereka murka dan membakar rumah kakek, saat itu hanya kakek dan Joseph saja yg selamat,tapi tidak dengan istri dan anak laki-laki keduanya. Mendengar berita itu Kaisar pertama segera memindahkan tempat mereka ke belakang gunung.


Dan segera mengusir kedua bangsawan itu, tapi yg di sesali, mereka tidak bisa menuntut kedua bangsawan karena status yg ada.


"Kenapa Kaisar begitu!?"


Tanya Galen pada kakek.


"Karena kami tidak memberikan apa yg bangsawan itu mau, jadi Kaisar juga menyalahkan kami."


"Kita harus berbicara dengan Kaisar."


Ucap Pangeran tapi paman Joseph mengeleng, katanya Kaisar itu sudah meninggal. Sekarang yg ada di tahta adalah anaknya yg tidak tahu apa-apa tentang masalah ini.


'Ternyata begitu, jadi karena itu mereka tidak menyukai para bangsawan.'


"Soal ramuan itu, kata kakek tidak bisa menggunakannya sembarang, karena apa?"


Tanya Agnasia yg penasaran akan hal itu.


"Selain bisa menetralkan racun dan menyembuhkan, ramuan itu bisa berdampak buruk jika di salah gunakan"


ucap kakek yg membuatku bingung sebenarnya sehebat apa ramuan itu.