
Selepas beberapa saat berlalu, tanda yg mereka cari ternyata ada di bawah tempat tidur yg tertutup tilam.
Bergegas Snow mendekat kearah tanda tersebut, pertama-tama dia harus menghancurkan penghalang yg menutupi sekitar tanda barulah dia bisa menghancurkannya seutuhnya.
Carin yg sedang melihat Snow dengan berpangku sebelah tangan tersenyum dingin.
"Pria itu bernama Snow? Tapi auranya seperti ku kenal..."
Dia mengetuk-ngetuk meja sambil berfikir, terakhir kali dia melihat aura sihir yg sama di saat penyerangan di kota dan itu di keluarkan oleh seorang wanita berambut putih.
Di dalam ruangan yg kedap suara, Carin tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.
"Ternyata itu tipuan?! Pitter sialan!"
Ucapnya dengan geram sambil mengepalkan tangannya.
Carin lalu bangkit berdiri dia menggambar sesuatu di udara dengan satu jari telunjuk.
"Ini akan menjadi hal yg menyenangkan, kita akan ganggu konsentrasi penyihir rendahan itu"
Setelah mengirim sesuatu yg mungkin akan membuat sedikit kekacauan untuk mengganggu Snow, ruangan kamar Agnasia tiba-tiba bergetar hebat.
Dari arah jendela muncul beberapa kelelawar yg sedang, Galen yg melihat itu langsung mengerti bahwa ada seseorang di luar sana yg ingin segera mempercepat kematian Agnasia.
"Nama mu Merry kan, bersembunyilah jika tidak ingin terluka" ucapnya.
Galen segera mengeluarkan pedang miliknya dan berjaga di samping Snow yg sedang fokus menghancurkan penghalang sihir.
Beberapa kelelawar datang menyerang dengan cepat Galen menebas mereka hingga tubuh kelelawar itu terkoyak menjadi dua bagian.
Tidak sampai di situ, mereka bahkan muncul makin banyak menyerang Galen.
Untuk keadaan ini juga tidak perlu di khawatirkan karena Snow sudah menggunakan sihir agar pekerja kediaman tidak tahu hal ini.
Satu kelelawar lolos tapi Galen begitu cepat menangkapnya dengan tangan kirinya lalu menghancurkannya dengan kekuatan.
Hampir saja Snow kehilangan fokusnya.
...🌼🌼🌼🌼...
Waktu bergulir cepat, Dellion yg sedari tadi menemani Agnasia juga tidak henti-hentinya khawatir.
Keduanya tidak kembali sejak kepergian mereka beberapa jam yg lalu, kulit wajah Agnasia juga mulai berubah menjadi pucat seperti mayat, tapi dia masih bernafas dengan pelan itu yg membuat Dellion masih terus yakin bahwa Agnasia akan baik-baik saja.
Tiba-tiba dari arah belakang muncul asap hitam membentuk tubuh wanita, Dellion langsung berbalik cepat dengan pedang yg sudah terulur kedepan.
"Siapa kau?!" Ucapnya kelam.
Tidak menjawab malahan sosok itu tertawa dan mendekat menembus pedang milik Dellion sambil menatap pria itu lekat.
"Waktunya semakin singkat... wanita yg kau cinta itu tidak akan lagi membuka kedua matanya"
Dia tertawa cukup mengerikan, Dellion berinisiatif menyerangnya tapi itu tidak melukai sosok itu sedikit pun.
Tanpa Dellion sadari sebenarnya itu adalah Carin yg menggunakan sihir, tubuh itu hanya palsu saja, dia mengetahui tempat di mana Agnasia berada karena sihir yg dia letakan meluap-luap dari tubuh wanita itu.
"Siapa kau! Jawab aku!" Teriaknya.
"Kau sudah mengenali ku Dellion... hahahaha! aku datang hanya untuk mengatakan itu, lihatlah perlahan-lahan jiwanya akan menghilang dan akhirnya itu hanyalah tubuh yg kosong saja!"
Sosok itu tertawa lagi dan menghilang tanpa jejak, Dellion berbalik melepas pedangnya, kemudian menggenggam tangan Agnasia dan menciumnya lembut.
"Tidak... kau pasti kuat! Bertahanlah sedikit lagi Agnasia... jangan tinggalkan aku" ucapnya lirih
...🌼🌼🌼🌼...
Di kediaman Alddes tiba-tiba saja kelelawar itu pergi dan menghilang di udara, membuat Galen sedikit lega. Pria itu terduduk lemas banyak kekuatannya yg terkuras hanya karena hewan menjijikkan itu.
"Kenapa semuanya pergi begitu saja?" Tanya Merry yg keluar dari dalam lemari pakaian.
"Aku juga tidak tahu, mungkin mereka menyerah"
Dari arah belakang Snow membuka matanya, dia lalu membacakan sesuatu dan menghancurkan penghalang dari sihir itu, di lanjutkan dengan menghancurkan tanda tersebut.
"Apakah berhasil?!" Tanya Galen.
"Benar, semua selesai... lebih baik kita kembali mengecek keadaannya saat ini"
Begitu tiba Snow langsung terjatuh kelantai sambil terbatuk-batuk dengan mengeluarkan darah dari mulutnya.
Itu membuat Galen terkejut, dia membantunya untuk duduk perlahan.
"sepertinya aku sudah berlebihan mengeluarkan sihir" ucapnya lemas pada Galen.
"Apakah berhasil?"
Tanya Galen pada Dellion, lelaki itu malahan diam tidak berbicara di samping tempat tidur.
Kemudian dia membuka mulutnya, suaranya gemetar.
"Aku juga tidak tahu, tapi... Agnasia dia tidak bernafas"
Sontak keduanya, mereka lalu mendekat kearah Agnasia sementara Dellion mengepalkan tangannya menahan tangis.
Dia tidak ingin menerima semua yg terjadi sekarang, mana mungkin wanita tegar dan kuat seperti Agnasia akan menyerah pada kehidupannya.
Snow menyentuh pelan wajah Agnasia, dia tidak merasakan sihir apapun lagi akan tetapi kenapa nafasnya berhenti?
"Tidak... waktunya juga tersisa banyak! Kenapa Agnasia tidak membuka matanya?!"
Suara Snow bergetar hebat dia bahkan bingung dengan yg terjadi sekarang.
Dari arah belakang Galen mendorong Snow dan memegang tangan Agnasia membangunkannya, tapi wanita itu tidak bergerak ataupun membuka matanya.
"Ini... tidak mungkin... Agnasia! Bangun, kau sudah lama tertidur!"
Galen mengguncang tubuh Agnasia, tak terasa air matanya menetes membasahi tempat tidur.
Dari arah seberang Dellion mendekat menarik Agnasia dalam pelukannya.
Cairan bening tiba-tiba jatuh membasahi wajah Agnasia yg berwarna pucat, Dellion tidak tahan lagi, dia mengeram tidak bisa menahan kesedihannya, sekarang dihadapannya sosok wanita yg ia cintai sudah tidak bernyawa.
"Kau sudah berjanji... tidak akan meninggal ku... aku... tidak ada gunanya jika kau tiada... aku akan menghancurkan semuannya jika kau tidak kembali!"
Ucapnya parau sambil mencium puncak kepala Agnasia berkali-kali, dan mempererat pelukannya.
Sementara dari luar jendela, Carin sedang menertawakan keadaan mereka yg begitu menyedihkan.
"Sekarang aku bisa melanjutkan balas dendam selanjutnya"
Ucapnya kemudian menghilang.
...🌼🌼🌼🌼...
Dalam kehampaan Agnasia merasakan sesuatu yg lembut menyentuh permukaan kakinya, begitu membuka mata nampak padang rumput hijau, tidak ada bunga yg tumbuh di sana.
"Dimana ini? Bukankah tadi aku sedang..."
Mendadak kepala Agnasia berdenyut sakit, dia tidak tahu apa yg terjadi, dan apa yg dia lakukan sebelumnya.
Kemudian nampak jalan setapak putih di hadapannya, dia lalu mengikuti arah setapak itu dan sampai pada sebuah bangku taman, di atas bangku itu ada seseorang yg duduk dengan tenang.
Perawakannya terlihat begitu familiar, dia seperti mengenali sosok itu.
Begitu ia membuka matanya, Agnasia terkejut menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"I-ibu!!" Teriaknya.
Dia berlari menjatuhkan dirinya dalam pelukan ibunya yg terasa begitu hangat dan nyaman tidak pernah dia merasakan sensasi ini sebelumnya.
"Aku merindukan mu ibu! Aku sangat merindukan mu!"
Ucapnya sembari menangis tersedu-sedu.
"Ibu juga merindukan mu sayang... ternyata kau sudah sebesar ini"
Agnasia menatap ibunya, kemudian wanita itu menghapus air mata yg tersisa di pipi putrinya.
Sekarang ibunya memegang tangan Agnasia dan mengajakannya untuk berkeliling, dia hanya diam mengikuti ibunya.
Sampai-sampai sebuah pertanyaan terlontar begitu saja yg membuat ibunya terhenti dan menatap kembali Agnasia.